Belajar Bahasa Inggris Melalui Musik

Beberapa Piringan Hitam Koleksi. Photo: MKW
Beberapa Piringan Hitam Koleksi.
Photo: MKW

Dulu, era 70 hingga 80-an akhir, album rekaman artis-artis asing bisa dipastikan dirilis di Indonesia tanpa royalti. Kebanyakan dalam format kaset (semakin tergerusnya format piringan hitam), produser tanah air bisa dengan seenak hati membuat rilisan artis asing ‘nun jauh di sana’. Paling banyak dijumpai tentu saja album kompilasi dengan label”the very best of”, “greatest hits” atau dengan menyebut sejumlah angka yang menandakan jumlah lagu terpilih dari seorang artis maupun kelompok musik. Kalau tidak, maka album yang ada adalah album campuran berbagai artis yang lagu-lagunya tengah menanjak di chart radio. Bisa dimaklumi, taktik bisnis seperti ini berketemuan dengan kebutuhan banyak orang yang hanya mau mendengar lagu-lagu yang menjadi hits maupun yang terkenal saja dari seorang artis. Hanya dengan membeli satu kaset, berbagai lagu hits ada di genggaman. Prinsip ekonomi: pengorbanan sesedikit mungkin untuk dapatkan orgasme selama mungkin. Salah satu kaset yang sempat aku beli adalah kaset 36 Beatles Big Times. Ada tiga kaset dalam serie ini, dan yang sempat kumiliki adalah Part 1 dan Part 3. Part 2 seingatku tak pernah kubeli, karena nampaknya tak tersedia di toko kaset di Purwokerto. Kalau tak salah, membeli kaset ini adalah sebagai hadiah sebelum Bapak pergi ke Inggris dalam rangka studi banding bersama banyak kepala sekolah dari seluruh tanah air. Itu tahun 1987.

Sebagaimana umumnya kaset bajakan kala itu, di dalamnya tersedia lirik lagu yang bisa kita gunakan sebagai panduan untuk turut menyanyi. Harus diakui, inilah ‘kelebihan’ kaset bajakan pada masa lalu: dilengkapi dengan lirik, walau kalau diteliti kerapkali album aslinya sendiri tak mengandung lirik. Aku masih ingat lirik lagu “Ebony and Ivory” dari Paul McCartney dan Stevie Wonder yang sempat menjadi lagu kesukaan dan kupelajari liriknya lewat teks kaset bajakan ini. Juga lagu dari kelompok Bread maupun The Rolling Stones. Diletakkan pada konteks sosial kala itu, kaset adalah satu-satunya cara untuk mendengarkan musik selain dari radio. Televisi hanya ada TVRI yang hampir-hampir tidak menawarkan musik barat sama sekali, kecuali cuplikan super singkat dalam tayangan Dunia Dalam Berita. Binatang bernama Internet belumlah ada, dan berbagai gadget yang berkaitan dengan komputer dan digital files juga belum menjadi perbendaharaan umum.
Seringkali aku ditanya orang bagaimana caraku belajar bahasa Inggris sehingga aku bisa mendapatkan beasiswa untuk studi di luar negeri, berkomunikasi dengan banyak orang asing, yang sudah barang tentu pastilah ditunjang dengan kemampuan berbahasa Inggris. Aku selalu menjawab bahwa belajar dari teks lagu adalah salah satu metode ampuh (selain membaca literatur, menonton film tanpa subtitles) yang kurasakan sendiri manfaatnya. Belajar dari kaset bajakan adalah pengalaman hidup dalam mempelajari bahasa asing yang tak mungkin kuingkari. Tentu saja untuk seperti itu kita harus menyukai atau belajar menyukai musik terlebih dahulu. Dari situ kita akan berusaha bisa menyanyikannya sesuai dengan liriknya. Setelah bisa menyanyikan, belajar pronounciation, biasanya aku penasaran untuk mengetahui maknanya. Bertanya pada Ibu adalah shortcut untuk mengatasi permasalahan ini. Lama kelamaan Ibu pun bosan dan lelahlah ditanyai. Ia akan memintaku mencari sendiri artinya di kamus. Learning by doing.
Sejak 1988, kaset bajakan sudah punah dari peredaran yang konon dipicu oleh protes Bob Geldof pada Presiden Soeharto setelah mengetahui pembajakan album USA For Africa , sebuah rekaman keroyokan yang keuntungannya ditujukan untuk charity. Dengan lenyapnya berbagai album rekaman yang dirilis tanpa lisensi, lenyaplah kaset-kaset yang dirilis dengan tradisi menyertakan lirik. Album rekaman dirilis apa adanya, dan kerapkali memang tanpa lirik. Ada memang album yang kuketahui rekaman aslinya menyertakan lirik, namun barangkali karena alasan ekonomis terutama soal kebutuhan kertas yang lebih banyak, lebih panjang), lirik tak ikut serta dicetak. Dalam perkembangannya, industri rekaman juga mengalamai pukulan hebat dengan perkembangan teknologi digital. Rekaman fisik dibuat sesederhana mungkin agar harga jualnya bisa lebih murah. Konsekwensinya, lirik lagu tidak masuk hitungan sebagai bagian dari sebuah album rekaman untuk turut dicetak. Kini, bahkan ternampak olehku bahwa orang tak lagi merasakan membeli rekaman musik sebagai suatu kebutuhan. Musik cukup didownload dari berbagai situs internet, yang kemudian file digitalnya saling dibagikan melalui berbagai saluran seperti BlackBerry messenger, e-mail, bluetooth dan berbagai cara lainnya. Setelah era kaset resmi/lisensi beredar, aku sendiri masih mempelajari lirik-lirik dari rekaman album-album barat dengan catatan memang album yang dirilis itu ada menyediakan liriknya. Album-album dari Napalm Death “Harmony Corruption”, Helloween “Pink Bubbles Go Ape”, Terrorizer “World Downfall”, Poison “Flesh And Blood”, dan album “Effigy of the Forgotten” dari Suffocation adalah beberapa saja dari koleksi musik yang turut membantuku dalam belajar bahasa Inggris paska era bajakan. Namun kaset-kaset seperti Morbid Angel “Altars of Madness” tidak memuat lirik untuk dibaca dan dipelajari.
Kini, belajar bahasa Inggris melalui lirik lagu dari kaset bajakan seperti yang kulakukan di kala kanak bisa dikatakan tak akan lagi terulang dalam peradaban manusia Indonesia masa kini dan mendatang. Bahkan, belajar bahasa Inggris dari teks album rilisan resmi yang ada pada kaset maupun Compact Disc bisa jadi akan jadi kultur yang menghilang manakala orang lebih suka mengoleksi file digital MP3 daripada membeli rekaman asli namun mengandung konsekwensi pembiayaan yang tidak sedikit. Namun begitu, sebenarnya hampir semua lirik lagu terutama lirik lagu asing berbahasa Inggris (dan bahasa lainnya) dapat ditemukan di internet. Dengan mengetik kata kunci seperti judul lagu di situs pencari, kemungkinan amat besar lirik yang kita cari akan ditemukan. Sekarang tinggal seberapa besar kecintaan dan kesukaan orang untuk mengetahui lirik lagu dan sekaligus oleh karenanya untuk seberapa besar kemauan orang mempelajari bahasa kunci pergaulan internasional ini.
10 Juli 2011
Advertisements