Sepenggal Kisah di Amsterdam

3788_78691573822_6352132_n15 Mei 2009 menjadi hari pertama bagiku mengunjungi Amsterdam. Aku memang pernah menginjakkan kaki di kota ini pada awal aku tiba dari tanah air April lalu, tepatnya di bandara Schipol. Akan tetapi untuk menjelajah kotanya, baru hari ini bisa terlaksana. Bersama empat kawan sesama peserta short course dari India, Ghana, dan Tanzania kami meninggalkan Den Haag menggunakan intercity train menuju Amsterdam. Jeff Handmaker, program coordinator short course kami mengantarkan hingga ke stasiun Den Haag HS. Kami diberikan tiket return agar sore harinya bisa kembali ke Den Haag. Sekitar 40 menit perjalanan kami tempuh untuk mencapai Stasiun Amsterdam Centraal, dan kami segera berbalik kembali ke Stasiun Amsterdam Sloterdijk, dimana dosen kami Lee Pegler telah menanti. Di bawah gerimis hujan, kami berjalan cepat menuju ke markas FNV, suatu konfederasi serikat buruh Belanda. Ini adalah sebuah trade union confederation yang mengorganisasi solidaritas internasional kaum pekerja di seluruh Belanda.

Menarik menyimak pemaparan dari Mario van de Luijtgaarden, Policy Advisor FNV Mondiaal yang mengutarakan berbagai hal soal serikat buruh dan perannya dalam mengupayakan kesejahteraan buruh utamanya ketika berhadapan dengan korporasi. Ia memberikan suatu contoh dimana Unilever, sebuah merek yang dikenal di dunia menghasilkan berbagai produk sebenarnya dihasilkan tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam berbagai situs dan pernyataan resmi perusahaan yang dirilis dalam situs internet maupun laporan resmi kepada pemegang saham. Solidaritas kaum pekerja dan peran organiser memegang peranan penting, dengan kampanye kampanye yang dilancarkan. Bagaimanapun, brands tidak akan mau produknya yang dikenal di masyarakat akan lekat dengan isu pelanggaran hak buruh dan hak asasi manusia.

Dari FNV kami beranjak menuju sebuah korporasi kecil yang hanya digerakkan oleh tiga orang perempuan dari Amsterdam. Sungguh mengagumkan bahwa perusahaan kecil, yang tadinya pernah membuat sendiri berbagai macam clothing, akhirnya tak mampu berkompetisi seiring dengan upah buruh yang semakin tinggi. Untuk mensiasatinya, perusahaan ini menjalankan fungsi koordinasi dengan menjadi penghubung antara buyer dengan berbagai produsen pakaian di Macedonia dan Turki. Perusahaan ini mengakomodasi kepentingan buyer akan model, warna dan segala macam tetek bengek mengenai pakaian. Tak mengherankan berbagai model pakaian dalam berbagai musim dan mode terpampang di sana. Produk-produk itu nantinya akan dibuat dalam berbagai perusahaan di Macedonia, atau Turki, dan dari sana kemudian diberi label merek-merek tertentu yang biasanya adalah merek yang terkenal dan hanya dijual di butik-butik di berbagai kota besar di Eropa.

Sekitar satu jam kami ke sana, kami kemudian menuju ke rumah Lee untuk istirahat dan sekedar lunch alias makan siang. Lee tinggal di sebuah rumah tua, tipikal rumah Belanda: long and skinny. Lebar yang hanya empat atau lima meter maksimal, namun memanjang ke belakang. Ini pertama kalinya aku memasuki rumah Belanda yang didominasi batu bata merah nan keras. Aku sangat terkesan dengan penataan rumah yang amat sederhana namun terkesan rapih walau sederhana. Buku berjejalan di ruang makan dan juga bisa dijumpai di toilet. Segala macam buku, dari buku anak, kamus, dan berbagai buku lainnya. Di bagian belakang ada taman kecil dengan seperangkat meja bundar dan beberapa kunci. Dua ekor kucing ikut menghuni rumah itu. Isteri Lee tidak ada karena bekerja, sedangkan dua anaknya tidak ada entah kemana.Lee penggemar botol antik. Berbagai botol tua besar kecil aku liat diletakannya di sudut sudut rumah maupu di atas lemari bukunya. Ia juga penggemar musik. Ada aku lihat ratusan CD bertumpukan rapi. Ia memutar musik Brazil, suatu negara yang telah lama menjadi fokus penelitiannya.

