Hal Ikhwal Kegaiban

Aku adalah orang Jawa. Dan sebagai manusia Jawa yang tumbuh dalam atmosfir Jawa, aku mengerti dan secara langsung maupun tak langsung mempelajari perihal kegaiban sejak masih kanak. Nama-nama seperti gendruwo,wewe, sundel bolong, bujungan (pocong), kesurupan, kelebon, demit dan aneka macam istilah lainnya kuserap sejak keci berseiring aku mempelajari segala sesuatu mengenai dunia. Kemengertian dan pengetahuan itu bukan suatu keistimewaan melainkan hal biasa karena kebanyakan orang Indonesia pada umumnya pula sedikit banyak sama denganku, mengenal adanya dimensi lain dalam kehidupan ini sejak awal-awal hidupnya. Mempelajari yang kumaksud adalah dalam arti menjadi mengerti, menjadi manusia yang sadar untuk kemudian sedikit banyak meyakini akan hal-hal mistik dan pelbagai fenomena lainnya yang ora tinemu nalar (tidak masuk akal). Cornelis van Vollenhoven, ahli mengenai masyarakat adat dari Leiden pernah mengatakan bahwa karakteristik manusia Indonesia adalah magis-religius. Keagamaan dan kemagis-an adalah bagian hidup sehari-hari bangsa nusantara ini. Walau sudah berpendidikan tinggi, walau dibesarkan di era Facebook,Twitter dan iPad tetap saja orang Indonesia merasa takut pula melewati kuburan, bepergian malam, melewati daerah-daerah tertentu seperti jembatan dan pohon besar, memasuki rumah tua, suatu rasa takut yang disebabkan bukan karena sunyi dan gelap itu sendiri, akan tetapi takut akan hantu, setan, dan sebangsanya. Aku sendiri tidak menguasai ilmu gaib dalam arti mampu melihat mahluk halus atau aneka macam kekuatan supranatural lainnya. Aku, malahan berkecenderungan untuk menjadi penakut soal ini.
Kembali pada kegaiban, pengetahuan berkaitan dengan persoalan ini kudapat dari banyak sumber dalam perjalanan waktu hidupku. Mendengarkan kisah dari orang, kawan, sanak keluarga, atau isteriku sendiri adalah sumber pengetahuan yang utama. Menginap di rumah kawanku di Parung Bogor November tahun lalu misalnya, ia menceritakan bahwa tak ada kawannya yang betah tidur di kamarku tidur malam itu karena terganggu oleh suara suara aneh. Memasuki sebuah kamar kawanku yang lain ketika aku SMA, aku diberitahu akan adanya penunggu di kamarnya, mahluk halus dari golongan jin. Di kampung isteriku di Soropadan, Temanggung ada suatu bukit yang dipercaya berpenghuni mahluk lain. Di bukit itu konon pernah ada seorang tentara yang hilang ketika tengah berlatih (berlatih apa aku tak tahu, mungkin juga tak sepenuhnya benar akibat deviasi informasi), dan mayatnya baru ditemukan di daerah Kali Bening, sekitar lima kilometer dari desa itu. Konon, di bukit yang terletak di desa isteriku itu terdapat sungai bawah tanah yang dipercaya orang muncul bermata air di Kali Bening. Kolam renang Kali Bening yang masuk dalam wilayah Payaman, Magelang itu juga memiliki kisah angkernya tersendiri. Alkisah, ada orang yang tenggelam akan tetapi mayatnya tak dapat ditemukan. Setelah sekian lama dicari, barulah orang menjumpai jasadnya di saluran pembuangan yang berada di luar kolam renang. Sudah tentu hal itu membuat orang bertanya: bagaimana si mayat bisa berada di luar kolam tanpa harus lebih dahulu keluar dari kolam, sedangkan saluran pembuangan kolam hanyalah lubang yang tak besar? Apapun jawabannya, demi mendengar kisah itupun aku berhati-hati jika berenang di sana. Berhati-hati, karena aku tak mau jadi korban seperti itu. Berhati-hati, karena aku mempercayai akan kebenaran kisah itu.
