Bukan Anak Pertama

Cerita pendek ini dimuat di Buletin Jejak Edisi 23, Februari 2013 yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bekasi.

Download Buletin Jejak Februari 2013

Sudah dua hari ini rumah besar yang terletak hanya beberapa ratus meter dari keramaian jalan raya itu dikunjungi tamu. Ia masih belum kuat benar, dan menyambuti tamu sambil berbaring di samping bayinya. Beberapa yang datang adalah kawan-kawannya sekantor, kawannya sendiri dan kawan suaminya.

Yang datang menyalami dan mengucap selamat. Tidak hanya itu, mereka membawa uang atau barang bagi si bayi yang baru dilahirkannya empat hari lalu. Dan ia mengucap terimakasih atas apa yang mereka berikan. Pula ia dan suaminya mengamini doa setiap yang terucap dari mulut para tamu dan kerabat. Doa dengan kalimat yang sama: ‘Semoga menjadi anak yang sholeh, dan berbakti pada orang tua dan agama’. Hampir semua kartu ucapan yang terselip di antara uang sumbangan dan kado yang diterima berbunyi demikian. Dan ia menjadi teringatlah pada kata-kata Titin, salah seorang pegawainya yang menengoknya kemarin hari:
‘Anak adalah rejeki dan karunia, bu. Anak pertama akan merubah hidup Ibu. Anak pertama akan membuat Ibu lupa segala rasa lelah berkerja, sekaligus menyemangati hidup ini’.
“Sungguhkah itu Titin?” ia bertanya pada bawahannya itu. Biasanya Titinlah yang bertanya dengan nada yang penuh ingin tahu dan mata membelalak.
“Ya, bu. Anak pertama akan menjadi pendorong yang luarbiasa. Ibu akan lupa segala lelah bekerja, dan penatnya hidup.”
Anak pertama! Ya anak pertama yang akan menyemangati hidup! Anak pertama yang akan merubah segalanya. Ia mengingati baik-baik kata-kata Titin itu dan membenarkannya. Maka ketika doa orang-orang yang datang menjenguk terngiang kembali dalam benaknya, ia pun kembali mengamini dengan sungguh. Pada Tuhan mendoa agar anaknya itu kelak menjadi manusia sebaik baiknya, bernasib lebih baik dari diri dan para pendahulunya. Matanya memejam dan memejam, menghaturkan doa, dalam bahasa Jawa seperti pernah diajarkan Ibunya semasa ia kecil. Ia kemudian mendoa dalam Arab seperti yang diajarkan ustad waktu ia belajar mengaji duapuluh lima tahun yang lalu semasa ia masih kanak. Pipinya terkembang, tertarik atas kebahagiaan yang baru ia rasakan. Matanya yang terpejam membasah. Sedetik dua hal itu terjadi. Membuka lagi kini matanya. Berkata ia, tidak pada siapapun, bahkan tidak pada dirinya sendiri:
“Bukan!,” ia terhenyak oleh kata-katanya sendiri. Urat pipinya menegang, bibirnya bergerak-gerak. Dipandanginya wajah bayinya terkasih. Gemuk dan sehat, tertidur dengan selimut hijau berbeludru yang tebal dan hangat. Limabelas juta untuk mengeluarkan manusia kecil itu dari perutnya secara caesar. Alis wajahnya adalah dari dirinya, alis yang diwarisinya dari ayahnya, seorang Jawa, pegawai rendah kecamatan: tebal, mendatar, hitam dan tegas. Sedangkan matanya mewarisi mata suaminya, yang diwarisi pula dari ayah mertuanya, kakek si bayi. Baru tiga hari umurnya, buah hatinya itu. Dan ia menjadi lemas. Fikirannya melayang ke tempat yang jauh dari tempatnya kini mendoa di timur Jakarta, dan ke waktu yang lampau, yang telah lama dilaluinya. Dan di hatinya terbangun kembali bayangan-bayangan apa yang pernah dialaminya sendiri, yang pernah dirasakannya sendiri. Dan bayangan-bayangan dari cerita yang masuk ke dalam benaknya. Ia mulai mengenang…