Selesai dengan sandwich yang sebelumnya kami beli dan juga beberapa biskuit serta juice dan teh yang dihidangkan Lee, kamipun kembali melanjutkan program hari itu menuju Verzet Museum atau Dutch Resistance Museum. Gerimis masih membasahi Amsterdam ketika kami sampai di sana. Museum ini terletak tepat di depan Amsterdam Zoo. Inilah museum yang menyimpan benda benda bersejarah pada masa pendudukan Belanda oleh Jerman, dan persekusi terhadap orang Yahudi di Belanda. Ditunjukkan di sana rekaman-rekaman sejarah baik berupa gambar, suara, maupun dokumen-dokumen tertulis ketika Belanda berada dalam cengkeraman Jerman, dan juga ketika berhasil dibebaskan oleh pasukan sekutu, tentara pembebas yang segera kemudian menjadi idola para gadis. Yang terakhir ini menarik perhatianku, karena ada kubaca disana, bahwa pada tahun ketika Belanda telah dibebaskan, dan para tentara pembebas berjaga, ada peningkatan angka kelahiran bayi. Di museum ini pula terdapat video yang amat menarik seputar Batavia dan Nederland Indie alias Hindia Belanda di tahun 1930-an. Pula di museum ini terdapat berbagai dokumentasi mengenai warga Belanda dalam tawanan Jepang dan para pejuang republik. Tak kalah menarik adalah berbagai poster di masa pendudukan Jerman dan juga pada masa pembebasan.

Ceintuurban, Amsterdam
Ceintuurban, Amsterdam

Sore telah menjelang, dan hari terlihat gelap karena hujan tak juga mereda. Kami berpisah dengan Lee di sebuah tram stop, karena ia harus segera kembali ke rumahnya, mengurus dua anak gadisnya. Tram yang kami tumpangi berempat bergerak menuju Stasiun Amsterdam Centraal menyusuri jalan raya kota Amsterdam yang ramai. Sepanjang jalan yang kusaksikan adalah bangunan bangunan tua yang megah, dengan berbagai toko souvernir di mana mana. Pemandangan ini kontras dengan Den Haag, atau Leiden dimana toko souvenir tak banyak terdapat. Sesampainya di stasiun besar, aku berpisah dengan tiga kawanku itu. Seperti yang sebelumnya telah aku rencanakan, aku segera memasuki tram nomor 4 jurusan RAI menuju Centuurban. Tujuanku adalah kediaman Heri Latief, seorang penulis puisi, essay, yang telah dua dekade lebih bermukim di Belanda. Menunggu beberapa saat, tram kemudian berjalan meninggalkan Amsterdam Centraal dalam gerimisnya hujan. Tidak begitu lama aku di dalam tram, karena sekira 30 menit sampailah aku di Ceintuurban. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kami buat sebelumnya lewat internet, aku menunggu di Bruna, toko buku sekaligus melayani jasa Pos. Sempat aku meminjam pemantik api untuk menyalakan rokok Dji Sam Soe yang kubawa dari tanah air. Pada seorang Belanda yang kupinjam koreknya kutawarkan Dji Sam Soe, dan ia nampaknya senang. Untuk membuatnya lebih senang lagi, kuberikan dua batang padanya.Ia berterimakasih dan mengucapkan “Selamat Makan”. Aku rasa, ia bermaksud mengucapkan Selamat Jalan. Aku tak tahu apakah sukar menghafalkan Selamat Jalan. yang pasti, penjaga museum Nusantara di kota Delft yang kujumpai sekira dua minggu lalu juga mengucapkan hal yang sama: Selamat Makan.

