Kisah Tentang Berpisah

Foto: Langit Senja Amersfoort, Belanda
Foto: Langit Senja Amersfoort, Belanda

Pemandangan seperti kemarin hari bukan kali pertama kulihat. Telah berkali kusaksikan bahkan kualami sendiri peristiwa semacam itu: sebuah perpisahan. Serombongan orang, berpisahan dengan serombongan orang lain; orang-orang dekat mereka. Tentu ku tak tahu, hubungan apa saja yang ada di antara mereka. Seorang ibu memeluk seorang kanak dan menangis terisak. Seorang gadis terisak melepas seorang pemuda.Sesama pengantar berpelukan dan menguatkan hati, menangis tersedu. Tak semua menangis, karena barangkali ada diantara mereka mampu menahan haru dan gejolak di hatinya. Mungkin saja begitu. Namun bisa jadi karena memang tak semua orang memiliki kepekaan untuk terharu biru, atau barangkali sudah terlalu sering menumpahkan duka dan kesedihan, hingga terbiasa. Ibuku termasuk yang terakhir ini. Sepanjang hidupku, belum pernah kulihat ia menangis. Katanya padaku cukup sering; air matanya telah habis saat mengalami masa lalu yang begitu didera kesulitan dan cobaan.

Kembali kepada pemandangan tadi, mungkin saja si anak yang berpisahan dengan ibu tadi adalah keponakannya. Mungkin saja sang pemuda yang berpisahan dengan seorang gadis adalah kekasihnya, namun bisa jadi pula adalah kakaknya. Dan diantara para pengantar itu kulihat seorang nenek tua, yang dalam taksiranku telah mendekati 80 tahun umurnya. Namun matanya yang lugu tak menyiratkan kesedihan yang amat sangat, walau ia adalah juga adalah satu dari sekian banyak pengantar. Dan pemandangan itu kusaksikan kemarin, di halaman kantor Dinas Tenaga Kerja Wonosobo. Bis yang kutumpangi berhenti dan masuk ke pelatarannya, mendapatkan rezeki nomplok: mengangkut calon pekerja perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Keterangan ini kudapat dari seorang lelaki yang turut pergi dan duduk di sampingku, bangku yang kosong.

Dan ketika bis bergerak mundur, perlahan untuk meninggalkan pelataran, para pengantar pun melambai-lambaikan tangannya. Suatu bahasa tubuh untuk berpisah yang universal. Dan air mata membasahi di mata-mata perempuan dan kanak-kanak yang tak turut serta. Dan mereka yang terangkut dalam pengap bis yang kutumpangi nyaris dua kali dalam seminggunya ini pun ikut melambaikan tangan, lambaian tangan pada mereka yang dicintai, dan lambaian pada kesulitan hidup yang ada di tanah Jawa ini. Dan mata si nenek renta, yang masih berkain batik, pakaian Jawa yang kusukai, masih saja menatap tanpa emosi ke arah bis kami. Ke Kalimantan Tengah, bekerja di perkebunan sawit, meninggalkan kampung kelahiran, kampung asal muasal. Dan aku tahu, bukan perkara mudah meninggalkan daerah sendiri. Dan pergilah bis ini meninggalkan mereka menuju Semarang, untuk membantu sebagian penumpangnya menghampiri pelabuhan. Tak ada tangis di dalam bis, dan barangkali tangis di halaman Dinas Tenaga Kerja Wonosobo itupun makin mengencang, atau makin mereda. Waktu lebih perkasa daripada rasa manusia.