Almarhum ibunya pernah bercerita bahwa sudah sejak ia masih bayi, orang-orang telah memuji kecantikannya. Wajahnya bersih bersinaran dengan tubuh gemuk menggemaskan dan mata yang membelalak-belalak cerah. Tertawa-tawa saja tingkah polahnya, membuat gembira hati siapapun yang memandang. Perlu tujuh tahun menanti kehadirannya semenjak orangtuanya kawin. Dan suami isteri pegawai rendahan tata usaha kecamatan di mana dirinya dilahirkan memimpi dan mendoa agar kelak ia dapat menjadi kebanggaan keluarga dan membawa harum bagi kebaikan agama kelak di hari kemudian. Sang nenek yang datang menengok dari Purworejo dengan kewibawaan dan keyakinannya berkata: “anak ini akan menjadi orang yang berhasil.” Semua saja yang mendengar sabda sang nenek tertawalah sepuas dan sekerasnya. Kecuali sang ayah yang bekerja di kecamatan, tak pernah dalam silsilah keluarga itu ada keturunan yang mempunyai peran penting bahkan pada tingkat dusun. Nenek dan kakeknya adalah petani. Dan hampir semua keluarganya adalah petani, bahkan petani penggarap, bekerja di sawah namun tak memiliki sawah. Sang Nenek tak peduli pada semua tawa, berpegang kukuh pada keyakinannya. Dan tanpa ada yang meminta, pula tanpa ada yang kuasa menolak, ia memberi nama pada cucunya itu: Retnoningrum. “Ia akan seharum bunga, ia akan mengharumkan nama keluarga kita! Retno, artinya bunga. Ningrum, wening arum, bening dan harum. Ia akan mengharumkan. Sungguh aku tak mengada-ada. Aku bisa merasakannya.” Siapapun yang mendengar kala itu terdiam. Tiada guna melawan perempuan tua.

Beranjak dewasa ia, Retnoningrum, menjadi semakin megar dan ranum. Tubuhnya tinggi, lebih tinggi daripada rata-rata kawannya. Badannya padat, tidak gemuk, tapi tak pula kurus. Pantatnya mulai mengembang, menonjolkan keperempuanannya. Tulang-tulang tubuhnya besar, membuat ia nampak kokoh. Kulitnya kuning, tak seperti kulit Bapaknya yang menghitam. Alis matanya datar tegas. Dan sudah sejak saat SMP teman-teman lelaki menawarkan cinta padanya melalui surat-surat, melalui salam-salam. Dan ia tetap bersikukuh pada nasihat ayahnya : “Sekolah sing bener, nanti kalau kau sudah besar, kalau kau sudah bekerja, baru kau boleh punya teman pria.” Dan ia pun semakin beranjak dewasa. Surat cinta bukan sekali dua lagi diterimanya. Tapi ia belum mau berkasih-kasihan. Sepulang sekolah, ia selalu kembali ke rumah. Menyapu halaman, mengepel lantai rumah, dan pergi tidur. Sore ia bangun, membantu memasak untuk makan malam. Lewat pukul empat sore, ia akan mencari ayam-ayamnya yang berkeliaran di kebun dan halaman, menghalau mereka agar kembali ke kandang. Hingga menyelesaikan SMA-nya, ia masih saja menjadi anak rumahan. Dalam benaknya ia bertekad, ia harus melanjutkan sampai sarjana. Dan tekadnya itu mendapat dukungan sepenuhnya dari ayahnya. Ramalan sang nenek telah sering ia dengar dari mulut ayahnya: “Engkau kelak akan mengharumkan nama keluarga kita, Retno. Engkau akan mengharumkan seperti bunga, seperti namamu. Aku akan bekerja sekerasnya, kalau perlu hutang untuk sekolahmu hingga sarjana…”

