Secuil Kisah Tentang Pattaya

132461_477718268822_2425091_oKawan, nama Pattaya pertama kali kudengar lewat lagu yang dibawakan oleh Dara Puspita. Band perempuan paling sukses dalam sejarah musik Indonesia ini datang ke Bangkok pada awal Oktober 1965, dan 45 tahun kemudian aku pun datanglah mengunjungi daerah ini. Segera setelah konferensi hak asasi manusia internasional yang kuikuti berakhir, aku menumpang mobil sahabat lama Khanif, kawanku dari Universitas Jember, bernama Wattana. Wattana, seorang pemuda yang usianya sekitar lima tahun di bawahku, berambut panjang dikucir, bekerja sebagai pemain glass music, memainkan musik dengan gelas sebagai instrumen utamanya. Seperti apakah permainannya dalam glass music aku tak tahu, karena ia hanya main di hari Sabtu dan Minggu. Ia hanya sempat memerlihatkan foto-foto ketika ia beraksi, dalam kostum yang mirip Captain Jack Sparrow, tokoh utama Pirates of the Carribean.

Kami meninggalkan Royal River Hotel sebelum pukul 17:00 waktu Bangkok (yang pula sama dengan waktu Jakarta) setelah menaiki perahu menyeberangi Sungai Chao Praya, berlarian melindungi kepala dan tubuh dari hujan. Sore hari bukan waktu yang tepat untuk bepergian. Hampir dua jam Toyota Vios milik Wattana yang kutumpangi berjalan merayap untuk sampai ke jalan tol menuju Pattaya. Kemacetan Bangkok pada jam pulang kerja memang telah dikenal, walau barangkali tak ada artinya dibandingkan kemacetan yang terjadi di Jakarta. Walaupun macet, kita tak terganggu dengan ribuan sepedamotor.
Sekitar jam 21:00 kami sampai di Pattaya City, dan segera mencari penginapan di kawasan bernama Walking Street. Dan benarlah Wattana yang sore sebelumnya mengatakan bahwa Pattaya melebihi Kuta Bali. Pattaya adalah tempat kehidupan malam dalam arti yang sebenarnya. Hasrat seksual menjadi bagian dari target industri pariwisata. Sepanjang Walking Street telinga menjadi pekak dengan berbagai suara musik dari pemutar musik maupun band di cafe yang memainkan musik secara live. Para penawar jasa pijat dan berbagai live show erotik tak bosan merayu pejalan kaki agar mampir melihat tari telanjang. Ladyboy alias shemale atau Kathoey dalam bahasa Thai nampak banyak berseliweran di kawasan ini dan sebagaimana pernah kudengar, penampilan merekapun sebagian besar terbilang sensual. Sementara itu, tak kurang banyaknya pula lelaki dengan ekspresi seksual yang feminim.
Kawan, kamar yang kutempati bersama Khanif terbilang nyaman, dengan tarif 600 Baht per malam. kamar ini cukup luas dengan lemari es, kamar mandi, meja rias, dua kursi, dua tempat tidur, serta televisi. Cocok dengan harga itu, kami kemudian berkeliling seputar Pattaya City melihat pantai di waktu malam, juga kelap kelip kota dari atas bukit. Pacar Wattana menemani kami dan menjelaskan apa-apa yang ingin kami ketahui. Jelang tengah malam kami habiskan untuk makan bersama Tom Yam Kung, sup panas khas Thailand. Kembali ke kamar hotel, rasa lelah perjalanan seharian membuat aku dan Khanfif tak perlu waktu lama untuk tidur.
Jam 8 pagi keesokan harinya aku dan Khanif menyusuri Pattaya. yang berhujan gerimis Toko-toko masih tutup dan lingkungan masih sepi. Barangkali para backpackeer yang berpesta dan bermabuk-mabukan malam sebelumnya belum terbangun sepagi itu. Pattaya memang bukan Parangtritis. Jika orang datang dengan harapan untuk menikmati keindahan pantai, ia akan menjadi kecewa. Kehidupan malamlah yang menjadi industri utama. kawasan ini. Kembali ke kamar setelah berjalan sekitar satu jam, sekitar jam 11 kami meninggalkan hotel melihat-lihat Pattaya City dan mengunjungi sebuah monumen yang ada di sana. Dari monumen tersebut, kapal-kapal dan perahu yang merapat ke Teluk Pattaya nampak jelas dipadu dengan pemandangan gedung-gedung besar maupun kecil.
Kawan, secara umum Pattaya memang tidak akan menarik bagi mereka yang tak menyukai kehidupan malam. Perjalanan lebih 2 jam dari Bangkok dengan mobil pribadi tak akan memberikan hal istimewa kecuali sekedar pengalaman dan bisa berkata “I have been there in Pattaya”. Aku termasuk orang yang demikian. Dan kalaulah ada kesempatan lagi mengunjungi Thailand, saat ini aku amat berkeyakinan amat sangat, bahwa aku tak akan mengunjunginya lagi.

Antara Bangkok-Jakarta, 18 Oktober 2010

Advertisements