Kisah Tentang Mel

400222_10150471062733823_1766373944_nAku baru saja selesai membuat kopi instan produk Euro Shopper yang kuwarisi dari Pierre, PhD student asal Lyon, Perancis yang pernah tinggal dua minggu di rumah ini ketika ia masuk ke dapur. Ia, gadis berusia 24 itu, tinggal di lantai satu, lantai di bawahku sejak mulai sekitar seminggu lalu. Ia tidaklah gemuk, cenderung kurus. Rambutnya panjang, tak terlalu panjang, sekitar sepunggung dengan poni di dahi. Aku pun duduk di kursi dapur, tak lantas kembali ke kamar, dan mulai mengajaknya berbicara.

Pertama yang kutanyakan adalah namanya. Sebenarnya soal nama ini pernah kutanyakan ketika pertama kali kami berjumpa dulu, di tempat yang sama, di dapur. Tapi aku sudah lupa. Ia menjawab “Mel”. “Mel untuk Mel Gibson?”, tanyaku kemudian, yang ia sambut dengan tertawa. Katanya, orang selalu menyebut nama aktor pemeran utama film Brave Heart itu untuk memastikan nama yang ia miliki itu. Ia menyebutkan nama Taiwannya, dan aku tak mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena pikirku akan percuma saja, nantinya akan kembali terlupa lagi. Akan halnya asalnya yang Taiwan aku masih ingat, dan kutanyakan padanya dari kota mana ia berasal.dan ia mengatakan Taipeh. Akupun bercerita padanya bahwa banyak orang Indonesia bekerja di negaranya, dan kebanyakan dari mereka adalah domestic worker alias pembantu rumah tangga. Ada pula yang bekerja di pabrik, namun pada umumnya bukanlah high-level job. Ketika kuceriterakan hal ini, pikiranku teringat pada mereka warga Desa Cibangkong, Pekuncen, Banyumas yang ketika aku menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana di akhir 1997 banyak mengadu nasib bekerja di Taiwan sekalipun dengan modal hutang sana sini, hutang dengan bunga yang cukup tinggi pada rentenir. Juga kakak kelasku, seorang sarjana hukum akhirnya memilih menjadi TKI dan bekerja di pabrik di negeri yang diklaim China sebagai wilayahnya itu. Mel mengatakan bahwa ia mengetahui bahwa banyak orang Indonesia bekerja di negerinya, jawaban yang membuatku bertanya apakah ia ada pernah memiliki pembantu dari Indonesia, pertanyaan yang ia jawab sambil tertawa “tidak”. Katanya, kalau rumah tangga mampu membayar pembantu, pastilah mereka “rich people“.

Obrolan kami berlangsung sambil aku menikmati kopi dan ia mempersiapkan makan malamnya: aneka sayur seperti brokoli dan entah apalagi, yang direbus di dalam panci untuk kemudian setelah tak berapa lama dientaskan dan diberi salad dressing. Mel bercerita, bahwa sebelumnya ia tinggal di housing untuk student di kawasan kota, dimana ia membayar 320 euro sebulannya. Alasan mengapa ia pindah adalah karena tak kerasan selama sekitar enam bulan di sana, terlalu gaduh. Banyak mahasiswa pesta, dan suaranya mengganggu konsentrasi. Katanya lagi, banyak pula exchange student yang juga membikin gaduh yang dalam hitungannya karena mereka ‘hanya’ exchange maka mereka tak perlu harus belajar sepertinya. Mel adalah mahasiswa master linguistik. Aku bertanya padanya mengapa ia memilih Belanda sebagai tempat studi master. Kukatakan padanya bahwa aku banyak berjumpa dengan orang Taiwan yang studi di Australia. Mel membenarkan hal itu, namun ia mengatakan bahwa ia tak mempunyai keinginan belajar di Australia. “Sebenarnya aku ingin kuliah di Inggris, tapi aku dapat beasiswa di sini,” katanya lagi. Ketika kutanyakan perihal beasiswa itu, ia menjawab bahwa ia dibebaskan dari tuition fee, sehingga hanya perlu menanggung uang hidup saja. “It’s better than nothing,” jawabnya, yang segera aku benarkan. Lagipun, Belanda adalah satu-satunya english-speaking country di Eropa, katanya. Sambil terus mempersiapkan makan malamnya Ia bertanya apakah aku menjadi pengacara di Indonesia. Aku menjawab tidak, dan kukatakan padanya bahwa aku adalah pegawai negeri, dan pegawai negeri di Indonesia tidak boleh berpfrofesi sebagai pengacara menurut undang-undang. Mel mengatakan bahwa di Taiwan, orang harus bergelar sarjana hukum untuk dapat menjadi pengacara. Tentu hal itu kubenarkan dan kukatakan padanya mungkin di seluruh dunia syarat seperti itu juga dikenal. Di Belanda bahkan yang kudengar dari Miguel, kawanku di kampus, orang harus bergelar master terlebih dahulu untuk bisa menjadi lawyer.

