Dara Puspita, Embah Gambreng, dan Legenda Indonesian Invasion

DARA PUSPITA di Paris 1970
DARA PUSPITA di Paris 1970
Paket bersampul cokelat itu diserahkan Pak Pos padaku setelah aku menandatangani secarik kertas kecil tanda terima. Pada pojok kiri atas tertulis nama pengirimnya Handiyanto, beralamat di sebuah perumahan di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat. Handiyanto ini kawan, tak pernah kujumpai di alam nyata setidaknya hingga tulisan ini kubuat di hari lebaran ke-dua 2009 ini. “Perjumpaanku” pertama dengannya adalah melalui sebuah artikel yang ditulisnya sendiri mengenai band Dara Puspita di majalah Aktuil terbitan 1972. Secara singkat, Handi, begitu Handiyanto biasa dipanggil (nama lainnya adalah “Mbah Gambreng”, sebuah nama panggilan yang diberikan oleh Lies A.R, rhytm guitarist Dara Puspita kala tour di Solo pada 1967) menuliskan asal muasal keterlibatannya mengikuti Dara Puspita dalam tour paling fenomenal sepanjang sejarah group musik yang ada di Indonesia selama kurang lebih 3 1/2 tahun di benua Eropa. Yang pasti, Handi menggantikan seseorang yang oleh para gadis Dara Puspita dipanggil sebagai Pak Moerdono (tak lain adalah ayahanda pengusaha otomotif Soebronto Laras) yang kala itu berperan sebagai manager, penerjemah sekaligus orang yang membantu Dara Puspita menandatangani kontrak untuk tour di Eropa. Karena satu dan lain hal (antaranya adalah situasi dan ketegangan akibat kondisi kerja yang buruk sebagai akibat dari klausul kontrak), Pak Moerdono yang usianya terpaut jauh dari gadis-gadis Dara Puspita, yang tak memahami teknis sound system (ini pula yang memaksa ‘anak-anak’ Darpus untuk pontang-panting sendiri hingga ke urusan putusnya kabel dan bongkar pasang instrumen) jatuh sakit dan kembali ke Indonesia. Hal itu mengakibatkan Dara Puspita semakin kelimpungan di negeri orang, karena benar-benar sendiri dalam mengurus segalanya, termasuk hal-hal teknis yang seharusnya tidak menjadi hitungan mereka. Untuk menyewa tehnisi di sana, jasanya amat mahal, terlebih untuk jangka waktu lama.Maka, dengan berbagai pertimbangan dan atas permintaan Dara Puspita, Handi yang kala itu masih menjadi tehnisi merangkap “seksi repot” Koes Bersaudara terbang ke Jerman menyusul Dara Puspita yang tengah berada di Hongaria dan mendampingi band yang pada awalnya bernama Irama Puspita ini menjelajah Eropa.
Perihal paket yang ternyata berisi kliping Dara Puspita dari majalah AKTUIL dan TEMPO, satu keping CD audio berisi bunga rampai lagu-lagu Darpus baik studio recording maupun live, satu keping CD berisi foto-foto Darpus maupun Irama Puspita (dan ada pula foto-foto cover album Koes Plus serta Koes Bersaudara) serta sebuah e-book tentang Dara Puspita yang ditulis sendiri oleh Handi, aku mempunyai kisahnya sendiri. Beberapa pekan sebelumnya di mailing list Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI) yang kumoderatori, ada kubaca kabar dari salah seorang member yang merupakan kenalan baikku yakni Gatot Triyono mengenai seseorang lelaki berusia kurang lebih 70 tahun bernama Handiyanto yang datang pada pertemuan KPMI di Langsat Corner, sebuah Cafe di Jakarta. Singkat cerita dikisahkan bahwa Gatot Triyono mendapatkan arsip-arsip rekaman yang telah dicakrampadatkan oleh Handi yang isinya antara lain rekaman live show Dara Puspita di Eropa. Reaksi beberapa member milis amat beragam, namun pada umumnya menunjukkan keterkejutan sekaligus apresiasi akan masih terdokumentasinya sepak terjang Dara Puspita yang legendaris itu sekaligus ungkapan kagum dan terimakasih pada Pak Handi .
