Kisah dari Paris Austerlitz

Pagi ini sampai jugalah diri ini di Paris setelah menempuh perjalanan tak kurang dari enam jam dari Eindhoven. Ibukota Perancis ini masih diselimuti gelap sisa malam hari ketika bis Eurolines yang kutumpangi mulai memasuki wilayah kota, sekitar jam 6 pagi. Lampu-lampu penerang jalan masih dinyalakan. Dingin pagi negeri asal Rousseau dan Descartes yang secara resmi masih berada di musim dingin tak begitu terasa menggigit. Mungkin karena aku memakai baju, sweater, long john, dan jaket anti angin sekaligus. Taksiranku suhu pagi ini hanya sekitar lima atau enam derajat. Tak banyak yang kutahu dan kulihat dari perjalanan menuju Paris ini, karena Eindhoven kutinggalkan lewat jam 12 malam, ketika hari sudah memasuki 17 Maret 2012.

Menurut tiket, bis yang kutumpangi ini harusnya telah datang pada jam 23:55 hari sebelumnya. Dan aku sudah menunggu di sana setidaknya sejam sebelumnya sejak keretaku dari Nijmegen tiba jam sekira setengah sebelas malam. Menunggu di dinginnya malam dan angin yang bertiup sudah barang tentu tidaklah menyenangkan, bahkan menyiksa. Sempat aku kembali ke dalam stasiun dan duduk di sana menghabiskan waktu. Suhu di stasiun lebih hangat dan dengan sendirinya lebih bersahabat daripada di bus stop Central Station Eindhoven. Dan ketika ku menanti di dalam stasiun, duduk di dekat anak tangga waktu itulah, seorang lelaki tua yang membawa sepedanya ke arah dalam setasiun memandangiku. Ia terus berjalan menuntun sepedanya, tapi kemudian berbalik. Ia, lelaki itu umurnya kutaksir sudah lebih dari limapuh tahun. Jaketnya tak begitu bagus, tak bisa kubilang kumal. Sepedanya juga bukan sepeda bagus. Kesanku padanya, ia adalah seorang homeless. Rambutnya hitam keputihan, dan ada memakai kacamata. Cukup tebal. Padaku ia bertanya dari mana asalku, dan kujawab bahwa aku dari Indonesia. Cara ia berbicara memberitahuku: ia ada menderita gangguan syaraf. Lidahnya tak terkendali keluar dan kepalanya bergerak aneh. Tapi ia bukannya gila. Ia waras, setidaknya dalam perhitunganku sendiri. Ia kemudian mengatakan bahwa ia lahir di Bandung, tapi sama sekali tak tahu soal Bandung. Namanya Ron. Nama lengkapnya aku tak menanyakan lebih jauh. Tapi ia menjelaskan bahwa ia punya nama Spanyol dan punya nama Jerman. Bagaimanakah itu bisa terjadi, aku tak tahu. Aku tak punya bekal pengetahuan soal penamaan. Ron berkisah, bahwa orang tuanya berimigrasi ke Belanda ketika ia masih umur dua tahun. “Aku tak bisa mengingat apa-apa. Terlalu kecil untuk mengingat”, katanya. “Pernah ke Indonesia?” demikian kutanyakan, dan ia menjawab tidak. Terlalu mahal, katanya. Ia bertanya lagi apakah aku seorang Kristiani, dan kujawab, aku adalah muslim. Waarom? Tanyaku. Aku lupa apa jawabnya. Ron kemudian berkata bahwa dia harus pulang. God bless you, katanya. God bless you too, Ron, jawabku sambil kulambaikan tangan. Dan tak lama kemudian aku keluar stasiun untuk duduk kembali di pemberhentian bus, kembali berdingin-dingin hingga bis yang kunanti itu datanglah, membawaku pergi. Aku, dan serombongan muda mudi entah dari Sri Lanka entah India yang sebelumnya sambil menunggu bis datang bernyanyi nyanyi gembira mengikuti lagu berbahasa India yang diputar dari telpon genggam salah satu dari mereka.

Menempuh enam jam perjalanan dengan bis yang cukup nyaman sebenarnya bukan perkara besar buatku. Di Jawa, dalam tempo yang lebih kurang sama, setidaknya dua kali dalam setiap minggunya aku bepergian dengan bis dengan kondisi yang tak bisa dikatakan bagus. Lantai bus yang berlubang di sana sini, dan asap kendaraan masuk ke dalamnya, belum lagi asap rokok dari orang yang bisa merokok di dalam bis. Sungguh berbanding terbalik dengan bis Eurolines ini. Ketika para penumpang masuk, crew menunjukkan simbol simbol larangan antaranya laranagn merokok dan minum minuman keras yang sekaligus dengannya para penumpang dianggap tahu hak dan kewajiban pengangkutan ini. Dengan ongkos 36 euro sekali jalan, enam jam Eindhoven-Paris kulewatkan dengan tidur nyenyak di sepanjang perjalanan. Agak terganggu awalnya ketika pada awalnya serombongan orang India yang duduk di bangku depanku mengobrol dan tertawa-tawa. Kupikir mereka tak punya etika, karena saat istirahat seharusnya mereka tahu untuk menutup mulut. Tapi akhirnya mereka toh sama juga dengan aku dan penumpang lain: jatuh lelap dalam tidurnya.

