Ke Negeri Belanda

54129_451408983822_1011828_oKe luar negeri. Kawan, frasa itu begitu indah dan menggetarkan, terutama untuk sebagian besar rakyat Indonesia, tak terkecuali aku. Berbagai macam konotasi menumpuk dalam frasa itu. Untuk ke luar negeri orang harus punya uang, karena ke luar negeri mengandung banyak tahapan-tahapan yang bermakna pengeluaran uang. Untuk itu biasanya mereka yang ke luar negeri adalah orang yang benar-benar berpunya yang bisa membeli tiket perjalanan. Hal lain, yang membuat orang bisa ke luar negeri adalah mereka yang hendak belajar atau hendak mengajar. Orang bisa saja tak beruang banyak, tapi kalau ia menuntut dan atau menyebarluaskan ilmu, maka orang bisa ada kemungkinan pergi ke luar negeri tanpa harus mengeluarkan biaya dari kantung sendiri. Aku termasuk dalam kelas yang ini, pergi mencari ilmu dengan biaya sponsor alias beasiswa.

Ke luar negeri, kawan, seringkali tak dianggap orang berkait erat dengan perjalanan untuk ibadah. Maka jika orang naik haji misalnya, jarang kurasakan orang mempertimbangkannya sebagai bepergian ke luar negeri, walaupun sungguh-sungguh orang yang berhaji itupun ke luar negeri. Beberapa kawan menyampaikan padaku bahwa mereka ingin merasakan luar negeri sepertiku, namun tidak untuk naik haji dan jadi TKI alias buruh migran. Bahwa ada diantara kawanku itu tidak ingin ke luar negeri untuk naik haji aku memahaminya bukan karena karena mereka sungguh-sungguh tak ingin naik haji. Aku tahu mereka adalah muslim yang mengetahui bahwa berhaji adalah rukun Islam ke-lima yang mana syurga adalah balasannya. Yang mereka maksudkan dengan ke luar negeri adalah pergi untuk bersenang-senang dan berlibur serta melihat bagian dunia yang sama sekali lain, baik alam, budaya, bahkan rupa bentuk manusianya. Akan halnya menjadi pekerja migran di luar negeri sebagai TKI juga bukan dalam konotasi ke luar negeri yang diinginkan, walau tentu saja para TKI sungguh-sungguh meninggalkan negeri Indonesia. Tentu juga bukan karena memandang rendah para TKI. Hal ini kupahami karena TKI tidak pergi meninggalkan Indonesia untuk bersenang-senang melainkan benar-benar untuk membanting tulang dan bekerja entah di industri, maupun sebagai pembantu rumah tangga.

Satu hal lagi yang membuat luar negeri pada taraf tertentu adalah suatu kehebatan bagi sebagian orang di Negara kita adalah bahwa kalau kita ke luar negeri, itu berarti kemungkinan naik pesawat terbang, alat transportasi yang tak murah. Terutama mereka yang tinggal di Jawa, tak mungkin ke luar negeri tanpa pesawat terbang. Di berbagai daerah seperti pesisir Sumatera bagian utara, bisa jadi ke luar negeri seperti ke Singapura dan Malaysia dengan menggunakan perahu atau kapal. Demikian juga di perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Orang mudah saja untuk pergi ke luar negeri. Atau demikian juga mereka yang ada di Irian Jaya, serta yang berbatasan dengan Negara baruEast Timor, yang pernah menjadi provinsi Indonesia yang ke-27. Namun begitu, ke Negara-negara tetangga seperti itu mungkin tak akan terlalu dirasakan sebagai ke luar negeri. Key luar negeri adalah menjelajah negeri yang benar-benar baru. Namun barangkali ini hanya penilaianku sahaja yang tak seratus prosen benar.

