Soal Tabrak Lari

Bertemulah aku dengan seorang anak SMP di Poliklinik Rumah Sakit Temanggung dua hari lalu. Ia, anak lelaki itu wajahnya cukup tampan. Datang ke poliklinik ia yang masih berseragam putih biru itu ditemani oleh ibunya yang berseragam pegawai Pemda. Tangan kirinya dibalut gips. Dan di gips itu aku membacai tanggal, yang kukira pastilah tanggal ketika gips itu dilekatkan ke tangannya. Kepadanya, dengan berbahasa Jawa halus aku menanyakan sebab musabab tangannya harus dibalut seperti itu. Dan dalam bahasa Jawa halus pula ia menerangkan bahwa ia menjadi korban tabrak lari ketika pulang dari sekolah. Ia sedang menaiki sepeda ketika sebuah sepeda motor menabraknya dan terus lari meninggalkan. “Retak atau patah?” aku bertanya. Ia membenarkan yang pertama: retak. Dan ia, seperti aku yang sedang mengantar isteriku periksa ke poli bedah, menunggu dengan sabar di bangku ruang tunggu berbagai poli yang ada di Poliklinik yang baru dua hari itu dibuka, menggantikan poliklinik lama. Periksa kesehatan di rumah sakit negeri seperti ini memang menawarkan biaya murah untuk pegawai negeri sepertiku dan ibu si anak yang ditabrak itu, tapi di sinilah pula orang mesti belajar banyak bersabar menunggu. Dan sampailah pula aku pada suatu kesempatan berbincang dengan ibunya, membincangkan hal yang sama: tabrak lari. Si ibu, dengan wajah tersenyum membenarkan bahwa anak lelakinya itu memang korban tabrak lari. “Suatu saat nanti, gantian yang menabrak akan mengalami hal yang sama”, katanya penuh yakin. Bagiku, kata-katanya teresap sebagi bentuk perdamaian menghadapi kenyataan. Semacam doa orang yang diperlakukan tidak adil, yang pastilah sebenarnya menghendaki pertanggungjawaban orang yang merugikan anaknya. Tapi aku yakin, sebagaimana orang Jawa lainnya, ia akan bersyukur bahwa anaknya hanya mengalami retak tangan, dan bukan hal lain yang lebih parah dan menyedihkan.

Temanggung, 3 Februari 2011

Advertisements