Guruh Gipsy & Trick Nakal Kawan Senior

Yang dicari akhirnya ketemu juga. Sebuah kaset Guruh Gipsy (selanjutnya disingkat GG). Dapat dimana? Jawabnya: dapat di sebuah pasar. Berapa harganya? Tidak tahu, yang jelas, bersama enam atau tujuh kaset lainnya semua total dibayar 15 ribu saja. Kapan? Sebenarnya sudah agak lama, setidanya sebulan lebih dari hari ini dimana tulisan ini dibuat. Murah? Mungkin, karena si penjual kaset mungkin membeli semua kasetnya yang terhampar itu satu atau dua ribu rupiah saja. Kaset yang lain apa? ada Hary Roesli, ada Jack Lesmana Combo (Jawaban Api Asmara), ada..Ge Ge (band-nya Charles Hutagalung, tapi belakangan ketahuan isi kaset bukan pasangan cover, alias sial). Sisanya? Wah lupa, semoga di akhir atau di tengah tulisan ini jadi teringat.
Menemukan kaset langka seperti GG adalah hal biasa bagi pengumpul musik. Banyak yang mengalaminya…dimanapun di Indonesia atau di mancanegara. Yang menjadi unik dari penemuan ini adalah bahwa di dalam kaset GG itu terdapat tanda tangan, lengkap dengan nama kota dan tahun. Kalau tak salah, tahunnya adalah tahun 1977. Tempatnya? Yogyakarta. Kok kalau nggak salah? Ya, maklumlah, diri ini menulis tanpa melihat kembali kasetnya. Tapi memang tak perlu melihat, karena bukan itu bagian penting yang hendak kubicarakan.
Bagian pentingnya (bisa jadi bagi anda tak penting pula) adalah bahwa tanda tangan itu menunjuk sebuah nama yang kukenal. Siapa namanya? Tak usahlah dituliskan di sini. Ini juga tidak penting. Yang jelas, dia adalah seseorang di lingkungan besar di tempat di mana aku bekerja.
Dan kemarin, dalam kesempatan bertemu dengannya di sebuah acara lokakarya (yang sebenarnya aku tak mengenal dekat secara pribadi sebelumnya), hal ini kutanyakan padanya: apakah dia pernah punya kaset GG? Dan dijawab oleh kawan yang berkumis tebal ini dengan mantap “Ya”. Dan kuceritakan padanya mengenai kaset itu, yang kujumpai di pasar. Mendengar itu, dia cukup antusias, walau di luar dugaanku, sama sekali ia tak berusaha merayu agar barang yang pernah menjadi miliknya itu kembali lagi padanya. Dan aku tak perlulah bercerita dan menuturkan padanya, bahwa menurut Google, kaset itu bisa berharga ratusan ribu. Bisa-bisa ia akan berubah pikiran. Tidak percaya kalau kaset itu bisa berharga ratusan ribu? tanya saja pada Google, dan kalau tak puas, salahkan saja Google.
Ia lantas mengisahkan, bahwa ketika kuliah, hobinya memang membeli kaset. Setiap kaset selalu ia nomori, baik di cangkang/cartridge maupun di cover. Mengenai hal ini memang hal yang nampaknya biasa dilakukan pemilik kaset jaman dahulu. Sering aku jumpai kaset kaset tua ditandai dengan nomor baik cangkang maupun covernya. Tujuan pemiliknya barangkali supaya kaset-kaset tidak saling tertukar isi maupun covernya. Ada yang melakukan penomoran dengan menggunakan spidol, namun ada pula yang menggunakan huruf-huruf pada kalender yang kemudian direkatkan dengan lem. Yang terakhir ini bisa dihilangkan dengan merendam cover sebentar pada air, dan tempelan kertas bekas kalender akan lepas dari cover. Namun kalau lem yang digunakan adalah jenis perekat untuk kayu maupun plastik tentu saja tidak akan bisa lepas. Aku sendiri tak pernah sekalipun melakukan hal ini pada kaset-kaset yang kumiliki. Bagiku, hal demikian merusak keaslian kaset. Kalau kita tak ingin tertukar, cukup diputar saja sebentar, maka kita akan tahu isi kaset dan pasangan covernya.
Nah, setelah menceritakan ini itu mengenai hobinya akan kaset, dan keluh kesahnya mengenai anaknya yang tak suka dengan musik jaman dahulu, ia menceriterakan bagaimana mendapatkan kaset dengan harga murah. Resepnya begini.
Pada masa lalu, dan juga barangkali sekarang masih bisa dijumpai, orang bisa menukarkan kaset yang dibeli jika kwalitasnya kurang baik. Toko kaset akan menerima, karena kaset tersebut akan diretour kepada sales kaset. Maka yang dilakukan oleh kawan (senior) ini adalah dengan membeli kaset asli di toko dan membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah, ia segera merekam kaset tersebut ke pita kosong yang telah ia beli atau bahkan pita dari kaset lain yang bisa ditimpa. Mengenai asal muasal pita ini -apakah pita kosong atau pita timpaan-aku tak tahu pasti, karena aku tak menanyakan lebih detail lagi tak mendengarkan dengan penuh perhatian di bagian ini, lagipun menurutku tak penting benar.
Nah, setelah kaset asli terekam, pita kaset asli dipindahkannya ke cangkang kaset miliknya, sehingga ia memiliki kaset dengan pita asli. Adapun cangkang, dan juga covernya sudah barang tentu bukan asli. Pita rekaman hasil membajak kaset yang dibelinya tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cartridge kaset dan cover kaset yang asli. Setelah itu? ia akan kembali ke toko kaset dan complain bahwa kasetnya rusak, tidak enak, mengayun dan lain sebagainya. Biasanya toko kaset akan menerima kembali kaset yang dikomplain sebagai jelek itu. Hal itu kerap dilakukannya berulangkali, menjadikannya banyak memiliki kaset yang seolah kaset rekaman, tapi sebenarnya berpita asli. Jadi….
Sudah pernah mendengar kisah seperti ini? Maaf, aku belum pernah dengar, jadi kutuliskan di sini daripada mengganggu benak pikiran. Mau mengutuk kawan senior ini? silakan saja. Aku tak mengutukinya, tapi dalam hati gemas juga sebenarnya.
Yang pasti, ini tentu saja bukan kabar baik bagiku, dan mungkin bagi siapa saja yang suka membeli kaset lama para pengumpul rekaman. Bahwa penjual kaset bekas suka merubah cangkang alias cartridge itu hal yang relatif biasa dan diketahui orang. Tapi bahwa kaset itu pernah diganti isi ataupun pitanya oleh seseorang di masa lalu manalah kita bisa tahu dan menerka. Dari kisah si kawan senior ini timbul pertanyaan: siapa tahu kaset yang kita dapatkan adalah kaset yang menjadi korban ‘tukar tambah’ ala sang teman senior ini? Meminjam istilah mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI Jimly Asshidiqie: Sangat boleh jadi!
Oh ya, teringat pula akhirnya diri ini akan kaset yang dibeli bersama Guruh Gipsy. Kaset itu adalah Lemon Trees “Nadia dan Atmosphere”, kaset keempat dengan judul yang sama yang telah aku miliki…
 