Dan 2010 lalu ketika bersama Theo, kawanku dari Belanda mengunjungi kawah Dieng, Wonosobo, menjadi gentarlah hati ini demi mendengar kisah dari penjual kopi panas dan aneka gorengan yang menggelar dagangannya di sekitar kawah. Entah siapa yang mulai menanyakan, tapi perempuan tua penjual gorengan itu berkisah bahwa kalau orang melihat binatang di daerah itu semisal kelinci atau kambing (atau mungkin juga binatang lainnya), maka itu berarti kematian telah mendekatinya.Hal ini karena di daerah kawah Sikidang itu tak ada binatang-binatang itu dalam kenyataannya. Sudah tentu tidak ada data statistik soal itu, namun masyarakat mempercayai kisah itu dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Dan karena kisah itu, sepanjang perjalanan pulang mataku hanya memandang ke lantai mobil sambil mengalihkan perhatian dengan turut berbincang dan tertawa-tawa dengan kawan seperjalanan, bincang dan tawa yang kuingat benar tak mampu sungguh-sungguh menghilangkan rasa takut di hati. Aku tak mau sampai mataku melihat binatang di ladang penduduk. Aku tak mau melihat tanda kematian itu. Dan ketika mobil sudah memasuki daerah yang lebih landai, yang sudah jauh dari daerah kawah barulah aku berani melihat pemandangan di luar.
Kisah lain lagi? Ketika aku kecil, akrablah aku dengan salah satu pegawai tata usaha di SMA tempat Bapak bertugas sebagai kepala sekolah. Ia, buatku adalah perempuan yang menyenangkan dan sering menyapa dan mengajakku bergurau. Aku lupa namanya tapi seingatku wajah dan penampilannya cukup lumayan. Suatu hari aku mendengar kabar yang mengagetkan itu: kematiannya. Mati bukan karena sakit, melainkan karena bunuh diri dengan cara menggantung diri di rumahnya. Ini kuketahui agak lama setelah ia dimakamkan. Yang pasti aku ikut datang ke rumah duka bersama Bapak dan mengantar sampai ke kuburan, akan tetapi penyebab kematiannya baru aku ketahui agak berapa lama setelah ia mulai dilupakan: ia hamil, dan si pacar tak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Cukup menjadi rahasia umum di lingkungan karyawan sekolah, bahwa arwahnya sering terlihat berdiri di sekitar ruang tata usaha sekolah. Dan pada umumnya, orang percaya kalau mereka yang mati dengan cara-cara tidak wajar biasanya akan sukar menemukan jalan ke keabadian. Arwah penasaran, roh gentayangan.
Pengetahuan dan aneka kisah soal kegaiban, dunia misteri, alam halus juga banyak kudengar dari para tamu Bapakku, para kasepuhan [orang tua, paranormal] . Saat mereka datang ke rumah kami dan mengobrol di teras rumah dinas kami, aku yang masih kecil menyerap banyak informasi dari pembicaraan mereka. Mereka yang datang adalah tiga sekawan “orang pintar”, begitu orang merujuk pada orang yang memiliki kemampuan indra ke-enam yang berkaitan dengan kegaiban. Sudah tentu, kedatangan mereka tidak semata membicarakan hal-hal itu. Mereka juga berbincang soal politik dan tentu saja pendidikan. Dua diantara mereka adalah guru sekolah menengah, sama dengan Bapak. Hanya satu yang bukan.
Televisi, film, berbagai kisah keagaman serta aneka macam sumber lainnya menjadikan perihal kegaiban, mistik, dan lain-lain dunia mahluk halus yang tak terlihat adalah bagian dari hidupku, walau aku sendiri tak pernah tahu seperti apa rupanya hantu, setan, dan lain-lain yang tak terlihat itu. Ketika aku masih SD, ada aku dengar sandiwara radio yang aku lupa judulnya, akan tetapi berkisah soal arwah penasaran: seorang ibu yang dipenggal kepalanya oleh anaknya sendiri bernama Trinil. Kepalanya itu, kalaulah tak salah ingat dipendam di bawah tempat tidur, dan arwah si ibu memanggil-manggil “trinil, balekno gembungku trinil…balekno…balekno ya nduk ya” (Trinil, kembalikan perutku, kembalikan ya nak ya). Lain lagi? Ketika aku SMA dan mahasiswa, aku sering membaca aneka kisah gaib dari majalah Liberty yang ada di rumah nenek. Kakak iparku di Jakarta berlangganan
majalah Misteri, majalah khusus supranatural yang juga banyak kubacai ketika aku remaja dan beranjak dewasa. Keluarga kami berlangganan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, sebuah majalah terbitan Surabaya. Salah satu rubrik yang kuminati semasa ku kecil adalah Alaming Lelembut (Alam Lembut, alam gaib). Berbagai kisah misteri, seram diceritakan di sana dengan menarik, tentu dalam bahasa Jawa. Ada yang terkesan dibuat-buat, tapi banyak pula yang membuatku sukar menolak untuk tak percaya.
