Eternal Madness: Abad Kegilaan

eternal-madnessMendengarkan Eternal Madness (selanjutnya disebut EM) adalah mendengarkan kemurkaan ala Bali. Ramuan musik dan lirik adalah ungkapan kejijikan, kecaman, kemarahan akan nafsu tamak, aksi tipu-tipu dan kelicikan dan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi tidak saja alam, namun ajaran agama yang dijadikan pembenar penindasan terhadap sesama. Semangat perlawanan dan protes ini masih tercium kencang dalam album ketiga sekaligus album teranyar mereka Abad Kegilaan. Dirilis di bawah label Rottrevore Records yang berbasis di Jakarta pada akhir 2007 lalu, keseluruhan musik dan lirik band yang berbasis di Denpasar Bali yang kini digawangi oleh Moel (bass, vox), Agung Putra (guitar), Adith (guitar) dan Ghebes (additional drummer) ini adalah pengobat rindu fans deathmetal atas kegarangan EM seperti yang telah mereka suguhkan dalam dua album mereka terdahulu Offering To Rangda (1997) dan Bongkar Batas (2000).
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan EM hingga mampu bertahan lebih dari satu dasawarsa dalam kancah musik bawah tanah? Bukankah begitu banyak band seangkatannya yang mengusung aliran yang sama yakni deathmetal telah lebih dahulu menyandang predikat almarhum? Tak lain jawabannya adalah keteguhan mereka dalam meramu musik tradisi lokal yang terwujud dengan adopsi nada-nada pentatonik khas Bali dipadu lirik-lirik yang amat membumi dan mudah dipahami ke dalam musik deathmetal. Yang terakhir ini bukan saja karena judul album dan sebagian besar lirik ditulis dalam bahasa Indonesia (hanya satu track berbahasa Inggris yakni Lost Consciousness), namun karena EM mengangkat hal-hal yang lekat dengan pengalaman orang kebanyakan mulai dari kepercayaan lokal, permasalah sosial-politik, hingga ekologi. Simaklah lirik yang mengangkat mitologi lokal dalam lagu Di Abad Kegilaan: jaman telah berubah/era miskinnya peradaban/raksasa bertiwikrama/lapar daging manusia. Perhatikan pula bagaimana mereka mereka mengingatkan sifat serakah yang membinasakan diri manusia sendiri dalam lagu Hujan Darah: sang kala sebarkan amarah/tragedi mendera semesta/darah segar meruwat bumi/ingatkan manusia yang lupa diri/lupakan tradisi menghormati pertiwi/khianati history/mengeksploitasi bumi. Dalam urusan lirik, EM adalah satu dari sedikit band metal negeri ini yang patut diacungi jempol karena apa yang mereka tuangkan dalam lirik benar-benar terkonsep dan memiliki pesan. Lirik bagi mereka adalah elemen yang penting dan bukannya sekedar ornamen guna memenuhi kebutuhan akan kesangaran sebuah musik metal saja. Sebagai pembanding, dalam jagad permetalan tanah air, kesungguhan serupa telah ditunjukkan oleh Funeral Inception (Jakarta), Jasad (Bandung), maupun Death Vomit (Yogyakarta) yang sebagaimana halnya EM telah dikenal dan disegani bahkan dalam kancah permetalan dunia.
Namun demikian, pergantian personil tak urung membawa perubahan pula dalam warna musik EM. Sejak pertama kali berdiri, hanya Moel, vokalis sekaligus bassplayer yang masih bercokol. Mempertahankan rhytm dan lengkingan gitar yang mengadopsi nada-nada pentatonik gamelan Bali, dua gitaris baru dalam formasi EM berusaha menunjukkan bahwa mereka tak kalah gahar dengan permainan gitaris sebelumnya, Didot. Nomor pembuka Trance Elixir misalnya, diawali dengan petikan gitar yang segera mengingatkan orang akan nada-nada pentatonik gending Bali yang kemudian disusul oleh rhythm gitar nan distortif dan ketukan drum yang kian lama kian menghajar dada. Garukan bernada pentatonik pula ditunjukkan dalam beberapa track lain seperti Duniapun Meratap Sekarat dan Hujan Darah. Walau demikian, ada kesan bahwa perkawinan musik metal dan nada-nada pentatonik khas lokal terasa lebih pekat dihasilkan manakala band ini masih diperkuat Didot. Di sisi lain pilihan untuk merekrut Pandi Ghebes, drummer hyper grup brutaldeath Sadistis (Jakarta) bisa dibilang langkah yang tepat. Usaha keras Pandi dalam mengadopsi ketukan-ketukan kendang gamelan Bali secara umum bisa dikatakan berhasil. Pukulannya memberi kesan kuat perkusi tradisional dalam lagu Gila Sepanjang Masa. Sekedar mengingatkan, dalam album Bongkar Batas EM mengambil langkah tak populer dengan menggunakan machine drum.
Terlepas dari itu justeru karena dalam penggarapan album teranyarnya ini EM ditunjang dengan piranti studio yang jauh bagus ada kesan bahwa band ini menjadi kehilangan “raw” nya, sesuatu yang sebenarnya menjadi ruh penghidup dan ciri tidak saja bagi EM, namun juga bagi band-band dan rekaman-rekaman di dunia bawah tanah pada umumnya. Namun demikian tetap saja Abad Kegilaan adalah album yang wajib dimiliki para penggemar musik deathmetal tanah air, khususnya mereka yang ingin melepaskan diri dari kejenuhan akan everyday deathmetal music.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s