Deadsquad: Horror Vision

Begitu keras, cepat, dan bertenaga, lagi menghajar. Beberapa kata barusan barangkali bisa mewakili ketika harus memberi deskripsi atas debut DeadSquad, band yang berbasis di Jakarta. Horror Vision, salah satu nomor yang dijadikan judul album mereka dirilis oleh label metal nomor satu negeri ini Rottrevore Records memang berisi delapan nomor yang cepat dan teknikal. Boleh jadi, inilah album metal yang keluarnya amat dinanti dengan harap cemas oleh semua penggemar metal. Semua tahu belaka, bahwa band ini diawaki oleh beberapa personil yang nama besarnya sudah diakui dalam jagad musik cadas tanah air. Andyan Gorust, drummer perkasa yang jejak rekamnya sudah begitu diakui lewat rekaman-rekamannya bersama Siksakubur dan Absolute Defiance. Permainan Andyan terkenal begitu cepat, dengan fill-in yang khas tentu merupakan janji tersendiri bagi DeadSquad. Sementara itu, dua gitaris di dalamnya Coki Bollemeyer dan Stevie Item juga adalah dua musisi tangguh yang menjanjikan. Coki, yang selama ini memperkuat Netral, dikenal dengan teknik permainannya yang cepat, rapi, dengan unjuk shredding yang memikat. Sementara Stevie, putra gitaris senior Jopie Item, selama ini dikenal hidup di dua alam: komersil dan underground. Sempat memperkuat Step Forward, Stevie dikenal dengan permainannya yang rapi ketika menjadi additional player untuk Dewa 19 dan second guitarist untuk Andra and The Backbone. Sementara dua personil lainnya yakni Bonsquad (bass) dan Daniel Mardhany (vox) barangkali tak begitu diakrabi secara luas oleh publik, namun performa mereka toh tak mengecewakan.
Delapan track disuguhkan dalam kemasan CD yang artworknya didominasi warna hitam. Sayangnya, jenis kertas yang dipakai untuk cover ini tidak mencerminkan kesan ekslusif, menjadikannya satu titik lemah album ini jika ditilik dari kacamata sebuah produksi. Kembali ke musik dan musikalitas, kecuali Sermon of Deception, Horror Vision, dan Arise yang merupakan cover song Sepultura, semua lagu lain diusung band ini dalam bahasa Indonesia. Ini satu pon yang patut dibanggakan. Semuanya dibawakan dalam tempo yang cepat bin ngebut, namun tetap memberi ruang lebar untuk sinkopisasi dan riff-riff yang groovy. Manufaktur Replika Baptis misalnya, menampilkan duet gitar yang manis sekaligus drumming yang unik dengan permainan cymbals yang memikat. Sementara itu dalam mengcover Arise, pujian patut diberikan pada Daniel Mardhany yang tak terpaku pada vocal pattern Max Cavalera, sang pelantun aslinya. Manakala Max membawakannya dengan tarikan suara yang rendah, Daniel tetap keukeuh dengan teknik vokalnya yang kentara terpengaruh Brett Hoffman (Malevolent Creation). Pronounciation-nya dalam ber-english ria pun boleh dikata lebih dari sempurna. Mendengarkan Arise versi DeadSquad bahkan menjadi alternatif tersendiri dari rekaman aslinya. Mereka yang memiliki album ini sesungguhnyalah memiliki salah satu rekaman yang kelak bisa dipastikan menjadi legenda dalam sejarah metal tanah air.

Advertisements