Suffocation: Blood Oath

SuffoKeras, menggempur, mencincang, menggerinda dan menghajar dengan kejam tanpa iba dan ampun. Karakteristik seperti itulah yang masih dan bahkan semakin kental menggumpal pada suguhan termutakhir Suffocation bertajuk Blood Oath. Inilah album yang menjadi sumpah darah band asal New York ini dalam meneguhkan keberadaanya sebagai salah satu band paling disegani dalam kancah musik bising dunia. Dirilis oleh Nuclear Blast, label dengan segudang artis beracung jempol, Blood Oath berisikan 12 track yang kesemuanya merupakan ramuan skill, lirik yang mengena dengan tajam, teknik bermusik nan terasah, serta komposisi cerdas nan menghantam dengan salutan teknologi rekam yang prima. Hasilnya? 48 menit kebisingan penuh sinkopisasi nan menghujam, rhytm section yang begitu padu menderu gilas, menjadikan album ini sebagai suguhan yang benar-benar ekstrim, suatu anugerah untuk metalheads di tahun 2009.
Diawali dengan nomor yang dijadikan judul album Blood Oath, berturut turut kemudian meluncur track-track ganas seperti Dismal Dream, Pray for Forgiveness, Undeserving. Nomor-nomor tersebut bisa dikatakan mewakili album ini sekaligus representasi argumen semakin dahsyat dan tak kalah brutalnya album paling anyar ini dari rilisan terdahulu. Mullen tetap prima memamerkan kegarangannya dalam berolah suara dengan teknik growl tanpa harus mengaburkan lirik. Emosi dan penjiwaan vokalis yang kini lebih sering tampil pelontos ini dalam membawakan nomor nomor keras begitu terasa dan terkontrol baik, mengingatkan orang akan pencapaiannya pada tembang-tembang masyhur seperti Infecting The Crypt atau Funeral Inception (masing-masing dari album Effigy of The Forgotten dan Despise The Sun). Sementara itu, super gitaris Terrance Hobbs yang di album ini masih dikawal oleh Guy Marchais (ex-Internal Bleeding) kembali dengan solo gitarnya yang bersih dan mencekam khas dengan penggunaan tremolo. Gitaris berkacamata yang di-endorse oleh BC Rich ini memamerkan sederet solo dan riff yang tak lazim seperti dalam Cataclysmic Purification dan Come Hell or Priest. 

Sejak berdirinya di tahun 1989, Suffo (demikian band ini biasa disebut) begitu menonjol dengan berbagai rilisan yang tak saja dikagumhormati namun pula membuat genre deathmetal dengan signifikan menempati posisi yang terhormat. Ribuan grup musik berusaha keras meniru dan menggunakan judul-judul lagu milik Suffo sebagai identitas band. Menyebut nama Suffocation adalah menyebut deathmetal itu sendiri; suatu patokan, suatu standar penentu kepantasan bagi setiap band yang hendak mengklaim sebagai beraliran deathmetal. Menjadi rahasia umum bahwa drum pattern sang penggebuk drum Mike Smith adalah salah satu identitas yang menjadi ciri kuat band ini yang bahkan seolah telah wajib ada dalam setiap kegaduhan yang ingin dikategorikan sebagai brutal deathmetal. Karakter dan teknik bervokal Frank Mullen yang diintroduksi setidaknya sejak karya besar mereka Effigy of the Forgotten (1991) telah menjadi ciri keramat yang diikuti begitu banyak vokalis. Sementara itu, keanggotaan dua musisi Afro-Amerika Terrance Hobbs (guitar) dan Mike Smith (drums) adalah sisi lain Suffocation sebagai band berideologi non-diskriminasi.

Blood Oath yang cover artwork-nya digarap oleh Jon Zig ini menjadi rilisan Suffocation yang teramat istimewa karena di album inilah untuk pertama kalinya band yang pernah diperkuat oleh gitaris Doug Cerrito ini menampilkan nomor instrumental. Dibuka dengan gebukan drum yang begitu keras dan njlimet, lagu tanpa syair yang diberi judul Pray for Forgiveness ini begitu pekat dengan riff, penuh sinkop dan solo gitar yang meliuk dengan drumming yang keras dan cepat dan unjuk permainan bass Derek Boyer yang bergemuruh mendentum.
Satu hal lain yang menjadikan album ini istimewa adalah dimasukkannya Marital Decimation, nomor lawas yang muncul pertama kali dalam album Breeding the Spawn (Roadrunner, 1993). Digarap dengan lebih sungguh-sungguh dengan teknologi rekam dan mixing yang amat baik, Marital…kini menjadi terdengar lebih gahar dan ganas, menjadi alternatif lain dari versi Breeding… yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai kurang sempurna baik dalam sound maupun perekamannya. Seolah belum puas memuaskan penggemarnya, dalam album ini juga ditampilkan versi rough mix dari lagu Dismal Dream sebagai track penutup. Dengan mengingat rentang karir yang begitu panjang dan performa yang tak mengendur dan justeru makin creative mendobrak, tak salah kiranya untuk mengatakan bahwa hanya pujian yang pantas ditorehkan pada album ini.
Dirilis nyaris serentak di seluruh penjuru dunia pada medio Juli 2009 ini, album yang ditangani oleh Joe Cincotta ini dihadirkan dengan penuh kebanggaan oleh CSA Records sebagai kado istimewa bagi pecinta sejati musik deathmetal tanah air khususnya mereka pemuja setia Suffocation. Tak saja pantas mendapat sambutan yang hangat, memiliki album ini adalah suatu keharusan bagi mereka yang telah benar-benar bersumpah untuk setia pada musik metal hingga titik darah penghabisan (Manunggal K. Wardaya).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s