Kawan, membaca kabar dari Gatot Triyono, hati ini tentu menjadi teramat penasaran, karena kebetulan beberapa tahun terakhir aku mengumpulkan album-album Dara Puspita baik dalam format kaset, piringan hitam, maupun hasil transfer dari Piringan Hitam dalam format digital. Membantuku mendapatkan album Jang Pertama, Vol.II, Green Green Grass, A Go Go, Dara Puspita Min Plus, dan Pop Melayu adalah Ali Gunawan, seorang yang dikenal sebagai kolektor kawakan dari kawasan Pasar Baru, Jakarta. Dari Ali Gunawan kudapat rekaman-rekaman tadi yang sebagian besar merupakan hasil transfer dari Piringan Hitam (PH). Beberapa kaset Dara Puspita yang ada dalam daftar koleksiku sekarang kudapat dari pedagang barang bekas atau bahkan pedagang rongsok yang sama sekali tak tahu apa isi kaset dagangannya itu. Piringan Hitam A Go Go dan Green Green Grass juga aku dapatkan dari barter dengan enam buah piringan hitam Koes Plus tanpa cover dengan Edy Kuncoro, seorang kolektor Koes Plus di Solo. Namun kesemua rekaman Dara Puspita yang kumiliki tadi adalah adalah studio recording. Sedangkan live recording atau rekaman live selama di Eropa? sungguh aku kira, aku sangka hanya tinggal legenda atau sekedar ceritera saja kawan, karena tak membayangkan bahwa ada pihak/orang yang pernah merekam penampilan mereka kurang lebih 3,5 tahun di Eropa. Dan ternyata dari posting di milis KPMI itu menjadi diketahui bahwa rekaman live Dara Puspita di Eropa ternyata ada!
Hingga suatu saat ketika sedang memeriksa mailing list KPMI, ada seseorang memperkenalkan diri untuk menjadi member mailing list bernama Handiyanto yang mengaku sebagai kolektor musik. Pikiranku langsung mengarah pada Handi yang dikisahkan dalam milis, dan tanpa ragu aku kirimi ia surat elektronik yang dibalasnya tak berapa lama kemudian. Dari sinilah kemudian Handi, alias Pak Handi, alias Mbah Gambreng, yang pada mulanya hanya kukenal lewat tulisannya di AKTUIL, sebuah tulisan yang telah terbit sekira tiga tahun sebelum kelahiranku di tahun 1975 aku kenal secara pribadi. Dan atas inisiatinya sendiri, aku mendapatkan dokumen-dokumen berharga itu.
Salah satu keping CD berupa CD audio yang dikirimkan Handi alias Mbah Gambreng, sebagaimana telah aku tulis adalah sebuah CD bunga rampai yang berisi kumpulan lagu mereka yang disusun oleh Handi sendiri. Beberapa diantaranya tentu aku sudah mengenal karena berasal dari studio recording mereka yang sudah kupunya, seperti Surabaja, Mari-mari, juga A Go Go, Apa Arti HIdup Ini. Namun yang menarik adalah track ke 12 yang berisi live recording mereka di Jerman. Juga track ke 13 yang berisi banyak lagu yang mengabadikan penampilan live mereka.
Dara Puspita mengcover lagu orang, antaranya Get Back, Obladi Oblada, dan Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band dari The Beatles. Juga mereka membawakan lagu Tommy Roe berjudul Dizzy…serta dua buah lagu yang aku tak tahu judulnya apa. Yang jelas pada salah satu lagu yang tak kuketahui judunya itu kudengar mereka menyanyikan “Let There Be Love.” Aku telah berusaha mencari judul lagu itu dengan menuliskan “Let There Be Love” sebagai keywords-nya,namun tak kutemukan lagu era 1960-an dengan judul itu, kecuali lagu dari Nat King Cole (belakangan diketahui, Let There Be Love ini adalah milik The Bee Gees). Lepas dari semua itu, menurut ceritera yang berhasil kuhimpun dari berbagai dokumen tertulis di AKTUIL, selama konser di Eropa, bisa dibilang band yang juga dibina oleh Koestono alias Tonny Koeswojo dari Koes Bersaudara ini memang lebih banyak membawakan nomor-nomor orang. Hal ini karena mereka merasa kurang percaya diri dengan lagu berlirik Indonesia. Barangkali diantara lagu mereka sendiri hanya Sura
baja
yang kerap mereka bawakan.
Bagaimana permainan Darpus dalam live show sebagaimana terekam dalam bootleg kiriman Mbah Gambreng? Harus kukatakan bahwa empat gadis asal kota Surabaya ini benar-benar tampil hebat alias luarbiasa. Superb! Walau memainkan lagu orang, mereka bisa mendapatkan ruh setiap lagu, dan membawakan dengan penuh semangat dan penjiwaan a la mereka sendiri. Sgt Peppers dan Obladi Oblada misalnya dibawakan dengan irama yang menghentak, dengan bebunyian organ permainan Lies AR yang nyaring dan ceria dan drumming Susy Nander yang begitu keras. Yang terakhir ini, sang drummer perempuan berparas paling imut ini memang harus diacungi semua jempol. Betapa tidak, begitu keras dan sound drum yang begitu bagus. Ia memang benar perkasa, pukulannya begitu menghantam dan memberi jiwa pada lagu-lagu dengan irama keras dan riang. Hal lain yang mengagumkan adalah harmonisasi vokal mereka yang begitu padu, sesuatu yang telah menjadi kekuatan band ini sejak awal karir. Dalam Dizzy misalnya, paduan vokal yang terhitung sukar karena perpindahan chord yang termasuk sulit bisa mereka atasi. Demikian pula dalam lagu To Love Somebody-nya The Bee Gees yang ada pada LP ke-empat mereka A Go Go.
