Sate Bebek, Tambak, Banyumas

Disajikan dengan bumbu kacang: Sate Bebek alias Sate Enthog. Photo: MKW
Disajikan dengan bumbu kacang: Sate Bebek alias Sate Enthog. Photo: MKW

Menuju Yogya dari arah Bandung melalui jalur selatan, kita akan melintas sebuah kota kecamatan bernama Tambak. Kecamatan yang masih termasuk wilayah Kabupaten Banyumas ini berbatasan dengan Kecamatan Gombong di sebelah timurnya dan Kecamatan Sumpiuh di sebelah barat. Kuliner khas daerah ini tak lain tak bukan adalah Sate Bebek. Kalau berbagai kota besar sedang dilanda trend bebek goreng, maka menu andalan Tambak adalah Sate Bebek ini. Memasuki Tambak, sepanjang kanan kiri jalan kita akan melihat puluhan warung maupun rumah makan memasang plang maupun papan bertulisan Sate Bebek. Ada warung maupun rumah makan yang terlihat tutup karena tak lagi buka usaha alias diduga bangkrut. Barangkali karena bisnis makanan ini juga tak selalu bisa mendatangkan keuntungan bagi yang mencoba-coba untuk menjalankannya. Setidaknya dua orang yang berasal dari daerah sekitar Tambak pada saya mengatakan bahwa Sate Bebek yang enak konon bukan yang disajikan oleh rumah makan maupun kios kios permanen, namun justeru di warung-warung tenda dekat mushalla maupun pasar. Benarkah demikian? Yang pastinya, percobaan pertama menikmati sate bebek ini saya lakukan di sebuah rumah makan yang memasang nama pemiliknya: “Pak Encus”. Di sana, seporsi sate bebek dijual seharga empatbelas ribu perak. Dibandingkan dengan bebek goreng, harga sebesar itu memang relatif sama. Sate dihidangkan dalam piring dengan saus kacang terpisah dan sambal kecap. Kita boleh memilih apakah akan makan dengan gulai ataukah tidak. Gulai dimaksud adalah tulang bebek yang dimasak seperti gulai kambing pada umumnya, menggunakan santan.  Sayangnya, porsi nasi di rumah makan yang saya kunjungi itu terhitung sedikit, tidak mengenyangkan. Dua kali saya mengunjungi rumah makan itu, kali kedua saya mestilah menambah nasi. Sepiring nasi dengan porsi tak mengenyangkan diberi harga empatribu perak, sehingga saya mesti membayar enam ribu rupiah untuk bisa kenyang hanya untuk nasi saja. Minumnya? jeruk panas seharga empatribu perak pula. Total untuk bisa kenyang di sana cukup lumayan uang yang harus dirogoh. Kali ketiga mencoba sate bebek saya memasuki warung tenda “Yu Sirus” yang terletak di pelataran Pasar Tambak. Karena menu hanya sate bebek, sang penjual tak banyak menanyai saya, dan tak berapa lama kemudian saya telah disodori sepiring sate bebek lengkap dengan gulainya. Sebenarnya saya tak menaruh minat pada gulai ini, karena selain tak begitu berselera, buat saya menambah pengeluaran yang tak perlu. Namun karena telanjur disiapkan tak mengapalah. Setelah saya coba, rasanya juga tak mengecewakan amat, walau tulang bebek yang dijadikan gulai benar-benar tulang belaka alias tanpa daging yang tersisa! Dibandingkan dengan sate yang dijual di rumah makan, sate yang dihidangkan di warung tenda ini memang terasa lebih mantap. Nasinya juga lebih mengenyangkan, tak perlu menambah walau perut dalam keadaan kosong. Dengan satu gelas jeruk panas, saya hanya diminta membayar tujuhbelas ribu rupiah saja. Sambil meminum jeruk panas, pada sang penjual saya bertanya apakah masyarakat sekitar berbudi daya bebek. Si penjual mengatakan bahwa daging sate diperoleh dari juragan. Perempuan penjual itu kemudian mengatakan bahwa sebenarnya yang dibuat sate bukanlah bebek, namun enthok, sebuah sebutan bahasa Jawa untuk itik. Di daerah Kedu dan sekitarnya, itik memang unggas yang biasa dimasak berbagai olahan. Dan terus terang saja, saya sebenarnya tak pernah menaruh selera pada itik. Maka begitu mendengar bahwa yang saya makan adalah enthok, rasa tak karuan menghinggapi perut dan leher saya. Yang terakhir ini tiba-tiba rasanya seperti gatal. Oleh karenanya jika anda suka akan unggas termasuk itik, menu sate bebek ini sungguh menjadi alternatif yang akan memperkaya pengalaman kuliner anda.  Namun jangan berharap atau menyangka bahwa yang anda makan adalah daging bebek betulan, melainkan ya itu: daging entok alias itik.

25 February 2011
Advertisements