Kemudian kukatakan padanya bahwa hari ini aku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kota, karena cuaca yang bagus. Ia menimpali bahwa sudah lama ia tak pergi ke kota. Ia sendiri berencana untuk ke Rotterdam minggu depan, menonton konser musik. Ia bertanya padaku tentang musik yang kudengarkan, karena ia sering mendengar aku memutar musik di kamar. Kukatakan padanya bahwa aku mendengarkan begitu banyak musik dan mengoleksi musik dari beragam aliran dari pop hingga metal. Ia nampak terkejut ketika aku menyebut metal, sembari mengatakan bahwa ia tak suka dengan musik metal. Kutunjukkan padanya kemudian fotoku di masa lalu yang kusimpan pula di BlackBerryku, ketika aku berambut panjang, dan bertambah pula kagetnya. Hal lain yang kami bicarakan adalah soal cuaca di Belanda yang dingin, dan meskipun Taiwan juga terletak di sebelah utara Khatulistiwa, ia tak pernah mengalami salju. Suhu di tempatnya berasal, yang mana adalah bagian paling utara Taiwan hanya berkisar 6 derajat ketika memasuki musim terdingin. Ketika pembicaraan kembali kepada persoalan tenaga kerja Indonesia, aku berkata bahwa banyak orang Indonesia yang sepulang dari Taiwan beberapa saat mereka biasanya kembali lagi. Hal ini karena di Indonesia mereka tak mendapatkan pekerjaan yang baik. Bekerja di Taiwan, kataku pada Mel, memungkinkan orang membeli rumah dan tanah. Sedangkan kalau bekerja di Indonesia hal itu nampaknya sukar akan terwujud. Mel menimpali bahwa sebenarnya upah yang diterima pekerja asing seperti para TKI itu tidaklah cukup adil. Ia membenarkan bahwa barangkali upah yang diterima para pekerja itu lebih besar, jauh lebih besar daripada kalau mereka harus bekerja di tanah air mereka. Tapi sesungguhnya kalau dibandingkan dengan upah yang diterima oleh orang asli Taiwan akan sangat berbeda.”Semacam diskriminasi, begitu?” tanyaku. Ia mengiyakan.

Mel berharap ia akan dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi yakni PhD alias doktoral. Ku menyarankan padanya agar ia melamar menjadi dosen di lembaga pendidikan tinggi di Taiwan, tapi ia mengatakan bahwa ia tak suka menjadi guru. “Aku hanya senang menjadi researcher”. Agar keinginannya terwujud, ia mengatakan akan tinggal sementara waktu di Belanda jika studi masternya selesai. Di sini banyak lembaga yang memerlukan tenaga linguistik seperti Max Planck institute, katanya. “I will pray for you,” kataku padanya, yang segera disambut dengan ucapan terimakasih. Ia kelihatan sudah hampir selesai dengan makan malam yang tengah dipersiapkannya. “But you also have to pray for y
our self, ya
, “tambahku lagi. Mel tertawa dan mengatakan bahwa ia tidak religius, seperti kebanyakan orang Taiwan pada umumnya. Aku tertawa. Ia tertawa. Dan kemudian, seperti pernah kutanyakan pada Pierre beberapa waktu lalu, akupun bertanya, apa yang ia akan lakukan jika ia berada dalam keadaan yang sulit, dimana orang yang beragama biasanya berdoa. Ia merenung dan beberapa saat kemudian menjawab bahwa Ia juga berdoa akan tetapi tidak ditujukan pada Tuhan. Aku tak jelas benar menangkap kata-katanya kemudian, namun ia mengatakan bahwa ia terkadang berdoa dalam kesempatan tertentu pada arwah leluhur, namun pastinya bukan pada Tuhan. Diakuinya, di Taiwan juga ada otang beragama, namun lebih karena sesuatu yang dibawa dari Barat.

Pembicaraan kami berakhir dengan obrolan singkat soal rencananya ke Rotterdam minggu depan untuk menonton acara musik, dimana band favoritnya Snow Patrol akan tampil. Kukatakan padanya bahwa aku juga tahu akan snow patrol itu, walau aku tak akan menonton. Ia mengatakan bahwa ia suka dengan british band, dan kukatakan aku juga suka band seperti Oasis dan Suede. “Tapi Suede sudah tidak eksis lagi,” katanya. Kutanyakan apakah ia juga suka band Britpop lainnya seperti Blur, yang dijawabnya tidak, karena terlalu intelektual. Kemudian aku katakan pula bahwa Paul McCartney akan tampil di Rotterdam. Ia terlihat terkejut mengetahui hal itu dan ingin menonton. Ia juga cukup heran bahwa aku suka akan Paul. Kukatakan padanya, aku punya beberapa album Paul. Kukatakan padanya, orang yang suka akan The Beatles banyak yang tak sadar bahwa Paul-lah di belakang lagu-lagu Beatles yang terkenal seperti I Saw Her Standing ThereLet It BeHey JudeGet Back, akan tetapi orang seolah hanya tahu Paul sebagai bassplayer dan John Lennon menyanyikan semua lagu The Beatles. “John Lennon memang charming” katanya sambil menggembalikan sisa sayurnya ke dalam lemari pendingin. Kukatakan padanya, kemungkinan tiket pertunjukan Paul akan cukup mahal, berkisar 90 euro, tapi kalau ia memang berkeinginan untuk menonton, maka akan aku pikirkan lagi untuk pula menontonnya, karena berarti aku akan ada teman ke Rotterdam. Mel nampak siap dengan makanannya, dan hendak kembali ke kamarnya di bawah. Dan oleh karenanya, pembicaraan soal Paul itupun menjadi akhir perjumpaan kami malam ini.

Nijmegen, 25 February 2012

Advertisements