Koes Plus dan Keanggotaan Koes Plus: Sebuah Polemik

Setelah sekian lama tidak pernah membuka mailing list Koes Plus, diri ini membaca sebuah posting yang isinya cukup menggelitik. Inti posting itu (yang juga mendapat tanggapan bernada setuju) adalah bahwa selain formasi Koes Plus yang legendaris yakni Tonny, Yon, Yok, dan Murry, figur-figur yang lain yang pernah mengisi Koes Plus adalah semata additional player. Dalam pendapat itu juga disebutkan bahwa yang bernama Koes Plus adalah empat formasi tersebut, dan sebaiknya formasi lain selain 4 orang tersebut tidak berhak dan tidak pantas menyandang nama Koes Plus atau berganti nama.

Membaca diskusi demikian, saya merasa perlu untuk berkomentar, yang kemudian disambut dengan respon-respon hangat, terutama dari peserta milis bernama Dodo Cansera. Saya kira, ada baiknya polemik ini diabadikan, sebagai dokumentasi adu argumentasi tentang benarkah hanya empat orang tersebut yang layak disebut Koes Plus? Apakah benar klaim yang menyatakan bahwa selain empat orang tersebut, maka siapapun yang pernah mampir dalam formasi Koes Plus tak lain dan tak lebih hanyalah additional player? Semuanya dapat dibaca dalam diskusi yang saya copy pastekan di blog ini dan kesimpulan akhirnya terpulanglah pada siapapun yang mengikuti diskusi ini. Berikut cuplikannya:

QUOTE:

From: Dodo Cansera <dodocansera@ ymail.com>
To: koesplus@yahoogroup s.com
Sent: Fri, January 29, 2010 7:08:20 PM
Subject: Bls: [koesplus] Berita Mas Murry

yang menarik dalam berita tersebut adalah wartawan menjelaskan dengan jelas bahwa Murry di tulis sebagai drumer koes plus begitu juga Yok koeswoyo di tulis sebagai pemain bass koes plus, padahal pada umumnya bila suatu band berdiri dengan formasi terbaru maka para penggantinya di sebut sebagai MANTAN, tetapi hal ini tidak berlaku bagi KOES PLUS, jelas sudah formasi KOES PLUS hanyalah : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry, maka tidak berlaku koes plus dengan formasi selain ke 4 legenda tersebut.

END QUOTE

Terhadap posting ini, Sdr anggota milis Krisin memuji apa yang disebutnya sebagai kejelian Sdr Dodo Cansera. Sedangkan anggota lain Sdr Tato pada 4 Februari menanggapi sebagai berikut:

QUOTE:

Saya setuju dg Mas Dodo dan mas Krisin. Memang seharusnyalah demikian. Tanpa mengurangi rasa hormat ke Mas Yon, sebaiknya “Koes Plus” yang sekarang diberi nama New Koes Plus atau yang lain. Sejak Mas Ton wafat tidak ada lagi Koes Plus, yang ada Koes Plus dengan formasi baru yang seharusnya bernama BUKAN Koes Plus.
Demikian pendapat saya.
Tatok

END QUOTE

Membaca posting di atas, saya tergelitik untuk ikut berpendapat lain. Posting saya yang dikirimkan pada hari yang sama Sdr Tato mengirim postingnya berbunyi sebagai berikut:

QUOTE:

Bahwa formasi Tonny, Yon, Yok, dan Murry adalah Koes Plus yang paling Koes Plus,
saya kira ini adalah pendapat mayoritas penggemar.
Namun bahwa Koes Plus adalah hanya dimiliki oleh formasi empat itu, saya tidak
hendak menolaknya, namun mengajak untuk berfikir juga, bahwa kesejarahannya,
yang menjadikan KOES itu menjadi KOES PLUS sungguh-sungguh BUKAN hanya Murry di
album Vol 1 (deg Deg Plas) namun juga TOTOK AR, bassplayer yang juga adik
kandung Titiek AR dan Lies AR dari DARA PUSPITA.
Jika hendak konsisten mengatakan bahwa Koes Plus hanya line up solid
Ton_Yon_Yok_Murry, katakanlah dengan lantang bahwa PH Volume 1, atau album yang
berisi Deg Deg Plas, kelelawar, Tiba-tiba Kumenangis BUKANLAH Koes PLUS. katakan
dan tolak dengan lantang.
Saya sendiri tidak dalam posisi menolak Koes Plus yang sekarang tinggal YON
seorang. Sebagai penggemar, saya memang kurang tertarik lagi, namun toh masih
ada KOESWOYO di situ, walaupun sekarang 1 Koeswoyo (yakni YON) plus beberapa non
Koeswoyo.
Saya kira sejarah Volume 1 juga harus diterima dengan lapang, karena terlalu
banyak diantara kita lupa, terlalu banyak media tidak tahu, bahwa PLUS di tahun
1969 adalah semata karena hadirnya drummer bernama Kasmuri yang kita kenal
dengan nama Pak Murry. PLUS 1969 juga adalah Totok AR, yang kemudian dengan rela
mengundurkan diri ketika YOK Koeswoyo tidak lagi ngambek dengan bubarnya Koes
Bersaudara.
Salam
END QUOTE

