Sedikit Ceritera Tentang Den Haag

Binnenhof, Parliament Building, Den Haag
Binnenhof, Parliament Building, Den Haag

Kawan, kali ini aku akan membicarakan kota Den Haag. Telah lebih sebulan aku tinggal di sini, dan bolehlah aku sedikit berbicara mengenai kota ini. Dalam Kleine Encyclopedie terbitan Winkler Prins Encyclopedien yang kubeli di toko bekas seharga 2 Euro, Den Haag adalah hoofdstad van de prof. Zuidholland alias Ibukota Provinsi Belanda Selatan. Kota ini berwatak aristokratik dan juga berpusatnya kebudayaan Belanda dimana terdapat Perpustakaan Kerajaan, Residentie Orkest, Haagse Comedie, dan juga Nederlans Danstheater.

Bagi orang Indonesia, terlebih yang sempat mengenyam pendidikan Sejarah Indonesia modern, kota ini tak lagi asing terdengar. Paada tahun 1949 di kota inilah diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) atau Roundtable Conference yang pada gilirannya membawa Indonesia pada bentuk negara serikat. Tentu tak pernah menjadi pikiran di benakku pada masa dahulu aku mempelajari konferensi ini dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi bahwa suatu hari kelak aku akan sempat bermukim di kota ini dan bahkan melihat langsung seperti apa rupanya gedung tempat KMB itu, di kompleks Binnenhof yang bisa aku tempuh dengan jalan kaki selama limabelas duapuluh menit dari kamarku sekarang berada.

Aku tiba di Den Haag pada 22 April, hari yang sama dengan kedatanganku di Belanda. Mendarat di Bandara Schipol , Amsterdam, aku ( dan juga Vera dari LSM World Population Foundation) dijemput Henky Widjaja dan Benny Alamsyah dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kota Den Haag. Kami langsung menuju kampus ISS, menggunakan Sneltrein, alias kereta langsung yang hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja, utamanya stasiun besar. Delapan euro sekian sen untuk mencapai kota ini dalam waktu sekira 40 menit. Kami berdiri di kereta, karena barang bawaan yang begitu banyak, dan nantinya akan menjadi terlalu repot jika waktunya hendak keluar. Begitu tiba di Stasiun Den Haag HS (Hollandsce Spoor) hati ini langsung tertarik dengan bentuk stasiun yang megah dan artistik dan terkesan tua. Belakangan hari aku tahu, bahwa setasiun kereta api ini adalah stasiun yang tertua di Den Haag. Ada setasiun lain, yakni Den Haag Centraal yang bangunannya lebih baru. Bentuk stasiun Den Haag HS memang menarik, dengan corak bangunan yang khas eropa dan masih sangat dirawat keasliannya. Kebanyakan stasiun di Belanda memang masih mempertahankan mula bukanya, walau telah dimodifikasi sehingga sesuai dengan kebutuhan modern.

Den Haag yang memiliki nama resmi ‘s-Gravenhage atau yang dalam Bahasa Inggris lebih dikenal sebagai The Hague adalah kota yang besar. Di sinilah tempat kedudukan pemerintahan (the seat of government). Di sinilah pula terdapat Noordeinde Paleis, istana dimana ratu bekerja yang terletak tepat di depan kampusku. Sebagai kota pemerintahan, maka Den Haag adalah kota para pegawai alias ambtenaar. Den Haag juga kota diplomat, karena kedutaan besar negara-negara sahabat ada di kota ini. Daerah kampusku banyak terdapat kedutaan antaranya kedutaan besar Brazil dan Italia. Kedutaan Besar Indonesia sendiri tak jauh dari lokai kampus, dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Walau sebagai kota pemerintahan, Den Haag jangan hendaknya membayangkan kota ini dengan kota kota besar di Indonesia. Sudah barang tentu, Den Haag akan kalah ramainya dari Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Den Haag sebagai kota, terhitung sepi jika kita hendak memakai ukuran kota besar di Indonesia. Aku bisa katakan bahwa Purwokerto, atau Purbalingga jauh lebih ramai daripada kota ini. Dan aku tahu, perbandingan ini kerap tak mudah dimengerti oleh orang yang selalu mengasumsikan bahwa kota besar selalu bermakna kemacetan, gedung pencakar langit dan polusi serta kemegahan dan kebaruan yang membuat orang terjebak dalam hiruk. Lalulintas Den Haag bisa dibilang tak pernah macet. Barangkali karena jumlah penduduk juga tak terlalu banyak. Pendeknya, kota ini sangat nyaman untuk dihuni oleh karenanya.

