Henky Widjaja dan Kaum Muda Cina Indonesia

Left-Right: Vera Ersi, MKW, Henky Widjaja, Benny Alamsyah, Schiphol Amsterdam 22 April 2009
Left-Right: Vera Ersi, MKW, Henky Widjaja, Benny Alamsyah, Schiphol Amsterdam 22 April 2009

Namanya Henky Widjaja. Untuk seterusnya aku akan menyebutnya sebagai Henky saja. Dia adalah mahasiswa Institute of Social Studies (ISS) sekaligus Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Kota Den Haag periode 2008-2009. Perjumpaan kami diawali lewat media internet, ketika diri yang sedang mencari informasi mengenai segala sesuatu tentang ISS dan kehidupan di Belanda direkomendasikan oleh seorang kawan alumni ISS untuk menghubunginya. Melalui media Facebook, aku mengenal Henky, dan kami berkomunikasi banyak mengenai hal hal seputar akomodasi dan sebagainya yang remeh temeh mengenai tinggal di Belanda.

Henky jugalah (dan juga Benny Alamsyah, mahasiswa double degree UI&ISS) yang menjemput aku di Schipol, Amsterdam pada 22 Juni 2009 ketika pesawat Malaysia Airlines yang membawaku dari Kuala Lumpur mendarat pada pagi yang dingin di bandara tersibuk di Eropa itu. Begitu menjumpainya secara nyata pada perjumpaan kami pertama di Amsterdam, dari penampilannya, aku bisa membenarkan perkiraanku sebelumnya bahwa Henky adalah seorang Cina, seorang Tionghoa. Apa yang salah dengan Cina atau Tionghoa?

Aku rasa hanya orang gila saja yang mengatakan satu ras lebih baik dari ras yang lain dan bahwa adalah salah menjadi bagian dari ras tertentu. Tak ada orang yang bisa menentukan dari golongan ras mana ia akan dilahirkan. Aku tak pernah meminta menjadi orang Jawa, dan lahir di negara berkembang seperti Indonesia, dimana kemiskinan adalah pemandangan setiap hari. Bahkan orang miskin pun masih merasa beruntung. Sebagaimana aku, Henky pun tak kuasa menolak bahwa ia dilahirkan sebagai Cina dan pula lahir tidak sebagai pribumi Makassar.

Namun kami sadar, bahwa menjadi Cina di Indonesia adalah sesuatu yang sulit. Diskriminasi terjadi, dan hampir mendarah daging di negeri kami. Namun kami juga tahu, bahwa apa yang membentuk cara pikir sebagian besar orang Indonesia bukanlah sesuatu yang timbul demikian saja apa adanya. Mindset bahwa Cina dengan segala konotasi kekayaan, kelebihan dan keculasannya adalah sesuatu yang terbentuk karena rejim masa lalu melokalisir golongan Tionghoa/Cina kepada profesi pedagang. Golongan Cina yang kaya selalu dalam hubungan patron-client dengan penguasa dan militer di masa Orde Baru. Tidak saja di tingkatannya yang nasional, di berbagai daerah, hubungan antara etnis Cina dan elit lokal diwarnai relasi yang serupa.Generalisasi menjadi terbentuk, bahwa hubungan kaum saudagar dan penguasa adalah hubungan saling membutuhkan. Satu membutuhkan jaminan keamanan dan akses kepada dunia bisnis yang lebih luas, yang lain membutuhkan kucuran uang dari berbagai upeti dan sesaji.

Kami membicarakan pula kebebasan beragama, termasuk kebebasan beragama dan berkepercayaan bagi orang Cina. Bahwa orang Cina lebih kepada Kristen dan Katolik menurutku, dan juga Henky, sesuatu yang agak aneh. Bukan karena aku tak menyukai Kristen dan Katolik, namun ha; itu tak lepas dari rejim Orde Baru yang tak mau menghormati hak kaum Tionghoa dengan kepercayaan Confucian-nya. Karena bagaimanapun butuh pengakuan, golongan Cina lebih memilih kepada Kristen/Katolik. Abdurrahman Wahid memang mengembalikan hak konstitusional warga, termasuk Warga Tionghoa untuk beribadah menurut agama yang diyakininya, dengan mengembalikan Confucian kepada masyarakat Indonesia.Terkhusus mengenai kebebasa beragama ini aku berkeyakinan bahwa tidak ada kebebasan beragama di Indonesia. Hak beragama masih diandaikan sebagai hak yang diberikan oleh negara, sehingga masih ada konsep “agama yang diakui”. Negara seharusnya tidak ada pilihan kecuali mengakui agama apapun yang dianut warganya, karena beragama dan berkeyakinan adalah hak asasi manusia, hak dasar yang ada sebelum adanya entitas negara.

Ada hal lain yang menarik perhatianku. Henky, mahasiswa yang menaruh minat pada sosial politik, dan menempuh studi pada Institute of Social Studies, sebuah kampus yang dikenal akan kajian ilmu-ilmu kemasyarakatan dengan fokus pada negara berkembang. Ini terasa sebagai keanehan bagiku. Rasa aneh yang sepenuhnya aku sadari adalah produk dari mindset yang memang hendak dikondisikan oleh Orde Baru, bahwa Cina hanya boleh dan bertempat di lingkaran perdagangan. Bahwa Cina tak tahu dan tak usah berpolitik. Bahwa Cina adalah others dalam kepribumian bangsa Indonesia yang ekslusif.

Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Buru menunjukkan bahwa orang Cina justeru tercatat pertama kali melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Tokoh-tokoh Cina banyak berperan dalam berdirinya Republik. Bahwa tembok pemisah Cina dan Pribumi diciptakan sejak jaman Belanda dengan melokalisir Cina secara fisik ke daerah pecinan, dan di masa Orde Baru dengan domain lapangan kerja, sudah seharusnya dikikis oleh generasi sekarang. Indonesian Chinese seperti Henky adalah bagian bangsa Indonesia. Pembauran harus dilakukan oleh kedua belah pihak, tidak saja menunggu dengan pongah akan mendekatnya kaum Cina, akan tetapi generasi baru yang berkesadaran mestilah menuju kepada satu titik persatuan, membangun dalam persatuan bangsa. Pembauran bukan karena orang Cina mau membaur, tapi semua bangsa dan warga Indonesia mau saling menuju kepada satu titik itu, titik persatuan Indonesia.

Den Haag, 11 Mei dinihari, jam 01.06

Advertisements

2 thoughts on “Henky Widjaja dan Kaum Muda Cina Indonesia”

  1. Dua Tionghoa muda yang tidak perlu diragukan lagi keIndonesiaannya: Karaniya & Metta Dharmasaputra

Comments are closed.