Ke Hilversuum

 

Bersama Bari Muchtar, penyiar RANESI
Bersama Bari Muchtar, penyiar RANESI

 

Undangan itu tak mungkin ditolak: menjadi narasumber bagi acara “Simpang Amsterdam” Radio Nederland Wereldomroep Siaran Bahasa Indonesia (RANESI). RANESI dan aneka acaranya sudah kuakrabi setidaknya sejak tahun 90-an. Siaran berbahasa Indonesia dari Radio publik ini amat sering kudengar terutama waktu duduk di bangku universitas melalui Radio-Tape JVC pada siaran gelombang pendek (short wave). Mendengarkan siaran RANESI kala itu dilakukan setiap pagi, jam 4:30 WIB, jam dimana aku biasanya bangun pagi dan saat-asat ketika azan subuh dikumandangkan. Siaran juga bisa didengarkan waktu malam hari, kalaulah tak salah pukul 18:30 WIB dan berakhir hingga 20:30. Terutama waktu era Orde Baru, RANESI merupakan sumber informasi alternatif akan banyak hal sensitif di tanah air. Isu Timor-Timur, Aceh, wawancara dengan para tokoh oposisi dan mereka yang bersuara kritis terhadap pemerintah adalah hal yang menjadikannya menarik terlebih pada masa lalu, media dan pers Indonesia tidak bebas. Adalah Prita Riadini penyiar sekaligus reporter RANESI menghubungiku via Facebook beberapa minggu lalu meminta kesediaan untuk menjadi narasumber acara “Simpang Amsterdam”. Acara ini sendiri membicarakan banyak hal yang menjadi isu aktual dalam masyarakat. Dan hari itu, Senin 4 Februari 2012 pergilah aku menuju Stasiun Hilversuum Noord. Prita telah memberi ancar-ancar agar aku turun di stasiun itu, beberapa menit setelah menaiki kereta ke arah Almere dari Utrecht Centraal. Berangkat dari rumah sekitar pukul 9:30 pagi, aku sampai di Stasiun Nijmegen sekitar setengah 10, dan menaiki kereta api yang menuju Utrecht Centraal. Aku memakai Dagkaart, tiket berkereta api seharian ang kubeli di Blokker, sebuah toko kelontong besar di Belanda beberapa minggu sebelumnya.
Hawa pagi itu dingin menusuk, karena suhu masih berkisar minus sepuluh hingga minus duabelas. Cuaca di Eropa secara keseluruhan memang cukup buruk di musim dingin ini, tak terkecuali di Belanda. Malam hari sering kuamati suhu menyentuh minus 17 dan 18. Ada yang mengatakan minus 20-an, namun aku tak pernah melihatnya sendiri. Namun yang pasti, ada kesan kuat bahwa orang Belanda sekalipun tersiksa dengan dinginnya hawa winter kali ini. Niat ke stasiun untuk menaiki sepeda kuurungkan, dan ku memilih menaiki bis. Sebenarnya pagi itu aku pula berfikiran hendak ke den Bosch terlebih dahlu, untuk kemudian baru kembali ke Utrecht. Akan tetapi dari website perusahaan kereta api ini kutahu bahwa perjalanan bolak balik Nijmegen-den Bosch memakan waktu lebih kurang satu jam, maka kuurungkan pula kehendak ke den Bosch, dan menaiki kereta api yang menuju Utrecht. Baru saja kereta api berjalan sekitar 10 menit, terdengar pengumuman bahwa kereta api tak akan menuju Utrecht karena suatu sebab. Aku yang kala itu duduk dengan seorang mahasiswa Australia yang baru memulai studi ilmu politik di Universiteit Leiden terpaksa turun di Stasiun Ede-Wageningen, bersama puluhan penumpang lainnya yang bertujuan sama; berganti kereta api. Tidak berapa lama kereta api yang kami naiki berjalan, terdengar pengumuman bahwa kereta api inipun tidak akan sampai ke Utrecht. Artinya kami harus turun, dan menanti kereta api lain yang menuju ke sana. Sudah barang tentu amat tidak enak ketika harus menunggu kereta datang, sementara kami para penumpang harus menahan dingin lebih kurang 30 menit. Aku sendiri walau memakai pakaian berlapis-lapis namun rasanya dingin hawa minus begitu kuat menusuk tulang. Terlebih aku hanya memakai sepatu kets biasa, yang tidak begitu ampuh menangkal gigitan hawa dingin di kaki. Beruntung aku mendapat kawan baru si Australia ini, yang baru kembali dari Venlo dan hendak menuju Leiden. Padaku ia bercerita bahwa di Venlo ia mengunjungi kerabat pacarnya di Belanda. Pacarnya sendiri tinggal di Australia. Dia memakai jeans model stretch, dan dari gerak tubuh dan wajahnya aku tahu, ia pun menahan derita dingin. Tapi banyak penumpang pula yang senasib dengan kami. Seorang gadis Belanda berharap amat sangat