Pernah aku sakit, dan dipercaya karena aku diganggu oleh makhluk halus yang juga berrnama sama denganku. Sang penyembuh, yang tak lain adalah bekas guru dimana Bapakku pernah menjadi kepala sekolah di Purbalingga paruh akhir 1970-an mengatakan hal itu. Lebih dari sepuluh tahun sebelum tulisan ini kutulis, rumah kami tiba tiba didatangi oleh warga kampung yang tak jauh dari kompleks pemukiman dimana aku tinggal di Berkoh, Purwokerto. Mereka berteriak teriak sambil membunyikan kentongan dan menyalakan obor. Itu terjadi sekitar pukul tiga dinihari, membuat kami penghuni rumah menjadi kaget dan bertanya-tanya. Ternyata mereka sedang mencari seorang anak kampung yang hilang karena dilarikan oleh wewe, hantu perempuan yang dipercaya suka membawa kabur anak manusia dan dibawa ke pepohonan tinggi. Menurut terawangan tokoh masyarakat, si anak itu dibawa oleh si wewe ke rumpunan pohon bambu di kebun rumah kami yang memanglah luas. Perihal rumah kami yang luas, rimbun dipenuhi pepohonan sendiri banyakklah cerita yang bisa dituliskan. Antara lain adalah kisah beberapa orang tamu, kenalan, kerabat yang mengaku melihat penampakan mahluk halus dalam aneka bentuknya di rumah kami. Aku sendiri, tak pernah melihatnya. Tapi kalaulah mereka memang ada, aku kira mereka tak akan menggangguku. Mereka hidup dengan kami.
Seperti tadi telah kutulis, hal-hal soal arwah, demit, setan dan lain-lainnya cukup kerap kudengar dari Bapak dan kawan-kawannya. Bapakku sendiri adalah orang Jawa dengan kepercayaan akan kegaiban yang amat besar. Ia lebih kepada penganut kepercayaan terhadap Tuhan, dan bukan agama modern, walau di berbagai dokumen ia tertulis sebagai Islam. Dari kisahnya pada kami anak-anaknya, ia cukup sering melihat hal-hal aneh untuk ukuran nalar normal seperti itu. Satu ceritanya yang kuingat adalah betapa ia merasa penasaran demi mendengar adanya makhluk halus berjenis raksasa yang konon menjadi penghuni SMA Negeri Purbalingga. Mungkin kala itu ia baru saja ditugaskan di sana setelah sebelumnya hanya menjadi guru biasa di Solo. Bapakku, entah dalam hati entah terucap secara lisan seakan menantang agar sang raksasa keluar agar ia benar benar percaya keberadaannya. Dan memang benar setelah hal itu terucap (entah dalam hati atau mulut Bapak) muncullah dengan sekonyong-konyong sosok mahluk super besar yang melangkahi gedung sekolah. Teramat besar hingga Bapak merasa ketakutan. Kisah lainnya adalah ketika ia kerap bepergian pulang pergi Purwokerto-Semarang. Dalam suatu perjalanan pulang, ia merasakan dikuntit oleh seorang perempuan yang cantik, hingga ke rumah. Ketika itu dikonsultasikan pada kawannya seorang paranormal, diketahui bahwa sang putri cantik itu adalah ratu makhluk halus di jalanan Sokaraja. Kisah lain? Bapak mengalami kecelakaan bersama kawannya di jalan raya Sokaraja. Peristiwa itu terjadi ketika kami belum pindah ke Purwokerto, sehingga kira-kira terjadi sebelum tahun 1982. Mobil yang ditumpangi bersama koleganya, bekas kepala sekolah yang digantikannya menabrak pohon dengan kencang. Penyebabnya, adalah karena sang pengemudi yang tak lain adalah putra teman Bapak itu hendak mengambil sandal sambil terus mengemudi. Konon karena satu dan lain hal, ia salah menginjak gas dan salah satu pohon besar di Sokaraja itu dihantamnya. Bapak luka-luka, dan kawannya meninggal dunia seketika karena terjepit. Di Rumah Sakit Umum Purwokerto (masih terbayang dalam ingatanku rupa gedungnya yang kini telah tiada itu), ia melihat kawannya itu terbang melayang dengan rupa seperti monyet. Setelah ditanyakan pada sahabatnya yang lain yang mengerti hal kegaiban, dikatakan bahwa hal itu karena teman bapak yang meninggal itu pernah punya perjanjian keramat dengan para penunggu Gunung Kawi. Gunung Kawi, dalam kepercayaan masyarakat Jawa sudah dikenal sebagai tempat orang melakukan perjanjian keramat, pesugihan, dan lain-lain yang berkaitan dengan dunia lain.
