Pure sa

Jangan harap permainan yang tulalit nan teknikal atau sound yang distortif kalau anda berniat untuk mengenal Pure Saturday. Inilah band yang percaya kerenyahan dan simplicity dalam bermusik dan berlirik yang membawa benak pada alam melankolik serta tak meminta untuk benar-benar “dipelototi” gendang telinga. Kerjakan apa yang anda sedang atau ingin kerjakan, putar Pure Saturday dan melayanglah ke alam cita kesendirian. Seperti halnya sejarah keberadaan mereka yang tak pernah mengundang massa pembeli rekaman dan atau pengunjung konser dalam ukuran gigantik, anda akan berpindah ke alam yang berbeda dari yang ditawarkan oleh market-oriented bands.

Tak hendak dipungkiri bahwa semua musical instruments dimainkan dengan brain, namun tak sampai membuat jidat pendengarnya menjadi berkerut. Atmosfir seperti ini jualah yang kuat terekam dalam Time for A Change Time to Move on, rilisan termutakhir Pure Saturday yang berisi kumpulan lagu-lagu terbaik mereka sejak self-titled debutnya di tahun 1996. Mengawali kehadirannya di skena musik Indonesia pertengahan 90-an, Time for A Change…adalah pengukuhan eksistensi mereka di penghujung dasawarsa pertama abad 21, suatu rekaman yang amat baik dengan sound yang jernih dan berkarakter pada semua tracknya yang berhasil mengetengahkan nuansa lugu sederhana sebagaimana lirik-lirik lagunya. Simak misalnya Di Bangku Taman. Lagu yang berlirik kelabu, menciptakan visualisasi pendengarnya akan sebuah pribadi dalam sendiri, gambaran alam yang terus melaju, sementara sebuah entitas kehidupan terpojok dalam sendu. Dipungut dari album Utopia (1999) Di Bangku Taman versi re-recorded ini musiknya cukup genjrang genjreng saja, dengan chord-chord minir. Gitar di hampir keseluruhan lagu dimainkan dengan biasa saja, sembari terkadang memang ditimpali riff-riff dan petikan yang mengawang seperti pada Pathetic Waltz. Vokal ditampilkan tak perlu bertenaga, seperti menggumam saja. Mereka yang mengamati perkembangan musik independen era 90-an bisa jadi akan teringat pada style vokal Andri Lemes, vokalis Rumahsakit. Kesenduan dan kadang kegelapan dan haru kelam memang menafikan tenaga, semangat, dan power. Nuansa yang tak jauh beda dijumpai dalam nomor pembuka Elora serta nomor-nomor lain seperti Silence, Nyala, Gala, ataupun Labyrinth. Yang terakhir ini adalah sebuah nomor berdurasi panjang yang bahkan kental bernuansa psychedelic. Saya rasa inilah yang antara lain membuat band ini berhasil dan tetap berhasil mendefinisikan musik mereka sendiri dalam kamus besar musik Indonesia.
Packaging? Rolling Stone Indonesia memberikan pujian tersendiri untuk Time for A Change…. Saya tak berbeda pendapat mengenai hal ini. Dikemas dalam model digipack, artwork album yang menggambarkan orang dalam kesendirian di remang malam diterangi temaram lampu seolah merupakan introduksi akan ideologi Pure Saturday serta apa dan bagaimana isi lagu di dalamnya. Siapa saja yang memiliki cakram rekam ini ini akan pula memiliki bagian lain dari esensi sebuah Pure Saturday; keunikan dan kesendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s