Soto Mata Sapi Bangkalan Madura

Saya pernah melihat tayangan soto mata sapi ini di televisi. Agak bagaimana juga dalam bayangan saya memakan bola mata dari mamalia bertubuh besar ini, tapi karena didorong rasa penasaran, saya dan kawan-kawan pun pergilah ke sebuah kampung di daerah Bangkalan. Letak warung makan ini bukan di tepi jalan raya, namun masuk ke dalam desa, Jalan Pancar Selatan, Burneh, Madura. Bukan restoran berdinding tapi memang semacam warung. Sepi tanpa riuh rendah kendaraan. Setelah memesan soto, kita bisa duduk di amben terbuat dari bambu sambil menunggu soto dibuat. Kata kawan dari Madura yang menemani, kalau mau makan soto ini kita harus pesan dulu, supaya tidak kehabisan. Maklumlah, bahan bakunya terbatas, dan peminatnya juga banyak, barangkali demikian. Tak berapa lama, soto pun akhirnya terhidanglah di depan saya. Cukup panas, walau kata teman-teman panasnya soto saat itu kurang. Soto dihidangkan bersama dengan kupat, yang disajikan dalam piring terpisah. Sambal bikinan warung juga disediakan, dan tentu saja kecap. Ketika pertama kali mencobanya, saya agak kecewa juga karena bumbu soto tidak berasa. Bagi saya, soto seharusnya spicy, hot, dan kalau bisa membikin berkeringat. Tapi soto mata sapi ini tidak. Dagingnya terlihat masih kemerahan sehingga membuat saya agak setengah hati memakannya. Oh ya, diluar bayangan saya, soto ini tidak murni menghidangkan bola mata sapi, namun nampaknya daging sekitar mata pula, terbukti dari daging yang berongga yang saya duga bekas rongga mata. Namun ya itu tadi, olah bumbu-nya tidaklah merasuk kepada dagingnya, terasa hambar, bahkan lebih kepada rasa daging yang kenyal, sehingga saya harus katakan ini soto tidaklah terlalu sedap. Buat saya cukuplah sekali ini makan soto sapi dan rasanya kalau ada kesempatan ke Madura lagi, saya rasa saya tak akan terlalu tertarik untuk mencobanya kembali.

Advertisements