agar kereta api pengganti segera datang, karena ia mengaku sudah amat tak tahan. Ia, dan banyak penumpang lainnya hanya mampu menggerak-gerakkan kaki dan badan. Mungkin tidak untuk menimbulkan panas hangat di badan, hanya sekedar untuk mengalihkan pikiran dari kecemasan. Hingga akhirnya datanglah kereta yang membawa kami ke Utrech Centraal, kereta api yang hangat dan menyelamatkan kami dari kebekuan sesaat. Kembali, selama di perjalanan kuhabiskan waktu dengan banyak bicara dengan si Australia yang aku tak sempat menanyakan namanya. Berbincang dengannya memungkinkan aku mengenang kembali Australia dan kota Melbourne di mana aku pernah tinggal dulu. Pendeknya omongan kami nyambung. Kami membicarakan biaya hidup di Belanda terutama akomodasi yang terasa mahal bahkan untuk kantong Australia, sedangkan kebutuhan pokok seperti pangan kami sepakat cukup murah. Ia mengaku membayar 400 euro sebulan untuk kamarnya di Leiden, sekitar 90 euro lebih mahal dari kamarku.
Berpisah dengannya di Utrech Centraal aku segera menuju ke spoor 2 di mana kereta yang ke arah Hilversuum Noord bersiap untuk membawa penumpangnya. Beberapa minggu sebelumnya aku sempat menaiki kereta dari jalur ini ketika menuju Almere guna mengunjungi Rafendi Djamin, member dari Asian Intergovernmental Commission on Human Rights yang tengah berli bur di Almere. Tak berapa lama duduk di dalam gerbongngnya, aku pun berdiri menuju pintu kereta karena kereta telah mendekati stasiun Hilversuum Noord. Menaiki tangga penyeberangan, aku berjalan dari ujung ke ujung untuk kemudian menuruni tangga hingga ke suatu area yang kuketahui bernama Media Park. Belakangan aku baru tahu, bahwa aku terlalu jauh menyusuri tangga peyeberangan itu, seharusnya begitu naik dan sampai di jembatan penyeberangan, aku bisa langsung turun menuju jalan raya di luar stasiun. Hawa dingin akibat angin kencang yang kembali menusuk sempat membuatku ragu apakah aku akan kuat mencapai studio RANESI yang harus ditempuh dengan jalan kaki dari situ sejauh kira-kira setengah kilometer jauhnya. Namun kubertekad bulat haruslah sampai dan dittengah terpaan angin kencang kaki ini berjalan pula di atas salju menuju studio RANESI. Hingga ketika sampai di bunderan dekat lingkungan studio besar itu, aku pun kembali bergairah dan bersemangat dan segera menuju ke reception desk. Jam di telpon genggam menunjukkan pukul 1 siang, empat jam setelah aku meninggalkan rumah.
Prita segera keluar, menyambutku sebelum petugas resepsionis berhasil menghubunginya. Ia segera mengajakku naik ke atas, ke ruangan seksi Indonesia. Di sana aku berkenalan dengan beberapa nama yang tak asing dan sudah melekat di otakku: Yanti Mualim, Alfons Lasedu. Ada beberapa nama yang kusebutkan pada mereka yang pula aku hafal misalnya L Murbandono HS dan Abuprijadi Santoso. Namun keduanya yang kusebut terakhir ini sudah pensiun. Dari situ aku diajak Prita untuk ke studio tempat aku akan rekaman. Di sana telah ada Pak Bari Muhtar, ini pula adalah nama yang tak asing di benakku. Kami menjajal microphone, dan operator meminta aku untuk melepas jaket karena suara ges
ekan jaket amat sensitif, masuk tertangkap oleh microphone. Siap untuk take rekaman di jam satu siang, ternyata kami harus rekaman di jam 2, karena satu nara sumber pembanding yang berkedudukan di Inggris ternyata juga dijanjikan untuk dihubungi pukul 1. Sedangkan Antara Belanda dan Inggris terpaut satu jam. Prita meminta maaf atas kelalaian ini, tapi buatku tak menjadi soal benar. Karena saatnya makan siang, aku diajak Prita untuk ke kantin Radio Nederland. Sambil makan burger, kami membicarakan mengenai topik yang akan menjadi perdebatan nantinya. Persoalan pers di tanah air. Aku menyinggung betapa kini wartawan juga banyak kehilangan idealismenya dengan menerima berbagai macam kemudahan dan fasilitas dari objek berita yang berpotensi melemahkan pengawasan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Jelang jam 2 siang, akhirnya rekaman dilaksanakan dengan lancar, hanya di awal Pak Bari Muhtar sempat keliru menyebutkan identitasku sebagai mahasiswa Leiden Universiteit, yang