Adam Malik dan Kebutuhan Hidup Layak

Adam MalikKetika aku datang sekira jam sepuluh pagi kemarin, ia sedang membaca koran. Setahun lalu ketika kudatangi, ia juga sedang melakukan hal yang sama. Dan membaca koran berarti pula menambah pengetahuan. Demikianlah, dari wajahnya, dari sinar matanya aku tahu, ia orang yang cukup berwawasan, walau barangkali dalam hal pendidikan ia tak terlalu tinggi. Dan membacai koran adalah cara paling bagus baginya untuk membunuh waktu. Kerjanya adalah menunggu, menunggu datangnya para pemakai jasa. Ya, ia adalah pemberi jasa pembayaran pajak kendaraan bermotor. Sehari-hari ia duduk di belakang sebuah meja kecil di sebuah warung yang terletak persis di sebelah selatan Samsat Purwokerto. Banyak orang tak sempat dan atau tak mau membayar sendiri pajak kendaraannya karena berbagai alasan. Aku termasuk di dalamnya. Bagiku, lebih baik aku bekerja daripada membuang waktu selama satu dua jam di kantor Samsat.
Sudah dua kali ini aku datang padanya. Sebelumnya aku memakai jasa orang lain, Pak Topo namanya. Dan Pak Topo ini setelah berpindah tempat tak dapat lagi kujumpai dirinya.
Padanya kubertanya, apakah ramai hari itu. Maksudku, apakah banyak yang memakai jasanya. Ia memasang wajah tak cerah dan menggeleng, serta memulai berkata. Pada awalnya kukira ia akan menerangkan bahwa sekarang persaingan pemberi jasa sejenis sudah banyak, yang berakibat pada menurunnya jumlah pemakai jasanya. Namun ternyata ia memulai cerita dengan menyebut nama Adam Malik. Nama ini tentu tak asing bagiku, kanak-kanak era 80-an. Adam Malik sering kudengar namanya lewat siaran TVRI. Ia pernah menjabat Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Beberapa tahun lalu negeri ini dihebohkan oleh buku karangan Tim Weiner, seorang wartawan The New York Times yang menyebut Adam Malik sebagai terkait dengan CIA. Anaknya tak terima bapaknya dibilang sebagai agen CIA. Kelanjutan perselisihan itu aku tak tahu.
Lelaki yang kutaksir umurnya telah mendekati enampuluuh tahun ini, orang yang tak kuketahui namanya ini berkata, bahwa tahun 1974 saat masih duduk di bangku STM, ia mendengarkan pidato Adam Malik. Tak jelas benar dari mana ia mendengar, apakah lewat televisi, radio atau melihat langsung dalam suatu kesempatan.Intinya dalam pidato figur yang juga berperan dalam peristiwa Rengasdengklok itu dikatakan bahwa setelah banyak berkeliling dunia ke mana-mana, ia, Adam Malik berkesimpukan, bahwa untuk meningkatkan kemakmuran rakyat jalan yang ditempuh di mana mana di dunia ini adalah dengan memberdayakan rakyat kecil. Sebenarnya aku tak punya waktu lama untuk mengobrol dan mendengarkan celotehnya. Jam dinding di warung makan tempat di mana ia biasa menunggu pelanggan menunjukkan angka sembilan lebih sepuluh menit. Dan jam sepuluh aku harus menghadiri pertemuan koordinasi di tempatku bekerja. Namun aku tak enak hati untuk memotong pembicaraannya. Maka kudengarkan ia melanjutkan kisahnya.
“Aku punya saudara. Ia tinggal dan bekerja di Jepang”. Tak tahu pasti aku siapa saudaranya itu, apakah keponakan, atau adik atau siapa. Yang pasti ia berkata bahwa di Jepang pada umumnya orang Indonesia kurang dipercaya karena rasa tanggungjawabnya dinilai kurang. Benar atau tidaknya tentu aku tak tahu. Aku belum pernah ke Jepang. Ia mengatakan bahwa menurut saudaranya itu, sekali makan di negeri matahari terbit itu menghabiskan paling murah limapuluhYen. “Walau begitu makanan limapuluhYen itu sudah bergizi,” lanjutnya. Tiga kali makan berarti 150 Yen. Dalam sehari, sang saudara mendapatkan 750 Yen. Dengan demikian, penghasilan yang didapat dikurangi makan masih sisalah 600 Yen. Tak mengerti benar aku berapa rupiahkan 600 Yen itu dalam kurs sekarang. Dan kurasa itu tak penting benar, karena yang hendak dikatakannya itu adalah bahwa sisa uang penghasilan setelah dikurangi uang makan masih terbilang lumayan. Sangat lumayan. Dan dengan sendirinya saat itu aku membandingkan dengan pekerjaanku sendiri pada masa lalu sebagai kuli di Australia, kuli pada seorang landscaper, kawanku sendiri bernama Pak Edy, seorang supir taksi kota Melbourne yang pula pembuat kebun Jepang. Bersih aku mendapat 70 dollar sehari. Bukan bayaran yang menurut standar Australia memang, namun saat itu cukup lumayan bagiku. Namun aku menahan untuk bercerita hal ini padanya. Kupikir, hal itu bisa menambah lama obrolan.
Ia kemudian melanjutkan dengan membandingkan penghasilan di Jepang tersebut dengan penghasilan anaknya yang bekerja di sebuah perusahaan retail. Dikatakannya, gaji anaknya sebulan adalah tujuh ratus ribu rupiah. Untuk sekali makan sang anak menghabiskan kira-kira enam ribu, maka dalam seharinya uang yang dihabiskan untuk kepentingan perut adalah delapanbelas ribu rupiah. Ia kemudian membulatkan angka itu menjadi dua puluh ribu, karena bisa jadi ada kurang lebihnya. Dikalikan 30 hari, maka anaknya menghabiskan uang makan sebesar enamratus ribu rupiah dalam sebulannya. Praktis yang tersisa adalah hanya 100 ribu rupiah. Dan sisa sebesar itu manalah cukup untuk membeli bensin, pulsa, dan kebutuhan lainnya seperti pakaian, dan hiburan. “Penghasilan di negeri ini sangat jauh di bawah kebutuhan hidup layak, ” katanya. Wajahnya terlihat amat serius sekaligus amat prihatin. Amat berapi dan berduka. Aku hanya tersenyum. Terlalu sering mendengar celoteh seperti ini. Untuk menghapus semua keadaan ini, nepotisme harus dihapuskan. Ia menunjuk pada rekrutmen sebuah instansi yang mensyaratkan duit sebesar tak kurang dari seratus limapuluh juta rupiah. Ia masih ingin melanjutkan lebih panjang, namun aku harus tega memotong: aku harus pergi. Padanya aku menitip seratus ribu rupiah untuk pajak motor. Kalaulah ada kekurangan akan aku lunasi saat mengambil STNK. Ia memintaku datang siang jam 12, dan kubilang mungkin aku datang minggu depan. Aku akan pergi. Ia tak keberatan.
10 Februari 2011
Advertisements