Kisah Lain dari Amsterdam

Kawan, Amsterdam adalah ibukota Belanda sekaligus salah satu kota yang besar dan penting di Eropa. Aku menyusuri berbagi sudut kota ini pada 16 Mei 2009 dengan membonceng Heri Latief setelah malam sebelumnya tidur pulas dengan perut kenyang di salah satu kamar rumahnya di kawasan Ceintuurban. Agak kikuk pada mulanya untuk membonceng sepeda setidaknya karena dua hal. Pertama, karena aku harus duduk dengan posisi menyamping sebagaimana perempuan membonceng. Selain sukar menjaga keseimbangan, posisi seperti itu juga cukup melelahkan, apalagi aku memanggul ransel berisi laptop yang cukup berat. Akan tetapi aku memang harus membonceng dalam posisi ini, mengingat sepeda Heri tak dilengkapi dengan tempat pijakan kaki pembonceng. “Kau membonceng dengan menyamping, tak apa. Di sini sudah biasa laki-laki berboncengan begitu,” kata Heri meyakinkan. Aku tak banyak menawar lagi. Hal lain yang kupikirkan adalah lebih kepada apakah Heri cukup kuat memboncengkan aku, mengingat badanku sendiri berbobot enampuluh lima kilogram. Itu belum ditambah dengan ransel berisi laptop dan berbagai barang lain yang aku sendiri cukup berat memanggulnya. Umur Heri sudah limapuluh satu tahun, umur yang tak lagi muda. Badannya juga jauh untuk bisa dikatakan kekar, malah cenderung kurus. Dari penuturannya sendiri ia sudah berstatus sebagai kakek karena salah satu anaknya telah beranak. Tapi apa boleh buat, daripada harus berjalan kaki yang pasti akan makan waktu atau naik tram yang pastinya akan makan biaya maka sepeda adalah alternatif yang paling murah. Heri hanya punya satu sepeda, dan karena itulah kami berboncengan. Pada awalnya mengayuh sepeda, Heri mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan, demikian juga dengan aku. Aku harus berhati-hati agar kaki ini tidak sampai mengenai pengendara sepeda lain yang lewat, atau terserempet tram yang lewat hilir mudik. Mengenai hal ini Heri berteori bahwa selama kita bersepeda tak memasuki garis putih dekat rel tram, maka kita akan aman-aman saja.”masuk sedikit ke garis putih juga nggak apa-apa,”katanya. Dan dengan demikian sepeda yang kami naiki melaju menuju jantung Amsterdam yang hari itu berhawa sejuk, mungkin sekitar 15 derajat.

Kawan, Amsterdam kota dengan arsitektur yang begitu indah. Sepanjang perjalanan dalam boncengan Heri, kulihat banyak bangunan tua dan juga rumah-rumah tua. Rumah tinggal di Belanda amat khas, rumah susun yang dibuat dari batu bata. Rumah belanda dalam bentuk mini oleh karenanya juga dijual sebagai souvenir khas negeri ini. Demikian pula kanal-kanal menghiasi di segenap penjuru kota Amsterdam. Di berbagai kanal itu perahu motor lalu lalang membawa turis atau membawa sang pemilik perahu berkeliling Amsterdam. Di sepanjang kanal juga terdapat tempat duduk yang biasanya dimiliki restauran atau kafe yang di sekitarnya. Sambil menikmati hawa hangat musim semi orang bisa duduk duduk dan minum bir, lemon tea, atau kopi diselingi dengan makan aneka roti dan sandwich. Kebiasaan seperti ini, duduk duduk di restoran, pub, dan kafe memang bisa dijumpai di seluruh negeri. Mungkin sama dengan di Indonesia di mana orang ketika bepergian juga suka mampir ke warung untuk membeli soto dan bakso, serta minum es buah atau es jeruk. Hanya tentu saja di Indonesia orang berkecenderungan menghindari sinar matahari.

Dari Heril Latief, aku banyak mendapat informasi tambahan tentang Amsterdam selain daripada yang aku amati dan dengar sendiri. Banyak bagian dari tulisan ini barangkali juga adalah sekedar menyambung dan menempel saja apa yang dikatakan Heri padaku. Amsterdam adalah kota pedagang, dimana aktifitas bisnis dan perdagangan Belanda menjadi sedemikian hidup. Ini pulalah kota yang besar yang dikenal di dunia sebagai kota dimana kebebasan dan hak individu diagungkan. Karena bertradisi sebagai kota pedagang, maka mekanisme dan sifat-sifat pasar lah yang memimpin.

