Polemik Darpus, Arsip Musik Indonesia, dan KPMI

PENGANTAR:
Tulisan di bawah ini adalah sebuah diskusi kecil mengenai Darpus antara saya (MKW) dan Zay di salah satu halaman Multiply milik Zay (sokaradio1009.multiply.com) yang kemudian bergeser seputar artikel mengenai Dara Puspita di Buku Musisiku & KPMI. Suatu dialog hangat yang cukup panjang, yang saya pikir bisa menjadi dokumentasi tersendiri yang unik untuk disendirikan dalam sebuah posting blog. Terimakasih kepada Zay.
Selengkapnya mengenai diskusi ini bisa disimak di link ini:
Zay:
Memang merupakan suatu hal yg patut disesalkan sekali, girlband sehebat Dara Puspita jebolan tanah air sudah ngga banyak dikenal lagi, bahkan yang koar2 menyebut dirinya sebagai pecinta musik Indonesiapun, banyak yang ngga tahu who is “Dara Puspita” sebenarnya?
Penyebab utamanya dan fenomenanya adalah miskinnya pendokumentasian karya musik Pop Indonesia era 50-70 an…
sampai2 di buku “musisiku” aku temukan sebagian data2 yang salah fatal ttg Dara Puspita yang seharusnya tidak perlu terjadi…
Tetapi… ya inilah kenyataannya…! too sad!
Bagaimanapun juga sebuah karya musik adalah sepenuhnya cermin budaya dan peradaban manusia dari suatu masyarakat…bangsa, negara…Bahkan boleh dibilang merupakan aset dunia….ada ngga yang peduli dengan keadaan sekarang ini?
MKW:
Ya, kalau kita cermati, sebenarnya ketidaktahuan publik akan Darpus dan banyak band masa lalu bukan salah siapa-siapa, melainkan salah sistem. Beatles, Bee Gees, The Mamas and The Papas, YES, Pink Floyd, The Rolling Stones, mereka hingga kini masih ad
a, dan katalog album2nya bisa diakses generasi sekarang dengan mudah, karena memang sistem memungkinkan demikian. Master album2 jelas storage-nya, juga hak cipta, hak edar. Ini juga ada kaitannya dengan korporasi yang menaungi mereka adalah korporasi besar dengan archiving yang baik.Di Amerika bahkan setiap karya seni berupa rekaman ada file dan arsip tersendiri yang memungkinkan bisa diakses masyarakat luas. Kembali ke artis2 tersebut, mereka ada di bawah EMI, London, Atlantic, Warner, dll yang tertib dalam hal master tapes dan kontrak kerja. Nah kita? Dimita, Irama, Media, Mesra, Remaco dll perusahaan masa lalu di kita? Seberapa tertibnya? Master-masternya telah hilang, mungkin telah dijual sebagai barang rongsokan. Jangankan artis generasi 60-an seperti Darpus dan Koes Bersaudara, artis generasi 70-80-90 saja banyak yang sistemnya masih jual putus/flat. Sekali rekaman, dibayar sekian ratus ribu/juta, sudah. Laku nggak laku, dirilis nggak dirilis ulang si artis nggak bisa banyak cingcong. Master? Jangankan disimpan, master itu seringkali dipakai lagi alias ditimpa untuk recording artis lain. Mengapa? Pertimbangan ekonomi saja, untuk mengirit biaya. Bahkan mahakarya seperti GURUH GIPSY, Koes Bersaudara, Harry Roesly dengan Ken Arock-nya saja masternya entah kemana dan hingga kini orang berburu kaset aslinya hingga ratusan ribu rupiah. Mengagumkan sekaligus menyedihkan sebenarnya. Mengapa harus begitu? Bahkan re-release album Ghede Chokras milik SHARK MOVE-nya Benny Soebardja musti ditransfer dari Piringan Hitam untuk kemudian diproduksi dalam format CD di Jerman. Apa boleh buat….masternya sudah raib entah kemana…but the show must go on!
Bandingkan dengan The Beatles dan The Rolling Stones. Jika anda sehat, punya uang, ayo pergi ke record shop, dan bawa pulang semua album-nya. Seorang teman dengan antusias menceritakan mengenai re-release The Beatles pada saya. Saya katakan: The Beatles menarik, saya penggemar dan kolektor The Beatles, tapi The Beatles itu hanya perkara uang saja. Kalau ada uang, LENGKAP lah koleksi The Beatles anda, mau album apa saja juga ada. Kalau tidak ada di local store, pergilah ke online shop. Artis Indonesia? Tunggu dulu…! Ada uang, barang belum tentu ada. Ada uang, belum tentu uangnya cukup. Nggak ada patokan pasti untuk uang. Bawa Seratus ribu mau beli JANG PERTAMA? Bisa disuruh pulang plus diketawain sama penjualnya di Jalan Surabaya. 2 PH Darpus saya (Green Green Grass dan A GO GO) dapat barter dengan enam PH Koes Plus tanpa cover. Lain dengan The Beatles. Sekian dollar atau Euro atau Yen-nya bisa diduga. Di Belanda kemarin saya liat sekitar 25 euro-an per CD The Beatles. Di Australia lima tahun lalu, satu PH The Beatles (baru) dijual 15 Dollar. Itu di toko rekaman paling murah di Melbourne, dragonflydisc.

