Renungan Salju

Salju dari kamar jendelaku Photo: MKW
Salju dari kamar jendelaku
Photo: MKW

Ini hari, Jum’at 3 Februari 2012 salju turun dengan deras mengguyur Nijmegen dan juga Belanda pada umumnya Pertama kalinya sejak empat hari lalu ketika salju turun dengan kederasan yang biasa. Tengah hari, butiran salju seperti berhamburan dari langit, terbawa angin ke sana ke mari, hinggap di mana saja ia terjatuh: di pohon, di trotoar, di halaman, di atap rumah, di mana saja. Dan segala yang terlihat menjadi putih karenanya. Mobil yang terparkir juga demikian, tertutup salju. Untuk beberapa kali kusaksikan salju itu terjatuh dari angkasa. Ini adalah hujan salju terderas pertama yang kualami. Kunjunganku ke Belanda pada 2009 lalu terjadi di musim semi, sehingga praktis tiada salju, walaupun hawa masih terasa sejuk dingin. Sebelumnya pada tahun 2004 di Lake Mountain, Australia ada kujumpai salju, tapi tidak dalam keadaan tercurah dari langit seperti ini. Beberapa hari lalupun salju turun di negeri Belanda ini, akan tetapi lebih ringan, dan dalam beberapa hari sudah menghilang dari jalanan.
Beberapa lama tadi aku memandangi ke jalan raya, dari jendela dekat kamar mandi. Dan mobil melaju menerpa salju. Badan mobil tertutup es putih. Orang orang bersepeda juga menembus salju, melaju. Sebenarnya berbahaya untuk menaiki sepeda di kala jalanan dilapisi es begini, karena jalan cenderung jadi licin karenanya. Jalan licin membuat orang mudah terjatuh, baik yang berjalan kaki, maupun yang berkendara sepeda. Akan tetapi, salju hari ini walaupun deras, toh tidak mencapai ketebalan yang ekstrim. Biasa saja, walau cukup menutupi jalur sepeda. Tapi ada terlihat olehku tadi, mobil yang sengaja menghalau salju dari jalur sepeda. Dan ketika kulihat pemandangan luar, kali ini dari jendela dapur, kulihat seorang ibu menyeret kursi salju dan si anak duduk di atasnya. Salju, menghangatkan hubungan anggota keluarga. Dan di negeriku, tiada pernah ada salju. Hampir tigapuluh tujuh tahun hidupku, tak sekalipun salju turun dari langit nusantara. Dan mungkin sebagaimana anak lainnya, ada aku ingini salju turun di negeri kami. Barang sekali saja. Sehingga aku bisa bergembira, dan merasa sama dengan anak-anak di negara bersalju. Tapi, khayal itu secara ilmu pengetahuan jelaslah tak mungkin. Kami ada di negara tropis, yang hanya kenal dua musim; hujan dan kemarau. Paling banter yang kami alami adalah hujan es, dan itu pernah kualami, dulu sekali, sekali yang membuat amat gembira, dan berkali-kali dalam hidup pernah kuceritakan.

Nijmegen, 3 Februari 2012

Advertisements

One thought on “Renungan Salju

Comments are closed.