Tentang Hantu Perempuan Berbaju Putih dan Salib di Bawah Pohon

466169_10150642541873823_1125630838_oBeberapa malam lalu, jelang tengah malam kuhabiskan mengobrol dengan Pita. Aku lupa apa saja topik yang kami bicarakan dalam bahasa Jawa Banyumasan di kala mata sudah mengantuk ditengah dingin malam winter Perancis yang segera akan berakhir. Yang pasti kebanyakan bahan pembicaraan kami adalah soal kawan-kawan lama semasa SMP di Purwokerto. Ada sebagian yang tak pernah kami jumpai, ada yang tetap menjadi kawan semasa SMA dan bahkan kuliah. Tak punya bahan lain untuk dibicarakan aku bertanya apakah Thiery suaminya yang orang Perancis itu percaya akan hantu, setan, dan lain-lain seperti umumnya orang timur seperti aku?. Pertanyaan ini kuajukan karena aku melihat bahkan agama sekalipun sudah tak menjadi hal yang menarik bagi orang Perancis dan Eropa Barat pada umumnya. Perancis adalah negeri rasionalisme Descarte. Aku berfikir maka aku ada. I am thinking therefore I am. Berfikir, menggunakan rasio, akal adalah hakekat keberadaan manusia. Jika manusia sekedar pasrah dan percaya pada sesuatu yang tak dapat dicari pembenarannya oleh nalar, maka telah hilanglah hakekat seseorang sebagai manusia. Pita mengatakan bahwa Thiery tidak percaya hal begitu. Padaku ia berkata, bahwa ketika berkunjung ke Indonesia dan menyaksikan aneka reality show suaminya itu bahkan mengatakan ingin menjajal nyali dalam pembuatan serial semacam itu. Namun dengan catatan ia memang benar-benar akan melihat hantu, setan, demit, atau apalah makhluk gaib yang dimaksud, baru ia akan percaya.

Tak jauh dari rumah Pita, berjalan kaki tak sampai lima menit akan sampailah kita di Egle La Chapelaude, sebuah gereja tua. Rumah ibadah nampak sepi dan merana, tanpa kehangatan tubuh umat dan doa-doa yang menggemai. Pita mengatakan padaku bahwa gereja itu masih difungsikan, namun yang mengikuti kebaktian hanya segelintir orang, tak sampai sepuluh, bahkan tak sampai lima, dan terbatas hanya orang tua. Di luar kegiatan keagamaan seperti misa, gereja itu juga tetap digunakan akan tetapi hanya sebatas untuk seremoni seperti orang menikah atau jika ada kematian. Bukankah kebanyakan muda mudi Perancis tak lagi beragama tanyaku kemudian. Mengapa mereka tetap menggunakan gereja? Atas pertanyaan ini kawan SMP-ku ini mengatakan bahwa memang si pengantin bisa jadi tak lagi menganut agama, akan tetapi sakramen di gereja itu lebih sebagai bagian dari tradisi atau memenuhi keinginan para orang tua.

Aku bertanya lagi, apakah masyarakat Perancis oleh karenanya tak mempunyai mitos, legenda atau apapun yang berkaitan dengan dunia lain di luar dunia fisik? Kata Pita, masyarakat Perancis bukan sama sekali steril dari kepercayaan-kepercayaan seperti itu. Berkaitan dengan ini ada legenda tentang hantu perempuan yang dijuluki Perempuan Berbaju Putih yang dalam bahasa Perancis disebut sebagai La Dame Blanche. Aku buru-buru menolak ketika Pita hendak menceritakan mengenai hal itu di tengah malam itu. Takut? Harus kukatakan aku memang merasai hal itu. Dan Pita pun kemudian pamit masuk ke kamarnya menyusul Thiery, sementara aku melanjutkan mengetik. Dan ketika aku mengetik itulah, telpon genggamku berbunyi menandakan adanya pesan yang masuk. Dari Pita, dan kalimat pertama yang kubaca adalah “Hantu Perempuan”. Aku menyumpahinya, dan dari balik kamar Pita tertawa. Telepon genggam kuletakkan dan tak lagi kubaca pesannya itu, tapi di saat bersamaan aku berusaha untuk mengingati agar esok hari ketika suasana telah “aman” aku tak lupa membacainya.

