Musik Masa Lampau, Dilupakan Jangan

Tidak terlalu sukar bagi orang untuk mengetahui pada album apa terdapat lagu I Saw Her Standing There milik kelompok The Beatles. Walaupun sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, hingga kini album band dari kota pelabuhan Liverpool itu cukup mudah diperoleh di toko-toko musik baik dalam format cakram padat maupun kaset.
Pula tidak terlalu sukar untuk mengetahui dan memiliki lagu Memory Motel dari The Rolling Stones. Album Black And Blue yang memuat lagu itu dan album-album Stones lain seperti Steel Wheels, Get Yer Ya Ya’s Out, Their Satanic Majesty Request masih sangat mudah dijumpai di pasaran.
Sebaliknya di tanah air amat sukar bagi orang untuk menjawab pada album apa terdapat lagu Buat Apa Susah dari kelompok legendaris Koes Plus. Mencintai dan menyukai lagu-lagu Koes Plus saja tidak cukup untuk membuat orang mengetahui persis terdapat pada album apa dan dirilis tahun berapa lagu yang pernah menjadi hits kembali pada akhir 90-an itu.
Ini karena album-album Koes Plus (terlebih cikal bakalnya Kus Bersaudara) tidak lagi diedarkan seperti dalam format aslinya di tahun 1960-1970-an. Apa yang kini dijumpai di pasaran adalah lagu-lagu yang telah masuk dalam berbagai aneka macam kompilasi dengan berbagai embel-embel semisal Lagu-lagu Emas, Kumpulan Hits dan lain-lain.
Kalau Koes Plus yang boleh dikatakan sebagai band paling legendaris saja sudah tak lagi dalam format album aslinya, kita tak bisa berharap banyak dari band-band seangkatan ataupun pendahulu Koes Plus seperti, Panbers, Mercys, maupun D’lloyd. Tak beda dengan Koes Plus, lagu-lagu dari band-band tersebut kini hanya dikemas dalam bentuk kompilasi. Bahkan band-band atau artis 1990-an pun tak luput dari takdir menjadi artis/band kompilasi.
Namun, walau kini hanya diedarkan album campuran, band-band maupun artis-artis tersebut masih dapat dikatakan “beruntung”. Ada banyak band era 1960-1970-an yang hampir-hampir terlupakan dan lenyap ditelan waktu.
Grup musik seperti Rasela, Dara Puspita, AKA, C’Blues, Freedom of Rhapsodia, Golden Wing, Superkid, Two Faces bisa dipastikan adalah nama yang asing bagi sebagian besar generasi penikmat musik Indonesia masa kini. Mereka tak dikenang karena album-album yang berisi lagu-lagu mereka kini amat sukar didapatkan. Sementara itu, lagu-lagu mereka juga nyaris tak terdengar lagi.

