Renungan China Blue

Sore 8 Mei 2009, sebagai penutup kuliah diadakan pemutaran film semi dokumenter, China Blue. Ini film berkisah mengenai seorang gadis China muda bernama Jasmine. Kemiskinan memaksanya untuk menjadi buruh di pabrik konveksi yang memproduksi celana jeans untuk kepentingan ekspor. Dua hari dua malam ia menempuh perjalanan meninggalkan desa, keluarga, ayah dan ibunya dari suatu kawasan pertanian, menuju sebuah kota industri. Segera sampai di sana ia menjadi pemotong benang pada celana celana jeans yang telah jadi.Kerja dengan kondisi yang amat buruk, belasan jam sehari. Kalau ada permintaan order dari buyer yang harus segera dipenuhi, maka bisa dipastikan akan membuat para buruh kembali pada situasi kerja yang buruk, dengan kerja yang tak kunjung henti.

Digambarkan di sana betapa keterlambatan semenit saja, akan berakibat pada pemotongan gaji buruh. Kondisi kerja juga sedemikian buruk. Pekerja harus segera menyelesaikan makan yang diberikan pabrik dengan segera. Semua dilakukan dengan tergesa gesa. Makanan digambarkan sebagai “tidak ada rasanya”.

Tidak saja itu, pembayaran gaji biasanya terlambat. Dan untuk ini, manajemen perusahaan punya bermacam alasan. Ketika waktu pembayaran tiba, kerapkali buruh tak mendapatkan hasil yang diperkirakan. Pemotongan gaji misalnya, lebih besar yang diperkirakan. Aku melihat film itu menjadi teringat akan peternakan ayam petelur. Ayam, dalam kurungan yang sempit kehilangan kebebasannya. Tak ada mungkin baginya untuk bermandi sinar matahari dan bermain pasir. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghadap ke satu arah dengan takzim. Melihat ke pantatnya pun ia tak mampu. Dan di depannya, tersedia tempat voor, makanan yang harus ia makan setiap harinya. Jika ia bertelur, maka telur itu tak akan pernah menjadi anak ayam, karena tak pernah dibuahi, dan telur itu memang untuk dikonsumsi. Ia diberi makan bukan karena rasa kasih dari sang pemilik peternakan, karena dari makanan itu ia diharapkan memproduksi penghasilan. Dan jika ia tak lagi produktif menghasilkan telur, ia akan dijual murah sebagai ayam potong.

Jasmine dan kawan-kawannya pun begitu. Ia masih begitu muda ketika berangkat menjadi buruh, Kawan-kawannya seperti Orchid, juga tak kalah muda. Banyak yang meninggalkan desa dan mulai bekerja di pabrik ketika berusia 14 tahun. Sebagaimana manusia mereka membutuhkan hiburan dan sukacita. Apalah yang bisa didapat dari kaum pekerja rendahan seperti mereka? hiburan-hiburan yang murah di pinggir jalan. Dan tak lama mereka dapat menikmatinya, karena mereka harus segera kembali ke tempat bekerja.

Jasmine, dan kawan-kawan, bekerja untuk buyer Internasional yang akan menjual kembali produk yang dihasilkannya senilai 4 dollar itu kepada merek-merek internasional di Amerika, dan Eropa. Di negara-negara utara. 4 dollar adalah harga yang diterima oleh pemilik pabrik atas sebuah celana jeans. Tentu 4 dollar bukanlah keuntungan bersih. Sang pemilik akan mengurangkannya dengan biaya modal. Dan biaya untuk mengupah Jasmine dan kawan-kawannya amat rendah mencekik. Dan terus mereka harus bekerja, lembur hingga dinihari terlebih jika ada pesanan yang harus segera dipenuhi.

Mengharukan ketika pada akhir film, Jasmine menebak nebak dan mengangan angan siapakah yang akan memakai celana jeans yang dia dan kawan-kawannya hasilkan. Ia hanya menduga, orang itu pastilah berbadan besar dan tinggi, suatu tebakan yang ia dapat dari ukuran jeans yang dihasilkannya. Akan tetapi siapapun yang memakai celana jeans itu ia meyakini, pastilah nasibnya lebih beruntung darinya.

Melihat film itu, aku teringat akan kakak iparku sendiri. Ia juga bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Ungaran, Jawa Tengah. Demi mendapatkan 15 ribu, ia harus bekerja lembur beberapa jam. Sepatu yang dihasilkannya bukan untuk pasar dalam negeri, tapi pasar Internasional, terutama Eropa. Ia, kaum buruh, adalah kaum yang paling ditindas dalam proses produksi dan perdagangan global, serta pertukaran nilai global.

Kerap kali ketika kita memakai suatu produk, jarang terlintas di benak kita, akan keringat dan darah mereka yang menghasilkannya. Celana, sendok, handuk, sepatu dan semua saja yang kita pakai kini, bisa jadi adalah buatan mereka yang menderita, dan didera kondisi kerja yang buruk. Mereka yang bekerja, tanpa mendapatkan perlindungan dari negara. Mereka yang bekerja memutar roda keuntungan para buyer internasional.Mereka kaum pekerja industri dunia ketiga, adalah mereka yang sesungguhnya memberi nafas kehidupan kapitalis di belahan bumi utara.

Den Haag, 10 Mei 2009

Advertisements