Terhadap diskusi yang mulai menghangat itu datang satu dua respon yang menurut saya tak begitu penting dan mengena, antara lain anjuran untuk bijaksana. Saya kira anjuran seperti itu tidak perlu, karena setidaknya saya sendiri tidak sedang berbuat tidak bijaksana. Mailing list adalah wadah komunikasi dan bertukar bahkan beradu argumen secara sehat. Saya menduga, anjuran bernada bijak itu justeru keluar dari kepala yang tak pernah beradu pikir dan menganggap bahwa polemik adalah masalah kengototan dan egoisme belaka. Oleh karenanya saya tak hendak mengutip komentar-komentar dan saran nan bijak namun konyol tersebut. Tanggapan bernada setuju atas posting saya dilontarkan Sdr Demmy Ellen, yang saya rasa tak perlulah dicopy paste di sini. Saya akan melanjutkan dengan posting Sdr Dodo Cansera pada tanggal 4 Februari 2010 yang menulis kembali dengan huruf besar dan tebal sebagai berikut:

QUOTE:

Sebenarnya tulisan saya hanya sekedar meluruskan bahwa sampai saat ini memang hanya : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry yang di akui sebagai Formasi Koes Plus, sedangkan para additional player sejak dari Totok AR hingga yg sekarang tidak pernah di akui sebagai formasi koes plus dan sudah terbukti dengan berita yang di muat di kompas tertanggal 29 Januari 2010 serta juga dengan penghargaan2 yang di terima koes plus yang penerimanya hanya ke 4 legenda tersebut.

jadi menurut saya penggunaan nama Koes Plus setelah wafatnya Tonny koeswoyo hanya sekedar untuk menjual nilai history koes plus yang sudah melegenda.

demikian, semoga jelas.

END QUOTE

Tulisan Sdr Dodo Cansera di atas saya copy paste apa adanya, dengan font dan ketebalan seperti demikian. Warna aslinya adalah biru, namun agar terbaca di Blog ini maka telah saya rubah menjadi putih dan saya cetak miring untuk memudahkan dalam membedakan mana tulisan saya dan mana yang menjadi diskusi dalam mailing list. Nampak di atas Sdr Dodo menutup dengan kalimat “demikian, semoga jelas”, seolah polemik yang terjadi semata karena kurang jelas akan penjelasannya. Terhadap posting Sdr Dodo Cansera ini saya membalas sebagai berikut:

QUOTE:

Totok AR adalah permanent member dari Ko
es Plus, karena Yok memang tidak mau
bergabung dengan band Koes Plus. Drummer sebelum Kasmuri adalah Tommy yang
mohon maaf, permainannya setelah dievaluasi dinilai kurang. Atas rekomendasi
Totok AR juga, direkrut Kasmuri alias Murry. Totok AR dicantumkan dalam volume
satu terang terangan sebagai Koes Plus, juga fotonya ditampilkan dalam cover
piringan hitam.

saya tidak sepakat bahwa hanya formasi Tonny-Yon-Yok_Murry yang diakui sebagai
koes Plus. Benar itu pengakuan sebagian penggemar, tapi tidak bisa diklaim
sebagai generalisasi sehingga menafikan penggemar lain. Jangan salah, saya juga
kurang suka dengan Koes Plus sekarang, tapi saya (dan tak kurang banyak fans
lainnya) tetap menerima itu sebagai Koes plus. Tidak suka dengan tidak mengakui
lain perkaranya.

Merunut logika berfikir sebagian rekan di sini, kalau mau konsisten, sebenarnya
Koes Plus mulai volume ke dua juga harus ganti nama dengan masuknya ‘anggota
baru’ Koes Plus yakni Koesrojo alias Yok Koeswoyo di volume kedua. Saya katakan
Yok sebagai anggota baru Koes Plus, karena dia tidak bergabung ketika Koes Plus
baru terbentuk!! Suka atau tidak ini adalah fact, fakta dalam bahasa kita,
kasunyatan dalam Jawa. Totok AR kemudian bergabung dengan band Pertamina. Sampai
sekarang beliau masih hidup.

Saya tidak mengenal Pak Tonny secara pribadi, namun saya bisa membayangkan,
seandainya beliau masih hidup, dan kendati sudah tak mampu berkarya, tak akan
keluar penolakan dari beliau seperti lantang ada terdengar di sini, dan beliau
akan tetap ridho bendera Koes plus dikibarkan selama darah Koeswoyo masih ada di
dalamnya.

Salam
END QUOTE

Menanggapi polemik yang berkembang antara saya dan Sdr Dodo Cansera, datanglah komentar dari Mulyadi. Saya rasa perlu kiranya saya copy paste di sini sebagai berikut:

QUOTE

yaelah ………….. gini lagi deh…… cape deh………
kita tidak bisa merubah ‘prinsip’ seseorang, begitu juga seseorang tidak akan bisa merubah ‘prinsip’ kita….. gitu aja deh…… ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya

bosan lama kelamaan bosan………………………………………..

