Hostelku

Sudah sedari tanah air aku mengupayakan mencari tempat tinggal yang menjadi angan-angan setiap student pada umumnya: dekat dari kampus, dan murah. Dekat, karena tak ada orang yang mau repot menempuh jauhnya perjalanan untuk mengikuti kegiatan di kampus. Murah, karena dengan harapan ada selisih uang beasiswa yang bisa kita gunakan untuk keperluan lain di Belanda. Bisa untuk dibawa pulang, atau dialokasikan untuk keperluan lain seperti menjelajah berbagai kota tak saja di Belanda namun kota-kota di Eropa lainnya.

Dua kriteria utama itu, dekat dan murah, tentu ada konsekwensi logik-nya. Supaya dekat tapi murah konsekwensi logiknya adalah harus share alias berbagi tempat bersama orang lain. Aku tak mengenal Den Haag dan Belanda pada umumnya serta kampus Institute of Social Studies (ISS) tempat aku akan menempuh studi singkatku. Namun berkat internet, aku bisa membina komunikasi dengan para pelajar di sini (sebenarnya di Luar Negeri pada umumnya, digunakan istilah Pelajar, dari kata Student dan bukannya istilah yang megalomaniak seperti Mahasiswa).

Salah satu mahasiswa di sini, setelah melalui perkenalan di internet menawarkan kamarnya yang seharga 260 euro. Harga yang lumayan lebih baik daripada tinggal di asrama mahasiswa yang diperkirakan sekitar 400 euro hingga selesainya studi singkatku ini, yang dengan kurs yang ketika aku berangkat sekitar Rp.14.500, kurang lebih senilai enam juta rupiah. Namun setelah mengkonfirmasi dengan berbagai pihak, antaranya alumni Belanda dan beberapa mahasiswa lain, tahulah aku bahwa kamar tinggal yang ditawarkan itu bukanlah dekat dengan ISS tempatku bakal menuntut ilmu, namun dekat dengan kampus sang pemilik yakni De Haagse School. Perlu naik tram untuk mencapai kampus, atau kalau tidak harus bersepeda. Berjalan kaki mungkin bisa, akan tetapi terlalu jauh. Aku juga harus berbagi kamar, alias sharing dengan seseorang yang kabarnya perokok. Walau aku pernah jadi perokok, ini cukup membuatku malas juga, karena aku tak lagi menyukai asap rokok. Sudah begitu, tidak jelas apakah ada sambungan internet atau tidak untuk kamar senilai itu, walau seorang kawan kemudian meyakinkan bahwa internet adalah fitur wajib setiap kamar studen di Nederland. Maka setelah melalui berbagai pertimbangan, dan terbentur oleh waktu, kuputuskan untuk tinggal saja di asrama mahasiswa yang disediakan oleh ISS.

Di sini, dipakai istilah hostel. Hostel adalah bangunan semacam rumah susun. Untuk ISS, ada dua hostel yaitu Bazarlaan dan Dorus. Aku ditempatkan di Bazarlaan, sebuah dormitory yang berdinding bata keras, sebagaimana bangunan Belanda pada umumnya. Kamarku terletak di lantai dua, dan pada kedatanganku cukup lelah juga membawa koporku naik ke atas . Untuk itu, aku perlu berterimakasih pada Henky Widjaja, ketua PPI Kota Den Haag yang membantuku membawa travel bag sehingga meringankan bebanku yang membawa kopor berat mendaki anak tangga.

Tinggal di Hostel ISS belakangan kusadari sebagai pilihan yang nyaman. Fasilitas yang disediakan adalah sambungan internet, kamar mandi dan WC privat, sebua meja belajar, lemari pakaian, tempat tidur lengkap dengan sprei dan selimut, kulkas, dan lemari kecil untuk menaruh berbagai barang. Selain itu ruangan juga cukup luas. Kedekatan dengan kampus membuat kita bisa segera mengejar jam kuliah sekalipun di menit-menit terakhir.