Kebanyakan penduduk Den Haag mempunyai sepeda dan bersepeda untuk pergi dan pulang ke tempat tujuan mereka. Dan sepeda, sebagaimana diketahui luas, adalah moda transportasi paling utama di Belanda. Jumlah sepeda di negeri ini konon melebihi jumlah penduduknya sendiri. Semua orang naik sepeda, tua muda, laki perempuan. Para gadis, para pekerja kantor berdasi, semuanya bersepeda, atau kalau tidak berjalan kaki dan mengandalkan transportasi umum seperti bis atau trem. Bersepeda dan berjalan kaki membuat warga Den Haag dan umumnya orang Belanda aku yakin pastilah lebih sehat dari warga tanah air kita yang terbiasa dengan naik kendaraan. Namun begitu bisa dimengerti, iklim di sini memang menunjang untuk bersepeda. Tidak panas dan gerah seperti di Jawa.

3286_73535753822_3165899_nSebagai kota, Den Haag aku lihat cukup bersih, walau harus diakui tidak terlalu bersih-bersih dan terkadang terlihat kotor. Puntung rokok ada di mana mana berserakan di jalanan, dan juga tak jarang jarang kaleng dan botol bir. Ini yang membedakan dengan kota-kota di Australia yang pernah aku singgahi yang relatif bersih dari puntung rokok. Di sini, di Den Haag serta umumnya di Belanda, orang masih ringan membuang sampah-sampah kecil di jalan. Sebuah tempat pemberhentian tram di Open Market Den Haag pernah kujumpai dalam keadaan teramat kotor dengan sampah berserakan di sekitar rel. Namun di sisi lain, tempat sampah di Den Haag juga selalu dalam keadaan ready to use. Kuperhatikan, tiap hari, tempat sampah selalu sudah dalam keadaan kosong, siap untuk diisi lagi. Dalam momen tertentu seperti Koningenedag (Hari Ratu atau Queen’s Day) memang tempat sampah tak lagi mampu menampung muatan. Kaleng-kaleng bir berjejalan, juga kertas-kertas serta plastik bekas makanan. Akibatnya, sampah berserakan meluber di dekat tempat sampah. Namun hal itu tak lama, karena petugas kebersihan pada esok harinya sudah membereskan tempat itu kembali menjadi bersih seperti semula. Hal lain yang perlu dicatat di Den Haag adalah pemerintah memperhatikan betul kebersihan terkait dengan banyaknya warga yang memelihara anjing. Di beberapa ruas jalan, kalau kita perhatikan, ada terdapat bak pasir yang didesain untuk tempat anjing membuang hajatnya. Pada beberapa jalanan tertentu memang tidak tersedia hal itu, sehingga kadang anjing membuang kotoran di sembarang tempat, atau di pot tanaman. Pernah aku melihat, anjing karena kebelet kencingnya mengangkangkan kakinya di tembok toko atau di pot tanaman orang. Fenomena ini memang jamak, tapi orang juga tak bisa berbuat jamak untuk mengendalikan hasrat alami para anjing.

Akan halnya kanal yang menjadi ciri khas Belanda juga dimiliki Den Haag. Di depan kampus ISS tempatku studi di jalan Kortenkaerde terdapat kanal yang bisa dilayari oleh perahu. Biasanya tourist yang menggunakannya untuk pesiar keliling kota. Namun dibandingkan dengan Leiden, kanal di Den Haag memang tidak terlalu hidup dan dinamik. Juga kalau dibandingkan dengan kota tetangga, Delft. Sementara itu bus dan tram juga menjadi public transport yang cukup dapat diandalkan. Jam kedatangan bus dan tram bisa dibilang selalu tepat. Untuk naik bus dan tram ini, kita harus memvalidasi kartu sesuai dengan zona yang hendak kita lalui. Sistem validasi ini memang cukup membingungkan pada mulanya, karena mensyaratkan pengetahuan orang akan zona yang dilaluinya. Orang bisa berpsekulasi untuk tidak membayar namun jika sampai ketahuan di saat pemeriksaan, dendanya akan cukup besar. Kawanku mengatakan, sekitar 30 euro akan kita bayar untuk denda itu.Kawan yang lain biasa berspekulasi dengan tidak memvalidasi kartunya. Fare evasion. Ketika di Australia, hal ini cukup sering aku lakukan, karena aku mengenal medan dengan baik. Di Belanda, aku tak pernah mencobanya.