END QUOTE

Terhadap Sdr Mulyadi ini pada awalnya saya tak hendak menanggapi, namun saya pikir hal demikian tak bisa dibiarkan. Maka terhadapnya saya merespon dengan posting sebagai berikut:

QUOTE:

Maaf, Sdr Mulyadi,
Saya rasa antara saya dan Sdr Dodo tidak ada adu prinsip atau saling hendak
merubah prinsip. Kami sekedar tukar pikiran, saling asah bukannya saling
kalahkan. Tidak ada emosi dalam perbincangan kami via tulisan. Saya antara lain
menitikberatkan kesejarahan volume satu dimana PLUS bukan saja Murry, oleh
karenanya ketika sekarang ini ada PLUS di luar Murry, dan bahkan Murry bukan
lagi bagian PLUS, atau YOK, TONNY bukan bagian KOES dari entitas bernama Koes
Plus, maka hemat saya itu tetap Koes Plus. Dengan kerangka berfikir seperti itu
saya menyambut pemikiran Mas Dodo dkk lain mengenai Koes Plus formasi legendaris
Tonny-Yon-Yok-Murry.

Baik saya dan Mas Dodo menuliskan dengan ketulusan dan kerendahan hati. Tentu
ada yang banyak saya ambil dari pendpat Mas Dodo dkk, juga saya harap masukan
informasi mengenai kesejarahan Volume satu dengan keterlibatan seorang Totok AR
akan menjadi info berguna bagi yang kebetulan belum memahami dan mengetahui.
Atau bagi yang sudah mengetahui menjadi pengingat kembali.

Maaf, justeru komentar tanpa tanpa masukan masukan baru yang mengisi itulah
yang kerap menyakitkan hati.
Mohon maaf. Salam

END QUOTE:

Setelah posting itu, Mulyadi tak lagi bersuara. Bisa jadi ia tertidur atau entah faktor lainnya. Selanjutnya, polemik antara saya dengan Sdr Dodo berlanjut dengan sebuah posting yang senada dengan saya yang asalnya dari Sdr Demmy. Sdr Demmy menulis sebagai berikut:

QUOTE:

Dear mas Dodo.
Kenapa vol.1 juga di sebut Koes Plus oleh mas Tonny, bahkan gambarnya mas Totok ada di covernya, juga di salah satu lagunya Bergembira juga ditulis cip. Tonny K, Vocal : Tonny/Jon/Totok/Murry. Kenapa waktu itu mas Tonny tidak menulis KOES PLUS dengan bintang tamu/add.player TOTOK AR.

Bergembira, bernyanyi bersama
Jangan lupa kepada saya ….

Thanks.
DE

END QUOTE

Terhadap posting di atas, Sdr Dodo membalas sebagai berikut:

QUOTE:

mohon maaf bukan bermaksud memperpanjang perdebatan, tetapi perlu saya jelaskan sekali lagi bahwa yang saya maksud adalah bahwa dari sekian banyaknya yang mengisi group band koes plus, ternyata cuma : Tonny, Yon, Yok dan Murry saja yg sampai saat ini di akui sebagai formasi / personil Koes Plus sehingga penghargaan2 yang di terimapun hanya mereka saja yg selalu menerimanya ! mengapa Toto AR yang berjasa membantu album vol.1 tidak dapat penghargaan ? begitu pula dengan yang lainnya ? kalaupun di tanyakan langsung ke Toto AR saya yakin beliau tidak akan mengaku sebagai personil koes plus walaupun beliau pernah terlibat langsung dalam album vol.1

jadi kesimpulannya adalah : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry adalah Formasi / Personil Koes Plus yang syah dan legal sedangkan mereka antara lain :

1. Toto AR ( Bass) koes plus Vol.1
2. Abadi Soesman (lead gitar / keyboard) koes plus era 1993 – 1994
3. Jely Tobing ( Drumer ) Koes plus JAB era tahun 1992
4. Damon Koeswoyo (anak dr Tonny koeswoyo) album “tak usah kau sesali”
5. Bambang Tondo ( lead gitar / keyboard ) koes plus era 1995 – 1996
6. Najib Oesman (mantan personil Nokoes) koes plus era 1996 – 1997
7. Dedy dores (komposer) koes plus dores album ” Rindu kamu “
8. Hans ( Joko ) B-Flat – koes plus era 1996 – 1997
9. Jack Kasbhi ( Bass ) – koes plus era 1997 – 2003
10. Andolin (lead gitar / keyboard) – koes plus era 1998 – 2003
(11.) Sonny B-Plus sebelumnya bersama : hery, acil, eko membentuk band Eka bers specialis lagu2 KBP dan Beatles
(12.) Danang B-Plus sebelumnya bersama : Pak Gatot, Sudi Prakoso dan Fais membentuk band Planet Koes
(13.) Seno – drumer spesialis untuk pertunjukan di kafe2 (klub malam)

END QUOTE

Terhadap pendapat Sdr Dodo Cansera tersebut saya membalas dengan posting sebagai berikut:

QUOTE:

Mas Dodo yang baik, to the point
Perlu juga dihayati, bahwasanya asumsi umum, asumsi media termasuk asumsi
pemberi penghargaan bukanlah dengan sendirinya menjadi penentu kebenaran itu
sendiri. Bahwa kemudian penghargaan diberikan kepada Koes Plus yang 4 personil
sebagaimana anda maksud itu bukanlah dengan sendirinya kemudian menjadikan hal
itu sebagai pembenar bahwa Koes Plus memang 4 orang itu.

