Penulis Muda dan Penulis Tua: Sebuah Perdebatan

Kemarin hari diri ini diundang untuk masuk ke sebuah perkumpulan. Kalimat yang barusan aku tulis sebenarnya terasa tidak pas dalam konteks apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Akan lebih mengena, lebih dimengerti dan dipahami kalau kutulis: kemarin diri ini di-invite untuk masuk ke sebuah group. Invite dan group, dua kata yang punya konotasi teknologi informasi, jejaring sosial. Invite dan bukan undang, group dan bukan perkumpulan. Begitulah memang adanya yang dimengerti dan berkonotasi. Tapi bukan itu titik penting permasalahannya. Itu group yang kumasuki, adalah group penulis di jejaring sosial facebook. Berawal dari saling komentar di wall Facebook, seorang kolega meng-invite ku untuk menjadi anggota sebuah klub penulis. Dan klub itu memakai predikat muda; penulis muda, dengan tambahan di belakangnya identitas wilayah geografis sekaligus identitas kultural tertentu. Tak esensial-lah untuk diungkap di sini.

Menjadi pertanyaan buatku dengan segera adalah mengapa group itu harus menggunakan kata “muda”? adakah kalau begitu yang disebut dengan penulis tua? Dimana batas-batas penulis muda dan tua ini? Apakah batasannya yang konvensional-tradisional yakni umur? Ataukah batasannya rekognisi sosial, maksudku diakui alias diterimanya tulisan seseorang oleh masyarakat? Kesemuanya menjadi tanda tanya bagiku. Tanda tanya besar. Cukup mengganggu. Dan aku orang yang berfikir, tak menerima begitu saja sekalipun remeh. Menyalahkan orang berfikir sama saja menyalahkan orang menjadi manusia dan menghendakinya bertingkah sebagaimana batu. Banyak hal di bumi ini celaka dan salah jalan karena hal remeh yang dianggap dan diyakini benar dengan sendirinya. Benar untuk selama-lamanya.
Dan kesemua pertanyaan itu aku tulis, aku post, ke wall group tersebut; kegundahanku. Dan seseorang membalasnya, balasan yang pertama kurang lebih begini: bahwa nama itu adanya memang begitu. Bahwa bagi dia yang penting adalah menulis. Demi membaca balasan ini, aku segera menjawab (tepatnya memberi komen, alias komentar) yang intinya bahwa kalau “yang penting menulis” maka benarlah sebenarnya pemikiranku bahwa nama yang lebih tepat dipakai untuk nama griup adalah cukup “Penulis bla bla bla” tanpa embel-embel “muda”. Tanpa berlama-lama si pembalas ini membalas pula komen-ku yang intinya bahwa muda adalah enom (Jawa), yang belum banyak berpengalaman. Argumennya mengapa tidak menggunakan “penulis” saja adalah kekhawatiran disebut kemlithak, ini adalah istilah bahasa Jawa Banyumasan yang memiliki padanan kata dengan sok, belagu dalam bahasa Betawi. Terhadapnya ku membalas, bahwa tak seharusnya kita perlu merasa khawatir akan tuduhan bahwa kita kemlithak, karena kita membuat paguyuban itu memang tidak untuk kemlithak-kemlithakan. Bukan untuk sok-sokan. Mengapa harus takut disebut sok? justeru kita harus berbaik sangka, demikian argumenku, bahwa orang tidak akan menganggap kita sok walau kita tidak mengklaim diri sebagai penulis muda. Rasa inilah yang harus dihilangkan, suatu kecurigaan, syak wasangka bahwa orang berfikiran jelek pada kita. Pada dasarnya menurutku ini adalah pikiran jelek pula: menyangka orang berfikiran jelek pada kita. Kusampaikan pula bahwa jika demikian adanya, orang yang sudah ahli dalam menulis sekalipun juga bisa akan takut memasuki group tersebut karena kuatir akan disebut kemlithak. Aku lebih mengidealkan bahwa siapapun orang, selama ia tertarik dan mencintai dunia tulis menulis, entah dia sudah kaliber internasional maupun pemula, akan tergabung dalam satu wadah itu, wadah penulis, tanpa dikotomi, tanpa polarisasi tua muda. Komenku ini dibalas lagi dengan jawaban yang terkesan di otakku sebuah simplifikasi persoalan: agar aku menulis dan kemudian dibagi (di-share tepatnya) dan kemudian akan dinilai oleh orang orang apakah aku termasuk penulis pinter ataukah muda. Tambahnya lagi, kalau ingin jadi penulis bla bla bla (daerah tertentu itu maksudnya) gampang saja: klik create group, maka akan jadilah apa yang dimaksud. Terhadap statement pertamanya bolehlah aku cabar begini: Jika aku benar-benar menulis dan tulisan itu aku share dan kemudian orang menyimpulkan aku penulis pinter, lantas pantaskah aku bergabung di group tersebut? Bolehkah aku terus bergabung di group tersebut? apakah sebaiknya menyingkir ke group yang lebih sesuai? ke mana? ke group penulis tua? adakah itu? siapakah anggota-anggotanya? dan pertanyaan yang timbul dari pertanyaan awalku ini kembali tak terjawab: benarkah ada penulis tua? Adakah klub penulis pinter? Dan kalaupun ada, mengapa harus memisahkan diri? Kemudian atas pernyataannya yang memberi saran agar aku mengkreasi group baru (sebuah saran yang disertai tawa), bagiku termaknai agar lebih baik aku membuat group baru saja. Alias kalau tak suka, bikin saja sendiri. Bukan jawaban yang kuinginkan sebenarnya, kesudahan dari sebuah perdebatan yang terbaca bagiku sebuah keangkuhan, sebuah usiran: take it or leave it. Kalau enggak suka, pergi aja, buat saja sendiri. Mungkin aku yang terlalu sensi dalam memaknainya. Tapi adakah interpretasi lain yang lebih pas untuk itu?
Menulis, aku percaya, adalah kegiatan berfikir. Dan orang berfikir tak akan menerima segala hal dengan begitu saja, seolah olah memang begitulah adanya yang sebaiknya terus menerus secara langgeng abadi, tanpa perlu mencabar kesesuaian dan kebenarannya. Manakala menulis tak mampu membuat orang semakin tajam dalam berfikir, dan oleh karenanya kemudian menjadi semakin wise dalam bertindak, semakin terbuka cakrawala berfikirnya, lantas untuk apa pula menulis?
Nijmegen, 16 Januari 2012 22;36
Advertisements