Di lantaiku, hanya aku yang berasal dari Asia. Depan kamarku, Salamawit Abebe, seorang gadis asal Ethiophia. Di sampingku persis seorang Melqior dari Tanzania. Ada lagi Peter, seorang mahasiswa berbadan besar dengan telapak kaki yang amat panjang dari Kenya. Berikutnya Hasan, seorang kandidat doktor dari Sudan. Hanya satu orang yang bukan Afrika selain aku, namun aku hampir-hampir tak pernah menjumpainya. Salamawit bilang, ia dari Albania.Walau teramat jarang ketemu (kami hanya ketemu ada kalanya sore atau malam ketika memasak), kami cukup akrab dan kerap bergurau. Khusus aku dan Salamawit kami sering bertukar bumbu masak. Ia pernah meminta bawang putih, gula dan telur padaku. Sebaliknya aku mengambil chili pepper yang dibawanya dari Ethiophia. Chili Pepper, serbuk merah yang pedas itu menurutku amat sedap dimakan dengan nasi panas dan telur goreng. Aku jadi ingat dengan sambal kering dari Kledung, Temanggung yang sering dibawa isteriku.

Tanggungjawab kebersihan adalah di tangan kami sendiri, para penyewa kamar. Untuk dapur, kami juga harus menjaga kebersihannya bersama. Tidak boleh ada piring, panci, atau apapun alat masak yang kotor ditinggal di bak cuci. Pokoknya begitu selesai memasak usahakan sesegera mungkin untuk mencucinya. Dapur alias kitchen ini cukup nyaman, karena dilengkapi dengan kompor dengan sistem induksi. Aku harus akui bahwa inilah dalam hidupku pertama kalinya memakai kompor dengan sistem model ini. Panci, atau wajan cukup kita letakkan di atas kompor yang flat. Panas yang diinginkan bisa diatur sesuai keinginan, dari nol hingga 12. Kalau hendak mendidihkan air, pakailah 12. Kalau untuk menggoreng, cukuplah angka delapan. DI Australia dulu, aku masih memakai kompor gas, dimana gasnya dialirkan melalui pipa, agak lebih bagus dari tabung gas seperti yang lazim dijumpai di Indonesia.

Bagi mahasiswa, kamar sebenarnya tak terlalu penting. Hal ini karena seorang mahasiswa biasanya akan lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus. Praktis, kamar hostel hanya dipakai untuk tidur saja. Maka, aku pernah mendengar, banyak mahasiswa yang share di hostel ini. Mereka berbagi kamar, sehingga bisa menghemat uang. Untuk kasusku yang menempuh Certificate course, berbagi kamar hampir tidak mungkin, karena aku di sini tidak untuk dalam waktu lama, hanya sekitar dua bulan saja.

Tinggal di asrama mahasiwa ini adalah pengalaman baru bagiku. Ketika menempuh studi sarjana dulu, aku tak mengira akan menjadi anak kos seperti ini. Ketika di Australia, aku ternyata menjadi anak kos juga walaupun tak tinggal di Asrama. Asrama, hostel atau apapun lebih mahal daripada jika kita mencari tempat tinggal sendiri. Tentu saja memang harus diakui asrama mahasiswa lebih dekat dengan kampus, dan itu adalah keuntungannya. Di Australia dulu aku mendapat kamar yang murah, yakni 60 dolar seminggu. tapi, untuk harga itu, aku harus berjalan kaki selama 30 menit.

Namun demikian, pengalaman menjadi anak kos di Australia membuatku tak lagi kaget dengan kehidupan sebagai manusia kos. Masak, mencuci, membersihkan kamar yang harus dilakoni sendiri adalah sesuatu yang pernah kualami, dan memang dalam keseharianku sebagian diantaranya kujalani sendiri. Memasak sendiri barangkali adalah salah satu fitur manusia kos di sini. Ini yang membedakan dengan orang yang kos di Indoensia, karena membeli makanan di warung menjadi alternatif yang lebih murah daripada memasak.

Hostelku, dan kamarku ini secara umum selalu sepi. Hanya suara radio online dari laptopku saja yang terdengar dan menemani. Namun lama kelamaan aku menikmati suasana seperti ini: walau sendiri, walau sepi.

‘s-Gravenhage, 14 Mei dinihari, 01:29 AM

Advertisements