Tiba giliran diterima di perguruan tinggi yang jauh dari tempatnya tinggal, sang ayah dan ibu menjadi bersedihlah. Kata orang tuanya pada ia suatu sore menjelang keberangkatannya menuju Purwokerto:
“Hati-hati, nak. Pandai kiranya kau menjaga diri.”
“Pasti, Mak.”
“Jaga dirimu baik-baik. Kamu perempuan, mesti tahu…” suara ayahnya bergetar menahan haru. Lelaki itu kemudian menasihati anaknya agar selalu ingat Yang Maha Kuasa, agar jangan melupakan kewajiban lima waktu.
Ia memandangi wajah ayahnya dengan penuh kasih, kemudian berkata:
“Wis Pak, jangan kuatir..” Diciumnya tangan ayahnya dengan kasih. Ia berpesan agar sang ayah menjaga ayam-ayam peliharaannya. Agar ayam-ayam itu jangan sampai dijual. Ayahnya mengangguk-angguk menyanggupi, dan berkata lagi kemudian sambil menyorongkan uang pada genggaman puterinya:
“Jangan lupa menulis surat pada kami sering-sering..”
“Ah Bapak ini. Kebumen dan Purwokerto kan dekat saja. Dalam satu setengah jam naik bus juga sampailah aku.” Dan sang ayah menjadi lega mendengarnya. Lelaki tua itu tertawa, mengusir pilu hatinya sendiri. Dan malam itu mereka makan bersama, mengobrol hingga larut malam. Sebelum tidur ia memandangi segenap penjuru rumahnya: lukisan gambar gunung dan sungai, foto hitam putih dirinya semasa SD yang dipigura besar, dan foto keluarga ketika piknik ke Borobudur bersama seluruh pegawai kecamatan. Dipandanginya baik-baik dan lekat-lekat semua yang ada dan disimpannya dalam hatinya rumahnya
yang terkasih.

Dan pagi sekali esok harinya, ia, si anak tunggal itu pergilah menjemput masa depannya, menuju Purwokerto. Rumah sederhana berkebun luas itu kembali sepi, sepi seperti sebelum kehadirannya di dunia. Sepi, karena tiadanya anak perempuan yang biasa membantu bekerja…


Masa orientasi mahasiswa baru dilewatinya dengan mudah. Dan karena kecantikan dan lugu wajahnya, ia hampir tak kena bentak para senior. Sekali dua memang ia kena murka dan menjadikannya yang tak pernah terbiasa dengan kata-kata kasar dan cacian menjadi takut dan tertekan. Namun lambat laun, ia menjadi mengerti: para panitia itu, para lelaki kakak kelasnya itu hanya ingin mencari perhatiannya saja. Sekaligus ia mendapat pelajaran yang dipahaminya dengan sangat baik: ia memancarkan pesona bagi mata lelaki.

Maka kini, tidak saja udara segar Purwokerto yang dihirupnya, bentuk pertemanan dan perkawanan yang sama sekali barupun dikecapnya. Kini ia menjadi anak kos, tinggal dalam pemondokan. Dan ini sungguh menggembirakan baginya. Memanglah pada awalnya tinggal jauh dari orang tua adalah siksaan. Ia tak bisa lagi lari dan tertidur di ketiak ibunya, namun lambat laun ia mulai menikmati dunianya yang baru: dunia mahasiswa. Bebas menentukan kehendak diri sendiri. Ia mulai melihat ke kanan dan ke kiri, pada teman-temannya. Sadarlah ia, cara berdandannya sangat tertinggal. Sadarlah ia bahwa cara bicaranya sangat kaku, tidak luwes dan kurang modern. Ia mulai menyadari, penampilannya dan pembawaannya jauh dari menarik. Ia mulai bisa membandingkan dan merasakan. Pada ujungnya ia menyesali takdir menjadi anak desa. Ia mencoba dan mencoba merubah. Dan ia gembira, karena bisa lebih kelihatan menarik di depan cermin, dan di depan lawan jenis. Bulan demi bulan berlalu, dan ia semakin sadar, sadar akan kemilau dirinya dan magnet yang ada di jiwa raganya. Dan ia menjadi semakin faham: nikmat dan menyenangkan ketika mampu mengendalikan semua yang ada di dirinya untuk kesenangannya…