Kalau aku bercerita mengenai teman Bapak, maka yang aku maksud itu bukanlah satu, melainkan ada beberapa.Yang terdekat adalah Pak W, seorang peranakan Jawa dan Sumatera. Dari berbagai kisah yang kudengar dari Bapak atau dari dirinya sendiri yang kucuri dengar atau pernah ia katakan sendiri padaku, aku dapat menceriterakan sebagai berikut:
Sejak kecil, ia telah mengenal hal di luar nalar manusia, berinteraksi dengan dunia lain. Ia sering diadu, disuruh berkelahi melawan demit dan mahluk-mahluk halus lainnya. Seperti apa bentuk perkelahiannya tentu aku tak tahu benar, apakah seperti orang bersilat, atau hanya secara imajiner. Dengan Bapak, hubungannya memang tidak formal, dalam arti ketika Bapakku masih menjabat kepala sekolah, ia menjadi semacam ajudan tak resmi, sopir tak resmi. Ia bukan karyawan sekolah, dan juga bukan pegawai negeri di sekolah negeri Bapak. Yang pasti, ia akan menyetir untuk bapak ke Semarang, dan ia mendapat upah dari Bapak. Sering pula ia menjadi sopir keluarga jika kami berlebaran di rumah kakek nenek di Surabaya. Dalam suatu perjalanan ke Semarang, ia merasa amat lelah dan oleh karenanya meminta ijin pada Bapak untuk tidur. Katanya ia akan dibantu oleh mahluk gaib sehingga Bapak tak perlu khawatir. Dan benar, ia memang seperti kata bapakku menyetir dalam keadaan tertidur. Lain lagi, ia pernah bertanya pada bapakku akan suatu nama tumbuhan dalam bahasa latin. Pertanyaan ini diajukan ketika mereka berdua tengah menempuh perjalanan dinas ke Semarang. Bapak mempunyai latar belakang pendidikan Biologi, dan entah Bapak tahu atau tidak nama tumbuhan yang dimaksud, akan tetapi yang pasti Bapak tahu itu nama latin suatu tanaman. Ternyata nama dalam bahasa latin yang merupakan obat untuk suatu penyakit. Aku tak tahu siapa yang sakit kala itu, tapi bahwa mereka, mahluk gaib mengenal nama latin tentu suatu keanehan sendiri. Bahasa asing ternyata juga dimiliki mereka mahluk non fisik, sebagaimana ditegaskan oleh Pak W ini. Ia mengatakan, sering didatangi mahluk gaib dari lain negara, dan mereka masing masing juga menggunakan bahasa sendiri. Dan untuk ini tentu perlu penerjemah yang juga adalah mahluk halus itu.
Ada pula suatu saat dia berkunjung ke rumah kami, dan menceriterakan bahwa ia baru saja menghadiri suatu pertemuan di dalam Gunung Merapi. Konon, para mahluk gaib juga melakukan semacam rembug nasional membahas gonjang ganjing politik di tanah air. Di lain kisah, ia pernah membantu seorang anak yang kemasukan roh halus Karenanya, si anak menjadi rakus dan bisa menghabiskan berbakul nasi dalam sekali makan. Juga bagaimana ketika ia menolong seorang anak rekannya sesama paranormal. Si anak menemukan uang limaratus rupiah sepulang sekolah, dan ternyata uang itu bukan uang sembarangan, melainkan bagian dari ilmu gelap. Si anak itu sakit, dan usut punya usut, sumbernya ada di Bengawan Solo. Maka didatangilah sumber itu, dan dilemparkan uang yang sama sebagai ganti ke bawah sungai. Dan belum sampai uang menyentuh air sungai, ia telah disambar seekor ular yang sekonyong-konyong muncul dari dalam sungai. Anak yang sakit itupun sembuh.
Jika harus mengingat banyak peristiwa gaib seperti yang telah kutulis di atas, sudah tentu akan banyak yang harus aku tuliskan. Namun yang pasti, aku mensikapi hal ikhwal kegaiban itu dengan tiada berlebihan.Dari keyakinan agamaku, aku pula meyakini bahwa mahluk halus, dunia lain itu ada.
Al Qur’an, kitab suci umat Islam mengatakan bahwa Tuhan menciptakan mahluk dalam dua jenis: jin dan manusia. Maka meyakini akan adanya mahluk dan dimensi lain yang tak terlihat adalah suatu kewajiban agama bagiku. Aku menerimanya, mempercayainya karena percaya bahwa Tuhan tak saja mencipta mahluk berfisik materi, namun pula mahluk imateri. Bagiku, mahluk halus itu seperti binatang. Sebagai manusia, kita adalah sebaik-baik dan semulia makhluk di hadapan Tuhan, akan tetapi sebagaimana terhadap ular maupun harimau, jika kita tak berhati-hati dalam menghadapinya atau malahan mengganggunya bisa kita jadi akan celaka.
La Chapelaude, 21-23 March 2012
Photo : Makam tua di Les Landes, France
Advertisements

2 thoughts on “Hal Ikhwal Kegaiban

Comments are closed.