Ada faktor faktor kepraktisan (terutama dalam konteks award dll) yang membuat
simplifikasi demikian. Tanpa bermaksud merendahkan, belum tentu juga diantara
masyarakat, diantara pemberi award ada melek sejarah bahwa Koes Plus bukan saja
empat personil solid dimaksud.

Jika benar bahwa mereka additional, adakah bukti bahwa mereka additional? Saya
yakin, janga
nkan Totok AR yang ‘entah siapa tak dikenal’, banyak diantara
penggemar atau mereka yang awam Koes Plus akan terperanjat mengetahui figur
seterkenal Abadi Soesman pernah juga bergabung dengan Koes Plus (karena Abadi
lebih dikenal lewat God Bless atau Bharata Band (kalau tak salah), dll band
sessionnnya). Akan banyak yang bertanya bahwa ada Damon dll.

Mari kita lihat, betapa dan betapa banyak media termasuk kalangan penggemar
membedakan Koes Bersaudara HANYA semata mata keluarnya Nomo dan masuknya Murry.
Teramat sering, teramat banyak diantara kita lupa atau tak tahu kesejarahan,
bahwa Koes Bersaudara berevolusi menjadi Koes Plus karena Totok AR. Saya memilih
tidak ikut media, tidak ikut anggapan mainstream bahwa PLUS adalah Murry. Fakta
pertama PLUS adalah Totok AR dan Murry. Bahwa Totok, Abadi, dll tidak atau
kurang dikenal biarlah mereka tidak dikenal, namun tak bisa digeneralisir bahwa
mereka tidak diakui. Mungkin mainstream tidak mengakui, namun dengan kerendahan
hati saya hendak katakan tak sedikit pula yang mengakui dan tak menafikan bahwa
mereka juga Koes Plus.

Penutup, saya rasa ini bukan soal jelas tidak jelas sebagaimana anda menutup
posting , karena saya dapat pula menjelaskan bahwasanya apa yang jelas belum
tentu tepat (saya menggunakan istilah “tepat”, bukan “benar”). What is clear is
not necessarily what is correct.

Justeru kita yang berkeinginan melestarikan Koes, tidak saja dari musik,
ideologi namun juga kesejarahan, dituntut pula untuk mencari ketepatan itu,
sekalipun, sekali lagi SEKALIPUN berlawanan dengan anggapan umum alias
mainstream.

Salam_

END QUOTE

Rupanya Sdr Dodo mengira bahwa keberatan saya akan predikat additional player terhadap para personil di luar 4 orang legendaris adalah karena predikat tersebut tidak baik/jelek. Terbukti Sdr Dodo kemudian menuliskan balasannya sebagai berikut:

QUOTE:

terima kasih tanggapannya, yang pasti menjadi additional player tidaklah jelek walapun mereka tidak masuk sebagai personil koes plus, mereka juga pasti bangga karena ikut membesarkan nama koes plus.

END QUOTE

Terhadap posting Sdr Dodo yang demikian, yang terkesan mengira saya menganggap additional player adalah jelek tentu saya harus saya luruskan dengan menjelaskan bahwa bukan itu perkaranya. Saya membalas sebagai berikut:

QUOTE:

Terimakasih pula responnya.
Tentu menjadi additional player tidak jelek, dan memang sama sekali bukan karena
anggapan additional jelek itu saya menolak anggapan bahwa Koes Plus hanya 4
orang tersebut sebagaimana coba diklaim sebagai satu-satunya line-up yang
diakui. Sama sekali Bukan.

Namun lebih karena bagi saya mereka memang BUKAN additional player, melainkan
anggota tetap. Lama atau singkat, dikenal atau tidak keanggotaan mereka tentu
tidak hendak diperdebatkan. Barangkali sebagian dari mereka memang benar-benar
pernah jadi additional player dan di luar pengetahuan saya yang kemarin sore
mengenal Koes Plus, namun saya menolak bahwa mereka yang diluar Koes Plus Mark
II (atau bahkan sesungguhnya Mark III karena pengganti pertama Koesnomo alias
Nomo adalah Tommy dan bukannya Kasmuri alias Murry!) digeneralisir, digebyah
uyah sebagai sekedar semata Additional Player, yang (meminjam istilah anda
sendiri) “tidak pernah di catat dalam sejarah musik sebagai personil koes plus”.

Sejarah Koes Plus yang mana yang anda maksud saya tidak tahu, namun saya patut
menduga pastilah sejarah dan asumsi mainstream di mana anda berada di dalamnya.
Saya berada pada sejarah minor yang mendudukkan mereka (Abadi Soesman, Totok AR,
Damon Koeswoyo) pula sebagai personil Koes Plus, sebagai musisi yang pernah
dicatat sebagai personil tetap terlepas diakui atau tidak dan terlepas dari
populer atau tidak, sukses atau tidaknya Koes Plus manakala diperkuat oleh
mereka.
Salam

END QUOTE

Setelah membaca posting saya, rupanya Sdr Dodo Cansera telah pada suatu kesimpulan dengan tetap mempertahankan pendapatnya, seraya menganggap saya memaksakan pendapat bahwa para musisi di luar 4 musisi legendaris Koes Plus bukanlah additional player melainkan pemain tetap. Sdr Dodo pada 5 Februari malam menulis demikian:

QUOTE:

silahkan anda berpendapat seperti itu, pada kenyataannya dan fakta yang ada hanya ke 4 legenda itulah Personil Koes Plus yang tercatat dalam sejarah musik, sehingga di luar ke 4 legenda tersebut saya lebih tepat menggunakan istilah ” additional player ”

END QUOTE

Terhadap posting Sdr Dodo tersebut saya membalas dengan menulis sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dodo yang baik.
Karena anda telah sampai pada konklusi, maka saya pula hendak mengakhiri
perbincangan kita dengan konklusi.