Beberapa teman yang mengetahui keberadaanku di Belanda maupun di Amsterdam, menyarankan aku untuk mengunjungi Red Light District. Red Light District kawasan dimana prostitusi adalah sesuatu yang legal dengan kerangka hukum yang pasti. Seks dipandang sebagai pekerjaan yang oleh karenanya ada asuransi, ada kejelasan kontrak, ada jaminan sosial. Di Amsterdam, dan juga kota-kota lainnya di Belanda, prostitusi adalah sebuah pekerjaan, sesuatu yang dibolehkan hukum (legal) dengan syarat-syarat kerja yang pula ketat, dan diperjuangkan sebagai perwujudan dari hak asasi manusia. Di Red Light District di Amsterdam, para pekerja seks, berdiri di dalam ruangan sempit di kanan kiri jalan. Pada umumnya mereka hanya mengenakan celana dalam dan kutang penutup dada saja. Hingga dengan demikian, orang sebenarnya hanya menyisakan sekian persen yang sedikit saja dari tubuh mereka untuk ditebak tebak. Sisanya, terlihat dengan nyata. Dan janganlah kiranya engkau tanya apakah aku juga terbangkitkan oleh polah gerak tubuh mereka.

3788_78779158822_5419185_nSeperti apakah rupanya para pekerja seks itu kawan? Tak bisa diberikan jawaban yang monolitik untuknya.Cantik ukuran mana? Birahi yang menjadi ukuran, dan untuk itu menjadi subjektif masing-masing kepala untuk memberikan penghakiman dan menjatuhkan putusan. Bagimu yang pirang dan langsing menarik, namun bagi yang lain barangkali yang gemuk dan berambut kribo lebih menggugah selera. Semua aneka macam perempuan di sini ada. Yang terlihat masih remaja, gadis hingga yang setengah tua bahkan yang sudah terhitung tua bisa kita lihat di kawasan ini. Ada kulihat perempuan berbadan gemuk dan gendut dengan lemak menggelambir, yang berkulit hitam maupun kuning. Ada pula yang sudah terhitung usia tua dengan kulit yang mulai mengeriput. Semuanya akan memandang dengan tangan melambai serta pandangan mengajak masuk dan untuk melakukan penawaran. Maksud hati hendak mengambil gambar, mengabadikannya dengan dengan kamera secara curi-curi, namun salah seorang pekerja seks mengetahui gerakanku, dan mengacungkan jari tengahnya sambil mengatakan “oh fuck.” Aku dan Heri tetap berlalu dan berjalan, sampai suatu saat langkah kami sempat tertahan oleh seorang kulit hitam yang bertanya siapa diantara kami yang mengambil gambar. Kepada kami ia berteriak sambil berkata dengan marah “Who’s taking picture?”, demikian berulang ulang. Wajahnya nampak seram. Badannya tak terlalu besar, namun cukup membuatku agak panik. Bagaimanapun ini di Amsterdam yang aku tak tahu bagaimana utara selatan-nya. Untunglah Heri juga tak kalah garang membalas serta mengusir orang hitam itu. Apa yang dikatakan oleh Heri aku tak tahu, karena ia berkata dalam Belanda. Rupanya si kulit hitam ini tak terlalu banyak rewel. Barangkali karena penampilan Heri dengan rambutnya yang panjang dan wajahnya yang keras seram cukup membuatnya ciut. Mungkin juga si kulit hitam itu berfikiran bahwa Heri juga adalah bagian dari kelompok Ambon, etnis yang cukup ditakuti di Amsterdam dan Belanda. Apapun alasannya, aku berterimakasih pada Heri untuk hal ini. Kalau saja aku sendirian ke Red Light, bisa jadi si hitam itu akan merampas kameraku, kamera yang aku beli dengan cukup mahal sebelum keberangkatanku ke Belanda, hampir senilai gajiku selama sebulan.

3788_78860308822_889522_nSelain Red Light District, kami menyusuri kawasan kafe dimana dijual ganja atau dikenal juga dengan marijuana. Ini cukup menarik bagiku yang berasal dari negara yang tak melegalkan penjualan ganja. Ganja di Belanda sah untuk dikonsumsi, walaupun tidak boleh ditanam. Orang boleh menanam dengan catatan tidak boleh melebihi-kalau ku tak salah ingat- lima batang saja. Pengetahuan tentan
g ganja ini aku peroleh dari seorang kawan lain setelah kunjunganku ke Amsterdam ini. Namun demikian mengingat stok yang dipunyai berbagai kafe dan toko di Belanda yang menjual ganja, rasanya bisa ditebak bahwa banyak pula kebun pembibitan yang menanam ganja untuk konsumsi pasar. Aku tak pernah memasuki cafe atau shop yang menjual ganja, hanya melihat dari luar saja. Aku pernah merasakan ganja, dari jenis Buddha Stick, jenis yang cukup keras sekira sepuluh tahun lalu di Surabaya dan kupikir sudah cukuplah pengetahuanku akan ganja. Pada umumnya, toko atau shop yang menyediakan ganja ini juga menjual berbagai pernik alat hisap, biji ganja, serta berbagai akesoris lainnya seperti korek api, gelas, gantungan kunci, dan segalanya yang bergambar ganja, atau yang diasosiasikan dengan gambar Bob Marley, penyanyi reggae Jamaica yang dikenal sebagai konsumen ganja.