 
25 Oktober 2009 menjelang jam 11 malam.
Advertisements

2 thoughts on “Guruh Gipsy & Trick Nakal Kawan Senior”

  1. agamfat said: Dulu suka GG, sekarang suka D Masiv tuh teman senior itu heheheDapat GG harga cuma ribuan, enak tenan

    Enak Mas Agam. Di atas seribu saya itung per kepingnya, tapi yang jelas nggak sampai dua ribu. Penjual kan enggak tahu kalau ini barang berharga, apalagi dia jualan barang bekas secara umum, bukan khusus jual kaset. Paling yang agak spesifik dia jual tape/VCD/kipas angin bekas dll, dan itu tempatnya di emperan jalan, bukan di gerobak khusus. Itu aja termasuk penjual yang pelit dan ketus (ya aktingnya sebagai penjual sih, bisa dimengerti).Kemarin hari dapat lagi Zaenal Group di dia, maunya lima ribu, tapi setelah dirayu-rayu mau deh empat ribu. Di beberapa tempat lain saya bahkan biasa dapat 5 ribu tiga.Itu teman senior nggak begitu peduli soal GG, malah dia kepingin punya lagi Lemon Trees (dan bukannya D Massiv, heheh). Wah jadi ingat ini yang tidak tertuliskan di atas: Dia cerita, pernah di suatu kota di Jawa Timur dimana dia kuliah (kayaknya) dia dan kawan-kawannya satu kost mau menemui Gombloh yang main di kota itu (bukan Surabaya). Eh, nggak taunya Gombloh malah ke rumah kos-nya, karena mau membeli mobil bekas (kalau gak salah dengar model Jeep) milik sang pemilik rumah. Mobil agak mogok, jadi Gombloh ikut mendorong. Karena badannya kerempeng, dia jadi ketawaan anak kos..

Comments are closed.