Perihal Sekolah Dasar

Pernah masuk sekolah dasar kawan? elementary school atau yang serupa dengannya? Sebagian besar dari kita pastilah pernah melaluinya. Aku sendiri memasuki Sekolah Dasar (SD) pada 1981 setamat dari taman kanak-kanak (TK) di Purbalingga, Jawa Tengah. Nama SD nya adalah SD Dharma Mulia, nama yang sama dengan TK-ku karena keduanya memang berada dalam naungan satu yayasan. Letak sekolah itu tak terlalu jauh dari rumah keluarga kami tinggal, di kompleks SMA Negeri Purbalingga (sekarang jadi SMA N 1 Purbalingga). Masuk SD itu aku sendiri telah lupa bagaimana prosesnya dan awal ceriteranya. Selain sudah terlampau lama-28 tahun lewat dari masa ketika tulisan ini aku buat- tak ada peristiwa berarti yang membuatku bisa mengenangnya. Alasan paling utama pastilah karena aku telah menamatkan TK yang masih satu kompleks, dan tak dirasa sebagai kebutuhan untuk mencari sekolah lain. Selain itu, SD Dharma Mulia adalah SD swasta yang terhitung baik, dibandingkan dengan SD Inpres yang ada di sekitar lingkungan rumah kami.

Kuingat, kala itu kakak kakakku yang lebih tua dan telah duduk di bangku SD menceritakan bahwa di SD kita akan belajar hal hal yang lebih sulit. Lebih sulit dan tentunya lebih sungguh-sungguh daripada TK yang lebih banyak bermain, bertepuk tangan dan mendengar kisah kisah Bu Guru. Kita akan belajar menulis, membaca Ini Budi, Ini Ibu Budi. Kita akan belajar ilmu pengetahuan dasar. Masuk SD oleh karenanya adalah pencapaian tersendiri untuk memasuki tahap pendidikan yang lebih serius daripada TK.

Namun kawan, jaman sekarang adalah jaman yang amat berbeda dengan jaman kita dahulu, berbelas atau berpuluh tahun lalu. Kini, untuk bisa menduduki sebuah bangku SD kita sudah dipersyaratkan untuk bisa membaca dan menulis, setidaknya jika kita hendak memasuki SD yang terbilang bagus atau dianggap bagus. Ini yang aku amati dari pengalaman yang dialami belum lama ini oleh anakku sendiri ketika hendak mendaftar di SD yang terbilang bagus di Kecamatan Secang, Magelang. Boleh dikata semua orang tua yang anaknya baru saja lulus dari TK yang tinggal di sekitar Secang ingin belaka dapat diterima di SD itu. Namun kalau sang anak tak cukup pandai untuk membaca dan menulis, maka jarang diantara mereka memberanikan diri untuk mendaftar. Dan anakku kudaftarkan pula ke sana, karena dia sudah pandai membaca dan menulis bahkan sebelum masuk TK. Itupun aku dan isteriku tak begitu bisa seratus prosen yakin akan diterimanya dia, karena kemampuan itu (membaca dan menulis) tak hanya ia yang menguasainya. Lagipun, baca tulis dan sebagainya itu bukanlah persyaratan utama yang menentukan. Dalam pengarahan yang aku ikuti beberapa minggu sebelumnya, disarankan kalau anak mempunyai piagam atau sertifikat prestasi apapun, agar disertakan ketika mendaftar. Anakku hanya memiliki satu sertifikat yakni sertifikat lomba mewarnai yang diselenggarakan sepeda motor YAMAHA beberapa bulan lalu di dealer YAMAHA Secang. Dan sertifikat itupun kami sertakan pula di dalam formulir pendaftarannya. Aku perlu mengetik keterangan tambahan-yang entah akan diperhatikan atau tidak- bahwa anakku pernah menjadi mayoret drum band TK, dan menguasai komputer sederhana. Harapanku, keterangan itu akan membantu.