Pada sebuah liputan di AKTUIL kala masih di Eropa, mereka memang sempat berpesan pada publik Indonesia yang menunggu kehadiran mereka di tanah air bahwa mereka telah berubah. Mereka mengklaim bahwa mereka main/tampil sudah lain, dengan skill yang berbeda, dengan aliran musik heavysound suatu istilah payung era 70-an untuk genre musik keras. Tentulah kalau rekaman bootleg Darpus seperti yang dikirimkan Mbah Gambreng padaku sudah beredar luas pada saat itu, dan teknologi duplikasi dan lalulintas data sudah secanggih jaman kini, orang pada masa itu akan lebih menghayati dan membenarkan apa yang mereka sampaikan.
Apa yang disampaikan Darpus benar-benar tak berlebihan. Pada 1965 mereka sekedar girl band, yang belum memainkan musik-musik berirama keras, setidaknya dalam recordingnya. Lagu-lagu yang mereka mainkan seperti Pusdi, Minggu Jang Lalu masihlah lagu-lagu pop lembut dengan paduan vokal yang mendekati Pattie Bersaudara dan atau Koes Bersaudara. Petikan gitar yang ngepop dengan sound-nya yang sederhana, drumming yang sekedarnya saja bahkan take vocal yang terkesan tak padu dengan irama musik menjadi ciri khas debut album band ini.
Musik yang mereka mainkan mulai beranjak liar ketika memainkan Pesta Pak Lurah dan juga Mabuk Laut, dua nomor dari piringan hitam ke-dua mereka. Dan di Eropa, dokumentasi berupa rekaman bootleg yang kuterima dari Handi alias Mbah Gambreng telah bersaksi, bahwa mereka telah mematangkan diri menjadi band yang mengusung aliran heavysound dengan penampilan baik fisik maupun skill yang sama sekali berbeda.
Kawan, belum banyak yang bisa aku tulis mengenai Darpus dalam kesempatan ini. Satu file mengenai Dara Puspita tulisan Mbah Gambreng, sang teknisi/roadie Darpus legendaris setebal lebih dari 130 halaman ini belum lagi aku baca dan atau pelajari. Aku juga belum banyak menggali pertanyaan dari beliau Mbah Gambreng tentang hal-hal seputar Dara Puspita (dan juga Koes Bersaudara) yang barangkali masih luput tercatat maupun terdokumentasi atau sebaliknya yang telah beredar di masyarakat, namun mengandung cacat dan salah kaprah di sana sini. Namun setidaknya aku, dan kita semua patutlah berterimakasih pada Mbah Gambreng karena berkat ketekunannya memelihara file-file Darpus selama di Eropa, catatan sejarah itu bisa diestafetkan ke generasi penerus. Terlalu lama publik seni musik di tanah air ini melupakan kenyataan sejarah bahwa pernah ada band Indonesia yang melanglang buana di daratan Eropa atas prakarsa dan kesanggupan dan kapabilitasnya sendiri. Terlalu sering media tanah air mengatakan dan mengharapkan adanya artis Indonesia untuk go International atau terkesan berlebihan dalam menyanjung sebuah band atau artis yang manggung di negeri tetangga seolah belum pernah terjadi sebelumnya artis Indonesia menoreh prestasi di kancah antar bangsa. Media dan masyarakat kerap lupa bahwa di akhir era 1960-an hingga awal 1970-an, apa yang terbilang go International itu pernah dicapai seniman musik Indonesia yang bergabung dalam satu kelompok musik yang semua awaknya adalah perempuan, Dara Puspita. Semuanya itu karena ketidaktahuan akan sejarah, yang bagaimanapun juga sedikit banyak diakibatkan miskinnya dokumentasi musik Indonesia.
Pada Embah Gambreng, aku berterimakasih, dan berharap, masih banyak mengenai Dara Puspita yang bisa didokumentasi dan diabadikan untuk dipelajari dan dikenang sebagai bagian dari kiprah kejayaan anak bangsa di belahan bumi utara, sebagai sebuah Indonesian Invasion di penghujung era 60-an. Berbagai dokumentasi berharga yang dihimpun dan diselamatkan Embah Gambreng ini menjadi sumber pengetahuan bagi khalayak akan apa yang telah dicapai oleh Dara Puspita, sekaligus menjadi monumen musik Indonesia untuk dikenang siapa saja pemerhati dan pecinta musik Indonesia bahwa pernah dalam suatu masa gadis-gadis bangsa ini menunjukkan taringnya dalam kancah musik keras Internasional.
Pringsurat, Temanggung, 21 September 2009
Keterangan Gambar:
*Poster/Flyer DARA PUSPITA semasa tour di Belgium, 1969 (Koleksi pribadi Inge)
*Foto-foto: Handiyanto aka Embah Gambreng
Advertisements