Tidak seperti yang anda tulis dalam kalimat penutup anda, saya tidak dalam
posisi memaksakan pendapat bahwa di luar 4 personil yakni Tonny, Yon Yok dan
Murry adalah bukan additional player dan merupakan pemain tetap. Alih-alih
memaksakan pendapat seperti yang anda sangkakan (tuduhkan?) atau bahkan waton
suloyo (asal ribut-Jawa), selama diskusi saya telah memaparkan fakta untuk
mendukung argumen bahwa ada musisi2 lain di luar 4 orang itu yang pernah mengisi
formasi Koes Plus sebagai personil tetap, tanpa embel2 additional.

Saya harus mengatakan bahwa selama diskusi, anda justeru gagal untuk membuktikan
dan meyakinkan saya dan siapapun pembaca milis ini bahwa para musisi yang pernah
bergabung di luar 4 musisi yang kita kenal tadi hanyalah dan tidak lebih sebagai
additional player. Terkesan justeru anda yang memaksakan Totok AR, Abadi
Soesman, Damon Koeswoyo dan lain-lainnya ke dalam kelompok additional player
padahal fakta berupa pernyataan eksplisit dalam cover album baik Piringan Hitam
(Long Play), Kaset, maupun CD yang menyatakan mereka sebagai additional player
sebagaimana anda yakini tidak pernah anda.

Mahfumlah saya, bahwa ke-additional player-an para musisi itu ternyata
semata-mata murni berdasarkan asumsi anda saja. Hanya karena mereka tak begitu
dikenal (less popular) dan atau bahkan sama sekali tak dikenal oleh
publik/khalayak, maka dengan mudahnya anda klasifikasikan mereka sebagai
additional player. Hal ini tentu sangat berbahaya dan fatal, karena menyangkut
status hukum seseorang dalam sebuah entitas bernama Koes Plus. Patut diketahui,
status sebagai additional player atau bukan tidaklah sekali-sekali ditentukan
oleh asumsi, namun sungguh-sungguh berdasarkan kontrak keperdataan yang
menyangkut hak dan kewajiban, yang dalam konteks keanggotaan suatu band dapat
dilihat antaranya dalam pernyataan eksplisit dalam sebuah produksi
album/penampilan live.

Ambil contoh kasus Deep Purple. Bahwa formasi yang paling solid dari Deep Purple
adalah Ian Gillan, Ritchie Blackmore, Ian Paice, dan Jon Lord saya kira hal itu
juga fenomena yang sama sebagaimana 4 formasi Koes Plus Ton Yok Yon Mur adalah
formasi yang paling popular. Namun akan menjadi sangat gegabah untuk mengambil
konklusi bahwa karena Deep Purple Mark II adalah formasi yang pali
ng fenomenal,
maka David Coverdale, Joe Lynn Turner, Glenn Hughes, Tommy Bolin, Steve Morse
adalah sekedar additional player. Coverdale adalah vokalis yang direkrut sebagai
vokalis tetap, demikian juga Turner. Demikian juga kini Steve Morse adalah
gitaris tetap Purple.

Apa yang hendak saya sampaikan melalui analogi Deep Purple di atas adalah bahwa
dikenal atau tidaknya seseorang, disukai atau tidak karyanya tidaklah lantas
menjadi penentu status keanggotaan seseorang dalam kelompok musik.

Bersama saya dalam mengetik posting Sdr Dodo Cansera sekarang ini ada piringan
hitam Koes Plus Volume 1, Dheg Dheg Plas terbitan Melody Records dengan nomor
seri LP 23 yang direkam DIMITA Moulding Industries. Di PH yang saya miliki ini
yang bercover depan empat kepala TERMASUK Totok AR, dan bercover belakang Murry
menjadi Guru 3 personil lainnya TERMASUK Totok AR, tak ada keterangan yang
menyatakan Totok AR sebagai additional player. Bersama saya sekarang ini juga
ada Kaset Koes Plus 1994 New Product, dimana Damon Koeswoyo di situ tidak
sekali-kali disebutkan Damon sebagai additional player.

Saya tidak memiliki katalog Koes Plus selengkap seperti rekan rekan lain di
sini, dan MUNGKIN saja, ada beberapa anggota di luar 4 orang tersebut (Entah
Najib, Entah Jack Kasbi entah siapapun) yang memang benar benar secara resmi
dicantumkan sebagai additional player. Saya TIDAK memungkiri kemungkinan itu.
Namun saya MENOLAK generalisasi, penggebyah uyahan dan penyederhanaan
(simplifikasi) bahwa semua musisi di luar 4 orang tadi tak lebih dari additional
player apalagi tidak pernah dicatat di dalam sejarah Koes Plus.

