Libur Paskah di Belanda

Paskah adalah hari libur nasional di tanah air, dan juga di Belanda. Bahkan libur Paskah di Belanda (yang disebut Paasdaag, Pasdah) lebih panjang, terhitung sejak Jum’at hingga Senin. Ada apa di kota Nijmegen di liburan Paskah 2012?
Jum’at aku dan Rahmat Yanuar menyempatkan diri ke kota, bersepeda seperti biasanya. Sudah dua minggu sejak secara resmi musim dnyatakan memasuki Spring, akan tetapi hari Jum’at suhu masih dingin dengan kisaran 6-8 derajat. Kami ke kota cukup sore, sekitar jam 4, sehingga tak banyak yang dilihat dan didapat. Nijmegen tampak ramai dengan orang yang mengisi liburan. Toko dan restaurant terbuka terlihat penuh dengan manusia. Juga kami saksikan adanya semacam pasar malam yang menyediakan aneka hiburan dan permainan untuk anak-anak.
Pada awalnya begitu memasuki kota, kami memasuki toko barang bekas, Second Hand Shop. Di dalamnya dijual aneka macam barang seperti gitar, jaket kulit, stereo set, hingga kamera dan jam tangan, amplifier dan pedal gitar. Harganya tentu lebih murah dari harga baru, akan tetapi harga bekasnya juga bukan harga murah.
Kami akhirnya keluar untuk pergi ke Het Goed, sebuah toko barang bekas yang tersebar di banyak kota di Belanda. Kunjungan itu bukan yang pertamanya, pernah kami ke sana. Tapi bagiku kemarin adalah belanja yang pertama. Aku mendapat dua buah buku terbitan Routledge seharga 2,5 euro sebuahnya. Dua buah buku dan satu kaset Girlschool seharga 30 sen, aku cukup membayar 5,30 sen saja. Rahmat membeli beberapa potong pakaian dan mainan berupa boneka untuk anaknya. Belakangan ketika aku mencocokkan harga kedua buku itu di situs amazon.com kuketahui masing-masing buku yang kubeli itu seharga 38 USD.Sebuah pengiritan yang terbilang lumayan.
Keluar dari Het Goed, toko-toko sudah mulai bersiap untuk tutup. Jum’at itu memang hingga jam 6 sore aktifitas perbelanjaan. Good Friday atau Jum’at Agung memiliki makna istimewa, walau sekali lagi, Belanda adalah negara dengan sistem politik sekular. Dingin dan sepinya suasana kota memaksa kami untuk pulang ke rumah sewa Rahmat setelah sebelumnya kami habiskan waktu memotret dan berfoto di St Stevenskerk, sebuah gereja Katolik Roma yang usianya sudah ratusan tahun, salah satu landmark kota Nijmegen.

