Suatu Pagi bersama Pembersih Dapur

Dapur di Student Flat ISS, Bazarlaan, Den Haag.
Dapur di Student Flat ISS, Bazarlaan, Den Haag.

Tadi pagi, ketika hendak memanaskan roti di microwave dapur, untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan petugas cleaning service yang membersihkan dapur di lantai di mana aku tinggal. Dia seorang perempuan, dalam usia yang menurut taksiranku 40an. Rambutnya hitam, membuatku berfikir bahwa dia bukan orang Belanda tulen. Aku menebak, ia berdarah Italia. Seperti apakah orang Italia itu ‘seharusnya’ aku juga tak tahu.

Ia (beberapa hari kemudian aku berjumpa dengannya lagi, dan kutahu namanya adalah Yoke) mengerti kalau aku orang baru di lantai ini, dan memang aku mengatakan bahwa aku adalah pendatang baru. Aku memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, dan ia mengangguk sambil berkata bahwa ia juga telah menduga aku adalah orang Indonesia, karena aku memakai sarung, sesuatu yang sering ia lihat di televisi. Kubertanya padanya, apakah pernah ke Indonesia. Dia menggeleng belum pernah. Seperti juga orang Belanda yang kujumpai dan mengerti kalau aku adalah pendatang, ia bertanya padaku apakah aku menyukai Belanda. Dan akupun menjawab dengan sejujurnya, bahwa aku menyukai dan sangat menyukai Belanda. Kukatakan padanya, mengunjungi Belanda adalah sesuatu sensasi tersendiri mengingat antara Belanda dan Indonesia ada keterkaitan sejarah yang amat erat di masa lalu, terutama di masa kolonial. Ia mengangguk angguk dan dari wajahnya, bahasa tubuhnya, aku mengerti bahwa ia amat memahami apa yang aku maksudkan.

Kepadanya aku katakan bahwa ia harus mengunjungi Indonesia. Ini terutama setelah ia sendiri mengatakan bahwa iklim Indonesia nampak baginya sangat indah dan menyenangkan. Namun ia mengatakan tidak akan ke Indonesia, karena ia takut naik pesawat terbang. Lagipula, untuk mencapai Indonesia butuh waktu yang teramat lama. “How many hours did you fly?” ia bertanya. Dan kujawab limabelas jam. Dan segera saja ia menunjukkan mimik yang menunjukkan bahwa ia tak sanggup menempuh perjalanan selama itu.

Padaku lagi ia mengatakan bahwa ia amat menyukai kuliner Indonesia. Spicy ya? tanyaku. Dan ia membenarkan. Dengan lucu ia bercerita bahwa selalu dalam Pasar Malam yang diselenggarakan di Den Haag, ia akan datang dan mencoba banyak masakan dan makanan Indonesia. Sayang, selain nasi goreng, aku tidak tahu lagi apa yang ia maksudkan. Tapi nampaknya ia menyukai aneka makanan Indonesia. Bisa dimengerti, karena kuliner Belanda samasekali berbeda dengan tanah air. Kita, orang Indonesia banyak menggunakan rempah rempah yang spicy. Di Belanda, bahkan orang Belanda pun tak menyukai makanan bangsanya.

Perbincangan kami tidak berlangsung lama, karena ia harus membersihkan dapur di lantai lain. Ia segera berlalu dan mengucapkan bye bye padaku. Perjumpaan dua anak manusia yang biasa saja, tapi jika aku pikirkan dengan mendalam akan mencabangkan banyak pemikiran lain yang sama sekali berbeda. Dua manusia yang berlainan bahasa, bisa terhubung karena bahasa Inggris. Aku tak menguasai bahasa Belanda, demikian juga dia, tak tahu menahu Bahasa Indonesia. Pemikiran yang lain, dia, walaupun bekerja sebagai pembersih dapur, aku yakin menghasilkan uang yang cukup banyak dan layak. Pekerjaan macam begini di negara maju, justeru pekerjaan yang banyak mendatangkan uang. Ini akan membawa pemikiranku pada mereka yang bekerja dan melakukan hal yang kurang lebih sama dengan pekerjaannya di tanah airku. Aku tak mau terlalu lama memikirkannya, karena sudah barang tentu akan membawa kepada kesedihan belaka.

Den Haag, 11 Mei 2009, jelang tengah malam 22.53

Advertisements

5 thoughts on “Suatu Pagi bersama Pembersih Dapur

Comments are closed.