Rumah Makan Alam Desa Kranggan, Temanggung

Mulanya saya ragu ketika isteri mengajak untuk makan siang di rumah makan ini, RM Alam Desa. Letaknya? Jalan Tembus Kranggan, Temanggung. Bukan apa-apa, rumah makan ini menyajikan menu bebek goreng dan bebek panggang sebagai  menu andalannya. Ragu, karena tak jauh dari rumah makan itu, kami biasa makan bebek goreng di sebuah rumah makan yang menyajikan menu khas bebek goreng. Dalam hitungan saya, rumah makan itu sudah amat pas dalam citarasa yang lezat. Dan kalau sudah menemukan yang jelas dan pasti, mengapa masih harus coba-coba? demikian pikir saya. Namun demikian, isteri setengah memaksa, karena dua teman kantornya sudah pernah mencoba rumah makan itu.  Saya pun menyerah. Lagipula ketika sampai di sana sudah sekitar jam 2 siang, sedangkan kami belum lagi makan siang.
Rumah makan itu, ketika tulisan ini diketik masih terhitung baru. Beberapa pekerja di belakang masih menyelesaikan bangunan yang aku kira adalah dapur utama. Ini bisa saya simpulkan dari sebuah jendela besar yang sudah dibikin. Namun tak tahu juga kalau bukan itu peruntukannya.  Namun untuk bangunan utama, yakni tempat makan para pengunjung sudah benar-benar selesai dan cukup luas.
Menu yang ditawarkan adalah bebek goreng, bebek panggang, juga beberapa menu ikan goreng. Adapun minuman andalannya adalah beras kencur yang dijual seharga Rp.2,500/gelas dan disajikan dalam gelas tanah liat. Hanya ini saja harga yang kuhafal, karena tertulis besar di dekat meja kasir. Isteri saya sempat melihat ke daftar menu, dan ada sempat saya lirik pada menu teratas yang saya duga adalah bebek goreng atau panggang tertulis Rp.11,000. Mungkin saja harga satu porsi bebek goreng atau panggang sejumlah itu. Entahlah. Yang pasti, isteri saya mengatakan harga yang dipatok di situ sama dengan harga yang dipasang rumah makan bebek goreng langganan kami, alias harga bersaing.
Setelah dicoba, bebek goreng maupun panggangnya memang nikmat. Sedap sekali. Bebek gorengnya tidak terasa asin, lain sekali dengan bebek goreng Solo yang pernah saya beli di Purwokerto. Yang ini racikan bumbunya pas, tak terlalu asin namun juga tidak amis. Adapun bebek panggangnya juga terasa manis, namun bumbunya juga tak berlebihan kemanisannya. Untuk nasi, kami berdua diberi nasi dalam wadah wakul, khas tradisi Jawa. Bebek goreng maupun panggang disajikan dalam piring tanah liat, dengan wadah kecil tempat sambal hijau pedas. Dalam satu porsi bebek goreng maupun panggang kita akan mendapati pula daun singkong dan daun kemangi serta beberapa irisan ketimun. Sambalnya sendiri pedas namun tak begitu ekstrim kepedasannya, lain dengan kepedasan sambal kosek yang benar-benar hardcore.
Musik gamelan mengalun di rumah makan ini, menimbulkan suasana tersendiri. Sebuah wadah plastik berisi cengkeh ada di setiap meja. Mulanya saya kira itu adalah campuran untuk minuman tertentu. Namun setelah saya tanyakan pada pelayan, ia memberitahu bahwa cengkeh di meja berfungsi sebagai pengusir lalat. Hmmm, sesuatu yang baru saya ketahui.
Lokasi rumah makan yang terletak di daerah bersawah dan tepi kota memberikan suasana pedesaan yang mudah ditangkap karena tembok dibuat seminimal mungkin dan sebagai gantinya pengunjung bisa melihat pemandangan dari balik kaca. Tidak salah kalau rumah makan ini menggunakan nama Alam Desa.
Pengunjung yang ingin suasana keluarga yang lebih intim dan hangat bisa memilih beberapa gazebo di bagian belakang. Ada setidaknya tiga gazebo yang saya lihat, dan kesemuanya beratapkan daun-daun kering. Dari situ pengunjung bisa menyantap hidangan pesanan sambil memandang ke arah kolam yang berisi aneka ikan besar maupun kecil. Mereka yang muslim bisa pula menunaikan ibadah shalat, karena terdapat mushalla yang cukup lega di belakang dengan tempat wudhu yang berdekatan dengan mushalla. Pendeknya, berlama-lama menikmati suasana di sini sambil melepas lelah dan menyantap hidangan tak harus melupakan kewajiban pada sang pencipta.
Yang membedakan dengan tempat makan yang tak jauh dari tempat itu adalah keramahan karyawannya. Begitu kita masuk, kita akan segera disambut dengan salam yang ramah. Pelayanan yang menyenangkan ini bagi rumah makan yang sudah laris kerapkali diabaikan dan diremehkan, namun sungguh bagi pengunjung amat penting rasanya. Di tempat ‘biasanya’ kita hanya sekedar makan, tanpa mendapatkan keramahan yang menyejukkan. Ketika kami pulang dan sudah membalikkan punggung pun kami masih mendengar ucapan terimakasih dan selamat jalan. Inilah added value yang dimiliki RM Alam Desa yang diabaikan oleh rumah makan bebek goreng langganan kami sebelumnya.
Kalau saya harus memberikan kritik, nampaknya adalah pada penggunaan piring beling dalam menyajikan hidangan. Menurut saya, suasana pedesaan dan tradisional akan lebih pekat dan kental lagi jika digunakan ‘piring’ anyaman kayu dan lapisan daun pisang dan bukannya piring beling seperti yang kemarin dipakai. Namun hal ini adalah kekurangan minor yang bisa setiap saat diperbaiki.

Pringsurat, Temanggung, 1 February 2010

Advertisements