Ada beberapa tes yang dilakukan di SD tersebut kawan,dan layaknya orang tua yang lain, informasi mengenai bagaimana dan apa tes yang akan diujikan telah menjadi bahan pembicaraan para orang tua jauh sebelum tes diadakan. Bertanya pada orang tua siswa yang anaknya diterima dan bersekolah di SD itu adalah salah satu cara termudah mendapatkan informasi. Dari sini, berbagai info aku dapatkan, yang kemudian aku sampaikan pada anakku untuk mempelajari. Misalnya ada tes matematika tebak bilangan. 10, 12, 14, titik titik. Nah titik titik inilah yang disuruh si anak untuk menebak atau mengisi. Ini juga kulatihkan pada anakku beberapa hari sebelum ujian.Pada mulanya ia tak dapat memahami soal, tapi setelah kujelaskan, ia akhirnya bisa juga mengerti dan sudah menguasai. Pada gilirannya di hari H tes masuk, hal ini justeru tidak diujikan.

Selain tes matematika (atau logika itu) sebagaimana sudah kutulis tadi, ada pula tes membaca dan menulis. Tidak lupa pula, anak-anak juga diuji persoalan do’a. Do’a, yang tentunya dalam bahasa Arab kalau si anak beragama Islam. Doa mau tidur, doa berangkat sekolah, doa hendak makan. Khusus doa hendak berangkat sekolah ini kawan, belakangan seusai tes anakku bercerita ia tak dapat mengucapkannya, dengan alasan belum diajari. Pada guru penguji, ia juga terus terang mengatakan belum diajari. Dalam hati aku juga berkata bahwa akupun tak pernah mengerti bagaimana do’a hendak berangkat sekolah. Juga do’a sebelum tidur baru aku tahu setelah dewasa, karena mendengar anakku diajari ibunya.

Kawan, itu semua adalah gambaran betapa memasuki pendidikan dasar kini tak lagi semudah kita di masa lalu. Barangkali engkau yang berasal dari perkotaan dan pernah memasuki sekolah yang amat bagus dan kompetitif pernah pula merasai tes masuk SD seperti ini, bahkan berpuluh tahun yang lalu, yang jelas aku tak pernah mengalami.

Ini membuatku berpikir, bahwa dalam beberapa hal, memasuki SD begitu sukar dan begitu ketat kompetisinya. Aku membandingkan dengan institusi perguruan tinggi yang justeru lebih longgar dan hanya mendasarkan pada berapa besar sumbangan yang hendak diberikan pada lembaga. Di SD yang dimasuki anaku ini, tak ada diperhitungkan sumbangan orang tua sebagai penentu lolos tidaknya anak untuk menduduki bangku SD. Yang menentukan adalah benar-benar performanya manakala tampil di depan para guru penguji. Memang diakui ada beberapa anak yang diterima karena apa yang diistilahkan dengan “Bina Lingkungan”. Anak dari warga sekitar sekolah yang ingin bersekolah di SD tersebut karena merasa mempunyai saham dan andil adanya sekolah itu di lingkungan kampung tersebut. Namun toh tetap, hanya mereka yang memiliki kepantasan minimal yang dapat diterima di SD itu melalui jalur Bina Lingkungan. Sumbangan? Berapapun besarnya dan dalam kemasan dan nama apa memang ada, tapi itu diminta setelah si anak diterima, dan bukan jadi penentuk diterima tidaknya.

Dan pada akhirnya aku dan isteriku bisa berlega hati, karena pada hari H pengumuman, anakku lolos dan diterima. Hanya sekitar 33 anak yang diterima di SD itu, dan anakku menduduki ranking ke-12. Yang tak diterima? Oh, bisa memasuki SD lain di kecamatan itu yang berdaya tampung besar dan tak diperlukan tes seleksi, walaupun tentu saja, kalah gengsi. Perkara mencari sekolah memang bukan melulu urusan bathin anak. Ini adalah persoalan yang pula membikin para orang tua berdebar tak nyenyak tidur, tidur siang maupun malam.

Juli-Agustus 2009

Advertisements

2 thoughts on “Perihal Sekolah Dasar”

  1. Thanks for the good story my friend, i and my son will get through it as well soon.Hope everything will be as smooth as you and your daughter have been through.

  2. ya pak..namanya juga Sekolah Dasar..jadi karena Dasar..ya lebih susah dari pada yang Sekolah MENENGAH/ATAS …………..

Comments are closed.