Duduk di sebelahku adalah perempuan blonde. Usianya kukira masih di bawahku. Ketika aku duduk ia tak memberi senyum, hanya menyingkirkan barang barangnya yang ada di kursi kosong tempatku bakal duduk. Di keremangan dan tengah malam, memang tak ada guna mengharapkan teman mengobrol, dan aku sendiripun sudah cukup mengantuk. Seingatku dua kali aku terbangun, ketika awak bus mengumumkan bahwa kami bisa keluar beristirahat atau menggunakan toilet. Dari amatanku, saat itu sudah memasuki Belgia. Si blonde dengan bahasa tubuh dan sorot matanya meminta jalan untuk turun. Dan aku berdiri memberinya jalan. Ketika bis berhenti lagi beberapa jam kemudian, ia tak turun. Dan aku untuk kedua kalinya tak turun.

Bis mengakhiri perjalanannya di Terminal Bus Internasional Gallieni. Agak bingung juga memahami berbagai petunjuk arah, akan tetapi akhirnya kutemukan juga informasi dimana aku bisa bertanya. Petugas mengatakan agar aku mengambil bis nomor 76 dan kemudian berganti nomor 91. Dengan mesin tiket kumasukkan satu keping uang logam nominal 2 euro, dan keluarlah selembar karcis bersama kembaliannya. Tak harus menunggu sampai sepuluh menit, bis yang kunanti datanglah. Pada crew bis aku minta diturunkan di halte bus sesuai dengan petunjuk petugas informasi di Gallieni. Bus yang kutumpangi adalah bus kota, tak begitu penuh. Mungkin karena pagi hari dan lagipun hari Sabtu. Sampai di Austerlitz, suasana stasiun tak begitu ramai. Dari pembacaanku, Perancis memang dibagi beberapa setasiun, dan tiap stasiun memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Dari layar informasi, kubaca jurusan Mountlucon tujuanku, baru akan berangkat pukul 12:29. Alangkah lamanya. Aku mengeluh. Belanda tidak seperti ini. Hampir semua tujuan ada waktu pemberangkatannya dalam satu jam. Mungkin karena Belandajauh lebih kecil dari Perancis, atau sistem perkeretaapian di Belanda yang lebih bagus? Dan kubeli juga tiket itu, ke Montlucon. Empat puluh empat euro.Tiket kelas dua, yang termurah kata petugas ticketing.

Menghabiskan waktu berjam di setasiun sudah barang tentu hal yang tak menarik dan membosankan. Pada awalnya aku melihat-lihat kereta api yang tengah diparkir. Lokomotifnya tampak bukan lokomotif baru. Kusam. Dibanding dengan kereta di Belanda, nampaknya kereta di Perancis ini kalah baik, Stasiun Austerlitz ini juga menjadi tempat pemberhentian dan pemberangkatan metro, kereta komuter. Bosan di setasiun, aku memutuskan untuk membunuh waktu dan berjalan-jalan di sekitar kota. Berat tentu saja membawa dua tas ransel ini. Satu ransel berisi pesanan kawananku Pita: laos, beberapa bungkus mie instan, dan juga tempe yang kubeli dari Belanda. Dan satu adalah ransel berisi keperluanku sendiri berisi laptop, sekedar pakaian ganti dan sarung. Aku teringat pernah menitipkan ba
rang bawaan di Stasiun Tugu, Yogya, dan terpikir untuk melakukan hal yang sama: menitipkan ranselku yang berat ini di locker stasiun. Bertanyalah aku pada petugas di ruang informasi dan sekuriti yang menunjukkan arah yang sama, keluar dari stasiun ke arah kanan dan sampailah aku ke tempat penitipan barang. Tapi segera saja kuurungkan demi membaca ongkos penitipan yang 5 euro sendiri untuk barang kecil. Akupun berjalan keluar dan mengitari setasiun Austerlitz hingga menemukan pintu masuk utamanya, kembali lagi memasuki stasiun dan kembali ke ruang tunggu. Dan di situlah muncul ide untuk meninggalkan saja tas ranselku di ruang tunggu. Pikirku, pastilah akan dikira tas orang yang tengah menunggu kereta datang dan tak akan hilang nantinya. Aku memastikan kembali apa isi ransel itu: benar-benar hanya makanan titipan Pita, makanan belaka. Kalaupun hilang, aku tak perlu merasa rugi.

