Dmitri

411192_10150454481093823_289986525_oLoes, landlady-ku memperkenalkanku pada dia suatu hari sekira jam 12 siang. Aku lupa hari apa itu, akan tetapi saat itu Belanda tengah berada di musim dingin yang buruk. Dmitri namanya, tengah mengerjakan thesis PhD nya di universitas yang sama denganku. Dengan bersemangat Loes yang lebih muda beberapa bulan dari ibuku itu menceriterakan bahwa tengah malam sekitar pukul 2 ia terbangun oleh ketukan pintu dan bel yang tiada henti, dan ternyata itua adalah Dmitri. “Aku sudah menunggunya sejak sore, tapi ternyata dia datang lewat dinihari,” kata Loes lagi. Dmitri menjelaskan, pesawatnya memang tiba di Schipol sudah tengah malam, dan ia baru sampai di Stasiun Nijmegen pada lewat jam duabelas malam. Mengingat kala itu musim dingin cukup buruk melanda Eropa, kutunjukkan simpatiku akan penderitaan yang pasti dialaminya di kedinginan sambil menunggu pintu dibukakan.

Dmitri berasal dari Ukraina, Kulitnya putih, tipikal bangsa Russia, sehingga berbeda dengan orang Belanda kebanyakan. Seperti lumrahnya orang berkenalan, akupun menjabat tangannya dan menyebutkan nama serta asal negara, dan tak lupa studi yang kutempuh di universitas ada juga aku sebutkan. Oleh Loes, ia diberi kamar di lantai satu, yang artinya satu lantai di bawahku. Jika pintu kamarku berhadapan dengan pintu dapur, maka kamar Dmitri bersebelahan dengan pintu toilet.

Setelah hari perkenalan itu, aku cukup sering bertemu dengannya. Tentu saja semua pertemuan terjadi di dapur ketika ia tengah mempersiapkan makanan di waktu pagi atau malam. Bahasa Inggrisnya agak patah-patah, dan seringkali terlihat sukar untuk mengungkap apa yang ada di kepalanya. Untuk hal ini aku merasa menjadi senang karena rupanya bukan aku saja yang bermasalah dengan bahasa ini.

Kesanku padanya pada awalnya tidak begitu baik. Bagiku, ia terasa begitu dingin, tidak seperti orang Asia yang mudah tersenyum dan tertawa. Ia hanya menjawab sekenanya saja dan atau mengucap “hai” jika bertemu.Ia baru bicara jika aku mengajaknya bicara sesuatu hal yang hanya dijawab dengan pendek pendek seperti “yea”.

Akan tetapi seiring waktu, lambat laun ia cukup hangat juga kalau diajak berbincang. Dan perbincanganku dengannya selalu mengambil tempat di dapur. Seperti pada suatu malam, ketika baru pulang dari kampus dan berniat hendak memasak sop, aku melihatnya pula tengah asik memasak. Masakannya seperti biasa adalah segala hal yang direbus. Aku tidak tahu apa namanya, namun kulihat ia memasukkan banyak kentang ke dalam panci, juga irisan wortel, serta brie, keju Perancis. Hingga tulisan ini aku tulis, masakan yang ia buat tak pernah membuatku ingin mencicipinya atau meminta barang sedikit bagian. Sama sekali tidak. Ini berbeda dengan Walter, yang ketika menggoreng ubi membuatku tak tahan untuk meminta barang sepotong karena bau harumnya yang menggoda perut. Walter yang kandidat PhD teknik komputer asal Uganda mengiyakan, dan aku mengambil sepotong ubi gorengnya dengan harapan ia akan memintaku untuk mengambil lebih. Harapan yang tak pernah terpenuhi.

Dan demikianlah, maka sambil sama sama mempersiapkan masakan kamipun berceritalah.

Mula mula, seperti biasa kami membicarakan perihal saluran air di rumah, di lantai tempatku tinggal ini, yang mampat. Karenanya, kami tidak bisa mandi di kamar mandi. Kami juga tidak bisa menggunakan wastafel dalam kamar. Loes, dalam perjumpaan denganku ketika aku baru tiba di rumah pada suatu senja mengatakan, bahwa saluran air belum selesai diperbaiki. Ia berpesan agar jika aku menggunakan air di dapur, agar tak lupa menaruh dalam penampungan air yang telah ia sediakan. Dalam hal ini aku dan dia sama-sama membuat lelucon tentang Loes, yang meminta kami untuk menggunakan air sedikit saja. Sudah barang tentu ini membuat kami tak habis pikir sekaligus heran dan merasa geli: bagaimana dan apa itu penggunaan air yang tidak banyak-banyak?

Aku kemudian menanyakan pula padanya mengenai Ukraina, negaranya. Padaku ia berkisah bahwa Ukraina sama halnya negara lain juga bermasalah dengan korupsi. Ada orang juga yang bilang, kalau dia memberantas korupsi namun ia sendiri korupsi.

Dari percakapannya kemudian, dan percakapan yang terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya baik pagi, siang maupun malam dapatlah kuceriterakan sebagai berikut.

Dmitri adalah dari keluarga yang berantakan. Orang tuanya bercerai. Aku lupa kapan persisnya orang tuanya bercerai. Seingatku ia mengatakan ketika ia masih terhitung anak-anak. Tapi walau begitu, ia tetap berhubungan baik dengan ayahnya, dan sering melakukan komunikasi. Ketika kutanya apa pekerjaan Ibunya, ia agak sukar mendeskripsikan. Padaku ia mengatakan, dan mungkin aku salah tangkap, bahwa ibunya bekerja mempersiapkan ayam. Mungkin yang dimaksudnya adalah bahwa ibunya bekerja di pemotongan ayam? mungkin benar, mungkin tidak. Tapi yang pasti, ia mengatakan bahwa ibunya bekerja keras. “Kau harus membahagiakannya”, kubilang padanya. Dan Dmitri membenarkan. Katanya, ia juga sering memberi Ibunya uang, tapi Ibunya seperti orang yang tak butuh uang lagi.

Ia sangat gemar olah raga, dan oleh karenanya tidak merokok. Ketika kamar mandi kami mampat selama empat hari, ia tak merasa terganggu karena telah terbiasa mandi di kamar mandi sport centre di kampus kami. Padaku ia mengatakan bahwa gajinya sebagai dosen di Ukraina amat kecil. Ini kuketahui ketika ia bertanya padaku berapa perbandinga gaji yang kuterima sebagai dosen di Indonesia. Setelah mendengar jawabanku, ia memberi angka yang ternyata jauh di bawahku. Sangat kecil. Akan tetapi, ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Ukraina yang cukup besar.

Hari-hari selanjutnya ia, Dmitri menjadi kawan paling akrab di rumah kos ini. Perjumpaan kami selalu terjadi di satu tempat: dapur, ketika kami sama mempersiapkan sarapan atau makan malam. Dan bahan makanannya tetaplah berputar setidaknya tiga hal: sosis, telur rebus tiga butir dan kentang. Ada kadang kulihat ia mengolah sardin yang dibuka begitu saja dari kalengnya tanpa dimasak dan memakannya dengan kentang rebus yang sudah dihaluslembutkan. Sering pula dengan tomat yang ia katakan cukup murah dibandingkan dengan harga jual di Ukraina. Cukup sering ia meracik makanan semacam itu, dan tak membuatku berselera. Dan ketika pada akhirnya ia kembali ke negaranya awal April lalu, akupun kembali merasa sepi.

Nijmegen, Akhir Februari hingga 10 April 2012

Advertisements