Heri datang tak lama setelah SMS aku ki
rimkan, menggunakan ponco melindungi kepala dan rambutnya yang gondrong dari derasnya gerimis. Tak berlama-lama di depan toko Bruna, aku mengikutinya, berjalan cepat kadang berlari kecil menyeberangi jalanan hingga akhirnya sampailah aku ke rumahnya. Perlu perjuangan untuk orang bisa naik ke rumahnya di lantai tiga, membuat nafas yang di tanah air biasa terbantu oleh sepeda motor ini terengah. Sebuah tipikal rumah Belanda, jauh dari lebar, tapi sangat efisien dengan penghangat ruangan yang menyala. Untuk menaiki rumah Heri yang kalau tak salah ada di lantai tiga, aku harus menaiki berbagai anak tangga yang curam hingga akhirnya bisa memasuki ruangan yang hangat dan tertata rapi. Sebuah penghangat ruangan dinyalakan untuk mengusir dingin. Spring memang bukan musim dingin, tapi cukup dingin juga kalau tanpa penghangat. Dan kami segera menghisapi Dji Sam Soe yang kubawa dan minum teh madu yang dibuatkan Heri untukku. Bicara soal rokok, aku sudah berhenti merokok cukup lama sebenarnya, namun aku merokok juga di Belanda hanya sekedar untuk merasakan sensasinya.

Makan malam di rumah Heri adalah kemewahan bagiku. Aku tak tahu apakah ia memasak khusus karena kedatanganku atau seperti itulah makananya sehari-hari. Yang jelas, hari itu ia menghidangkan nasi uduk dan ikan sambal yang manis pedas rasanya. Buatku yang sejak kedatangan hanya dijejali dengan nasi goreng, beberapa kali sayur sop dan mi instan, apa yang terhidang tentu suatu keluarbiasaan. Walau kami baru berjumpa pertama hari itu, kami segera akrab, dan aku mengambil banyak nasi uduk dan ikan bumbunya yang sungguh sedap. Aku tak berlebihan untuk mengatakan bahwa apa yang kumakan di rumah Heri Latief malam itu adalah makanan terlezatku di Belanda. Kurasa, hal ini tak akan kulupakan, dan akan mendiami salah satu ruangan di otakku hingga sampai akhirnya nanti.

Tak bisa berlama-lama karena sudah terikat janji dengan Pak Sarmadji, seorang tua bekas mahasiswa tugas belajar di Tiongkok yang kemudian bermukim di Amsterdam, kamipun pergilah menuju ke Stasiun Amsterdam RAI menggunakan tram. Sampai disana kami melanjutkan perjalanan menuju ke Sneevliet Station dengan kereta api. Di Sneevliet kami berjumpa dengan Tahzin yang akrab dipanggil Maman. Maman, berusia kurang lebih 55 tahun, berperawakan besar dan berkacamata, dengan rambut memutih yang dipotong pendek. Ia mengenakan jas penahan dingin warna putih. Nafasnya agak terengah-engah, walau aku tahu, sebagai bagian dari masyarakat Belanda, ia kerap berjalan kaki. Dari kisah singkatnya ketika kami berjalan cepat menuju Pusat Dokumentasi Indonesia tempat Pak Sarmadji tinggal, tahulah aku bahwa ia adalah seorang anak duta besar Afrika pada masa Soekarno, dulu di masa pertengahan 1960-an. Oktober 1965, dalam usia 10 tahun ia menyusul sang ayah-yang pernah menjadi pemimpin redaksi Harian Bintang Timur ke Tiongkok, dan peristiwa ’65 membuatnya tak bisa kembali, karena baik paspornya maupun sang ayah dicabut oleh Pemerintah. Setelah itu, ia berkelana berpindah-pindah dari Tiongkok kemudian menuju Perancis, dan akhirnya di Belanda dan menjadi warga negara Belanda. Tiada pilihan lain.