Apa yang kulihat kemarin mengingatkanku akan peristiwa nyaris setahun lalu di Stasiun Kereta Api Amersfoort, Negeri Belanda manakala diri ini sedang menunggu kereta api yang akan membawa pulang ke Den Haag. Seorang ibu dengan dua anaknya yang beranjak dewasa mengantar seorang lelaki yang kurasa dan kutebak adalah suami dan ayah mereka. Kuduga bahwa lelaki itu hendak menuju Schipol Airport Amsterdam untuk kemudian terbang ke negeri yang jauh untuk beberapa lama. Tawa canda meriuh diantara anak-anak itu kepada sang ayah sebelum kereta api datang. Mereka bercakap-cakap ringan, sambil melongok-longok menanti kedatangan bayangan kereta api. Anak yang terbesar perempuan sedangkan yang kecil laki-laki.

Dan ketika kereta datang, masuklah sang lelaki, sang ayah, sekaligus sang suami tadi kedalamnya. Berdiri ia di dekat pintu dan melambai-lambaikan tangannya, melemparkan senyumnya. Dan kereta api tak berhenti lama. Pintu tertutup, mengurung lelaki itu di dalamnya yang masih saja mencoba tersenyum ke arah luar: arah buah hatinya. Dan kereta bertenaga listrik itupun berlalu pergi, makin lama makin cepat. Mulanya si kecil, sang anak lelaki yang menangis. Ia dipeluk sang ibu. Tak perlu menunggu lama, kakaknya yang perempuan turut pula menangis. Dan kedua anak itu, yang belum lagi bisa terbilang remaja, menangislah dalam pelukan ibunya. Dan di wajah perempuan itu, wajah ibu dan isteri, kulihat pula kesedihan yang begitu pekat. Berpisah memang menyedihkan, terutama berpisah dengan orang-orang yang kita sayang dan kasihi, dan sukai. Dan stasiun yang mulai sepi menjadi saksi betapa ketiganya berpelukan, saling menguatkan. Dan sepasang mata dari Asia ini, mataku sendiri, pula menjadi saksi, dan ikut merasai arti kehilangan. Dan mau tak mau, bayangan akan anak dan isteriku di tanah Jawa pun melintas di stasiun ini.

Dan hatiku sendiri saat itu dilanda sepi karena beberapa saat sebelumnya berpisah dengan kawan baikku Dennis setelah selama dua hari habiskan waktu menjelajah Belanda, Belgia, dan Jerman. Sedih, karena keakraban yang tercipta selama dua hari, harus berakhir.Dan kesedihan serupa sering kualami pula ketika harus berpisah dengan Bapak Ibu yang harus bekerja manakala aku masih kecil. Ketika kakak kakak harus meninggalkan rumah karena mengejar ilmu dan atau bekerja di lain kota. Sedih karena mesti berpisahan dengan kawan-kawan selepas SD, SMP, dan SMA. Sedih yang sama ketika harus berpisah dengan kawan, dengan saudara. Sedih karena Dodot anjing kesayanganku mati diracun orang (yang mana tersangka pelakunya adalah tetangga kami sendiri), dan nyaris tigapuluh tahun kemudian kehilangan yang sama; kali ini karena si Kiki, anjing kesayanganku sakit dan memanglah sudah tua usianya. Pula dengan anak dan isteriku sendiri, pernah kurasai harus berpisah untuk belajar di Australia, dan pula Belanda. Dan memang demikianlah kehidupan di dunia: bertemu dan berpisah. Namun begitu, perpisahan menimbulkan harapan baru, akan terjadinya perjumpaan lagi. Dennis berpisah denganku pada suatu hari di tahun 2006 di terminal Secang, Magelang, dan kujumpai lagi di Stasiun Amersfoort, Belanda. Dan di stasiun yang sama, kuberpisah lagi dengannya. Siapa tahu aku akan berjumpa lagi dengannya mungkin di London kota di mana ia kini tinggal? Perpisahan menimbulkan harapan akan terulangnya kembali pertemuan. Dan ketika kita merasakan kehilangan itulah sesungguhnya baru kita sadari, betapa sesuatu yang ada menjadi demikian bermakna ketika ia tiada. Dan mungkin pula sebaliknya.

Awal Mei-pertengahan Juni 2010

Advertisements