Funeral Inception: Anthems of Disenchantment

Sampul album Anthems...versi Warpath, Perancis.
Sampul album Anthems…versi Warpath, Perancis.

Jika ada pertanyaan siapakah band terbising di Indonesia, jawaban yang diberikan bisa jadi beragam. Namun jika ditanyakan apakah album metal paling keras yang pernah dihasilkan oleh sebuah band lokal tanah air, maka Anthems of Disenchantment tak diragukan lagi adalah jawabnya.
Diedarkan dalam format CD oleh Warpath, sebuah label berbasis di Perancis (versi kaset dirilis oleh Rottrevore Records), 10 track dalam album ini benar-benar membutuhkan kekuatan mental tersendiri untuk dinikmati secara utuh dan maraton. Semua personil mengeluarkan kemampuannya yang paling keras dan membunuh, amat sangat technical dan tak terbayangkan sebelumnya akan pernah ada rekaman seperti ini dalam diskursus permetalan lokal.
Drumming dalam album ini benar-benar meledak, benar-benar blasting. Suara yang begitu keras, bertenaga, dengan fill-in amat cepat ditampilkan oleh Pandi yang dikenal sebagai awak Sadistis, band brutaldeath asal Jakarta yang disegani. Sanjungan pada performa sang drummer adalah salah satu elemen yang selalu mengisi pembicaraan mengenai album ini.
Ya, inilah magnum opus Funeral Inception, sebuah band pengibar bendera brutaldeathmetal asal Jakarta, reinkarnasi Bloody Gore, yang telah dikubur dengan tenang. Inilah debut yang benar-benar menarik perhatian khalayak metal tanah air maupun dunia per-underground-an dunia dimana review terhadap album ini bisa dikatakan umumnya bernada memuji dan menghormat.
Tidak semua lagu adalah garapan yang baru. “Slices of Flesh Are Being Devoured” misalnya adalah nomor milik almarhum Bloody Gore yang diaransemen dengan citarasa yang lain, citarasa yang lebih kejam dan menusuk. Dwinanda Satrio Ari alias Rio menunjukkan kelasnya sebagai rhythm guitarist yang mumpuni bersama partner in crime-nya Mithos, yang sebelumnya adalah bassplayer Bloody Gore. Berbagai riff yang ditampilkan gitaris yang kemudian hari sempat memperkuat Disinfected ini dengan sendirinya menunjukkan kelasnya sebagai pengayun kampak perang paling sangar. Sound yang digunakannya terdengar orisinal. Acung jempol mestilah ditujukan pada gitaris yang kini lebih menekuni karirnya di dunia metal dari balik layar sebagai produser ini.
Satu hal teramat penting adalah bahwa lirik dalam album ini digarap dengan begitu baik. Setiap lagu ditulis dengan begitu poetic dan menusuk dan dibawakan dengan penjiwaan yang begitu prima oleh sang vokalis Doni (sebelumnya memperkuat Delirium Tremens). Pilihan kata maupun grammarnya nyaris sempurna, membuat orang perlu waktu tersendiri untuk percaya bahwa album ini benar-benar garapan sebuah band pribumi. Tak berlebihan untuk mengatakan bahwa Anthems…adalah rujukan yang patut dijadikan standar pencapaian band metal manapun tidak saja memainkan musik metal yang keras menghajar, namun pula untuk tidak sekali-sekali secara serampangan dan asal-asalan menuliskan lirik, terutama dalam bahasa Inggris.
Funeral Inception yang diambil sebagai nama band memang diambil dari salah satu judul lagu milik Sufffocation di album Despise The Sun. Namun, tanpa mengecilkan kewibawaan simbahnya deathmetal dunia itu, harus jujur dikatakan bahwa band ini, setidaknya dalam Anthems…, jauh lebih heavy dari sang patron. What else? Saya hanya ingin mengingatkan bahwa jika jam terbang anda dalam mengunyah musik metal belum mencukupi, dipastikan anda akan menyerah terbantai pada track-track pertama dan kembali ke pelukan Kangen Band atau Ungu. Anthems…sungguh-sungguh rekaman metal paling berbahaya yang pernah dirilis oleh sebuah band negeri ini, sekaligus pesan serius ke seluruh penjuru dunia bahwa Indonesia adalah negeri yang mesti dikalkulasikan secara serius dan terhormat dalam jagad permetalan dunia. (Catatan: Rio, mantan gitaris ini wafat pada Desember 2011)

Advertisements