Featured

Wilkomen en Sugeng Rawuh

Situs ini adalah wadah penampungan segala apa yang saya fikirkan berkenaan dengan fenomena alam sekitar baik yang natural maupun yang artifisial.  Di sini saya mengekspresi pengamatan dan perasaan soal film, musik, kehidupan keseharian, tempat makan minum, peristiwa sosial dan apapun banyak hal lain di alam dunia. Situs ini pula saya fungsikan sebagai wadah dokumentasi pemikiran dalam interaksi di berbagai media sosial seperti facebook, twitter, yang sayang jika harus hilang ditelan timeline. Kesemua pemikiran, renungan, maupun ketidaktahuan dalam menginderai hidup saya ungkap dalam tulisan walau saya sepenuhnya tahu: tak semua yang dirasa dan diindera dapat diungkap secara setimpal dengan kata-kata. Banyak lagi apa yang menjadi amatan dan rasaan inderawi tentang hidup menguap dari otak tanpa pernah bisa diperangkap dengan rangkaian kata karena beragam alasan. Situs ini oleh karenanya, hanyalah secuil saja dari apa yang saya rasa dan alami serta renungkan sebagai manusia.

Tulisan tulisan di blog ini berbeda dari tulisan saya yang lain yang berkadar akademik yakni tulisan di bidang ilmu hukum, suatu bidang ilmu yang saya geluti dalam kapasitas saya sebagai pengajar hukum. Untuk pemikiran di bidang hukum saya telah menampungnya secara tersendiri di situs manunggalkusumawardaya.wordpress.com

 Tegur sapa sudah barang tentu amat dinanti.

Tabik.

Manunggal Kusuma Wardaya

Sofyan Hadi: Perihal Dracula, Bahasa Jawa dan Peristiwa 65

Sekira 14 tahun sebelum tulisan ini disusun di 2006, Dwinanda Satrio Ari alias Rio meminta saya untuk melakukan wawancara pada unit death metal Yogyakarta, Death Vomit. Kala itu, Devo, demikian band ini biasa disebut, baru saja mengeluarkan album The Prophecy di bawah label yang dipimpin Rio, Rottrevore Records. Interview itu diharapkan oleh Rio akan menjadi penunjang promosi The Prophecy dan oleh karenanya akan dimuat dalam situs resmi Rottrevore.

 

Apa yang dimau dedengkot Bloody Gore dan Funeral Inception itu tak saya tolak setidaknya karena dua alasan. Pertama, permintaan itu datang dari seorang Rio, sosok yang (walaupun tak lepas dari tawa lepas penuh kelakar) memiliki wibawa besar di dunia musik ekstrim tanah air. Alasan kedua, Death Vomit yang mesti saya wawancarai telah kondang sebagai salah satu band death metal terbesar tanah air. Band ini, kala itu telah melampaui uji keberadaan lebih dari satu dekade, suatu pembuktian konsistensi dan dedikasi yang tak remeh manakala begitu banyak band metal yang muncul sekira satu masa dengannya telah bubar ataupun mati suri berkepanjangan. Mengajak bicara ‘monster’ yang nama dan eksistensinya membangkitkan imaji ‘seram mencekam’ (terutama di masa fanzine dan flyer fotokopian) tentu sebuah cabaran tersendiri untuk saya lakukan.

Continue reading “Sofyan Hadi: Perihal Dracula, Bahasa Jawa dan Peristiwa 65”

Universitas Nasional Saraswati: Cikal Bakal UNS Surakarta

Arsip foto milik almarhum Ibu:

Sejumlah mahasiswa dan mungkin juga pengajar Universitas Nasional Saraswati (UNS) Surakarta. UNS ini kemudian beralih status menjadi Universitas Sebelas Maret yang juga kemudian lebih dikenal dengan singkatan lamanya UNS.

Duduk nomor tiga dari kiri adalah Ibu, dan berdiri, pula nomor tiga dari kiri, adalah Bapak. Foto ini diambil sekira paruh akhir 1960-an.

IMG_20171213_0002

Kursi Rotan Rumah Kami

IMG_20171213_0005.jpg

Foto di atas adalah pemandangan rumah kami di Solo di paruh pertama 1970-an. Tampak dalam gambar di ujung adalah kakekku Soekandar Wignjosoebroto (Lemah Abang 1902- Surabaya 1988), seorang pensiunan Djawatan Kereta Api tengah duduk bersarung didampingi Bapak (Boyolali 1932- Purwokerto 2010).

Di meja tamu terdapat teko (yang mestinya) berisi air teh di mejja yang dihiasi taplak renda. Pria di ujung kanan aku tak mengenali siapa.

Tampak sekelebat berambut panjang di sebelah kiri kuduga adalah rewang (Djawa: asisten rumah tangga) kami, dan balta dalam gendongan bisa jadi aku atau kakakku jang lain.
Ada meja kerdja Bapak dengan model art deco yang sebenernya dibawa dalam kepindahan ke Purbalingga (dan kemudian Purwokerto). Yang masih tersisa adalah satu set kursi jati dengan dok rotan yang menurut penuturan ibu dipesannya sendiri dari pembuat kursi di Solo.

Sebelum ibu berpulang Februari lalu, kursi itu aku minta  dan kemudian aku perbaharui rotannya. Kini ia menjadi salah satu perabot rumah yang paling kusayang.

DSC_0353

Untuk Apa

Untuk apa ku buka jendela pagi ini

kalau ku tahu matahari tak sehangat hari lalu

udara tak sesegar kemarin

hijau rumput dan pepohonan tak lagi seindah waktu itu

 

Untuik apa ku langkahkan kaki

kalau ku tak bisa mendekatimu

meskipun ku tahu kemana harus mencari

mengagumimu dari jauh hanya itulah bisaku

 

Jika memandang semua tentangmu

hanya menambah pilu

untuk apa ku buka mataku?

 

8 Februari 2017

Pagi Berseri

Pagi berseri, alam bernyanyi

Berkilau dedaunan ditimpa mentari

Semesta raya riang berdendang

Wajah-wajah bersuka senang

 

Namun tiada ria dapat kurasai

Setelah keluh kesahmu tiada lagi

dan duka bahagia  tak lagi terbagi

Selepas pergimu kemarin hari

 

Pagi berseri, alam bernyanyi

Sonata indah merayu menari

Sedaya upaya membendung hati

Ratapi hangat  yang tiada lagi

Sst..

sst.. jangan bilang apa-apa

meski kamu punya banyak kata

dan aku ingin mendengarnya

ssst.. jangan bilang apa-apa

meski sesak tersekat di dada

aku tau kamu mau bilang apa

ssst.. jangan bilang apa-apa

tak kan cukup kata-kata di dunia

untuk menyatakannya

ssst.. jangan bilang apa-apa

aku tau kamu selalu di sana

dalam sunyi yang menyiksa

sssstttt…