Sekira 15 menit berjalan diselingi dengan percakapan antara kami bertiga, sampailah kami di sebuah rumah kecil. Suasana sepi di sekitar lingkungan yang telah diselimuti malam, dan pada umumnya demikianlah suasana perumahan di Belanda, senyi senyap, terlebih di malam hari. Kami memasuki rumah itu setelah terlebih dahulu membuka pintu depan dengan kunci yang dibawa oleh Maman. Pak Sarmadji rupanya masih keluar rumah. Begitu memasuki Pusat Dokumentasi Indonesia yang terletak di Naaldwijkstraat 36 1059 GH, Amsterdam itu, segera terlihat olehku berbagai buku yang sedemikian banyaknya bertumpuk tumpuk di lemari dan juga kardus-kardus. Ada yang tersusun rapi di lemari besar, namun banyak pula yang masuk di dalam berbagai kardus dan keranjang. Berbagai file, map, juga kaset terlihat bertumpukan di sana. Ada kulihat kaset wayang, dan juga kaset penyanyi keroncong asal Solo Waldjinah di sana. Buku dari segala macam jaman dan bahasa terutama yang bersangkut paut dengan Indonesia menjadi fitur utama Pusat Dokumentasi Indonesia. Yang menarik perhatianku tentu saja adalah buku karangan Pramoedya Ananta Toer dalam berbagai edisi, cetakan, dan bahasa, terutama bahasa Belanda. Tulisan sejarawan Asvi Warman Adam, tulisan Soekarno, dan berbagai tulisan pakar ada di sana. Sungguh suatu rumah penyimpanan harta karun yang berharga.

Sarmadji aka Warjo, Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia (Perdoi), Amsterdam
Sarmadji aka Warjo, Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia (Perdoi), Amsterdam

Sementara Heri membuat minuman teh dan kopi untuk kami bertiga, datanglah Pak Sarmadji. Ialah yang sehari-hari tinggal di rumah itu. Mengenakan peci hitam, baju batik dan jas penahan dingin, ia menyalami kami dan memandang dengan sorot mata yang tegas, mengucapkan selamat datang. Ia orang tua. Umurnya telah lanjut, namun kelihatan amat sehat secara fisik dan mental. Logat bicaranya kentara menunjukkan ia adalah orang Jawa, dan Jawa Tengah. Dan benar dugaanku, bahwa ia berasal dari Solo, kota dimana aku juga dilahirkan. Sarmadji, sekali lagi namanya, namun ia lebih sering dan suka dipanggil Pak Warjo. Waras dan Bejo, alias sehat dan beruntung.

Tak lama berbasa basi, ia mengisahkan mengapa sampai ada di negeri Belanda dan menjadi warga negara Belanda. Tahun 1964, kisahnya, ia pergi ke Tiongkok untuk studi lanjut. Seingatku, ia mengatakan bekerja di Dinas Pendidikan Jasmani di kotanya. Peristiwa 65 membuat dirinya tak bisa pulang ke tanah air, barangkali karena keanggotaannya pada organisasi Pemuda Rakyat. Paspornya dicabut. Ia menjadi orang yang tak berkewarganegaraan. Dalam keadaan seperti itu, ia bertahan terus di Tiongkok hingga akhirnya kemudian menetap di Belanda pada tahun 1976, tahun dimana aku berumur satu tahun. Ia menceritakan, pada awalnya meminta perlindungan pada pemerintah Belanda karena kasus yang dialaminya. “Kalau kita minta suaka, justeru tidak diterima. Yang diterima adalah kita minta perlindungan,”kisahnya lagi.

Dalam berbicara, suaranya tegas, keras, dan cepat. Ia nampak sehat walau umurnya telah mendekati delapanpuluh. Ia bangga menyebut dirinya pengikut Soekarno, karena memang ia berhutang budi pada Soekarno. Padaku ia mengaku mendatangi makam Bung Karno, beberapa tahun silam di erah 2000 an ketika kembali ke tanah air. “Aku letakkan seikat bunga di makamya,” katanya. Padaku ia berkata bahwa kesedihan dan kepahitan telah menjadi jalan hidupnya, kehilangan kewarganegaraan. Ia berkisah lagi, bahwa sebelum pergi meninggalkan Indonesia pada 1964, ia ada meninggalkan kekasih. “Sekarang sudah tak tahu kemana dia,” ucapnya pahit. Diceritakannya kemudian bahwa kisah serupa yang menimpa teman-temannya sesama pelajar Indonesia di luar negeri juga begitu banyak terjadi. Ada yang telah menikah namun tak bisa kembali menjumpai anak isterinya. Ada yang sampai matinya di luar negeri, karena tak bisa kembali ke negeri sendiri. Kebanyakan dari mereka memilih tinggal di Negeri Belanda.

