Koes Plus Live at Wotgandul, Semarang, February 17 1973

12189800_850947395024731_9188665351040841107_n
Koestono aka Tonny Koeswoyo, Semarang. Gitar yang dipakai Tonny adalah bekas milik Lies AR Dara Puspita. 

Seperti apakah penampilan panggung sebuah supergroup Indonesia yang bernama Koes Plus pada paruh awal 70 an? Sungguh hingga kini, hal tersebut tidak bisa banyak diresapi dan diketahui kecuali dengan mengais ingatan mereka yang pernah menyaksikan sendiri penampilan band legenda ini. Koes Plus, sebagaimana diketahui tak pernah secara resmi merilis album live, terlebih di masa kejayaan mereka semasa masih dalam formasi tangguh bersama sang pimpinan Tonny Koeswoyo (wafat pada 1987). Walaupun menghasilkan berpuluh rekaman di era 70-an, rekaman live Koes Plus hampir bisa dikatakan tidak ada. Sejauh informasi dihimpun, sama sekali tak ada rekaman show Koes Plus yang dilempar ke pasaran. Paling jauh adalah berbagai tayangan video klip mereka baik di era 70-an hingga 2000an yang semakin banyak dijumpai di internet. Kalaupun ada rekaman live, bisa dipastikan rekaman-rekaman itu diambil pada akhir dekade 90-an atau pada era 2000-an. Terdengar kabar yang menyebutkan mengenai adanya rekaman Koes Plus yang sedang latihan (rehearsal) yang konon merupakan arsip Yok Koeswoyo, namun kini berada dalam penguasaan salah seorang penggemar namun tetap saja itu adalah rekaman rehearsal dan bukannya penampilan live.

Sampai akhirnya sebuah sumber mengirimkan rekaman dengan durasi tak lebih dari setengah jam ini. Sebuah rekaman yang kwalitasnya terbilang poor, namun amat luarbiasa dan memiliki nilai sejarah yang tak terhingga, karena dari rekaman inilah siapapun akan dapat menghayati kedahsyatan sekaligus kebesaran Koes Plus dalam formasi mereka paling solid ketika tampil di panggung membawakan secara langsung lagu-lagu mereka di hadapan penonton. Ya, inilah bootleg penampilan Koes Plus dari show mereka di Lapangan Basket Wotgandul Semarang tertanggal 17 Februari 1973. Direkam oleh seorang remaja puteri (yang sudah barang tentu kini telah dikategorikan sebagai manula) yang tak pernah mengklaim sebagai penggemar berat Koes Plus menggunakan tape recorder Sanyo dalam pangkuan, inilah barangkali satu dari sedikit rekaman live Koes Plus di masa kejayaannya yang pernah ada di muka bumi.

Terdengar tepuk tangan membahana manakala Koes Plus menyudahi nomor pertama “Kerinduan” yang dibawakan dengan begitu indah, dengan tempo yang lebih lambat dari versi studio. Suara organ Tonny dan vokal latar Yok dan Tonny menjadikan lagu ini begitu megah dan mengharu biru. Ya, Tonny menggunakan organ, dan bukannya piano sebagaimana versi  rekaman. Pukulan drum Murry terdengar mantap, karena akustik gedung yang amat menunjang. Segera setelah mengucapkan terimakasih atas tepuk tangan penonton di akhir lagu, sang pemimpin Tonny Koeswoyo dengan bahasa yang agak belepotan menyampaikan pula bahwa kerinduan ini bukanlah kerinduan yang aneh, karena mereka pula merasakan kerinduan pada masyarakat kota Semarang. Masih memanfaatkan judul lagu pembuka, ia kemudian berkisah tentang kerinduan mereka semasa masih kecil, saat mana mengutip perkataannya sendiri dalam rekaman tersebut “ketika kami belum punya kumis” (yang segera saja disambut tawa penonton) akan sebuah kendaraan untuk mengantar sekolah. Koes Plus kemudian menggebrak dengan Bis Sekolah yang dibawakan dengan rancak. Kendati mengalami sedikit gangguan sound system di tengah lagu, namun toh lagu ini bisa dirampungkan dengan apik. Solo gitar Tonny tidak dibawakan sama persis dengan studio version, namun dengan improvisasinya sendiri. Gitar terdengar amat menyalak, agak tidak seimbang dengan rythm guitar yang dimainkan Yon.