Jantung Amsterdam adalah Dam Square, suatu tempat lapang yang terbuka yang berhadapan dengan salah satu istana ratu. Konon, kata Heri, batu-batu yang dipakai untuk istana itu didatangkan dari Sri Lanka. Di Dam Square ini juga terdapat National Monument, dimana di bawah monumen yang menggambarkan patung-patung manusia itu sering menjadi tempat untuk duduk-duduk sambil memberi makan pada burung burung yang banyak beterbangan dan mencari makan di lapangan terbuka itu. Sebelum sampai ke National Monument itu, aku sempat mengunjungi monumen yang lain yakni Patung Rembrandt. Patung ini dibikin oleh pematung Russia Alexander Taratynov dan arsitek Mikhail Dronov. Sementara itu, setelah duduk duduk di Dam Square kami mendatangi Monumen Multatuli yang dibangun di atas jembatan di atas kanal. Mulatuli atau yang nama aslinya adalah Eduard Douwes Dekker dikenal dengan bukunya Max Havelaar sebuah buku yang berisi kritik tajam atas kolonialisme di Dutch East Indies, suatu wilayah yang kini dinamakan Indonesia. Dari informasi yang berhasil aku himpun, keberadaan patung itu ada di Torensluis, sejak 1987 atau seratus tahun setelah kematiannya. Penting juga diketahui, Multatuli alias Douwes Dekker ini adalah penulis Belanda yang terpenting. Aku berusaha mencari bukunya dalam bahasa Inggris, namun sayang tak pernah aku dapatkan. Setidaknya dua kali aku menjumpai Multatuli namun dalam bahasa Belanda. Monumen lain yang aku kunjungi adalah Homo Monumen. Ini adalah monumen yang diperuntukkan untuk kaum gay dan lesbian. Yang lucu atau barangkali aneh adalah letak salah satu monumen ini (karena sebenarnya monumennya terdiri dari tiga bagian yang masing masing terpisah) adalalah di depan gereja. Bentuknya segitiga.

Dibandingkan dengan kota kota lain di Belanda, Amsterdam barangkali memiliki lebih banyak tempat hiburan dan toko-tok souvenir, serta tentu saja pub, cafe, bar, dan museum. Aku sempat membeli souvenir di dekat Dam Square, sebuah mug bertuliskan Amsterdam dan kincir angin, suatu ikon khas Belanda. Akanhalnya museum, salah satu yang terkenal adalah Madame Tussaud, yang letaknya di sekitar Dam Square. Setiap saat museum ini ramah dengan pengunjung yang ingin melihat atau berfoto dengan artis artis yang dibuat dalam bentuk patung lilin. Aku dan Heri sama mempunyai keheranan mengapa orang mau membayar mahal untuk memasuki dan melihat patung lilin. Aku mencoba berteori padanya bahwa bisa jadi hal itu karena orang adalah mahluk geografis yang akan senang untuk mengatakan pada orang lain bahwa ia pernah berada di suatu tempat, tempat yang mendatangkan kebanggan tentu saja.

Berkeliling dan memasuki jalan-jalan di Amsterdam dengan naik sepeda memberikan pengalaman tersendiri bagiku. Kota ini tidaklah bising seperti kota besar di Indonesia. Hiruk pikuk manusia memang terasa, akan tetapi hal yang wajar. Orang lalu lalang dengan bersepeda atau berjalan kaki. Masih banyak terdapat taman dan juga lahan hijau. Jalan-jalan terutama di kota dibuat dari batu-batu yang disusun rapi. Ketika naik sepeda terlebih saat mendekati jembatan, jalan akan menaik dan membuat Heri cukup bekerja keras dalam mengayuh sepedanya. Tak jarang aku harus turun dan berlari kecil, karena aku yakin Heri tak akan kuat mendakinya. Sempat pula satu kali kami jatuh di sebuah persimpangan, namun syukurlah tak mengapa. Tuhan memberikan gerak refleks pada manusia, sehingga posisi jatuh yang berbahaya tak sampai kami alami.

