Surat Untuk Ibu

Nijmegen, 20 januari 2012

Ini aku kirim surat lewat Dwi. Suratnya aku kirim lewat internet, terus dicetak sama Dwi, dan dikirimkan ke Purwokerto, jadi biar cepet dan juga murah.

Ini sudah sebulan lebih di Belanda, sekarang musim dingin. Tapi musim dingin tahun ini masih belum menunjukkan tanda-tanda cuaca ekstrim, karena suhunya masih dia tas nol. Sehari hari ya rata-rata masih 3-5 derajat. Kadang-kadang kalau malam dan dinihari bisa dibawah nol derajat, misal minus dua atau minus tiga derajat. Tapi suhu segitu belum cukup untuk timbulnya salju, jadi sampai sekarang belum ada salju.

Aku kos di rumah pasangan suami isteri yang seumur Ibu, kelahiran 1935. Orangnya tertib dan disiplin seperti orang Belanda pada umumnya. Kamarku di lantai dua, jadi masuk rumah naik tangga dua kali. Di kamar ada penghangat ruangan (heater) jadi walau di luar dingin, tapi di kamar ya tetap hangat. Kamarku dekat dengan dapur, jadi kalau mau masak masak tinggal keluar kamar. Rumah ini memang sudah dikenal sebagai rumah kos-kosan. Teman kos satu lantai orang Uganda, Afrika. Di lantai bawah sekarang ada orang Perancis, tapi hanya sebentar saja. Juga ada beberapa yang kos, tapi sedang libur/pulang ke negaranya.

Uang kos sebulannya 310 Euro. Jadi sehari rata-rata bayar 10 Euro (1 bulan maksimal 31 hari ‘kan). Harga segitu lumayan murah atau tidak mahal untuk kamar yang dekat dengan kampus. Jarak rumah dengan kampus adlah 1,2 kilometer. Jadi kalau jalan kaki ya sekitar 15 menit-an. Sekalian olahraga. Sewa kamar di sini juga tergantung fasilitas seperti apa. Temanku ada yang kos 460 euro sebulan, jadi 150 euro lebih mahal dari aku, tapi dia nggak perlu masak. Makan sudah dimasakkan yang punya rumah (kebetulan yang punya rumah orang Indonesia). Tapi yang dimasakkan seperti itu tentu bukan standard umum. Pada umumnya mahasiswa akan masak sendiri. Nijmegen ini harga kamarnya juga lebih murah disbanding kota kota lain di Belanda seperti Leiden ataupun Amsterdam. Di Leiden temanku sewa kamar 410 atau 100 euro lebih mahal dari aku. Padahal 100 euro itu cukuplah untuk beli bahan makanan selama sebulan. Tapi kalau dibandingkan dengan Jerman, harga sewa kamar di Belanda memang lebih mahal. Aku kemarin ngobrol dengan teman yang belajar di Jerman, di sana uang kos hanya 220 euro, atau 90 euro lebih murah dari kami di Belanda.

Di rumah kos aku masak sendiri seperti biasa. Ya seringnya bikin sop yang mudah. Sop-sopan ada yang bahannya siap masak (sudah dijual dalam bentuk paket di supermarket) atau kita bisa juga bikin sendiri dengan beli bahan mentahnya. Aku kadang beli yang sudah dipaket itu, harganya ya sekitar 1,5 euro, atau katakanlah sekitar 18 ribuan. Cukup untuk 2-3 kali makan. Jarak rumah ke Supermarket cukup dekat, hanya berjalan kaki 5 menit kita sudah sampai. Bisa dikatakan semua kebutuhan ada di sana: roti, buah, sayur, daging, bumbu, snack. Apa saja ada. Selain sop sopan aku juga kadang beli bahan untuk ditumis. Atau juga beli jamur kuping untuk dibikin kuah jamur.

Yang enak di dekat rumah ada toko Asia, namanya toko Rinus. Di toko itu dijual banyak bahan makanan berbau Asia, seperti bumbu bumbuan indomie dll. Harganya ya cukup lumayan murah. Tempe dan tahu juga ada, dan harganya cukup murah. Aku sering beli Tempe dan tahu di situ. Tahu setengah kilo ya 1 euro, cukup untuk beberapa kali makan. Juga tempe plastik sepotong panjang harganya 1, 2 euro-an. Cukup murah. Apalagi kurs euro sekarang sekitar 12 ribuan. Dulu waktu aku ke Belanda tahun 2009, 1 euro sekitar 15 ribu, jadi cukup mahal. Eropa sekarang sedang krisis keuangan, dan itu buat kita malah bagus, karena harga harga jadi kerasa nggak begitu mahal.

Ya kira kira begitu ceritanya di Belanda, lain kali disambung lagi. Mohon do’a selalu.

 

MKW

 

Advertisements

2 thoughts on “Surat Untuk Ibu

  1. gambarpacul said: di Korea sini juga sama Mas…bahan-bahan makanan Indonesia sangat lengkap……dari daun salam sampe petai juga ada

    Iyo mas, nang kene Laos, godong gedang, cengis juga ana. Pete juga ana, wis diklecepi, seger. Impor Thailand. Nek Korea mungkin isih rada rada cedhak transport-e Mas dari negara negara asia, nek Landa rada ‘nggumuni juga’. Ya walau jaman siki transportasi apik dll apa sih sing arep digumuni.

Comments are closed.