Jika Sdr Dodo mengatakan sejarah Koes Plus, maka dengan kerendahan hati saya
menyampaikan pada Sdr Dodo bahwa sejarah apapun termasuk sejarah Koes Plus
selalu terbuka akan koreksi. Apa yang diyakini sebagai yang benar, yang tepat
belumlah tentu memang itu kebenaran yang sejati. Namun demikian, koreksi atas
sejarah haruslah berdasarkan fakta, dan bukan asumsi belaka. Sejarah hendaknya
tidak dibentuk oleh keberpihakan, apalagi kefanatikan agar sejarah bisa benar2
jernih apa adanya, terlepas kita menyukai atau tidak kenyataan sejarah. Bahwa
karena kita tidak senang

Jika hal di atas bisa kita terima dan sikapi, maka akan banyak hal-hal baru yang
bisa dicatat dalam sejarah Koes Plus seperti kenyataan bahwa sesungguhnya Yok
Koeswoyo adalah personil ‘baru’ di dalam tubuh Koes Plus (bukankah ia tak
bergabung ketika Koes Plus terbentuk dan mulai tercatat ketika dirilis Koes Plus
volume 2?). Bahwa sesungguhnya seseorang bernama Tommy-lah yang menggantikan
Koesnomo alias Nomo sebelum Kasmuri alias Murry, bahwa Koes Plus juga
menyanyikan lagu orang, bahwa Koes Plus juga ikut trend/komersil (Pop Memble
misalnya) dll.

Don’t get me wrong, saya juga mengidolakan formasi paling solid Koes Plus
sebagaimana anda, namun kekaguman saya pada formasi ini tidak membuat saya
menutup mata, bahwa formasi ini bukanlah yang pertama, formasi ini bukan
satu-satunya yang pernah ada, dan bahwa ada person person lain yang pernah
direkrut bukan sekedar additional player mengisi keanggotaan Koes Plus yang
lowong.

Jika selama ini mindset kita tentang Koes Plus dari Sejarah MAINSTREAM terbentuk
dari berbagai mitos (hanya 4 orang personil, hanya di Remaco, dll dst), adalah
menjadi tugas organisasi seperti Milis KBP atau Organisasi Jiwa Nusantara untuk
menyumbangkan hasil kajian dan pemikirannya sehingga sejarah menjadi lebih
jernih. Hal sederhana dapat dilakukan dalam berbagai jalan, semisal moderator
milis ini perlulah kiranya sekali-kali mengganti gambar milis ini dengan mencoba
mencari gambar Koes Plus dalam formasi bersama Totok AR atau Damon.

Kita tak selalu harus bersama asumsi umum atau kebenaran umum kalau itu adalah
kesalahkaprahan. Vox Populi tidak selalu Vox Dei.

Salam_

END QUOTE

saya kemudian juga menanggapi respon seorang anggota milis bernama Dian sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dian Yth
Pendapat, apapun pendapat itu sudah barang tentu menjadi hak setiap orang,
merupakan hak dasar manusia. Tak ada yang hendak menyanggah. Sebagaimana anda
tulis, “yang saya rasakan”, pendapat anda adalah subjektifitas anda. Tentu ada
pihak lain yang mempunyai subjektifitas yang lain pula. Tidak menjadi masalah.

Namun menjadi berbeda, manakala pendapat hendak dijadikan kebenaran, atau
setidak tidaknya semakin mendekati kebenaran, pendapat itu mestilah memenuhi dan
memuaskan syarat-syarat objektif kebenaran, antaranya berdasarkan fakta dan
realita.Subjektifitas harus disingkirkan menjadi objektifitas.

Namun justeru seringkali, fakta dan realita itu tidak terlihat, sengaja dibuat
tidak terlihat, dan ditutup tutupi, baik sengaja maupun tidak oleh berbagai hal
termasuk mitos-mitos yang lambat laun dipercaya sebagai kebenaran itu sendiri.
Fakta menjadi tak terlihat karena subjektifitas, fanatisme membuat kita enggan
dan tak mau melihat fakta yang ada. Kita lebih senang di alam ide yang
indah-indah dan tak hendak melihat ke alam realita yang ada.

Kembali kepada pendapat untuk mencari kebenaran, maka tidak ada jalan lain
kecuali melalui proses dialektika melalui proses thesis-antithesis-Sinthesis.
Sinthesis ini kemudian menjadi thesis baru yang bisa dilawankan lagi dengan
antitesis lainnya sehingga ditemukan Sintesis baru lagi, DEMIKIAN seterusnya,
sampai tercapai kebenaran atau mendekati kebenaran. Satu hal penting manakala
kebenaran itu hendak diterima di ranah publik (dan bukannya di ranah pribadi
benak masing2 insan) adalah bahwa dalam menemukan kebenaran, Subjektifitas tidak
boleh bicara.

Salam_

END QUOTE

Bung Tonsco yang pada beberapa kesempatan bersependapat dengan saya memberikan respon sebagai berikut:

QUOTE:

Bung Manunggal,
Terima kasih atas pencerahannya.

Pantun ini buat semua:

Markisa Medan terung Belanda,
Dari Medan, bawalah teri.
Berpendapat boleh berbeda-beda,
Jangan paksa kehendak sendiri.

Dari Medan, bawalah teri,
Pokok Kina jadikan obat.
Jangan paksa kehendak sendiri,
Hilang kawan, rendah martabat.