Kawan, bagi sebagian besar rakyat kita, ke luar negeri adalah suatu pencapaian tertentu, baik secara mental maupun fisik. Naik pesawat terbang saja sudah merupakan kemewahan bagi sebagian besar rakyat kita. Aku bukan dari keluarga dan strata social ekonomi bawah atau miskin, dan sebelum keberangkatanku ke luar negeri yang pertama, aku sudah pernah merasakan seperti apa rasanya naik pesawat terbang itu. Namun aku paham benar betapa luarbiasanya pesawat terbang itu bagi sebagian besar masyarakat kita, karena aku hidup di tengah masyarakat yang memandang pesawat terbang sebagai sesuatu yang menakjubkan. Masyarakat di negara yang maju telah terbiasa menggunakan moda transportasi ini sebiasa kita menggunakan angkutan pedesaan atau bus kota yang jauh dari nyaman. Temanku, Dennis van Ippel, seorang yang berasal dari Amersfoort, Provinsi Utrecht datang menjumpaiku di Belanda dengan menggunakan pesawat dari London. Ia seperti aku saja yang setiap minggu menaiki bis ekonomi pulang balik ke Pringsurat, beberapa kilometer utara Secang, Magelang.

Aku ingat, pertama kali aku terbang ke Australia, sebelum pesawat melaju, aku termenung sembari memandang ke luar jendela pesawat. Hatiku berkata selalu: aku akan ke luar negeri sembari meyakinkan terus diri ini. Dan bayangan hitam serta gambaran bandara Soekarno-Hatta yang penuh kerlap kerlip semakin lama semakin kabur ketika pesawat Boeing 747 yang entah dipunyai entah disewa oleh maskapai Qantas Airlines itu menderu melaju serta tiba tiba menaik ke angkasa meninggalkan Jakarta. Aku ingat anak isteriku di desa kecil sana, di bawah gemerisik pohon bambu. Di layar yang terdapat di kabin aku semakin mengetahui bahwa posisi pesawat ini semakin menjauh, terbang ke arah Selatan, melayang di Samudera Hindia, menuju ke Sydney. Ke luar negeri tidak mudah lagi tak murah, karena selain birokrasi juga harus diurus dengan banyak biaya, transportasi menggunakan pesawat terbang saja sudah membutuhkan biaya yang banyak. Tak heran, para calon tenaga kerja di Taiwan dan Korea yang kukenal di pelosok desa Cibangkong, Pekuncen membayar mahal untuk modal kerja mereka di negeri negeri itu. Kalau tanpa uang beasiswa, rasanya mustahil aku akan bisa terbang ke Australia. Aku tambahkan lagi identiknya luar negeri dengan mahal adalah karena ke luar negeri juga berarti ada uang fiskal dan uang untuk aplikasi Visa. Peraturan baru di tahun 2009 memang
menyebutkan bahwa fiskal yang sebesar duajuta rupiah ini memang tak perlu kita bayarkan asal kita mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Namun sebelum ada peraturan baru seperti itu, tak urung, pada saat keberangkatanku ke Australia di tahun 2004 lalu kubayar juga fiskal yang kala itu sebesar satu juta rupiah. Sebenarnya aku bisa meminta bebas fiskal, namun untuk itu aku harus mengurus surat ini itu, termasuk minta pengantar dari kementrian pendidikan dan kalau tak salah ke Sektretariat Negara. Aku tak mau repot dengan penghematan satu juta rupiah, yang barangkali akan membuatku keluar uang sekian ratus ribu.Lagipula, uang fiskal itu bisa aku mintakan bantuan dari universitas partikelir temaptku kala itu bekerja, yang walau belakangan ketika aku bersengketa dengan universitas itu di pengadilan, bantuan fiskal itu termasuk pula yang mereka minta untuk dikembalikan.

Kawan, ke luar negeri yang pertama bagiku oleh karenanya adalah perjalananku ke Australia, menuju kota

Melbourne untuk studi pascasarjanaku di Monash University Law School. Sedangkan ke luar negeri yang kedua adalah kepergianku ke Belanda dengan tujuan utama kota Den Haag untuk studi singkat (short course) di Institute of Social Studies (ISS). Kedua kepergianku itu dengan tujuan yang sama, studi dengan biaya beasiswa alias sekolah dengan dibiayai sponsor. Jadi tahulah engkau kawan, bahwa aku bukan berasal dari golongan kaya yang memang ke luar negeri untuk berpelesiran. Hanya orang dari negara-negara yang sedang berkembang (developing countries) saja biasanya yang mendapat jatah beasiswa ini. Aku datang untuk studi, walau harus akui, niat untuk bepergian dan melancong cukup besar menjadi motivasi di hati ini.