Berbagai kisah mengalir darinya. Sarmadji yang tak menikah ini memang tak bisa berhenti kalau berbicara. Kita harus pandai mendengar, dan ada kalanya ia baru berhenti kalau ia merasa sudah puas dengan berondongan kisahnya. Ketika kutanyakan apakah yang paling diinginkan dari pemerintahan sekarang ia dengan tegas mengatakan pemulihan hak-hak mereka yang terbuang. Padaku tegas ia mengatakan, bahwa semakin tua, ia bukannya semakin memaafkan,
namun justeru semakin benci dengan negara yang tak kunjung memiliki kemauan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ia menceritakan bagaimana nasibnya terkatung-katung tanpa kewarganegaraan.

“Oleh karenanya, saya meminta kewarganegaraan Belanda. Karena negara saya tegas menolak saya menjadi warganegara, saya juga harus tegas,” katanya. Padanya aku mengatakan bahwa aku bisa memahami sulitnya keadaan yang telah ia rasakan. Aku membayangkan diri ini yang sedang studi di Belanda, tiba-tiba harus tak bisa pulang karena adanya peristiwa politik yang tak pernah kita ketahui. Kesedihan telah menjadi hal yang biasa padanya. Dan padaku ia mengatakan, yang paling penting adalah bagaimana merubah kesedihan menjadi kekuatan. Ia yakin akan ajran Jawa bahwa becik ketitik, ala ketara. Ia mempercayai hukum karma, bahwa siapa yang berbuat jelek, akan menuai akibatnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika kami harus bermohon diri padanya. Padaku ia mengatakan amat senang dengan kedatanganku. “Saya sangat senang Bung kemari,” katanya, dan itu diulanginya sampai beberapa kali. Sempat aku berkata padanya beberapa kata dalam bahasa Jawa memohon doa restu demi keberhasilan studiku di Belanda. Dan ia mendoakan keberhasilanku pula. Kami segera berbalik menuju Sneevliet station. Gelap, sunyi dan dingin angin yang berhembus menemani kami meninggalkan Pak Wardjo dan Pusat Dokumentasi Indonesia. Bertiga, aku, Heri Latief dan Maman, berjalan menembus malam menahan dingin dengan jaket dan jas tebal yang kami kenakan menuju stasiun Sneevliet. Setelah menunggu agak lama dan dilanda angin dingin musim spring yang menusuk, kami menaiki kereta untuk kembali menuju Amsterdam kota. Sesampainya di Stasiun RAI, aku dan Heri melompat keluar dari kereta. Maman tak ikut turun, karena ia akan pulang kembali ke rumahnya di kota kecil Woerden.

Aku dan Heri melompat turun dan melambai pada Maman, dengan janji dan kesepakatan bahwa keesokan hari aku akan mampir singgah sepulang dari menjelajah Amsterdam. Kami saling melambaikan tangan ketika kereta api yang baru saja kami tumpangi kembali bergerak, membawa Maman pergi. Maman, anak dutabesar Afrika, yang juga tersingkirkan dan tercerabut dari rumah besar bangsanya sendiri. Aku dan Heri berlarian menuju ke luar stasiun, dan segera melompat ke tram yang kemudian membawa kami menembusi dinginnya malam musim semi Belanda kembali ke Ceintuurban.

Amsterdam-Den Haag, 19 May 2009

Advertisements

6 thoughts on “Sepenggal Kisah di Amsterdam

Comments are closed.