Tabik JN,
TONSCO

Koes Plus Never Die
Hidup Dalam Jiwa Nusantara

END QUOTE

Pada Sabtu, 6 Februari 2010, Dodo Cansera kembali menegaskan lagi pendapatnya sebagai berikut:

QUOTE:

ya..ya..ya… itu konklusi anda, biarkan pendapat saya berbeda dengan anda, tapi konklusi yang saya ambil justru berdasarkan fakta yang ada.

Fakta yang saya ambil adalah :

Sejak wafatnya Tonny koeswoyo, di mulai Agustus 1992 Koes Plus mendapat penghargaan BASF AWARD dan yang menerima adalah : Tonny, Yon, Yok, Murry padahal sebelumnya ada Toto AR, tetapi tidak di anggap, kemudian berturut2 setiap tahunnya Koes Plus mendapat penghargaan tetapi tetap saja yang dapat hanya : Tonny, Yon, Yok dan Murry padahal sudah berkali-kali formasi koes plus berubah hingga yang terakhir tahun 2009 ketika Koes Plus mendapat penghargaan dari Archipelago siapa yang menerima penghargaan tersebut ? tetap saja : Tonny, Yon, Yok, Murry, ingat anda tahu siapa yang tetap mengibarkan bendera Koes Plus hingga sekarang ? Yon koeswoyo, danang, seno dan sonny, mengapa hanya Yon koeswoyo saja, mengapa ke 3 formasi tersebut gak dapat ? padahal seharusnya formasi inilah yang berhak mendapatkannya, tetapi ke 3 (tiga) formasi tetap saja gak di anggap, ini adal
ah fakta !

kemudian ketika ada event2 pertunjukan koes plus yang di selenggarakan komunitas penggemar koes plus icon yang di tampilkan selalu : Tonny, Yon, Yok dan Murry kadang hanya Tonny koeswoyo saja yang di tampilkan, ini adalah fakta !

sehingga gak salah dong formasi yang 12 orang atau lebih tersebut saya anggap sebagai ” ADDITIONAL PLAYER ” dan inilah perbedaan group legendaris Koes Plus dengan group2 band indonesia atau group band dunia lainnya. seharusnya masuk GUINNESS WORLD OF RECORD.

END QUOTE:

Demikianlah, karena nampaknya belum usai juga, terpaksalah saya kembali mengemukakan argumentasi saya sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dodo dan rekan-rekan milis yth.
Pertama, Semakin jelas bahwa status additional player para personil dalam
keyakinan Sdr Dodo memang bukan dari fakta objektif, namun semata dari asumsi
dan atau anggapan Sdr Dodo Cansera sendiri.
Saya quote dari kalimat Sdr Dodo :

Start Quote
sehingga gak salah dong formasi yang 12 orang atau lebih tersebut saya anggap
sebagai ” ADDITIONAL PLAYER “
End Quote

Nampak jelas pada kalimat “saya anggap” di atas, bahwa ke additional player-an
para member spt Totok AR memang semata adalah berangkat dari anggapan Sdr Dodo,
dan bukan dari fakta objektif bahwa mereka mereka di luar 4 personil itu memang
dinyatakan sebagai additional player. Saya katakan hanya asumsi, karena dari
contoh mudah PH Koes Plus Volume 1 saja tidak ada bukti yang menguatkan argumen
Sdr Dodo bahwa Totok adalah additional player.

‘Fakta’ yang diajukan Sdr Dodo adalah anggapan umum, klaim-klaim bahwa mereka
tidak diakui dll. Mungkin yang berpendapat seperti saya tidak banyak, namun toh
suara yang tidak banyak ini cukup menjadi penolak klaim Sdr Dodo tentang tidak
diakuinya Totok AR dll sebagai personil tetap Koes Plus. Jika Sdr Dodo
berkeyakinan bahwa mereka tidak diakui, pada Sdr Dodo dengan hormat saya
sampaikan saya adalah orang yang menolak klaim tersebut dan mengakui bahwa LP
Koes Plus Vol.1 adalah formasi Koes Plus sepenuhnya.

Kalau saja Sdr Dodo bisa menunjukkan bukti empirik pernyataan dalam cover album
bahwa mereka adalah additional player( dan bukan sekedar
anggapan/kesalahkaprahan/ketidakmengertian umum termasuk anggapan Sdr Dodo
sendiri), saya kira semuanya menjadi terang dengan sendirinya dan saya amat
senang mengakui ke additional-an mereka.

Sebenarnya mengenai anggapan umum yang menjadi argumen utama Sdr Dodo inipun
sudah pernah saya bahas, yang barangkali lewat dari pembacaan Sdr Dodo. Sekali
lagi saya bertanya pada Sdr Dodo (termasuk pada diri saya sendiri) apakah
parameter additional tidaknya seseorang adalah pengakuan umum?? Lebih lanjut
apakah yang “umum” itu selalu tepat? selalu benar? Saya mengingatkan Vox Populi
tak selalu Vox Dei.