Untuk kepergianku ke Belanda ini aku perlu persiapan yang tak begitu banyak, namun juga tak sedikit. Studi atau program yang aku ikuti tidaklah terlalu lama, singkat saja, kurang dari dua bulan. Walau dibiayai dengan beasiswa, bukan berarti aku tak bermodal sama sekali. Aku hanya harus mengeluarkan biaya kereta api, membeli berbagai kebutuhan untuk keperluan pribadi di Belanda seperti kopi, gula, dan teh, rokok sebagai oleh oleh, dan lain sebagainya. Pula tidak lupa, sebagaimana disarankan aku membeli setidaknya seratus euro untuk persediaan awal. Pernah, dalam komunikasi dengan isteriku melalui internet, aku menanyakan padanya, berapa uang yang telah keluar dari tabungan kami untuk membantu persiapanku ke Belanda. Dan ia menjawab: lima juta. Gajiku sebagai pegawai negeri sipil dosen tidak ada setengah dari angka itu. Dan lagi, ketika aku berangkat, aku dalam keadaan berhutang untuk melunasi rumah dengan uang gaji yang sebagian besar disedot untuk melunasinya.

Tepat di hari kelahiran Kartini pada 21 April 2009 sekira pukul tujuh malam,terbanglah aku dengan pesawat dari maskapai Malaysian Airlines menuju Kuala Lumpur. Bersamaku adalah Vera Ersi, project manager sebuah non-governmental organization yang berbasis di Jakarta. Duduk di samping kami adalah seseorang dari partai politik dimana Anwar Ibrahim terdapat di dalamnya, dan aku serta Vera menghabiskan banyak waktu dalam penerbangan ke Malaysia itu untuk bercakap dengannya. Ia mengatakan, baru saja ke Indonesia untuk mengadakan kunjungan ke mantan Presiden Habibie. Tentu aku tak bisa memastikan kebenarannya, karena benar atau tidak toh bukan menjadi urusan yang penting benar bagiku.

Singgahnya pesawat yang kutumpangi ke Kuala Lumpur dengan demikian sekaligus menjadikan kunjunganku yang pertama di Malaysia. Namun karena memang hanya untuk transit, kunjungan ini menjadi kunjungan singkat yang tak lebih dan tak bukan sekedar untuk berganti pesawat dan numpang buang air kecil di bandara yang begitu besar dan megah itu. Tak sampai dua jam di Kuala Lumpur, aku memasuki pesawat berbadan besar dari maskapai yang sama untuk seterusnya menuju Amsterdam.

Kawan, terbang dengan pesawat, tidak semua orang menyukainya. Rumusnya sederhana saja. Jika pesawat sampai terjatuh, bisa dikatakan kemungkinan orang untuk mampus amatlah besar. Terlebih kalau jatuh di dataran yang padat, atau menghujam laut sekalian. Kejadian terakhir yang dialami dialami oleh penerbangan Indonesia adalah hilangnya Adam Air yang konon terjadi di perairan Majene.Di bulan Mei 2009 ini di Indoensia pesawat Hercules juga terhempas di Madiun, dengan korban meninggal mencapai seratus orang lebih. Aku mengetahui beritanya dari internet, dan juga gambarannya dari siaran televisi di Kringloop Holland, sebuah toko barang bekas yang terletak tak jauh dari kampus ISS. Namun kawan, penerbangan kurang lebih dua jam ke Malaysia dan tak kurang dari 15 jam ke Amsterdam dari Kuala Lumpur menjadi menyenangkan karena suasana yang nyaman di dalamnya. Penerbangan begitu baik, seolah pesawat meluncur dengan lembut di udara. Ada memang beberapa kali goncangan yang membuatku agak panik, namun segera kusadari bahwa ketakutan tak akan menolong dan sebaiknya disembuhkan dengan doa. Yang terakhir ini kadang membuatku tertawa, karena ketika orang di pesawat terbang, biasanya ia akan lebih dekat dengan Tuhannya, jauh daripada ketika ia di darat. Bukan karena orang ada di langit dan semakin dekat dengan Tuhan yang di langit, namun karena orang taku t menghadap Tuhan jika pesawat sampai jatuh terhempas.