Sebelum pulang untuk kembali lagi ke Den Haag aku menyempatkan diri ke Kantor Pos Besar Amsterdam, mengirim kartupos pada ibu dan anakku. Ibuku adalah generasi masa lalu yang tak mengenal komputer serta internet, sehingga perlulah aku mengirim kabar dengan cara manula seperti ini. Akan halnya untuk anakku, sebenarnya tak perlu benar untuk mengirim kabar padanya dengan kartupos. Yang menjadi harapanku adalah bahwa kelak ia akan menyimpan kartupos itu dan menjadi motivasi pula baginya untuk bisa menjelajah ke lain negeri seperti yang telah aku lakukan.

Selesai dengan urusan kartupos, kami segera menuju stasiun Amsterdam Centraal. Aku takbisa berlama lama di kota Amsterdam, karena ada terikat janji untuk bertemu dengan Judisetiwan Tahzin, anak mantan dutabesar RI di Afrika yang karena peristiwa 65 tidak bisa kembali ke tanah air karena dicabut paspornya. Sesampai di Stasiun Heri sempat kesulitan mencari tempat parkir untuk sepedanya. Padaku ia bercerita betapa sepedanya pernah dibawa polisi karena parkir tidak pada tempatnya. Ia memprotes penahanan sepedanya dengan mengirim surat pada pihak yang berwenang dan mengatakannya sebagai pencurian oleh negara, namun komplainnya itu tiada mendapat tanggapan. Selesai membeli tiket ke Den Haag seharga sepuluh euro lebih sedikit, kami duduk-duduklah di bangku setasiun dan menggunakan waktu untuk membincangkan mengenai penulis yang sama kami kagumi, Pramoedya Ananta Toer. Sayang Heri tak tahu dimana tempat kediaman Pram di Amsterdam dalam kunjungannya ke Belanda atas undangan Yayasan Sticusa pada tahun 1953. Aku sebenarnya ingin sekali napak tilas ke sana. Perjalananku ke Belanda ini aku juga membawa bukunya “Menggelinding.”

3788_78866078822_4933362_nSetelah agak lama menunggu, kereta api yang menuju ke arah Woerden akhirnya tiba jugalah. Ini adalah stoptrein, yang artinya kereta ini akan berhenti di banyak setasiun kecil termasuk Woerden. Woerden sendiri adalah kota kecil yang masuk dalam Provinsi Utrecht. Aku menjabat tangan Heri, mengucapkan terimakasih dan berjanji suatu saat jika ada jodoh dan waktu akan kembali menjumpainya. Mungkin sebagai basa-basi, tapi kalaupun aku ada kesempatan aku rasa aku akan mewujudkannya. Heri adalah pribadi yang baik, seorang yang keras dalam pembicaraan dan pemikiran, namun menurutku bisa mendengar dan menerima pendapat orang dan terbuka untuk saling asah dalam dialektika. Ketika diri ini sudah berada di dalam kereta, ada kulihat Heri memberi kode padaku untuk berhati-hati dengan barang milikku terutama dompet dan barang berharga lainnya. Pesannya kuperhatikan sungguh, dan semua barangku aku masukkan ke saku depan jaket. Dari balik jendela kereta dan dengan bahasa isarat dan gerak tubuh aku nyatakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja. Kereta berjalan semakin cepat dan kami saling melambaikan tangan tanda perpisahan sampai akhirnya ia tak terlihat lagi. Keretaku semakin menjauh menuju Woerden, meninggalkan Amsterdam, kota yang sejak kecil hanya aku kenal saja lewat berita di televisi yang namanya di telinga ini terdengar begitu indah. Belakangan, tak sampai dua hari aku rasa, lewat tulisan singkat yang ditulisnya di situs Facebook aku mengetahui bahwa kamera digital yang dibawanya hilang lenyap, kemungkinan besar karena copet. Seingatku, setelah berjabat tangan denganku di Stasiun, kamera itu ia masukkan ke dalam saku depan jaketnya. Sebelumnya ia memang mengambil gambarku di stasiun dan di berbagai titik seperti
di Dam Square, Monumen Rembrandt dan juga Multatuli. Apa boleh buat, Heri yang selalu mengingatkan aku akan banyaknya copet di Amsterdam akhirnya justeru kecopetan sendiri. Amsterdam, dan kota lain di Belanda dan di belahan dunia manapun bukanlah surga yang bersih dan suci dari kejahatan. Selama kita masih di dunia, bahkan di kawasan dan negara maju seperti Belanda sekalipun tak ada alasan bagi orang untuk tak waspada.

Den Haag 2 Juni 2009 02:56 dinihari

Advertisements