Berb
icara mengenai bangunan tua dan monumen, Den Haag adalah salah satu kota yang dikenal dengan bangunan tuanya. Ini membedakan dengan katakanlah Rotterdam yang cukup parah menderita kehancuran pada masa Perang Dunia. Di Den Haag, terdapat bangunan-bangunan tua yang bersejarah dan atau penting. Sebut saja Vredepaleis atau Peace Palace, yang menjadi rumah bagi International Court of Justice dan juga Permanent Court of Arbitration, serta perpustakaan International Law terlengkap di dunia. Peace Palace adalah sumbangan seorang jutawan masa lalu, yang bernama Carnegie. Karena banyak institusi hukum termasuk peradilan tertinggi dalam hukum internasional yang menangani sengketa antar negara, maka Den Haag disebut juga sebagai the world’s legal capital alias ibukota hukum dunia.

Seperti telah aku ceritakan tadi, di Den Haag terdapat Noordeinde Paleis, yang merupakan istana ratu Belanda yang dilengkapi dengan taman. Taman istana ini terbuka untuk umum, kita bisa memasukinya dan bersantai di dalamnya. sambil berjemur atau memandang kolam yang menyejukkan mata. Aku pernah memasuki kebun istana ini, bersama Henky Widjaja.

Den Haag juga memiliki gedung Parlemen, dikenal dengan nama Binnenhof dan lain lain bangunan tua. Namun demikian, bangunan baru juga banyak dibangun dan bermunculan. Ketika tulisan ini aku buat, samping kampus sedang dibangun sebuah hotel Hilton yang dari gambar yang dipampang di depan proyek terlihat megah bakalannya. Gedung dan bangunan tua memang masih dipertahankan, baik menjadi perkantoran, maupun rumah tinggal. Gaya arsitekturnya khas Eropa pada abad 18 hingga abad 20, sangat indah. Bangunannya terbuat dari batu bata yang solid dan keras. Jalanan juga kebanyakan tak beraspal, namun dari bata yang keras pula.

Kejahatan dan kerawanan di Den Haag barangkali tak seperti Amsterdam, namun tetap saja kita harus hati-hati, terutama ketika di publik area. Orang yang mabuk atau mengisap ganja kerap bertingkah laku yang tak menyenangkan. Pernah dalam perjalanan ke Open Market, dalam tram masuk seorang kulit hitam yang nampaknya, aku tak tahu apa yang dikatakannya, berkata-kata yang cenderung rasis. Rasialisme memang dimana-mana, termasuk di Jawa dan Indonesia bumiku sendiri. Hanya, di sini barangkali lebih lugas dan ekspresif dengan menunjukkan ketidaksukaan secara langsung. Di Indonesia sekalipun masih kental isu rasial antara orang pribumi dan keturunan Cina misalnya. Hanya saja di tanah air, orang jarang-jarang secara terbuka untuk mengungkapkan ketidaksukaannya dalam perilaku yang tidak menyenangkan. Di lain kesempatan, pernah pula aku mengalami hal tak menyenangkan ketika berada di tempat pemberhentian bus dan tram dekat kampus, di jalan Mauritskarde. Sebuah bus berbadan panjang datang dengan beberapa penumpang di dalamnya, berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Ada sekitar rombongan anak muda Belanda di dalamnya tersenyum ramah pada aku dan teman-teman, orang-orang Asia yang kala itu sedang menunggu tram menuju ke Pantai Scheveningen. Tentu kami membalas dengan ramah lambaian mereka. Dalam hati aku merasa curiga akan keramahan itu. Dan benar saja, begitu tram berjalan, nampak olehku salah seorang diantaranya mengacungkan jari tengah, diikuti tawa yang lainnya. Lain kesempatan bepergian ke Delft, seorang yang sudah mulai lanjut usia duduk di sampingku dalam keadaan mabuk. Ia sudah tua. nampaknya terlalu banyak minum bir. Aku tak menyalahkannya, beban hidup, kesendirian barangkali yang membuat dirinya begitu. Aku lebih kasihan daripada membencinya.

