God Bless: 36th (2009)

God BlessSaya bukan penggemar berat ataupun penggemar fanatik God Bless. Mengenal band ini beserta segala aspeknya baik yang bersifat kesejarahan, personalia para anggota, maupun diskografi karyanya secara gagap sepatah-sepatah. Saya sendiri percaya: teramat sedikit sedikit dan samar samar yang telah saya ketahui dan pelajari dari band ini. Dan justeru dalam konteks kebegituan itulah, dengan disclaimer seperti itulah saya berangkat untuk menuliskan apa yang saya amati dengan segenap panca indera mengenai album God Bless termutakhir yang bertajuk God Bless 36 th ini. Oleh karenanya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya kesalahan dan kesilapan yang bakal tertulis dalam ulasan ini hendaklah dapat dimaklumi dan ditempatkan dalam kerangka keadaan seperti demikian saya telah utarakan.
Apa kesan pertama yang saya lontarkan mendengarkan God Bless 36 th ? Njlimet! Bagus! Luar Biasa! Mengapa? Tak lain karena dalam perjalanan karirnya yang telah mencapai tahun ke 36 mereka tetap perkasa, mampu menghasilkan musik yang bermutu tinggi, yang terkonsep baik, yang tak asal diproduksi, yang dikomposisi dengan amat baik dan sungguh-sungguh. Musik musik di dalamnya indah, dipahat tak saja dengan tajam dan keras namun detail.
Saya mengenal God Bless tidak di era 70-an, tapi di era 80-an akhir ketika masih berada di bangku SMP. God Bless yang saya kenal adalah God Bless dengan Semut Hitam dan Raksasa. Yang pertama saya sebutkan menggebrak dengan lagu yang menjadi judulnya : Semut Hitam, suatu anthem musik rock Indonesia. Raksasa, dimana gitaris adalah Eet Syahrani memperkenalkan musik God Bless dengan sentuhan gitar yang lebih metal dan menderu.
Saya bukan manusia yang menginginkan keajegan, baik disadari atau tidak. Manusia berubah, dan alam adalah salah satu faktor yang merubah manusia, selain faktor kesengajaan dan keinginan manusia itu sendiri. Oleh karenanya ketika vokal Ahmad Albar masih begitu kuat bertenaga terdokumentasi di album ini tak lain kecuali pujian yang harus saya berikan. Saya adalah penggemar YES dan merasakan betul betapa kwalitas Jon Anderson di akhir 60-an dan awal 70-an, amat sangat telah berbeda dengan Jon Anderson di era 90-an akhir dan bahkan era 2000-an. Suaranya yang bertenaga, kentara mengalami aus. Ini yang tidak dialami oleh Albar atau setidaknya dialami, namun tak begitu kentara (atau memang telinga saya yang kurang high fidelity). Ia memang tukang suara berpitasuara baja! Perubahan yang dirasakan dalam rilis termutakhir God Bless ini juga adalah kenyataan bahwa mereka juga dipengaruhi teknologi modern, baik instrumen, maupun rekam. Tidak realistis untuk meminta mereka kembali dengan sound ‘kemlonthang’ dan mixing sebagaimana melekat di rilisan mereka di tahun 1970-an atau 80-an. alih-alih demikian, saya mencoba melihat secara holistik kepada esensi bermusik yang hendak disampaikan God Bless melalui album yang diproduksi Nagaswara ini, dan juga bagaimana mereka bermusik dan atau berkesenian dengan melalui suatu proses produksi album yang tidak sekedar mencari cari celah, mengisi ruang kosong sekedar menunjukkan eksistensi atau sukarela dijual demi keuntungan pelaku industri tanpa makna yang menyertai.
Lagu Biarkan Hijau adalah lagu yang tak saja digarap dengan sinkopisasi yang unik, namun juga mengandung pesan mendalam bagi manusia untuk menyayangi alam lingkungannya. Lagu ini menegaskan God Bless sebagai band yang bersikap dan mempunyai misi. Kelestarian alam adalah pesan serius lagu ini, membuat orang merenung bahkan tercekat. Ini lagu, mengadopsi chord yang tak biasa, perpindahan chord yang tak lazim, di dalamnya terdapat anasir musik oriental dan entah musik apalagi yang di luar pemahaman saya. Kenjelimetan yang sama juga saya lihat di lagu bertajuk Sahabat yang meramu unsur unsur funk dan hard rock. Mengasyikkan. Dari funk yang menyendat nyendat masuk ke dalam hard rock yang melaju pada reffrainnya. Permainan keyboard dan guitar amat padu dan senyawa di sini, ditingkahi bass yang memang menjadi vital pada musik musik yang bercorak funk. Menyenangkan. Menghibur.
Rock N Roll Hidupku sebagai lagu penutup bercorak bluesy khas rock N roll. Di sini Albar menjerit dengan lantang setelah melantunkan lagu dengan teknik vibrasi, seolah hendak menyampaikan pesan: ia tak pernah tua atau masih menolak tua! Permainan keyboard Abadi Soesman melanjutkan solo gitar Ian Antono yang menyalak nyalak. Sungguh sebuah konspirasi yang membuat orang menghentak kaki tanpa harus berlelah lelah menggoyang badan dan menjadi tegang pikiran. Nampaknya saya menjadi semakin mengerti mengapa di kalangan pecinta dan kolektor musik Indonesia, album kedua mereka Cermin menjadi buruan. Tak lain-dugaan saya yang barangkali subjektif- karena komposisi yang melibatkan Abadi membuat Cermin menjadi salah satu mahakarya penting. Oleh karenanya, keikutsertaan kembali pemain papan kunci senior ini dalam formasi God Bless album 36th rasanya adalah suatu keberkahan tersendiri dan bahkan secara apriori telah merupakan suatu garansi dengan sendirinya.
Rasanya saya tak perlu mengulas satu persatu lagu yang ada di album ini. Penutup: Inilah album God Bless yang pertama kali saya beli, bukan di masa kejayaan mereka. Namun saya merasa puas, puas, dan puas dengan album ini. Dijual dengan harga 35 ribu untuk satu keping CD-nya (entah berapa harga kasetnya), saya kira mereka yang masih meragukan kadar gizi album ini mestilah merubah mindsetnya, untuk bisa mencerna GodBless dengan dan dalam konteks kekinian dan dinamika yang mereka percaya. Terlepas apapun pro kontra album ini, saya percaya God Bless memang diberkati untuk menjadi band besar. Buy this album!

Pringsurat, Temanggung, January 27 2010

Advertisements