Kisah Tentang Sopir Gunung Bromo

Gunung Bromo di Pagi hari, sekira jam 7 pagi
Gunung Bromo di Pagi hari, sekira jam 7 pagi

Tiap pekerjaan memiliki seni, suka dan duka sendiri, Penjaga loket, selamanya akan berada di ruangan yang bisa jadi berukuran sempit dan pemandangan yang itu itu saja. Seorang pedagang warung akan berada di warungnya terus, bepergian hanya jika hendak berbelanja ke pasar atau supermarket. Kulakan. Pendidik, kaum guru sepertiku bertemu dan bercakap pula berdebat dengan para murid. Tiap tahun berganti, degan lokasi di dalam kelas. Para pilot bermain awan di ketinggian, siang maupun malam, dan berlama lama di angkasa jika ia menerbangkan pesawat internasional. Dan suatu hari aku berjumpalah dengannya, Namanya kulupa. Ia adalah driver, pengemudi yang mengantarkan wisatawan yang hendak melihat terbitnya matahari di Gunung Bromo. Sejak kanak-kanak akunya, ia telah mengemudikan jeep, belajar dari ayahnya sendiri. Umurnya kutanya, seingatku masih agak sebaya juga. Beranak satu.

Dan orang seperti dia ini bisa dikata tak pernah tidur malam,.Dunianya terbalik, karena wisatawan biasanya menuju ke Gardu Pandang sekira jam 2 malam. Dan sudah barang tentu, jalanan yang berjurang dan berliku ia telah pun hapal. Katanya padaku, pada masa lalu jalanan di situ lebih sukar lagi karena belum beraspal. Gunung Bromo yang sempat aktif di tahun 2010 membuat ia dan kawan-kawannya sesama pengemudi sempat mengalami masa paceklik. Dan jalan yang kami lalui kala itu menunjukkan betapa letusan Gunung Bromo sebelumnya cukup lumayan. Beberapa ruas jalan tertutup pasir abu muntahan Bromo. Aku banyak bertanya padanya soal Jeep, harga jualnya, dan organisasi jasa pengantar wisatawan untuk naik ke puncak Bromo. Semua sudah aku lupa. Yang pasti apa yang menjadi kerjanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang tersendiri, pengorbanan untuk berada jauh dari keluarga di kala orang sedang lelap dalam tidurnya,

Nijmegen, 30 Desember 2011
Advertisements