Kisah dari Les Landes

475785_10150642508708823_13754503_oRumah itu terletak agak jauh ke dalam dari jalan raya yang membelah Desa Les Landes, sebuah jalan yang dilewati aneka mobil dan juga berbagai kendaraan berat antarkota. Berdiri membisu, sunyi terlihat dari luar, akan tetapi matahari pagi musim semi yang cerah membuatnya terlihat berseri. Bunga-bunga di rerumputan mulai mengembang, mewarnai. Tak ada keramaian di sekitar, senyap sepi seperti dimanapun daerah pedesaan Perancis. Memasuki rumah itu, kita akan menapaki beberapa undakan. Seekor kucing peliharaan tidur bermalasan berjemur sinar matahari pagi, kucing yang nantinya akan bermanja-manja denganku ketika ku duduk di sofa yang empunya rumah. Tak jauh dari rumah itu, dalam jarak sepelemparan mata ada peternakan domba. Pemilik rumah itu adalah Marilyne. Aku sudah mengenalnya beberapa hari sebelumnya di sekolah Alexi, anak sulung Pita. Ia pula yang memberi tumpangan kami kembali dari sekolah setelah mengantar Alexi di pagi yang berhujan gerimis itu. Rambutnya pendek, umurnya 40 tahun. Pembawaannya ramah dengan bahasa tubuh yang ekspresif dan terlihat antusias jika berbicara dengan eye contact yang sepenuhnya, hal yang tak banyak ternampak di wajah perempuan Jawa ketika berbicara. Kedua anak Marilyne dan Pita bersekolah di kompleks sekolah yang sama, hanya saja anak Marilyne yang sulung telah duduk di bangku SD sedangkan yang kecil sama dengan Alexi, masih TK. Hari aku mengunjunginya adalah hari Rabu, hari ketika murid sekolah di Perancis libur. Maka turutlah bersamaku dan Pita itu Alexi, selain Ethan sang balita yang memang belum bersekolah.

Suami Marilyn sedang tak ada di rumah, bekerja. Ada sebuah laptop yang terhubung dengan speaker aktif memainkan musik-musik agak baru yang tak kukenal. Musik digital memang telah menggantikan pemutar musik analog seperti piringan hitam, kaset, dan compact disc. Di dalam rumahnya yang tak kecl namun juga tak terlalu besar itu aku melihat perapian berwarna hitam terbuat dari besi. Kelihatannya masih baru, atau mungkin saja karena terjaga kebersihannya, atau perpaduan keduanya. Lewat Pita Marilyne menjelaskan bahwa perapian itu amat panas, dan panasnya bisa merata ke seluruh ruangan. Hari itu, perapian tak sedang digunakan karena suhu di luar sudah memasuki musim semi dan matahari bersinar hangat. Kata Pita, perapian itu bisa dipesan dan dipasang sekalian. Harga yang disebutkan aku sudah lupa. Persoalan perapian memang menarik perhatianku karena banyak rumah di Perancis masih memakai perapian dengan kayu bakar. Di banyak rumah seperti yang kami saksikan ketika menuju ke rumah Marilyn, terlihat tumpukan kayu bakar yang diletakkan di halaman. Kata Pita, kayu-kayu itu bisa dibeli atau jika orang memiliki pohon-pohonnya sendiri maka bisa memanfaatkan kayu yang tumbuh di sekitar rumahnya. Hal ini berbeda dengan Belanda yang sepanjang pengetahuanku di sana sudah mutlak mengandalkan tenaga listrik untuk penghangat rumah di musim dingin.Tapi aku tak pernah tinggal di pedesaan Belanda, mungkin saja aku salah dalam hal ini.

478782_10150642519678823_589346301_oSetelah minum kopi yang dibikin oleh Marilyne yang ternyata bukan peminim kopi itu, kami pun kembali berjalan pulang. Lewat Pita, ia menjanjikan akan membuat masakan untukku dan aku berterimakasih padanya. Kami berpisahan menempelkan pipi, juga terhadap kedua anaknya, berjalan ke luar dan melambaikan tangan, mengucapkan salam dalam Perancis. Pita mengajak untuk ke tetangga Marilyne yang juga dikenalnya, akan tetapi walau kami sudah mengetuk pintu, nampaknya si empunya rumah tak kunjung keluar, dan kamipun memutuskan untuk pulang, berjalan menyusuri jalan kecil yang tadi kami lalui untuk kemudian menyeberang jalan raya dan melewati makam tua desa Les Landes yang berdampingan dengan desa La Chapelaude. Makam itu nampak sunyi dengan nisan-nisan berbentuk salib yang tinggi dan besar-besar menjulang. Diterpa sinar matahari dan sejuk hawa segar kumpulan nisan itu tetap bisu bermandi matahari menatap birunya langit . Aku tak begitu lama memperhatikan, yang pasti di sekitar makam yang terkesan tua itu juga nampak makam yang masih agak baru. Ini bisa kulihat dari bentuk kijingnya yang menggunakan batu-batu model baru. Saat kami berjalan menuju rumah Marilyne, ada mobil yang mendahului kami, dan berhenti memarkir di depan makam. Si pengemudi adalah seorang perempuan dan membawa bunga. Mobil itu kembali mendahului kami yang berjalan beberapa lama kemudian. Aku dan Pita membandingkan dengan adat kebiasaan di Jawa yang mengenal adanya nyadran. Dan Pita kemudian teringat bahwa sebentar lagi Paskah, dan mungkin karena itu kami melihat orang berkunjung ke makam seperti perempuan tadi. Walau warga Perancis sudah semakin asing dari agama, akan tetapi hal hal spiritual seperti ini telah menjadi bagian pula dari budaya , sama dengan adat kebiasaan di Jawa yang mengenal adanya nyadran, mengenang mereka yang telah berpulang sekaligus sebagai refleksi agar orang ingat selalu akan kematian.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASehari setelah kunjungan ke Les Landes itu Marilyn datang ke rumah Pita. Ia membawakan masakan yang dijanjikannya itu dan terburu pulang. Aku sedang menyelesaikan shalat Ashar di kamar Alexi, kamar tempatku tidur setiap malamnya ketika ia datang, sehingga tak sempatlah aku berjumpa dengannya untuk mengucapkan terimakasih. Makanan yang ia hantarkan itu akhirnya menjadi makan malam kami. Terbuat dari bahan dasar kentang, makanan itu berbentuk bundar, sepintas seperti pie, akan tetapi itu bukanlah roti melainkan makanan biasa. Di dalam pemandanganku, makanan itu mengingatkanku akan roti buatan ibuku dulu, coklat kekuningan dan membikin terbit selera. Kata Pita, dalam Perancis, ia disebut sebagai paté aux pommes de terre. Rasanya lezat, tidak manis dan sedikit asin, berkesesuaian dengan lidah Asiaku. Dan akan kebaikan Marilyne yang berjerih payah memasakkan sesuatu yang istimewa ini untukku tak urung aku pun terharu dan tersentuh sedalam-dalam perasaan hatiku.

Gare de Bourges, 24 Maret 2012

 

Advertisements

2 thoughts on “Kisah dari Les Landes

  1. gambarpacul said: kayane enak kuwe panganane….njerone isine apa kang?

    enak nek ana lawuhe iwak sapi utawa iwak banyu. Kiye kaya PIE, kaya roti sing manis. Tapi wong kiye bahan kentang ya asin. Udu roti tapi nggo dipangan sebagai makanan besar.

Comments are closed.