Rampung membawakan “Bis Sekolah”, Tonny menyambung dengan basa-basi yang lagi-lagi harus saya katakan cukup belepotan (sebuah lagu yang amat….kami…kita cintai..). Mereka kemudian membawakan lagu “Menanti”, lagi-lagi dibawaka dengan apik, dan dengan tempo yang sedikit lebih lambat dari aslinya. Lagi, suara organ menjadi kekuatan lagu yang dibawakan tanpa vokal latar ini, dan manakala Tonny memamerkan solo organnya, segera saja ia menuai tepuk tangan penonton. Suara Yon begitu nyaring melengking, suatu ciri khas yang masih melekat pada Koes Plus bahkan hingga di era 2000an.

Memejamkan mata dengan mendengarkan rekaman ini, maka kita seolah kembali ke puluhan tahun silam (saya sendiri berusaha meresapi suasana riuh rendah gedung pertunjukan dua tahun sebelum saya lahir) berada diantara penonton yang riuh bertepuk tangan. Penonton nampaknya cukup tertib, karena tak ada percakapan antar mereka yang terekam, kecuali pada saat jeda antar lagu. Bisa dimengerti, karena show pada masa itu kebanyakan dilakukan dalam sebuah gedung dengan penonton duduk tertib di kursinya masing masing. Seringkali di tengah atraksi instrumen (semisal di lagu Bis Sekolah), para penonton memberi tepuk tangan riuh. Tak ada teriakan suara, tiada suit siulan. Kuat dugaan saya, hal itu terjadi karena etika dan kepantasan dalam menonton pada masa itu masihlah demikian. Jika pertunjukan bagus, cukup bertepuk tangan. 1973 memang bukan tahun duaribu sekian belas ketika crowd menyanyi bersama dan satu dua tiga empat diantara crowd berteriak histeria.

Menyambung “Menanti” adalah “Djangan Bersedih”, sebuah nomor yang dibawakan oleh Yok Koeswoyo. Duet guitar dan bass yang begitu khas di nomor ini, entah kenapa selalu memancing tepuk tangan penonton. Yok membawakan lagu ini dengan jeritan “Hoy…” persis seperti studio version. Yang membuat merinding menggetarkan kalbu apalagi kalau bukan reffrain yang dibawakan secara serempak Yon dan Yok serta Tonny, suatu gabungan suara emas yang tak tergantikan dalam sejarah grup musik Indonesia.

Selesai dengan lagu ini, Tonny menyambung dengan basa-basi yang tak selesai diucapkannya, yang segera saja ia tiba-tiba mengatakan pada penonton bahwa mereka akan membawa lagu berjudul “Ibu dan Lagunya”. Lagi-lagi lagu ini dibawakan dengan begitu apik, dengan tempo yang lambat. Tonny memainkan organ, dan manakala tiba saat solo gitar, Yon memainkan gitar akustiknya dengan apik diiringi suara organ yang lamat-lamat. Lengkingan suara vokal latar Yok dan Tonny menjadi kekuatan lagu ini, terlebih ketika mereka menyanyikan “Ibuku sayang, lama engkau telah pergi….”

“Ibu dan Lagunya” menjadi lagu terakhir dalam rekaman bootleg Koes Plus Live at Wotgandul, Semarang ini. Konon sebenarnya masih ada beberapa nomor lagi yang dibawakan dan juga turut terekam, namun karena satu dan lain hal telah terhapus. Bagaimanapun rekaman ini adalah dokumentasi emas kejayaan Koes Plus yang merupakan bagian teramat penting dari sejarah musik Indonesia.

Purwokerto, January 23, 2010

Advertisements

18 thoughts on “Koes Plus Live at Wotgandul, Semarang, February 17 1973”

  1. endangyuanda said: Boleh ga minta alamat rumah di purwokerto???kalau aku kerumah mertua bisa mampir, dengerin kaset Live at wotgandul 1973?

    Boleh saja, silakan mampir. Kontak nomor HP saya saja dulu kalau di Purwokerto. Nomor ada di Halam Depan. Salam

  2. Kirain udah di-upload…..? Pantesan dicari-cari gak ketemu. Anyway, thanks for sharing the story.

  3. Tulisan ini amat sangat berharga dan bermanfaat bagi saya yang kebetulan tengah melakukann riset ttg KMFC-JN daalam hubungannya dengan eksistensi KP/KB. Terima kasih Mas Wardaya, semoga hal imni menjadi amal sholeh. Aamiin…MERDEKA!

  4. wow oowwwww terima kasih Pak Manunggal Wardaya…sungguh pengalaman “membaca”, yang sangat menambah wawasan tenyang Koes Plus era awal 70-an…..sekali lagi saya ucapkan terima kasih…semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas budi baik dari Pak Manunggal Wardaya…. Merdeka

Comments are closed.