12 thoughts on “Dara Puspita, Embah Gambreng, dan Legenda Indonesian Invasion”

  1. Terima Kasih postingnya..Jadi lebih banyak lagi info seputar Dara Puspita , group fave saya disamping The Singers , Arya Junior , Pretty Sisters …

  2. rayamir said: Terima Kasih postingnya..Jadi lebih banyak lagi info seputar Dara Puspita , group fave saya disamping The Singers , Arya Junior , Pretty Sisters …

    Ya, terimakasih kita pada pada Pak Handiyanto aka Mbah Gambreng, karena semua yang saya tulis di atas adalah berdasar dokumentasi dan kesaksian beliau sendiri sebagai ex technician/roadie Dara Puspita. Berbicara mengenai Darpus, orang lain mungkin hanya bisa sekedar menerka-nerka saja, namun beliau mengetahui betul ABC Dara Puspita terlebih karena berada di inner circle band tersebut. Mudah-mudahan masih banyak yang bisa diselamatkan oleh beliau dan didokumentasikan dengan baik oleh generasi penerus.

  3. Just for your information…”Let there be love” yang dinyanyikan live di Euro seharusnya adalah lagu The Bee Gees.saya juga punya 2 keping rekaman LIVE Dara Puspita di Jerman (saat itu Jerman Barat), Hongaria, Madrid….