Maka ketika ia telah mengubah dirinya, tak hanya satu lelaki, namun tiga sekaligus memperebutkan kasih sayangnya. Yang pertama, Bagus, berwajah tampan dengan dua anting monel di telinga kiri. Penampilannya rapi, badannya selalu berbau wangi, walau prestasi studi tak sebagus namanya. Akan tetapi ia ada memiliki kekayaan, kekayaan bapak ibunya yang melimpah. Dari tubuhnya yang tinggi terawat dan bersih orang akan mudah menyimpulkan: ia bukan dari golongan paria, bukan dari golongan atasan ayah Ratna sekalipun. Dan memanglah demikian adanya, setidaknya orang tuanya adalah orang yang berada dan berkedudukan. Yang kedua, Galih, anak seorang guru sekolah dasar. Seperti halnya Bagus, Galih juga berwajah tampan dan selalu rapi. Hanya ia tak pandai berkata-kata. Ia ada mempunyai pesona harta, akan tetapi jika diperbandingkan dengan Bagus ia seperti seekor kelinci tolol yang bersanding di sebelah gajah. Yang ketiga adalah Suyanto alias Yanto, mahasiswa biasa, berwajah biasa-biasa saja yang pula tak punya pengalaman bercinta kasih dengan perempuan. Hingga mudah ditebaklah, hanya Bagus dan Galih yang benar-benar bersaing mendapatkan cintanya.

Mulanya ia ragu, apakah akan memulai babak baru dalam hidupnya, berkasih-kasihan dengan lelaki. Masih jelas betul di telinga dan benaknya suara ayahnya penuh harap menasihati: “Aja dhisit cerak karo wong lanang . Selesaikan belajarmu, nanti setelah kau bekerja, barulah kau boleh berteman dekat dengan laki-laki.” Setelah itu kembali berdengungan nasihat ayahnya yang mengingatkan akan harapan sang nenek. Kemudian ia terkenang wajah ayah ibunya. Wajah yang ia rasai sangat berbeda dengan kebanyakan para pengajarnya yang berpendidikan. Ia menimbang-nimbang dan berfikir: Orang-orang tua, mengapa mereka hendak mengendalikan hidupku? Mengapa pula aku mesti tunduk pada cita-cita nenekku? Ia sendiri tidak mengalami kehidupan yang kualami. Ia sendiri tak pernah mengalami nikmatnya jaman ini. Dan Ibu Bapakku, mengapa pula aku mesti turutkan? Apa salahnya berkasih-kasihan dengan lelaki. Jaman sudah berubah. Apa yang perlu ditakutkan? Semua pertanyaan itu terus menderu dalam benaknya, dalam pemikirannya. Hingga pada suatu titik ia berkeputusan: Hidupnya, haruslah ia sendiri yang tentukan!

Kedua orang pecintanya, Bagus dan Galih sering datang di tempat ia mondok. Ini adalah pencapaian tersendiri baginya, karena sementara kawan-kawannya belum ada yang didatangi lelaki, ia telah membuat dua orang mengantri, dan satu orang mundur teratur tahu diri. Dan ia pun menjadi sering digoda oleh kawan-kawannya agar memilih satu yang paling sesuai di hatinya. Ia menjadi bimbang. Dalam renungannya, keduanya memiliki kebaikan kebaikan tersendiri. Bagus berwajah tampan, Galih pun demikian. Namun kalau ditimbang, nilai paling banyak dikumpulkan oleh Bagus. Ia santun berkata dan pandai mengambil hatinya. Ada saja yang dibawa sebelum berkunjung: cokleat silverqueen, atau sebungkus nasi goreng hangat untuk makan malam. Pula, Bagus pandai mencari pendukung. Ia selalu membawa sebungkus martabak untuk kawan-kawannya satu kos. Dan atas perhatian lelaki itu, dan dorongan kawan-kawannya, ia pun menjadi jatuh hati pada Bagus. Tak sampai dua bulan, remaja kaya itu berhasil mendapatkan cintanya. Galih, sebagaimana Suyanto, menjadi pecundang, tersungkur tanpa pernah ditengok lagi.