Dan pergilah aku ke luar stasiun. Terbentang jembatan kereta api tua yang melintasi sungai untuk akhirnya berujung pada stasiun Austerlitz. Indah ketika kereta metro melintas di atasnya, dan segera saja pemandangan itu menjadi satu dari sekian banyak foto yang kuambil di daerah itu. Aku terus berjalan, menyeberang jalan untuk kemudian melintasi Pont Charles-de-Gaulle, jembatan yang menggunakan nama Charles de Gaulle, seorang jenderal dan pendiri Republik Ke Lima Perancis, dan pernah menjabat Presiden Perancis selama sepuluh tahun dari 1959 hingga 1969. Panjang jembatan itu 270 meter dan lebar 35 meter. Pada masing masing ujung jembatan terpahat tahun 1993-1996. Tiga tahun pengerjaannya, dan itu tahun tahun ketika aku sedang menempuh studi sarjana di Purwokerto. Aku terus berjalan menuju kota. Pikiranku sebenarnya satu: melihat menara Eiffel. Akan tetapiaku tahu apakah menara itu jauh atau dekat dan aku tak mau ketinggalan kereta api jam 12 nantinya yang tak saja berarti akan hanguslah tiket 44 euro itu tapi juga aku harus menunggu sampai esok hari, karena itulah satu-satunya kereta ke Montlucon yang tersisa hari itu. Hingga akhirnya aku putuskan untuk melihat-lihat kota saja sejauh yang kurasa tak melelahkan. Ada kulihat terpampang arah Ke Bastille, benteng bersejarah simbol berakhirnya kekuasaan despotik itu. Namun aku tak tahu kemana harus melangkah. Aku harus berhemat tenaga, karena rasa capai dan dera dingin sejak semalam belum juga hilang.

Kembali ke setasiun, aku segera menuju ke waiting room. Kaget rasa di hati mengetahui tas ransel yang kutinggal tak ada lagi. Apakah ada yang mengambilnya? Kalaupun iya, aku memang sudah mencadangkan hati untuk tak begitu merasa rugi. Di dalamnya hanya makanan. Tapi sekalipun makanan aku juga akan berhutang pada Pita, karena di dalamnya ada daun salam titipannya, dan tempe dan juga laos di dalamnya. Siapa tahu diamankan petugas? Maka aku menuju ke meja informasi, bertanya dalam Inggris, dan seorang petugas perempuan dengan cepat menukas sambil mengibas kedua tangannya “No English”. Agak berbeda dengan petugas perempuan kulit hitam yang tadi pagi kutanyai, dan ia mampu berbahasa Inggris. Memang, sudah menjadi rahasia umum kalau orang Perancis tak bicara bahasa Inggris dan merasa tak perlu berbahasa Inggris. Bukankah Bahasa Perancis juga adalah bahasa Internasional? Seorang perempuan yang juga berurusan dengan meja informasi berbaik hati menanyakan padaku apa masalahku dan kukatakan padanya, bahwa aku kehilangan ransel.Tadi kutinggal di sana, dan kini sudah tak ada lagi. Apa yang kuceritakan seketika itu disampaikan padanya pada petugas informasi yang nampaknya segera paham apa yang menjadi perkaraku. Mereka telah mengamankan tasku, dan salah seorang dari mereka mengatakan it is prohohibited to do that. Petugas menasihatiku bahwa aku lucky, karena bisa jadi tas itu berisi sesuatu yang bisa meledak. Maksudnya tentu apa lagi kalau aku tidak diperkarakan karena tas itu. Tas berisi barang barang remeh itupun kambali ke tanganku. Ada terpikir juga apa yang ada di benak mereka ketika memeriksanya dan mengetahui isinya: tiga potong tempe, sebungkus tas plastik isi daun salam dari Temanggung, beberapa bungkus mie instan, laos, daan juga buah kiwi. Sisa waktu jelang keberangkatan kereta api aku habiskan di ruang tunggu itu kembali, sambil memandangi lelaki yang kutaksir umur 30an, yang entah gila entah mabuk entah gangguan saraf meracau sendiri di bangku tunggu setasiun, seolah berbicara dengan sungguh pada seseorang, sambil memberi makan burung-burung merpati dengan roti bawaannya.

Stasiun Paris Austerlitz – La Chapelaude 17-18 Maret 2012

 

ampiHam

Advertisements

2 thoughts on “Kisah dari Paris Austerlitz

  1. gambarpacul said: nek isine barang2 mencurigakan semacem elektronik kayane rika di interogasi habis2an kayane luh…..

    lah iya, aku mbayangna kaya ngapa pas mbuka ana tempe telung ler, terus indome, godong godongan se kresek.

Comments are closed.