  4. sokaradio1009 said: Just for your information…”Let there be love” yang dinyanyikan live di Euro seharusnya adalah lagu The Bee Gees.saya juga punya 2 keping rekaman LIVE Dara Puspita di Jerman (saat itu Jerman Barat), Hongaria, Madrid….

    OK, terimakasih informasinya, maklum saya belum sempat riset untuk mencari judul lagu dan penyanyi aslinya. Yang dipikiran saya adalah bahwa yang penting tulisan turun dulu sebelum mood hilang. Boleh saya tahu, 2 Keping rekaman live apakah anda dapat dari Jerman atau dari mana? Saya belum sempat menanyakan pada Pak Handi alias Mbah Gambreng apakah bootleg Darpus yang beliau kirimkan adalah hasil transfernya sendiri dari reel tape atau memang beliau juga mendapat bootleg rilisan di Eropa dari Bootleger Eropa. Namun asumsi saya hingga kini bahwa semua rekaman adalah dari beliau. Beliau sendiri mengedarkan rekaman live Darpus lewat apa yang beliau sebut sebgai ‘jalur rakyat’ mengingat label yang merilis Dara Puspita sudah lama bubar. Salam_

  5. sokaradio1009 said: Secara resmi, Darpus cuman pernah rilis 2 SGL (UK) dan 1 SGL (Belanda)Infonya bisa dapat di http://sokaradio1009.multiply.com/photos/album/6/Dara_PuspitaLagu “Let there be love” kan lagu kacangan tuh mas? …ada di album IDEARekaman LIVE itu saya yakin adalah hasil rekaman hasil bapak Handiyanto, bravooo dan salut untuk bapak Handiyanto!

    Ya, saya memiliki beberapa The Bee Gees, namun tak ada dari koleksi The Bee Gees saya (yang amat sedikit itu) yang memuat lagu ini sehingga saya tak tahu. Memang nampaknya bukan lagu yang popular di tanah air, tapi lumayan juga ketika dibawakan para gadis Darpus. Nah, kalau memang rekaman LIVE yang anda punya itu bukan dari mana-mana melainkan dari ‘sekitar sini saja’, maka memang kemungkinan besar itu bersumber dari Mbah Gambreng alias Pak Handi karena beliau memang telah mendistribusikannya. Akan halnya label INDRA Rec, saya kurang tahu apakah masih hidup atau tidak. Namun sepenangkapan saya dalam koresponden dengan Mbah Gambreng, yang dimaksud beliau dengan label-label yang telah almarhum itu adalah label yang merilis album mereka dari Jang Pertama sampai A Go Go.Akan halnya single di Inggris dan Belanda sebagaimana anda maksudkan, saya telah mengetahuinya. 2 gambar covernya ada di PHOTOS bagian Dara Puspita.Seorang kawan di Purwokerto, Pak Haryono namanya, yang keluarganya erat dengan show biz di era 60-70-an konon memiliki reel tape rehearsal-nya Dara Puspita di Purwokerto. Ia sendiri-semasa masih terhitung kanak- bermain kartu/catur dengan gadis-gadis Darpus semasa mereka show di Purwokerto. Sayangnya hingga saat ini nampaknya belum dilakukan digitalisasi atas data-data itu.

  6. LIVE Album saya dapat dari personil Darpus sendiri… Bener…pak Har dari Purwokerto memang pernah kasih komen di MP saya, bahwa beliau mempunyai rekaman Darpus saat rehearsal sebelum manggung… ini adalah domentasi yang luar biasa. Bravo pak Handi dan pak Har!

  7. sokaradio1009 said: Thanks… photonya bagus2 dan luar biasa!!! makasih sekali lagi…

    OK. Kita berterimakasih pada Mbah Gambreng. Mari kita berdoa, Mbah Gambreng diberi kesehatan dan kekuatan dan juga mood untuk bisa mendokumentasi segenap arsip yang ada untuk bisa dinikmati publik seperti ini. Hidup Darpus! Hidup Mbah Gambreng!!

Comments are closed.