Kedua, Sdr Dodo mengulang mengenai award dll yang hanya menyinggung atau
memberikan kepada empat orang saja. Sebenarnya inipun sudah saya jawab dengan
panjang lebar bahwa bisa jadi itu demi kepraktisan saja. Simbolik saja. Atau
bahkan belum tentu para pemberi award melek sejarah. Pertanyaan saya adalah:
haruskah kita ikuti anggapan umum kalau memang itu tidak benar? Kalau memang ada
yang ahistoris, haruskah kita ikut yang ahistoris itu?

yayayaya (menirukan Sdr Dodo), bahwa ikon ikon yang ditampilkan adalah keempat
orang itu (misalnya dalam show atau award). namun sekali lagi pertanyaannya
apakah relevan ikon-ikon dan popularitas itu untuk diajukan sebagai argumen
untuk menilai additional atau tidaknya seorang member? Terlebih dalam show biz,
termasuk ‘bisnis award’ yang melibatkan sponsor (capital) kita semua mengerti
ada logika ekonomi juga di balik ini. Namun bukankah kita tidak sedang
membicarakan popularitas, akan tetapi status.

Saya khawatir, kalau klaim bahwa member yang di luar 4 orang itu dinyatakan
sebagai-meminjam istilah Sdr Dodo- illegal dan tidak pernah dicatat oleh
Sejarah (mainstream), maka sejarah Koes Plus yang sebenarnya tak akan pernah
terang. Kita akan dininabobokan oleh sejarah periodisasi tertentu, sembari
menutup mata akan adanya fase fase tertentu dalam perjalanan Koes Plus
sebagaimana telah dipaparkan. Mengikuti alur pikir Sdr Dodo, karena Pak Becak
dan Bang Ojek tahunya hanya lagu Kisah Sedih Di Hari Minggu, Kembali Ke Jakarta
serta Why Do You Love Me, atau Bujangan, maka bisa jadi lagu Galaxi Sang
Matahari, Dadada, atau Memble adalah illegal sebagai lagu Koes Plus karena tidak
dikenal oleh umum.

Terakhir, sebagaimana saya tulis menanggapi posting Sdr Dian Raharja, bahwa
pendapat boleh boleh saja berbeda, selama dalam ranah subjektifitas pribadi
pribadi. Namun, dengan kerendahan hati saya mengingatkan, bahwa jika pendapat
itu hendak dijadikan sebagai pendapat yang berlaku umum apalagi hendak menjadi
bagian dari teks sejarah, maka pendapat tersebut mestilah disingkirkan sembarang
konsepsi-konsepsi yang subjektif sifatnya SEKALIPUN subjektifitas itu telah
dipercaya sebagai kebenaran oleh umum.

Selama sejarah ditentukan oleh anggapan-anggapan umum sebagaimana tanpa bukti
dan data empirik, maka sejarah seperti demikian (tak terkecuali Sejarah Koes
Plus) tak lebih dari sekedar Mitos. Selama kebenaran ditentukan semata oleh
anggapan dan asumsi termasuk asumsi orang banyak , maka akan terus ada orang
seperti Galileo yang dihukum karena meyakini bumi itu bulat karena keyakinannya
itu berlawanan dengan asumsi umum kala itu yang amat sangat meyakini bahwa bahwa
bumi itu datar!!

Terlepas banyak yang setuju atau tidak, saya memilih menjadi Galileo.
Salam

END QUOTE:

Atas diskusi yang masih berkelanjutan tersebut, Bung Tonsco kembali memberi komentar sebagai berikut:

QUOTE:

Mas Manunggal, saya sungguh bangga dengan Anda.
Mas Manunggal telah memberikan pencerahan yg sangat cerah ttg sejarah per KP an. Salut.

Mas Manunggal, Isi, dan argumen yang terangkum dlm tulisan anda, menunjukan Siapa Anda sebenarnya!

Bung Dodo, saya senang karena Anda berani menulis sesuatu yg akhirnya menjadikan diskusi ini menjadi menarik, dengan sedikit dibumbui rasa ‘benci’, ‘gerah’, ‘muak’, tentunya juga rasa senang dan bangga. Tetaplah menulis!

Bung Dodo, isi dan argumen yg terangkum dalam tulisan anda, menunjukan bagaimana anda susungguhnya.

Selamat untuk semua!

Kerasnya besi, ditipis godam,
Kulit dijalin, jadikan rami.
Tak ada benci, tak pula dendam,
Itulah guna silaturahmi

Tabik JN
TONSCO

Koes Plus Never Die
Hidup Dalam Jiwa Nusantara

END QUOTE:

Advertisements

3 thoughts on “Koes Plus dan Keanggotaan Koes Plus: Sebuah Polemik

  1. soetansyah said: Wah, rumit sekari ya. Utk sebuah pembenaran harus ada satu metode untuk mengusut kebenaran cerita dan beritanya.

    Metodenya ya dialektika Pak Remy, sebagaimana diajarkan Hegel.Namun mesti ada kejujuran di sana untuk menemukan kebenaran, jangan dikungkung oleh rasa cinta buta yang bakal hilangkan objektifitas.Salam

  2. Salut saya sama Pak Manunggal, setelah ikut membaca ”perdebatan” anda dengan sodara Dodo yang cukup panjang. Sangat sangat menarik, setidaknya bisa membuat saya nambah ilmu dan belajar terutama dalam hal menulis, dan cara berdebat yang Baik dan Benar yang harus berdasarkan Fakta bukan Asumsi.

Comments are closed.