Di Tukang Loak
Hanya stasiun radio yang memiliki music library yang cukup lengkap dan mempunyai idealisme tinggi untuk melestarikan musik Indonesia sajalah yang mau memutar lagu-lagu yang “tak komersial” tersebut. Radio-radio seperti ini semakin susah dicari, karena di tengah persaingan yang ketat, lagu-lagu yang easy listening masa kini dan bisa menarik banyak iklan itulah yang biasanya diputar. Belum lagi, pada umumnya radio yang memiliki library lagu-lagu lama sudah barang tentu adalah radio yang telah puluhan tahun berdiri.
Dalam pada itu, era digital dengan lagu-lagu dalam format MP3 sudah memasuki dunia broadcasting di Indonesia. Maka penyimpanan file-file musik seperti di atas sudah nyaris tidak dilakukan. Rekaman-rekaman lama yang dimiliki biasanya dijual ke tukang loak.
Mereka yang ingin mendengar atau memiliki album-album dari band Indonesia lama tersebut mestilah rela keluar-masuk pasar loak atau ke tempat-tempat yang menjual barang-barang bekas. Makin hari, tentulah makin sedikit rekaman dari grup musik tersebut.
Kaset atau piringan hitam yang didapat seringkali sudah rusak, tergores, atau bahkan terhapus ditimpa lagu-lagu lain sesuka pemilik sebelumnya. Kalaupun masih baik, seringkali kaset atau piringan hitam sudah tak mempunyai sampul lagi.
Tidak dikeluarkannya lagi album-album musik kontemporer Indonesia itu memang dilandasi sejumlah alasan. Kemungkinan merugi adalah salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan.
Kekhawatiran produser tentu dapat dimengerti, karena di zaman yang serbasukar ini, merilis album lama berpotensi mengundang kerugian. Kalaupun ada pembeli yang fanatik, jumlahnya tak banyak. Belum lagi ancaman pembajakan yang sekian lama menjadi momok dalam industri rekaman di Indonesia.
Kemudahan teknologi yang sudah memasuki ranah domestik seperti CD writer, scanner membuat mereka yang hendak mecentak ulang album-album lama mesti berpikir banyak kali untuk melakukannya. Alasan lain yang tak kalah penting adalah ketiadaan arsip yang memungkinkan dilakukannya rilis ulang dengan mutu yang baik.

Jejak Sejarah
Master tape grup Koes Bersaudara konon sudah hilang tak tentu rimbanya, padahal Koes Bersaudara bisa dikatakan pelopor revolusi musik pop di Tanah Air. Kini lagu-lagu seperti Angin Laut, Dewi Rindu, Harapanku bisa jadi hanya menjadi lagu-lagu yang dinikmati eksklusif pemilik kaset atau piringan hitamnya, sementara orang pada umumnya, terlebih generasi sekarang tak bisa lagi memiliki atau mendengarkan rekaman aslinya.
Memang tidak semua band yang telah melewati perjalanan karier cukup lama mengalami nasib menjadi “band kompilasi”. Kendati tidak semua, album-album God Bless kini cukup banyak dikeluarkan kembali bahkan dalam format CD.
Demikian juga penyanyi balada Iwan Fals dan Chrisye adalah sedikit dari banyak artis yang beruntung masih dirilis dalam format aslinya. Memprihatinkan memang.
Kelak beberapa generasi setelah ini, ketika rekaman-rekaman asli itu sudah semakin aus dan menyusut dalam jumlah karena berpindah tangan dari satu generasi ke generasi penerusnya, akan semakin sulit bagi anak bangsa menelusuri jejak sejarah musik Indonesia.
Orang akan lebih mudah mudah mempelajari perkembangan sejarah Led Zeppelin daripada sejarah perjalanan C’Blues, Konser Rakyat Leo-Kristi, atau The Rollies. Orang akan lebih mengenal sosok Charlie Watts (The Rolling Stones), pianis David Foster, atau John Frusciante (The Red Hot Chili Peppers) ketimbang mengenal duet Benyamin-Ida Royani, multi instrumentalis Benny Likumahuwa, band Gypsy ataupun pianis Nick Mamahit.
Perkembangan dan dinamika seni musik adalah pula salah satu cerminan perkembangan peradaban suatu bangsa. Barangkali karena musik tak selalu berkaitan dengan medali kemenangan, perhatian pemerintah terhadap seni musik terkesan tak seintens seperti yang diberikan pada bidang olahraga.
Terlepas dari itu, sudah selayaknya elemen bangsa ini mulai memikirkan pentingnya pendokumentasian musik negeri sendiri. Digitalisasi musik-musik Indonesia secara lebih baik adalah salah satu varian yang bisa dilakukan.
Adanya semacam museum musik Indonesia kiranya menjadi hal yang tak hanya perlu dipikirkan namun ditindaklanjuti oleh siapapun yang tak ingin musik negeri sendiri musnah dan terkubur dalam puing terjangan musik mancanegara.

Penulis adalah moderator mailing-list Komunitas Pecinta Musik Indonesia

This article has been published by Sinar Harapan on July 2006

Advertisements