Untuk rasa aman, aku bisa katakan Australia lebih menjamin daripada Belanda, tak terkecuali Den Haag. Di sana, di Australia, bisa dikatakan semua public area dalam pengawasan kamera video. Di dalam tram, di dalam kereta api, orang selalu dalam pengawasan kamera video. Jika berbuat kejahatan atau sesuatu yang mengganggu kenyamanan orang lain, orang akan mudah ditangkap dan sukar untuk mengelak, karena ada terekam oleh video. Di Belanda, jika kita memiliki sepeda, maka kita harus benar-benar menguncinya, karena banyak kejadian sepeda dicuri karena tak dikunci. Namun beitu, pencurian juga menimpa sepeda yang telah dikunci, karena para maling ini tak jarang tak segan segan membawa alat pemotong kunci. Ini menjadi keanehan tersendiri bagiku pada mulanya, dan banyak orang yang pada umumnya menduga bahwa Belanda sebagai negara maju pastilah pada tingkat tertentu menawarkan keamanan yang lebih daripada negara lainnya, terutama dibandingkan dengan negara bekembang. Namun akhirnya aku menyadari kemudian bahwa selama kita hidup di dunia, sebenarnya tak ada tempat yang benar-benar aman.

Di Australia, jika orang kehilangan telpon genggam, di bus, atau di toko karena lupa mengambil, atau kehilangan flash disk di kampus karena lupa mencabut masih akan ada harapan bahwa seseorang akan mengembalikannya. Di Belanda, tindakan yang tak menyenangkan bahkan kriminalitas selain tetap saja terjadi juga tidak selalu ada jaminan akan ditangani oleh yang berwajib alias polisi. Ada yang mengatakan dengan agak sinis, bahwa polisi juga telah menganggap pencurian sepeda sebagai bagian dari kehidupan di Belanda, oleh karenanya pelaporan tentang pencurian sepeda tak akan mendapatkan tanggapan dari polisi. Hati-hati oleh karenanya menjadi mantra sakti yang harus selalu diingat. Tentu sekali lagi harus aku katakan, kalau dibandingkan dengan keseharian di Indonesia, negeri ini jauh lebih aman.

Untuk hiburan dan ragam budaya, Den Haag bisa dikatakan sebagai kota yang sangat menyenangkan untuk eating out maupun untuk berwisata. Di sinilah diselenggarakan Tong-tong Fair, sebuah Festival Euro Asia terbesar di dunia. Aku belum menyaksikannya, tapi acara itu aku ketahui dari Indische Courant akan berlangsung pada sekira minggu terakhir Mei hingga Juli. Festival ini mestilah dihadiri karena didalamnya akan banyak atraksi yang menarik dan eksposisi berbagai kebudayaan hybrid Eropa dan Asia, khususnya Belanda dan Indonesia. Juga di Den Haag ada terdapat Madurodam, yang pula merupakan atraksi wisata yang unik di Belanda. Di Madurodam inilah, orang akan datang ke miniatur Belanda, sehingga orang bisa berkeiling negeri ini dalam beberapa saat saja.

Den Haag adalah kota besar yang menarik untuk ditinggali. Walaupun besar, kota ini tak segila Amsterdam yang memang tujuan utama para turis ke Belanda. Bagi orang Indonesia, Den Haag akan sangat menyenangkan, karena tidak ada polusi udara yang berarti, dan orang masih bisa bersepeda kemana-mana bersama keluarga, sesuatu yang barangkali sudah tak bisa dilakukan di Jakarta untuk sembarang hari. Dosenku Lee Pegler mengatakan bahwa Den Haag adalah kota yang paling banyak mempunyai taman di Belanda. Aku tidak begitu bisa merasakan kebenarannya, hanya memang sepanjang jalur tram menuju pantai Scheveningen, terdapat taman yang amat luas. Di kota-kota juga terdapat taman hijau tempat orang bisa duduk-duduk menikmati matahari terutama di musim spring.