411198_10150676770478823_1750380158_o

Sabtu keesokan harinya kami kembali lagi ke kota. Kali ini lebih awal, sekitar jam 2. Kota nampak ramai dengan orang-orang yang berjalan-jalan. Nijmegen tetap terasa bagiku sebagai kota yang nyaman, tiada kebisingan kendaraan, karena di kota tiada berlalu lalang mobil dan kendaraan motor yang membikin bising telinga dan pengap rongga dada. Hampir semua orang di dalam kota berjalan kaki. Sepeda yang dinaiki diparkir di banyak lokasi parkir yang tersedia, termasuk juga sepedaku dan Rahmat Yanuar. Dalam perjalanan ke kota yang hanya lima sepuluh menit bersepeda itu, kami sempat membincangkan satu keluarga yang ke kota dengan bersepeda. Sang ayah memboncengkan anak kecil, dan si Ibu juga memboncengkan seorang anak kecil. Sementara si sulung yang usianya kutaksir tujuh atau delapan tahun naik sepeda mininya sendiri dengan kawalan sang ayah. Di tanah air, pemandangan seperti itu tak pernah aku lihat. Toko yang pertama kali kami masuki adalah De Slegte. Ini juga adalah toko buku bekas yang memasang harga cukup murah. Pertama kali ke toko ini bersama Dennis dan Theo, dua sahabat Belandaku, dua orang itu mendapatkan beberapa buku Pramoedya Ananta Toer berbahasa Belanda seharga sekitar 5 euro sebuahnya. Sayangnya tak ada yang benar-benar menarik hati untuk dibeli, dan harganya pun terhitung tak murah untukkku yang menyukai harga yang benar-benar murah.
Keluar dari De Slegte, kami berjalan melihat Open Market. Ini adalah semacam pasar terbuka yang menjual aneka macam keperluan dari sayuran dan buah, hingga aksesoris seperti parfum, tas, dan ikat pinggang serta syal. Tak ada yang menarik pula hingga kami kembali memasuki Het Goed, berharap ada sesuatu yang menarik seperti hari sebelumnya. Tapi kami harus kecewa karena tak banyak perubahan berarti. Tak ada yang menarik. Ada buku mengenai sejarah penyatuan Eropa yang sebenarnya menarik hatiku seharga 2,5 euro, tapi urung aku ambil. Kamipun kemudian keluar dan terus berjalan mengikuti langkah kaki. Sebenarnya tujuan kami saat itu adalah mencari toko Vinylarchive, sebuah toko khusus penjual piringan hitam bekas dan CD bekas yang terletak di Lange Hezelstraat. Pernah aku ke sana akhir Desember lalu, tapi menemukan lokasinya kembali ternyata tak mudah. Seharusnya tak perlu sesukar itu, kalau mau mencatat alamatnya atau mencari lokasinya lewat Google Map. Tapi justeru kemarin, langkah kami terdampar di Marienburg, dimana kami menjumpai bursa CD dan piringan hitam bekas. Rahmat sedang mengambili foto gereja tua ketika aku melihat stand yang akrab dengan pandangan mataku: CD dan piringan hitam bekas. Dan ketika kutinjau lebih dekat memang benar. Harganya tak begitu mahal. Ada yang memasang 10 euro untuk 3 CD dan ada yang memasang 5 euro untuk 2 CD. Secara matematis akan mudah mengatakan mana pedagang yang lebih murah, akan tetapi kadang kala barang yang kita cari tidak ada di pedagang yang termurah. Dari beberapa stand itu habis jugha 35 euro aku belanjakan. Tapi setidaknya itu lebih murah daripada kalau aku membeli di Vinylarchive yang kuingat betul harga satu CD-nya adalah 5 euro. Tapi sekali lagi, walau seharga 5 euro, kalau itu memang album musik yang kita cari tentu harga itu bisa dibilang murah.
Berbagai toko sudah mulai tutup dan hawa yang memang dingin semakin terasa dingin ketika kami kembali ke tempat memarkir sepeda di tengah kota. Libur empat hari Paskah ini, orang harus bersiap-siap untuk menyediakan bekal makanan agar Minggu dan Senin ketika supermarket tutup tak perlu kelaparan atau merepotkan orang lain. Dalam percakapanku dengan Teun, salah seorang kawan Belanda ku beberapa hari sebelumnya, Minggu dan Senin supermarket akan tutup, akan tetapi toko meubel dan furniture akan buka. Sudah menjadi semacam kebiasaan bagi orang Belanda untuk mengganti perabotan furniture-nya di hari Paskah. Pada Teun kukatakan juga bahwa di tanah air, orang juga suka mengganti meja kursi, terutama di ruang tamu jika hari raya lebaran tiba. Tapi apa yang terjadi di tanah air barangkali bisa lebih dimengerti karena di hari itu umumnya orang menerima banyak tamu maupun keluarga, sedangkan berganti perabot di kala Paskah seperti Belanda ini, aku tidak melihat alasan yang sama.
Nijmegen, 8 April 2012
Advertisements

6 thoughts on “Libur Paskah di Belanda”

  1. gambarpacul said: genah iya koh …….anu pada ora nduwe agama dadi hari libur agama ora ana koh…….

    Nang landa ben jane wong enome wis pada ora duwe agama. Paskah mung nggo seremoni, perayaan tok. Wong enom wis langka/jarang duwe agama.

  2. alinka4 said: hahaha..apa kabar? liburan paskah anak sekolah 2 minggu di sini!

    Tjurang. Paskahan ben ora koh preine seuwen uwen. gara gara Anggi!

Comments are closed.