DARA PUSPITA di buku Musisiku terbitan Komunitas Pecinta Musik Indonesia memang banyak kekurangan bahkan kesalahan. Saya katakan di sini, saya adalah penulisnya. Salah satu kesalahan saya adalah lalai dalam checking judul lagu sebelum diturunkan dalam tulisan (saya tulis dahulu yang ada di otak, dan rencananya akan saya check lagi di daftar lagu di PH pada waktu editing, namun terlupa sehingga sampai turun cetak ada lagu yang berjudul “Di Bawah Sinar Bulan”, padahal bukan itu judul aslinya). Ini masalah kelalaian belaka. Artikel mengenai DARA PUSPITA itu (dan berbagai artikel lain di buku itu, serta Buku MUSISIKU 2 yang sudah terbit) harus diakui memang mengandung banyak kesalahan baik fatal maupun tidak, baik redaksional maupun substansial. Kritik mengenai artikel DARA PUSPITA ini juga sudah saya baca di milis KPMI beberapa waktu silam. Seandainya saya sudah mengenal anda pada masa itu, atau bahkan Mbah Gambreng, tentu tulisan itu akan lain jadinya, akan lebih kaya dan minimal dalam mengandung error.
Tanpa bermaksud menepuk dada sendiri, mestilah dipahami pula bahwa tulisan itu juga berperan besar membangkitkan kembali ingatan, dan bahkan membuka mata banyak pihak tentang eksistensi Dara Puspita. Saya bisa mengatakan hal ini dari berbagai feedback yang masuk ke KPMI. Untuk diketahui, semua artikel di buku Musisiku sebelumnya dimuat dalam koran REPUBLIKA sebagai bagian dari kerjasama KPMI dan Republika. Artikel Darpus yang kemudian dimasukkan dalam MUSISIKU 1 itu memang tak akan memuaskan mereka yang tahu betul mengenai Dara Puspita, namun artikel itu telah membuka mata banyak pihak yang sama sekali tak tahu menahu-para generasi sekarang-, atau mereka yang sempat mendengar sayup-sayup di masa lalunya akan keberadaan band Dara Puspita namun sama sekali telah kehilangan jejak karena miskinnya arsip, karena ketiadaan di pasar musik. Fenomena ini juga berlaku untuk artikel lain mengenai band lain di buku kompilasi tersebut seperti Farid Hardja, Guruh Gipsy, Giant Step dll. Kalaulah ada kesalahan baik substansial maupun redaksional, bukankah dalam dunia penerbitan segala kekurangan tersebut adalah fenomena wajar yang bisa dikoreksi dengan pembetulan, koreksi atau revisi dalam cetak ulang atau edisi revisi?

Saya mengandalkan dokumentasi AKTUIL untuk tulisan itu (yang diturunkan sebelum formasi MIN PLUS dan perkembangan selanjutnya album2 Titiek Hamzah dan Susy Nander) dan analisa saya pribadi mengenai lagu2nya (misalnya ketika membandingkan lagu Ibu dengan She Said She Said-nya The Beatles, Mari Mari dengan I Cant Get No Satisfaction). Dokumen-dokumen itu saja yang saya gunakan, karena saya tak punya sumber lain kecuali berbagai copy AKTUIL dan analisa pribadi saya tersebut. Namun demikian, bahkan dokumentasi AKTUIL itu sendiri menurut Pak Handi alias Mbah Gambreng, mantan roadie Darpus selama di Eropa tidak sepenuhnya akurat. Mbah Gambreng mengatakan bahwa anak2 DARPUS sudah lupa, atau menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi sehingga apa yang diturunkan dalam laporan di AKTUIL sesungguhnya tidak mencerminkan seratus prosen keadaan sebenarnya.