kemudian oleh karenanya rekam dilakukan ulang. Kesalahan kecil saja. Sepanjang dialog, sebenarnya tak ada perbedaan signifikan antara aku dan narasumber di Inggris. Kami menyepakati bahwa penyamaran dalam kegiatan jurmalistik adalah sesuatu yang dapat dibenarkan senyampang memang itu ada aspek kepentingan publik. Permasalahan yang timbul adalah banyak liputan invedtigatif mengatasnamakan kepentingan publik,Aku memberi contoh kasus yang terjadi di tanah air dimana pernah medi memberitakan mengenai fenomena maraknya pedagang bakso tikus di kawasan pantai utara Jawa Barat. Dalam liputan itu, para pedagang bakso diliput dan diwawancarai namun tetap identitasnya disamarkan. Ini untuk melindungi sang pedagang dari ketidaknyamanan yang akan diterimanya sekiranya media menunjukkan identitasnya. Memang menjadi perdebatan sampai dimana identitas seseorang bisa dibongkar oleh media, dan sejauh mana media bisa merahasiakannya. Tema ini sendiri diambil karena dalam waktu yang bersamaan, Pengadilan Jerman sedang mengadili wartawan Belanda yang kedapatan melakuka penyamaran ketika menurunkan laporan soal seorang bekas serdadu SS NAZI. Belakangan, pengadilan memutus bebas wartawan tersebut.
Selesai siaran, Pak Bari Muhtar mengajakku melihat-lihat Newsroom Radio Nederland. Newsroom itu begitu luas, dengan banyak staff masingh-masing seksi yang ada di Radio Nederland Wereldomproep. Buatku ini adalah kesempatan yang sangat berarti, terlebih menengok ke belakang pada masa-masa remajaku, studio ini hanyalah menjadi bagian dri angan-angan belaka. Aku tak langsung pulang karena Pak Bari Muhtar mengajakku untuk menemani siaran langsung dengan Suara Surabaya, membicarakan hal-hal ringan soal Belanda. Jam 3 siaran itu berlangsung, dan kami membicarakan soal musim dingin yang ekstrim di Eropa, yang tak terkecuali menimpa Belanda. Pak Bari menceriterakan mengenai penantian sebagian warga Belanda untuk bisa mengikuti festival skating melintasi 11 kota di Belanda. Syaratnya adalah sungai-sungai yang dilalui harus mencapai ketebalan 15 sentimeter agar memenuhi syarat digunakan untuk skating.Hal ini karena tidak setiap tahun Belanda mengalami musim dingin yang memenuhi syarat untuk itu. Belakangan bahkan 2012 ini, festival itu tak bisa dilaksanakan karena suhu yang mulai menaik di atas nol derajat memasuki minggu kedua Februari. Dalam kesempatan siaran yang singkat itu aku menceriterakan pengalaman musim dinginku barusan, yang harus berganti kereta api di stasiun terbuka.
Selesai siaran langsung aku kembali ke desk RANESI. Di sana aku masih dimintai untuk memberi komentar soal pidana mati. Wawancara ini sendiri untuk keperluan acara Kedai Tabu, yang merupakan parodi atas fenomena sosial politik di tanah air, dimana terdapat kelompok agama yang secara ekstrim memaksakan moralitas berbau agama pada warga masyarakat lain. Selesai itu, aku pulang, berjalan beriringan dengan Prita menuju ke stasiun Hilversum Noord. Salju kami tapaki sambil membincangkan soal siaran RANESI, termasuk pengalaman mengundang Nursjahbani Katjasungkana yang pula harus berjalan jauh menuju studio RANESI. Di Stasiun Hilversum Noord pulalah aku berpisahan dengan Prita karena ia kembali ke Weesp, kota kecil dekat Almere, berlawanan arah dengan kereta api yang kunanti, ke arah Utrecht. Berjalan jauh, dan berada di kedinginan musim dingin hari itu terasa amat melelahkan ketika aku tiba kembali di kamarku yang sunyi di Hatersteweg 95 Nijmegen. Akan tetapi sudah barang tentu hari itu tak akan mungkin terlupa.
 
Nijmegen, 16 Februai 2012
 
Advertisements

2 thoughts on “Ke Hilversuum”

  1. nek radio SW gemiyen pas cilik seringe BBC apa yah karo radio ostrali mbuh apa arane…..lunga-lunga nang musim dingin pancen mbebehi ya kang? aku juga jarang lunga-lunga nek musim dingin

  2. gambarpacul said: nek radio SW gemiyen pas cilik seringe BBC apa yah karo radio ostrali mbuh apa arane…..lunga-lunga nang musim dingin pancen mbebehi ya kang? aku juga jarang lunga-lunga nek musim dingin

    Iya, merga diundang Radio Nederland dadine kudu ditekati mangkat 🙂

Comments are closed.