Dunia baru benar-benar ditemukan olehnya kini. Dan kebahagiaan baru satu demi satu mulai ia kunyah. Bagus anak orang kaya. Untuk yang satu ini ia sering tak percaya pada dirinya sendiri: ia bisa bersanding dengan anak orang kaya, orang terhormat!. Ia merenungi asal dirinya: keluarga pegawai rendahan, keturunan petani penggarap.
Kini bersama Bagus dan uangnya, ia bisa membelikan apa yang ia inginkan. Lipstik, pakaian, makan siang dan malam. Keasyikan bermesra dan berkasih-kasihan dengan Bagus membuatnya jarang kembali pulang ke desanya di pinggir timur Kebumen. Akhir pekan yang biasanya ia rasai rindu pada ayah dan ibu serta ayam-ayam peliharaannya di rumah menjadi sirna. Kini rindunya hanya untuk Bagus saja. Ketika ia membayangkan ayahnya yang sedang tersenyum menuntun sepeda pulang dari kecamatan, bayangan itu cepat tergantikan dengan bayangan Bagus yang juga tersenyum dengan jaket kulit dan mobilnya yang bersinaran. Tiap malam minggu ia lewatkan waku bersama Bagus, di dalam mobil yang selalu mengkilap dan wangi. Alun-alun Purwokerto menjadi tempat mereka menikmati jagung bakar sambil duduk berdempetan menggeser-geserkan punggung tangan. Dan gairah demi gairah meletup letup dan bermekaran, berlompatan di hati , benak, dan dalam kelenjar mereka masing-masing. Dan tak hanya tulus cinta darinya, Bagus mendapatkan nikmat suci sari madu tubuhnya kurang dari dua bulan lebih satu minggu setelah mereka resmi berkasihan…