Kawan, pesawat yang aku tumpangi ke Belanda dilengkapi dengan teknologi yang amat baik. Di depan kita, atau di belakang bangku penumpang di depan kita, terdapat televisi yang dengan berbagai menu acara yang bisa kita atur sesuai dengan keinginan kita. Di televisi itu kita bisa mengikuti dan mengetahui laporan penerbangan, lengkap dengan informasi keberadaan kita atau ordinat kita, keti
nggian dari bumi, kecepatan pesawat, jarak yang telah ditempuh, dan berapa jam lagi hendak sampai ke tempat tujuan. Di dalamnya juga tersedia berbagai pilihan lagu apakah itu klasik, rock, jazz, world music, hingga disco dan house musik. Jika engkau suka akan berita, menu berita bisa kau pilih juga dari berbagai kantor berita dan media massa terkemuka dunia. Aneka macam film juga tersedia di sana, dan sekali lagi adalah terpulang pilihanmu sendiri untuk menyaksikan film yang kau suka. Ada beberapa film malaysia tersedia, juga film asing. Dalam penerbangan ke Amsterdam, aku sempat menonton film Malaysia hitam putih. Aku teringat, masa remaja dulu kerap menonton P Ramlee dari siaran TV 3 Malaysia. Namun film yang kupilih itu ternyata tak memuaskan. Aku kemudian mencoba menonton film berjudul Australia yang dibintangi Nicole Kidman. Cukup lama aku ikuti film tersebut, barangkali antara lain didorong oleh rasa rindu untuk kembali melihat negeri di mana aku pernah bermukim. Tak sampai benar-benar selesai aku menontonnya, dan kesimpulanku film itu tak sebagus apa yang kuduga dariberbagai review yang pernah aku baca.

Kawan, untuk anak-anak ada berbagai pilihan menu yang antara lain adalah berbagai permainan ketangkasan. Untuk yang satu ini, tentu tak harus anak-anak untuk memainkannya, karena orang dewasa pun dipersilakan saja untuk bermain jika memang mau. Pendeknya, pikirku, begitu luar biasa manusia menciptakan teknologi ini untuk mempermudah kehidupannya. Penerbangan ke Amsterdam, melintasi benua Asia dan Eropa menjadi hal yang tak membosankan, karena selain suguhan makanan dan minuman baik yang besar maupun kecil, kita mempunyai banyak kegiatan untuk dilakukan. Kawan, di sepenjang perjalanan, aku kerap teringat akan mereka orang orang Indonesia yang pernah berdiam di Belanda. Dalam perjalanan ke Belanda, aku membawa buku Pramoedya Ananta Toer untuk kubaca (yang tentu saja tak banyak kubaca) sembari mencoba membayangkan kebosanannya dalam menghabiskan waktu di kapal. Tak kurang dari 26 hari Pramoedya menghabiskan waktu untuk mencapai Amsterdam dengan menggunakan kapal yang tak terlalu baik. Duapuluh enam hari bagi Pram, dan itu terjadi tahun 1953, lebih dari limapuluh lima tahun sebelum keberangkatanku ketika ia diundang Yayasan Sticusa untuk acara sastra di Amsterdam. Aku juga mencoba membayangkan Hatta, Sjahrir, dan tentu saja Tan Malaka. Mereka, berpuluh tahun dari tahun ini, pastilah menempuh perjalanan yang teramat lama, melelahkan dan membosankan dalam kendala musim dan cuaca yang tak mudah untuk dihadapi. Aku? Hanya perlu kurang lebih 15 jam sejak keberangkatanku dari Jakarta, dan itu sudah membuatku kepayahan secara fisik.

