Untuk Guru

Guru kita, mereka membuat kita melek dalam banyak hal. Aku pernah mencoba merenung siapakah yang membuatku jadi bisa menulis dan mengenal huruf dan oleh karenanja aku mengenal dunia? Pada masa itu, sekolah-lah yang berperan (walau dalam kasus anakku, akulah yang mengajari). Guru SD Kelas 1 rasanya yang mengajari A,B,C,D. Ini budi, ini bapak budi. Masih kuingat baik hal itu, suasana kelasku di SD Dharma Mulia di awal tahun 80-an. Mungkin kini ia, guru yang mengajariku itu sudah renta, sakit-sakitan atau sendiri di masa tuanya, atau makamnya sudah berlumut jika ia telah tiada. Saat memikir hal seperti ini pernah aku menjadi sentimentik agak menangis, rasanya ingin menjumpai dan berterimakasih, tapi entah mendjumpai dan berterimakasih pada siapa. Ibu bapakku sendiri seorang guru, dan kini Ibuku sudah tua. Dan di masa tuanya, para muridnya masih mengingat, mendatangi dan mengajak reuni. Untuk mereka para guru, kita hanja bisa membalas dengan do’a, semoga kebaikan dan jasanya bisa meringankan hidupnya di alam dunia maupun di alam kekal sana.

 
Nijmegen, February 18 2012
Advertisements

4 thoughts on “Untuk Guru

  1. gambarpacul said: he..he…jamane dewek esih jaman ini budi…ini…. ibu budi ya kang……kayane buku paket sing paling suwe bertahan

    Iya lan aku paham banget sapa sing gawe ilustrasine, gambare apik, realis. Dialah Drs. Sujadi. Sapa kuwe? tak lain pemeran Pak Raden!

  2. manunggalwardaya said: Iya lan aku paham banget sapa sing gawe ilustrasine, gambare apik, realis. Dialah Drs. Sujadi. Sapa kuwe? tak lain pemeran Pak Raden!

    Oh jebul Drs. Sujadi tah sing nggambar ilustrasi buku wacan SD gemiyen, nyong biyen ora sanggup tuku bukune, disilihi sekolahan pas pelajaran ora olih digawa mulih, untung bisa maca ya…. 🙂

  3. kurusestra said: Oh jebul Drs. Sujadi tah sing nggambar ilustrasi buku wacan SD gemiyen, nyong biyen ora sanggup tuku bukune, disilihi sekolahan pas pelajaran ora olih digawa mulih, untung bisa maca ya…. 🙂

    Kayane bukune Balai Pustaka pancen buku paket lho, ora didol. Tapi mbuh ding kelalen aku juga.

Comments are closed.