Dan sesuatu yang sering didengarnya, pernah dibacanya, dan berulangkali dikutukinya dengan angkuh mengenai pergaulan muda mudi terjadilah padanya, dirinya sendiri: Ia hamil. Hamil! Sudah lebih dua bulan ia tidak mendapat haidnya. Dan suatu malam, selembar alat pengetes kehamilan yang dibawa Bagus dengan wajah was-was memberi pesan bisu padanya, pesan yang ia amat takuti yang ia sendiri tak dapat membantah: ia telah berbadan dua. Satu kepanikan baru tecipta kini di hatinya, di dalam hati kekasihnya Bagus. Mendadak ia merasa berdosa dan terlaknat. Ia mengucap ampun pada Tuhan dan menyesali sejadinya apa yang telah dilakukan. Beberapa jam ia menyesali mengapa dahulu ia pergi merantau untuk kuliah dan bukannya bekerja seadanya saja di Kebumen. Kemudian disesalinya perkenalan dengan Bagus. Teringat kembali ia akan nasihat ayah dan ibunya terkasih, nasihat yang ia remehkan. Nasihat dari para lugu dan tak pandai itu. Ia mengandaikan lagi wajah neneknya yang tak pernah diingatnya. Dan wajah nenek rekaannya terlihat murka dalam bayangannya sendiri. Ia menggigil takut. Dan di depannya kini, sang kekasih tak menunjukkan kewibawaan dan keterusterangan.
“Bagaimana Gus, aku takut…”
Pemuda itu terdiam. Badannya besar, tubuhnya tinggi. Namun ia adalah anak ingusan yang tak pernah jauh dari sentuhan dan kendali induknya. Bagus tak juga berkata-kata yang bisa
menenangkannya. Si tampan berbadan besar itu berhati kecil, berhati ciut.
Ia mengulangi lagi, kata-kata yang sudah diketahui kekasihnya:
“Aku hamil, Gus..”
Ia kemudian menyalahkan kekasihnya itu. Si tampan tetap terdiam dalam wajahnya yang semakin memucat, bisu tak berkata-kata. Ia hanya memainkan anak kuncinya mobilnya. Dalam benaknya membayang jelas wajah lonjong berambut separuh botak. Wajah Bapaknya, wajah yang menjanjikannya pekerjaan di kantornya di Jakarta begitu ia lulus sarjana. Namun ia tahu, Bapaknya itu tak akan pernah menyetujui perjodohannya dengan anak orang biasa seperti Ratna.
“Kita harus kawin secepatnya, Gus.” Diremasnya telapak tangan lelaki itu keras-keras dengan telapak tangannya sendiri yang telah membasah oleh keringat dingin, memaksa Bagus untuk berkata-kata.
“Aku tak tahu, Ratna,” Bagus akhirnya menjawabi.
“Kau harus bertanggung jawab Gus, yang ada di perutku ini adalah bakal anakmu sendiri…”
“Aku takut..”
“Apa yang kau takutkan Gus?”, ia menanyakan sesuatu yang ia sendiri tahu jawabannya. Bagus, kekasihnya itu takut akan masa depan yang terampas. Takut akan murka orang tuanya, Takut akan karir yang kandas. Takut akan berkeluarga Ratna yang biasa-biasa saja. Tiba-tiba saja ia menjadi semakin lemas.Dipandanginya wajah lelaki tercintanya. Akan tetapi mulut lelaki itu tetap terkunci.
Bagus tetap tak menjawab. Ratna pun terdiam, merenungi kata-katadalam pikirannya barusan. Ia pun takut. Kawin? Tidak semudah itu. Bagaimana ia akan memberitahu Ayah dan Ibu di desa? Apa kata mereka nantinya: ‘Baru setahun kuliah kok sudah mau kawin?’ atau kutukan yang akan dihujankan padanya jikalau mereka tahu ia telah menjadi pezinah. Ia sepenuhnya sadar, kawin di desa tak bisa selaksa ayam. Mestilah ada perayaan, mestilah ada kenduri dan persiapan sebelumnya. Kalaupun ia harus kawin dengan Bagus sekarang, maka akan menimbulkan tanda tanya dan curiga tetangga. Dan kecurigaan tetangga di desa adalah siksa rajam bagi siapapun yang dicurigai. Tiba-tiba ia merasa sedang menyorongkan ayah ibunya di bawah cambuk berduri masyarakat desa. Badannya melemas, hatinya melunglai.
Ia terus berfikir, sekaligus menjadi semakin cemas. Gugup ia berkata lagi:
“Bagaimana Gus?”
“Aku tidak bisa, Ratna”
Ia menukas cepat:
“Tidak bisa apa?”
“Aku tak mungkin mengatakannya.”
Sejenak keduanya terdiam. Beberapa mahasiswi penghuni kos datang, menyapa mereka berdua dan menggoda. Terpaksa ia dan Bagus bersandiwara, tersenyum dan melambaikan tangan. Senyum dalam tangis di hati. Ketika suasana kembali sunyi, kembali ia berkata:
“Kau tak peduli padaku Gus, kau..”
“Aku sayang pada kau, Ratna”
“Kalau kau sayang padaku, mengapa kau diam saja?”, ia memburu. Tangannya membelai pipi Bagus. Matanya menatap wajah kekasihnya itu dengan segenap rasa di hatinya. Dengan segenap harap.
Dalam hatinya Bagus membenarkan. Apakah ia benar-benar menyayangi gadis itu? Sesungguhnya dan sepenuhnya?
“Kau pikir orang tuaku tak marah Gus?, mereka pasti akan marah dan malu.”
“Gus, kita harus kawin. Kau harus bilang pada Bapak Ibumu, Gus..” Ratna berkata. Diggenggamnya tangan Bagus erat. Ditatapnya wajah lelaki itu, lelaki yang telah menikmati cinta dan tubuhnya.
Tak ada suara kini. Hanya desau angin malam yang menderu. Suara denting mangkuk penjual bakso terdengar keras mencoba mencari rezeki.
“Baiklah. Aku akan mencoba mengatakan pada orang tuaku”
Ratna terdiam. Terisak ia kini, menangis dalam duka dan bingungnya sendiri. Ketakutan mulai muncul berganda-ganda dalam benak: ia hanya sekedar pemuas nafsu Bagus saja. Namun ia berhenti dari kekhawatirannya, berbalik menuduh dirinya sendiri: ia merasa bahwa ia pun menjadikan Bagus sebagai pemuas nafsunya pula. Ya bukankah ia sendiri memiliki nafsu itu?
Dan malam itu Bagus pulang dengan lesu meninggalkannya yang terduduk lunglai. Biasanya kedua bibir mereka berpagutan di pojok ruang tamu kos yang sepi ketika saat perpisahan tiba, namun malam itu semua kehendak untuk melakukan itu sirna sudah. Ratna mengunci kamar, tangisnya semakin menjadi. Dijambakinya rambutnya sendiri. Namun ia sadar, hal itu tak akan merubah keadaan. Ia beringsut bangkit dan menuju meja riasnya. Dipandanginya wajahnya sendiri. Dan ia mengutuki dirinya sendiri: perempuan tak perawan, perempuan murahan!. Dan ia kembali menangis, merebahkan badan ke tempat tidur dan tersedu sejadinya. Hujan turun dengan deras mengalahkan deru airmatanya. Airmata yang tak mempunyai keampuhan untuk dicurahkan. Dalam tangisnya ia mendoa, mendoa agar Bagus mau mengawininya. Mengawininya dengan segera, sebelum perutnya semakin membesar detik demi detik. Pula ia mendoa agar Tuhan mengampuni dosanya, sesuatu yang ia sendiri tak yakin. Terbayang kini hukuman bagi pezina, sesuatu yang belum pernah dilihatnya, namun dapat dibayangkannya dari pelajaran-pelajaran agama. Ia merinding dan semakin bersedih. Dipandanginya perutnya. Dibelai-belainya. Pikirannya melayang-layang membayangkan wajah si anak kelak. Ia menangis dan terus menangis, dan jari-jari tangannya yang halus lembut membelai-belai perutnya lagi hingga tertidur.