Namun kawan, di dalam pesawat rasa bosan dan jenuh karena harus duduk di tempat yang sama selama berjam-jam mendapatkan penawarnya. Sebagaimana telah aku singgung di atas, makanan dan minuman silih berganti datang. Aku lupa berapa kali mendapat makan. Tapi bolehlah aku mengatakan setidaknya dua kali, yang pertama adalah tak lama setelah pesawat take off dan terbang dengan stabil di udara lewat jam 12 malam dan pada esok paginya. Di sela-sela itu, kami para penumpang mendapat snack dan minuman yang bisa kami pilih dari aneka minuman yang disediakan. Biasanya aku hanya memilih kopi atau orange jus, dua minuman yang paling aman yang bisa aku pilih daripada harus memilih air putih atau minuman bersoda dan atau yang beralkohol

Kebanyakan penumpang tidur selesai menghabiskan makan malamnya. Vera yang duduk di sebelahku juga kulihat banyak tidur. Persiapan menuju bandara Seokarno Hatta di siang harinya barangkali membuatnya keletihan juga. Aku memilih untuk membuka semua menu hiburan yang ada di layer depan. Yang sering kupilih adalah tentu saja keterangan mengenai penerbangan, di ordinat mana pesawat berada, berapa kecepatan tempuh yang sedang dijalankan pesawat, dan tentu adalah berapa jam lagi sampai. Seingatku, ketika pesawat sudah mulai terbang di layar tertera jarak Kuala Lumpur-Amsterdam yang tak kurang dari 10300 kilometer. Selain informasi penerbangan dan film yang telah kuceritakan tadi, aku banyak menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik melalui headphone. Untuk yang satu ini aku memilih musik yang aku suka, yakni classic rock. Cream, Jimi Hendrix, Pink Floyd, adalah sekedar menyebut nama beberapa artis dunia yang tersaji dalam menu hiburan Malaysia Air Lines itu. Mendengarkan lagu-lagu Brain Damage di ketinggian pesawat yang melintas di ketinggian udara Eropa adalah sensasi tersendiri bagiku.

3286_72040158822_7923627_nPesawat mendarat dengan teramat mulus di pelabuhan udara Schipol, Amsterdam pada 22 April pagi atau sekira jam 11 siang waktu Indonesia. Dua nenek Belanda yang duduk di dekatku dan Vera nampak senang dengan ketangkasan pilot mendaratkan pesawatnya. Ketika keluar dari pesawat, hawa dingin Belanda yang memasuki musim Spring mulai menusuk kulit tubuhku yang terbiasa dengan iklim tropis. Oleh petugas imigrasi, aku sempat ditanya berbagai hal ketika keluar dari pesawat dan dilakukan pemeriksaan paspor serta Visa. Aku sampai harus menunjukkan surat undangan dari Universitasku kepada petugas yang bahkan sampai menggunakan kaca pembesar untuk memeriksa Visa yang ada di dalam pasporku. Ini menjadikan birokrasi yang harus dilalui di bandara menjadi hal yang amat memakan waktu sekaligus menambah letih. Kelelahan jelas terasa, dan terekam dengan jelas di beberapa foto yang diambil bersama kawan-kawan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Kota Den Haag tak lama setelah berbagai urusan keimigrasian selesai. Dalam hati aku bersyukur pada penciptaku, bahwa pada akhirnya diri ini menginjak Negeri Belanda, sekaligus bumi Eropa, yang sejak kecil hanya menjadi bagian dari dongeng, kisah sejarah yang kudengar dari sini sana, yang seperti apa rupanya hanya menjadi rekaan di alam pemikiran saja.

‘s-Gravenhage, 5 Juni 2009 dinihari, jam 01:16

Advertisements

3 thoughts on “Ke Negeri Belanda

  1. catatansudiroy said: Belanda masih jauh mas,tapi sekarng malah dah disana

    ya, biasanya orang Indonesia mengatakan demikian: Belanda masih Jauh. Kini sudah di Belanda..

Comments are closed.