Keesokan paginya, ketika hari sudah terang, kubacalah pesan pendeknya itu. Begini ceriteranya: Hantu Perempuan Berbaju Putih. Dinamakan demikian karena konon hantu ini selalu muncul dengan pakaian/baju putih dan berdiri di pinggir jalan. Kata Pita, tetap saja ada sebagian masyarakat percaya, penampakan perempuan berbaju putih ini dan kerap kali pula menjadi bahan tayangan kisah nyata di televisi. Akan tetapi jika seseorang sampai melihat penampakannya sebenarnya itu pertanda keselamatan baginya. Sebagai contoh, jika ketika orang melihat perempuan itu di pinggir jalan, ia akan mengetahui bahwa nun jauh di jalan yang akan dilaluinya akan terjadi kecelakaan, dan ia akan terhindar dari kecelakaan itu. Pendek kata, perempuan berbaju putih ini adalah hantu yang baik. Thiery menambahkan bahwa hantu itu kebanyakan muncul di Perancis Selatan. Ketika ditanyakan padanya apakah ia percaya akan mitos itu, Thiery dengan mantap menjawab “Tidak”. Ia tak percaya karena hantu itu tidak ada, tidak eksis. Setidaknya ia belum pernah melihatnya. Dan keuntungan dari tidak mempercayai hal-hal itu adalah ia tak perlu mempunyai rasa takut yang tak perlu.

Memahami perihal hantu berbaju putih ini, teringatlah aku akan kepercayaan serupa yang diyakini masyarakat di kawasan Kawah Sikidang, Dieng. Berkebalikan dengan kisah hantu berbaju putih ini, konon jika seseorang sampai melihat binatang seperti kambing, kelinci, sapi, dan lain-lainnya, itu tak lain adalah pertanda bahwa kematian orang itu telahlah dekat. Hal itu karena di kawasan Sikidang tak ada hewan-hewan dimaksud.

Kepercayaan lain yang masih ada di kalangan masyarkat Perancis adalah penampakan Bunda Maria (Mother Mary), ibunda dari Yesus. Hal ini kuketahui ketika sore tadi kami meninggalkan Vallon en Sully dalam perjalanan pulang menuju La Chapelaude. Pandangan mataku tertumbuk pada sebuah salib yang berada di bawah pohon di pinggir jalan, terlihat olehku dari tempatku duduk di samping kemudi Thiery. Aku bertanya apakah itu makam/kuburan seseorang? Sempat aku teringat monumen peringatan tempat Cliff Burton, bassist Metallica tewas di Swiss, tapi buru buru aku meralat pikiranku, bahwa ini bukan di Swiss. Pita mengatakan bahwa jika kita melihat adanya salib semacam itu, maka itu bukanlah sebuah makam, akan tetapi sebuah penanda bahwa di daerah itu pernah muncul penampakan Bunda Maria. Ingin aku menanyakan apakah Thiery juga percaya akan penampakan ini, tapi kurasa tak perlu karena rasa-rasanya akupun sudah tahu apa yang akan menjadi jawabnya.

La Chapelaude, 23 March 2012

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Hantu Perempuan Berbaju Putih dan Salib di Bawah Pohon

  1. nunnik said: Mas, mas… kok jadi seneng crita tentang Hun To…?

    ya kan itu pengalaman nyata sehari hari. nah di Perancis yang katanya sumber rasionalisme aja masih ada orang Percaya kok.

  2. 16j42 said: Terimakasih atas sajiannya. Cukup menggelitik. Salam. (AKI)

    Terimakasih Bapak sudah sudi membaca. Ini adalah refleksi atas apa yang disebut Tan Malaka sebagai ‘ketimuran’ yang memang menjadi bagian hidup saya dan banyak manusia nusantara lainnya, sebuah refleksi kemanusiaan timur dan cara berfikirnya yang memanglah tak terhindarkan untuk demikian.

Comments are closed.