Belaiannya pada perutnya sendiri, pada anak dalam rahimnya tak sampai satu minggu. Bagus datang dengan wajah suramnya, mengabarkan tiadanya jalan bagi mereka menikah. Sebaliknya, ia membawa uang dari orang tuanya untuk menggugurkan kandungannya. Dan sekali lagi ia menangis sejadinya di kamar itu. Tangis yang sia-sia, karena tak sampai duapuluh jam kemudian ia telah berada di pinggir utara kota Cilacap, mengenyahkan gumpal daging dari rahimnya. Dan ia menangis merasakan sakit, sakit pada tubuh dan hatinya. Dan saat ia telentang di kamar itu ia merasa betapa hari itu adalah hari yang paling celaka dalam hidupnya. Ia merasa menyesal dan tak berguna. Ia merasa telah khianat pada ayahnya, pada ibunya. Dan kesedihannya bertambah penuh, setelah dua bulan kemudian Bagus pergi, meninggalkan kuliahnya, meninggalkan dirinya dan tak pernah kembali.

Pintu kamar terbuka. Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berambut menyentuh kerah masuk. Suaminya sendiri. Ia masih memakai baju kerja. Wajahnya terlihat lelah, namun tetap cerah. Perlahan ia berkata:
“Kau belum tidur, bagaimana anak kita?”
“Ia tidur.”
“Ia sungguh lucu. Alisnya sungguh indah, mirip kau.”
“Semoga keras kepalanya tidak seperti dirimu,” ia melirik pada suaminya tersenyum.
“Juga tidak sepertimu yang bandel,” suaminya mencubit ujung hidungnya, kemudian berbalik keluar menuju pintu, hendak mandi.
Ia tersenyum. Suami yang baik, pikirnya dalam hati. Dipandanginya wajah punggung suaminya itu. Dan ia berterimakasih, karena ada lelaki yang menerima dirinya. Ia tahu, suaminya pasti mengerti bahwa ia telah tak utuh lagi. Dan penerimaaan itu dikarenakan suaminya pun jujur, bahwa ia juga tak utuh lagi. Ketidakutuhan bertemu ketidakutuhan. Dan itu dirasakan paling adil baginya. Ia tak menuntut seorang perjaka untuk menemaninya. Dan ia tak ingin menanyakan lebih jauh masa lalu suaminya, seperti ia pun ingin memendam masa lalunya. Ditengoknya anaknya itu. Kulitnya masih tipis dan kemerahan. Ia nampak nyenyak dengan pakaian bayi bergambar jerapah yang bagus dan bersih, di kamar yang bersih, dan rumah yang bersih pula. Pada dirinya sendiri ia berjanji, tak akan mengatakan pada siapapun, tak terkecuali Titien karyawannya, bahwa anaknya yang baru tiga hari terlahir itu, bukanlah anak pertama…

Purwokerto, Mei 2006

Advertisements

3 thoughts on “Bukan Anak Pertama

  1. littleahmad said: gud story..:)crita ini mengambarkan apa yg saat ini bnar2 terjadi di sekitar kita, lebih banyak dari yang kita duga..

    Beberapa bahan dari cerita ini atas dasar pengakuan kawan baik saya. Untuknyalah cerita ini saya dedikasikan. Terimakasih_

    1. cerpen yg sangat jujur, 🙂 tapi ini saya yg kurang mudeng atau memang cerita ini alurnya maju mundur yah pak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s