Musim Semi Yang Dingin di Nederland

di kanal depan kampus Institute of Social Studies, Den Haag Spring 2009
di kanal depan kampus Institute of Social Studies, Den Haag Spring 2009

Ketika kukabari bahwa aku hendak mengunjungi Nederland pada April 2009, beberapa kawan memberi tanggapan positif bahwa kunjunganku ke negeri Belanda dilakukan di saat yang tepat. Kenapa? karena aku akan datang di musim Spring, dan Spring adalah musim yang baik untuk berjalan-jalan di Nederland. Spring, adalah musim yang baik, karena dinginnya winter yang menyiksa telah berlalu. Tidak saja itu, matahari bersinar dengan hangat. Banyak momen yang bisa disaksikan, tak terkecuali hari Ratu alias Koningenedag.

Benar apa yang dikatakan teman-teman dan mereka yang pernah atau masih tinggal di Belanda, dan kawanku orang Belanda sendiri. Hawa yang cukup bersahabat aku rasakan ketika menginjak bandara Schipol, Amsterdam pada 22 April 2009 pagi. Memang tetap terasa dingin, sekitar belasan derajat. Namun dingin yang aku rasakan itu masih dapat ditoleransi dengan jaket yang aku bawa dari bumi tropis.

Benar belaka bahwa Spring adalah musim yang bagus untuk berjalan-jalan. Namun, harus aku tegaskan kembali di sini, bahwa spring tetap merupakan musim yang dingin bagiku, yang hampir sepanjang hidupnya hidup di gerah tropisnya Indonesia. Walau matahari bersinar, aku tak pernah terlalu percaya diri untuk pergi tanpa jaket sekedar untuk menahan dinginnya angin Den Haag.Aku tidak sendirian. Seorang kawan, bahkan sampai membeli baju hangat yang amat tebal di garage sale Hari Ratu. Walhasil, ketika ia berjalan jalan baik di sekitar Den Haag maupun ke luar kota dengan jaket yang supertebal dari wol itu, ia nampak seperti orang yang salah kostum.

Bicara soal dingin ini, aku teringat akan kedatanganku di hari pertama di Melbourne, Australia lima tahun silam. Aku datang pertama di Melbourne pada Januari 2004, dimana saat itu adalah sudah masuk Summer. Summer alias musim panas, namun tak urung aku juga merasakan kedinginan yang amat sangat di hari pertama . Namun dibandingkan Den Haag, angin Melbourne lebih kencang bertiup membuat tubuh lebih menggigil. Kuingat betul aku mencoba mengisap Dji Sam Soe yang aku bawa dari tanah air. Rasanya benar benar menjadi tidak enak setidaknya karena dua alasan. Pertama, rokok itu turut menjadi kering karena kelembaban yang rendah di Australia. Konon, benua itu memiliki kelembaban yang lebih rendah daripada di Afrika. Kedua kalinya, merokok di Melbourne tidaklah enak karena kencangnya angin yang bertiup. Udara Melbourne yang kering membuat tak enak pernafasan, terlebih di hari-hari pertama kedatangan. Den Haag tidak begitu. Kota ini hanya dingin saja yang ditawarkan padaku, namun ia tak memamerkan anginnya yang kencang. Ataukah diri ini belum pernah merasakannya? entahlah. Yang pasti selama ini tak kurasa suhu yang ekstrim diakibatkan oleh angin. Hari ini, langit terlihat tidak cerah, walau tidak hujan. Suhu udara juga terasa lebih dingin dari biasanya.

Selisih waktu lima jam dari Indoensia Bagian Barat tak urung membuatku kelimpungan pula. Dua atau tiga hari pertama aku merasakan kantuk luar biasa ketika hari di sini baru memasuki masa sore. Jika di sini baru menunjukkan pukul 5 sore saja, tubuhku sudah merasakan kantuk selaksa jam 10 malam. Demikian pula dengan waktu untuk bangun tidur. Hari-hari pertama aku terbangun jam 3 pagi. Alhasil, ketika harus mengikuti perkuliahan di waktu pagi, aku sudah kembali merasakan kantuk luar biasa.

Hari ketiga atau keempat, aku memaksakan untuk tidur pada jam 12 waktu Den Haag, atau sama dengan pukul 5 pagi waktu Indonesia Barat. Amat sangat mengantuk sebenarnya, namun usahaku berhasil. Aku akhirnya bangun jam 6 pagi sejak itu. Mengatasi jetlag benar benar perjuangan. Kalau kita bisa menahan derita barang satu dua hari, maka jetlag akan segera bisa diatasi…

Den Haag, 6 Mei 2009 menjelang tengah malam

Advertisements