Kebhinnekaaan dan Idealisme Musik Indonesia

sebuah diskusi hangat terjadi di Diskusi Pluralis Lembaga Bhinneka di Group Facebook malam ini. Aku membaca thread Joshua Igo yang berbunyi sebagai berikut:
Di Indonesia, kebinekaan dalam dunia musik sangat terasa pada era 1980 sampai 1990-an. Saat itu, hampir semua genre musik berkembang dengan subur. Fanatisme berkembang secara positf, kompetisi musik sangat bergairah. Tren musik benar-benar diusung oleh insan musik. Tapi sekarang, selera musik ditentukan oleh label, dan insan musik tunduk patuh kepada produser sebagai majikannya, meski demikian tak dipungkiri masih ada beberapa grup band / penyanyi solo yang berkualitas. Ini sebuah keprihatinan nasional.
terhadap thread itu, aku menuliskan komentar:
amatan saya sih sama saja, industri 60-70-80-90-2000an juga ada partisi dari dunia musik yang bisa diatur uang. Era 70an ketika Koes Plus sukses juga banyak band dengan nada dan style yang dikendalikan supaya ke Koe Plus2an, band yang buat sebagian besar orang Indonesia asing namanya : TOPPENK, MANFILS, DEDELAN. Komersil juga sama, biar itu band besar seperti THE ROLLIES pun harus masukkan lagu keroncong dalam rekamannya. Ada yang idealistik, walau juga heavily influenced by western group, seperti GIANT STEP, RARA RAGADI, GURUH GIPSY. Era 80-an ketika Gombloh dan Ari Wibowo ngetop dengan lagu2 renyah Koes Plus juga bikin lagu kaya gitu (Pop Memble). era 60an juga sama dengan sekarang, artis ya nyanyi ya main film, diarahkan persis kaya bintang bintang idol masa kini: Rima Melati, Dicky Suprapto, semua nyanyi.
kemudian dibalas oleh Joshua Igo:
nah itu persoalannya. industri (yang didukung oleh media) zaman dulu masih menerima idealisme. sekarang minim.
Yang kemudian aku tambahkan komentar seperti ini:
perkembangan IT sekarang memungkinkan orang untuk membangun media-nya sendiri toh, dan menjadi backbone dari suatu kegiatan berseni. Kita tak melulu mengandalkan media mainstream. Death Vomit Jogja yang tour ke Australia mana diliput media mainstream kaya RCTI? Funeral Inception yang dirilis oleh label Perancis mana diliput oleh TV One? Hanya kalau agak popular saja seperti Efek Rumah Kaca [karena ‘listenable’] bisa masuk TV One. Band independen itu malah menafikan media mainstream biasanya karena media bisa mereka kelola sendiri dengan semangat do it yourself atau memang ada media yang menampung dan mengcover mereka. Dapurletter.com misalnya atau deathrockstar.com Kini, thanx to technology, kita punya media alternatif kini yang bisa menampungnya. Webzine dll itu semua juga dahsyat. Saya tak melihat perubahan media dari masa lalu ke masa kini ada yang mengabdi pada kemapanan, dan ada yang rajin mengkreasi dan menjadi agen perubahan selalu saja ada dua hal itu. Tinggal si artis mau jadi kayak apa? idealistik (tidak selalu tidak laku loh), atau moderat, atau ikut ikut arus? Saya lihat kini banyak band yang style nys ikut WALI misalnya, karena dia sukses dengan lirik dan musik yang riang, serius tapi terkesan bercanda, dan banyak yang ikut. WALI sebenarnya juga trendsetter, namun orang ikut mencemooh band ini, dianggap enggak mutu. D Massive mungkin saja tulus bermusik galau (lha di luar sana juiga banyak band galau britpop) nyatanya ya dianggap merusak dan ikut label. who knows merek memang tulus? Era 70an ada De Hands, juga supergalau lagunya, dianggap idealis. so?
Joshua Igo menimpali:
Hahahaha betul!!! kasian penikmat musik zaman sekarang. Dah dicekokin genre serupa, habis gitu minim informasi seputar kiprah musisi-musisi independen yg masih memegang idealisme…
Belum sempat aku menyelesaikan balasan, Anton Hilman, member group yang sebelumnya sudah banyak memberi sumbang pikir mengomentari:
perlahan2 saya coba baca nyimak biar gak salah pemahaman, and akhirnya saya bisa bilang SETUJU pak 🙂
Aku membalas kembali dengan rangkaian kalimat seperti ini:
penikmat musik sekarang sebenarnya dituntut untuk kreatif mencari apa yang diinginkannya. Juga seniman masa kini harus rajin mensosialisasikan karya seninya. Kita semua, entah seniman, entah apresiator diuntungkan dan dikaruniai Internet. Dulu pembajakan dianggap merugikan, kini seperti kata sebuah band indie, bicara pembajakan udah enggak relevan lagi. Download-lah lagu kami, get it free.[ini terlepas dari mindset kuno orang kaya saya yang bahkan masih suka piringan hitam ya]. akhirnya akan ketemu juga band bagus seperti Efek Rumah Kaca, akan ketemu band jazz metal seperti Cranial Incisored [wow, ini dirilis amerika lho], Total Rusak dari Padang yang dirilis oleh obliteration records. Teknologi membuat mereka mungkin untuk rekaman dengan relatif murah, dan bahkan bisa punya studio digital sendiri. Tinggal karyanya memang bisa diapresiasi atau enggak. The Upstairs rilis “Kunobatkan Jadi Fantasi” [maaf kalau salah judulnya] murni album download-an, dan dia ada massa amat banyak. JASAD Bandung juga dirilis oleh Amerika, Siksakubur oleh Belanda. Industri enggak banyak bisa kendalikan lagi. Sama halnya penulis, enggak dimuat, bikin aja blog sendiri, atau webhost yang murah, kalau memang posting anda mutu ya banyak yang baca juga. Itu tantangannya. Terimakasih ya.
Judul album The Upstairs yang sempat saya ragukan itu dbenarkan oleh Anton Hilman, dan kemudian saya menambahkan kembali:
Ya mas Anton, saya memulai koleksi kaset dari pertengahan 80an dan agak anti MP3 sebenernya. tapi karena rilisan “asli” upstairs ini memang hanya edisi download, maka ya’terpaksa’ download, termasuk desain sampulnya. Saya, penikmat musik prakarya, ngeprint covernya sendiri, dan jadilah The Upstairs itu. Ini memang revolusi media yang niscaya, dan fenomena yang tidak dinikmati mereka di era koes plus dan JK Records. Tentu banyak pula yang memasang di internet gagal mendapat apresiasi dan hati masyarakat baik yang general maupun segmented, karena memang ‘tidak menawarkan’ kebaharuan dan ‘kelainan’
Tukar pikir ini berakhir karena Joshua Igo harus beristirahat karena waktu di Indonesia memang sudah dininari. Sebuah diskusi yang hangat menjelang tengah malam di minus 7 derajat udara Belanda malam ini.
Nijmegen, 10 Februari 2012
Advertisements

4 thoughts on “Kebhinnekaaan dan Idealisme Musik Indonesia”

  1. adehirmawan said: Bagaimana dengan yang ngetren sekarang: boy/girl band (walaupun gak ngeband), apakah sekedar nama lain dari vocal group?

    Ya saya kira itu vokal group, yang tidak mementingkan siapa backing group-nya, akan tetapi hanya menjual suara saja. Pertimbangan kepraktisan dan juga ekonomis saya kira adalah salah satu hal utama. Boy or Girl band itu kan istilah marketing-nya saja.

Comments are closed.