Mayoritas penulis di buku itu, termasuk saya, hanyalah hobiis record (dan bukannya pengamat/penulis musik profesional) dengan pengetahuan dan data yang mungkin seringkali kurang memadai, yang di sela sela kesibukan pekerjaan sehari-hari berhimpun dalam KPMI mencoba berbuat dan memberikan sesuatu yang nyata untuk publik musik Indonesia. Ini yang saya kira perlu untuk dipertimbangkan dan diapresiasi dengan jujur. Bahwa KPMI, bisa menghasilkan karya nyata d
engan segala kekurangannya barangkali adalah hal pertama yang dilakukan komunitas penggemar musik sepanjang sejarahnya di tanah air. Jika di kalimat penutup anda menanyakan “ada nggak yang peduli dengan keadaan ini?”

Saya hendak menjawab dengan mantap: salah satunya pastilah KPMI.
Kami barangkali satu-satunya kelompok, suatu wadah, suatu organisasi yang bergerak dengan jalur mailing list, dengan jalur penerbitan di surat kabar dan buku kompilasi, dengan melakukan kunjungan ke rumah artis senior, diskusi bulanan dll. Kami benar-benar hit the road, tak sekedar hit the web, atau bercakap cakap di cafe/warung belaka. Bahwa kami cinta musik Indonesia dan bergabung dalam wadah Komunitas Pecinta Musik Indonesia, tidak lantas kami yang paling tahu dan paling cinta musik Indonesia. Jika kami memakai nama Komunitas Pecinta Musik Indonesia, itu tak lantas membuat kami adalah komunitas yang seharusnya paling tahu musik Indonesia.

September 2009, group Pandjaitan Bersaudara aka Panbers dalam kesempatan ulang tahun Benny Pandjaitan memberikan award kepada KPMI yang telah ikut melestarikan Panbers di dalam buku Musisiku. Rasa terimakasih Panbers bukanlah ungkapan ekspresi dan support yang pertama kami terima dari artis yang kami dokumentasikan. Sebelumnya, tanpa banyak ekspos media massa, kami banyak menerima respon bernada terimakasih dan dukungan baik dari artis lama yang sempat kami dokumentasikan maupun dari penggemar musik Indonesia dari segenap penjuru dunia.

Berbicara mengenai kelompok masyarakat, komunitas penikmat, pecinta, atau apapun istilahnya yang bergerak murni non-profit sebaliknya bisa kita renungkan: adakah komunitas maupun wadah serupa yang telah melakukan langkah nyata pendokumentasian musik Indonesia terutama musik dan artis masa lampau seperti KPMI? Adakah yang dengan rutin dan teratur mengadakan pertemuan dan bincang bersama artis senior/artis lama? Adakah yang telah menelurkan buku (yang sama sekali bukan urusan mudah lagi sepele) yang memuat berbagai album dan artis yang nyaris terlupakan dan terhapus dari memori publik, yang sebentar lagi memasuki edisi MUSISIKU 3 seperti KPMI? Rasa-rasanya tidak atau belum ada. Kami telah melakukannya, dan untuk itu kami tak mendapat imbalan materi apapun kecuali kepuasan dan kebahagiaan bisa melestarikan musik Indonesia sekaligus rasa terimakasih kami pada artis senior yang telah membuat hidup kami para pecinta musik lebih berwarna warni.

Salam.
Advertisements

7 thoughts on “Polemik Darpus, Arsip Musik Indonesia, dan KPMI

  1. tokokz said: buku MUSISIKU mmg suka ada kesalahan….

    Ya benar, harus diakui…Dengan segala Min-Plus nya, bagaimanapun MUSISIKU menyumbangkan sesuatu untuk publik musik Indonesia. Kekurangan-kekurangan dicatat dan diperbaiki ke depan.

Comments are closed.