Hal lain yang menarik adalah walaupun kota besar, kita tetap dapat mendapatkan barang-barang murah di toko barang bekas. Andalanku adalah Kringloop Holland, sebuah toko barang bekas yang dikelola komunitas. Toko ini menerima donasi barang bekas dari warga yang kemudian akan dijual dengan harga yang amat murah kepada warga. Keuntungan dari Kringloop ini nantinya akan dikembalikan untuk lingkungan. Kringloop andalanku terletak di Jalan Piet Heinstraat, mungkin sekitar setengah kilometer dari kampusku. Di sana kita bisa jumpai aneka pecah belah, elektronik, buku dan lain-lain seperti mainan anak dengan harga amat murah. Aku membeli beberapa buku di sana dengan harga 25 sen hingga 1,5 euro. Buku hukum dan sastra biasanya dihargai 1 euoro, atau sekarang seharga 15 ribu. Untuk buku berbahasa Inggris seperti Contemporary Sociology Theory tulisan George Ritzer misalnya, aku membeli seharga 1,5 euro. Tetap lebih murah, karena di tanah air buku itu pasti berharga puluhan ribu rupiah, dan terjemah
annya bisa bikin sakit kepala.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti bahan pangan dan lain-lain kebutuhan harian ada banyak terdapat supermarket yang bisa melayani kebutuhan kita, tak terkecuali kebutuhan makanan dan bahan pangan lainnya orang asia. Di sini setidaknya ada dua yang aku tahu, yakni Oriental Shop, dekat Centrum dan Wang Nam Hong. Di sana, kita bisa mendapatkan aneka macam makanan khas Asia, seperti sambal, saus, dan juga mi instan.Aku sendiri jarang ke sana, karena bagiku, aku tak harus makan sesuatu yang berbau Asia. Sementara itu kebutuhan yang lain seperti roti, susu, jus dan telur bisa kita beli di Albert Heijn, sebuah nama supermarket besar di Belanda. Untuk yang terakhir ini, seorang sahabat mengatakan bahwa ALDI supermarket lebih murah lagi harganya. Sampai tulisan ini dibeli, aku belum pernah berbelanja di ALDI. Namun aku tahu, supermarket ini besar, bahkan kalau tak salah pernah kulihat jaringannya ada pula di Belgia.

Yang unik jika kita berbelanja di Belanda adalah bahwa kita harus menyediakan tas bawaan sendiri, karena toko tidak menyediakan tas plastik sebagaimana di Indonesia. Ini bagus, karena dengan demikian, orang akan cermat dalam menggunakan tas plastik yang tak ramah lingkungan. Orang bisa mendapatkan tas plastik di supermarket seperti Albert Heijn, namun untuk itu berarti ia harus membayar uang lebih. Oleh karenanya tak heran, banyak orang yang bebelanja telah terlebih dahulu membawa tas plastik, ransel, atau apa saja yang bisa dipakai untuk membawa barang belanjaan. Sebenarnya kupikir hal ini bisa juga diterapkan di Indonesia. Orang akan terbiasa membawa tas bawaan jika ke pasar swalayan. Orang harus membayar untuk tas plastik. Dengan demikian, nantinya orang akan terbiasa membawa tas sendiri, yang pada gilirannya, sampah plastik akan bisa terkurangi. Di Indonesia, aku kerap menolak ketika barang belianku hendak dimasukkan tas plastik. Aku lebih suka memasukkan apa yang aku beli ke dalam ransel yang kerap aku bawa. Aku harap, perilaku ini, walaupun kecil dan remeh, akan sedikit banyak membantu daya dukung alam terhadap manusia.

Apalagi yang bisa kutulis? Aku datang pada musim Spring alias musim semi, dimana cuaca dibilang sebagai yang terbaik daripada harus datang di musim dingin atau winter. Spring di Den Haag memang menyenangkan. Angin tak terlalu kencang, walau kadang di malam hari angin bertiup dengan kencang, menimbulkan suara yang mengerikan untuk didengar dari lantai dua kamar tempatku tinggal. Kadang suhu udara bisa hangat, bahkan panas, tapi kerapkali cukup dingin juga. Membawa jaket selalu adalah hal yang direkomendasikan, supaya tidak terserang dingin terutama ketika kita jauh dari rumah. Namun yang kuamati, orang Belanda pada umumnya memang mempunyai kulit yang lebih tahan dingin daripada kita orang Asia. Seringkali aku dan kawan-kawan sudah gemetar dengan hawa dan hembusan angin, tapi mereka terlihat tenang tenang saja.

Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis tentang Den Haag, dan masih banyak, terlalu banyak yang terlewat dari kota ini. Apa boleh buat, kesempatanku untuk menulis tentang kota ini benar-benar terbatas, sama terbatasnya dengan waktu untuk lebih banyak mengenal kota ini hingga lebih mendetail dan terperinci. Namun setidaknya apa yang kutulis ini bisa memberi sedikit terang dan gambaran mengenai kota yang banyak dikenal oleh warga yang nun jauh berdiam di Nusantara.

‘s-Gravenhage, 27 May 2009

Advertisements