Kisah Tentang Kernet dan Pengamen Perempuan

Seiring dengan keluarnya bis yang kutumpangi dari terminal Purwokerto, perempuan itu bernyanyilah. Ia, adalah pengamen. Umurnya mungkin sudah kepala empat. Kulitnya hitam, dengan tinggi sekira seratus limapuluh sekian. Wajahnya, untuk ukuranku sendiri, tidaklah cantik. Aku tak tahu berapa lagu yang dinyanyikannya. Mungkin satu, dan satu lagu itu aku tahu benar, lagu dari Koes Plus berjudul Kolam Susu. Suaranya tidak jelek dan tentu saja tidaklah istimewa. Yang pasti Ia orang yang tahu nada. Dan segera setelah ia mengakhiri lagunya, ia pun menyodor-nyodorkan tangan pada para penumpang. Aku termasuk orang yang tak memberinya barang uang recehan. Bis kunaiki seminggu dua kali, dan puluhan pengamen kutemui. Hasrat memberi pada pengamen sudah banyak sirna oleh banyak hal. Tak perlu kukisahkan. Mungkin lain kali.
Selesai meminta pada penumpang, ia pun mengobrollah dengan kernet bis, di bangku belakang. Bukan bangku paling belakang sekali, karena di situlah aku duduk, di belakang mereka. Sang kernet tak merasa mengenal pengamen itu, oleh karenanya ia bertanya, darimana si perempuan pengamen itu berasal. Aku tak begitu mendengarkan jawaban utuh pengamen itu, namun kudengar bahwa ia biasanya mengamen di pasar. “Biasanya aku mengamen dengan anakku, tapi ia sedang sekolah sekarang,” katanya menjelaskan.
Lantas ia berkisahlah bahwa pagi itu ia telah mengamen tiga bis dan menghasilkan limaribu rupiah. Nadanya terdengar tak gembira, seolah itu jumlah yang tak besar. Sang kernet langsung menyela dengan nada menghibur dan memuji, bahwa kalau orang kerja di sawah, seharian bahkan hanya sepuluh ribu. Si pengamen perempuan nampak membenarkan. Si kernet melanjutkan, membandingkan, bahwa ia kerap mendapatkan bayaran hanya sepuluh, limabelas atau duapuluh ribu dalam seharinya. Aku ikut membayangkan: kerjanya dalam sehari: Purwokerto-Jogja pulang balik, dan itu seharga sepulug limabelas duapuluh ribu. Si pengamen perempuan tak percaya. “Suamiku sopir,” perempuan itu menukas, seolah dengan menjadi isteri seorang sopir, maka ia mempunyai kekuatan untuk mengatakan bahwa apa yang dikatakan sang kernet adalah kebohongan belaka. Sang kernet kemudian membandingkan kendaraaannya dengan pengamen yang ia tahu. Katanya pengamen yang ia kenal memakai Supra, sedangkan ia memakai Star. Kernet itu sedang menyebut dua produk sepedamotor keluaran Honda yang menunjukkan perbandingan nasib antara mereka: ia tak lebih baik. Namun segera obrolan mengenai penghasilan berganti dengan kisah si pengamen yang kini telah ditinggal sang suami, karena kawin lagi. Kawin lagi? aku tak begitu yakin soal ini. Maksudku, aku tak begitu yakin akan ingatanku bahwa si pengamen perempuan mengaatakan suaminya kawin lagi. Yang pasti, sang pengamen mengutarakan sakit hatinya.
Dan sampai di jalanan Sokaraja, pengamen perempuan itu pun turunlah. Aku berkata pada sang kernet, bahwa penghasilan lima ribu dalam tiga bis itu bukan hasil yang kecil. Dan kembali si kernet mengatakan padaku, bahwa kerap ia hanya mendapatkan sepuluh ribu rupiah saja dalam seharinya. Dan aku masih tak percaya, bukan dalam arti hendak mengingkari, namun lebih kepada bersimpati. Dan bis terus berjalan, untuk kemudian, kembali merapat di pinggir jalan, menanti penumpang yang lain…berangkat kembali, dengan mengangkut pengamen-pengamen yang lain.Purwokerto, Januari 27 2011

Advertisements