Kunjungan ke Titiek A.R Dara Puspita

Sampul Piringan Hitam Dara Puspita "Jang Pertama" (1966). Titiek A.R nomor 3 dari kiri
Sampul Piringan Hitam Dara Puspita “Jang Pertama” (1966). Titiek A.R nomor 3 dari kiri

Kunjungan beberapa pekan lalu itu bukan kunjungan bertamu biasa, melainkan kunjungan istimewa: mendatangi seorang legenda hidup musik Indonesia. Ialah Titiek Soedarmijati alias Titiek A.R, lead guitarist Dara Puspita. Tak kurang dari 2,5 jam perjalanan berkereta api harus ditempuh dari Nijmegen untuk mencapai Groningen dimana ia bermukim. Kereta api yang aku naiki hari itu, 17 Mei 2012, agak terlambat dari yang seharusnya telah tiba sekira 12:45 siang, akan tetapi baru tiba pada lebih kurang pukul 12:30.Titiek A.R., sejak awal 1980an memang menetap di negeri Belanda, menyusul adiknya Lies A.R yang telah lebih dahulu menetap di negeri kincir angin ini. Menjemputku di setasiun, Titiek A.R. ditemani menantunya Kees, yang juga mengemudikan mobil yang membawa kami ke rumah tinggalnya. Aku sendiri ditemani Rahmat Yanuar, dosen IPB yang membantu merekam wawancara dengan kamera video yang dimilikinya.

Sekitar 30 menit, kami sampai pulalah ke rumah Titiek A.R yang tenang dan hening seperti halnya perumahan di Belanda lainnya. Tentu rasa istimewa berada di kediamannya mengingat ia adalah figur besar walaupun telah terhapus dari memori publik musik Indonesia. Ialah pendiri Dara Puspita, dan pemberi sentuhan gitar pada lagu-lagu mereka yang pernah sangat dikenal di tanah air. Seringkali dalam pembicaraan dan obrolanku dengan sesama pemerhati musik lama ada ditanyakan “kemana” atau “di mana” keberadaan para bekas personnel band

Berfoto bersama di rumah Titiek AR, Groningen, Nederland
Berfoto bersama di rumah Titiek AR, Groningen, Nederland

ini. Tak banyak yang tahu, dan kalaupun tahu, hanya Belanda-lah jawaban akhirnya tanpa keterangan lebih lanjut. Dan aku kala itu berada di jantung keberadaan yang dipertanyakan itu! Akan tetapi, sungguh bisa dimaklumi ketidaktahuan publik akan keberadaan para bekas personil Darpus, atau bahkan ketidaktahuan masyarakat Indonesia akan keberadaan band ini. Lagu-lagu mereka, yang pada aslinya dirilis dalam format piringan hitam tak lagi dirilis kembali, kecuali oleh label Amerika (Sublime Frequencies) dan Portugal (Groovie Records) yang merilis kumpulan lagunya dalam format CD dan Piringan Hitam, dan amblas terjual dalam waktu singkat. Ketika aku mengunjungi Titiek A.R, Darpus telah begitu lama berlalu dari pentas musik tanah air. Mengalami masa populernya sejak sekitar 1965, pada tahun 1968 band ini menerima tawaran bermain di luar negeri yang membawa perjalanan mereka sebagai band di Eropa daratan dan Inggris Raya. Akhir 1971 mereka kembali ke Indonesia dan segera menggelar tour keliling Indonesia yang sold out di mana mana, walau akhirnya berujung pada bubarnya band ini pada 1972, tahun ketika aku sendiri belum dilahirkan!

Dalam show di Semarang Maret 1972
Dalam show di Semarang Maret 1972

Sekitar 2-3 jam aku habiskan di rumahnya dan kemudian menikmati rawon serta empal sapi yang dibuatnya sendiri. Masakannya enak, dan tak terasa sebagai rawon Belanda, persis seperti masakan di tanah Jawa.

Rawon buatan Titiek AR
Rawon buatan Titiek AR

Apalagi sambalnya yang juga sedap ditambah kerupuk udang yang lekker. Sebelum dan sesudanya, diri ini berkesempatan pula menjajal gitar Fender Stratocaster yang dulu menjadi kampak perangnya sekian lama, gitar yang dibeli di Pasar Baru, setelah kepulangan Dara Puspita dari show di Bangkok pada paruh akhir 1965. Aku memainkan lagu-lagu Darpus secara instrumental dengan gitar itu terutama lagu kesukaanku “Tinggalkan Aku Sendiri” yang merupakan gubahan Yok Koeswoyo (Koes Bersaudara). Sambil menggoreng loempia yang akan dijadikan bekalku pulang di kereta api, Bu Titiek ikut menyanyi mengikuti petikan gitarku, dan sesekali memuji permainan gitarku.

playing the legendary Fender of the legendary guitarist
playing the legendary Fender of the legendary guitarist
Fender Stratocaster milik Titiek yang dipakai sejak 1966
Fender Stratocaster milik Titiek yang dipakai sejak 1966

 

Sayangnya karena jarak yang jauh, dan keinginan pula untuk meninjau kota Groninengen untuk yang pertama kali, serta memperhitungkan Kees yang mempunyai kepentingan di hari libur itu, aku dan Rahmat harus segera berpamitan. Akan tetapi yang melegakan adalah bahwa aku berhasil melakukan obrolan singkat yang divideokan, yang telah lama ingin kulakukan. Banyak hal yang kami bincangkan mulai dari sejarah berdirinya Dara Puspita yang tadinya berawal dari Nirma Puspita, kenekatan mereka ke Jakarta atas anjuran Tonny Koeswoyo, hingga rasa kecewa karena Darpus harus bubar. Juga dikisahkannya betapa Darpus begitu sukses tiap kali main di Indonesia, dan bagaimana kenangan masa lalu itu membuatnya terharu [klik di sini untuk menyaksikan wawancara video bersama Titiek AR]. Hal yang sama telah kulakukan pada adiknya, Lies A.R ketika ku bertamu di rumahnya beberapa minggu sebelumnya [klik di sini untuk menyaksikan wawancara video bersama Lies AR]. Harapanku kelak bisa ke Groningen kembali untuk sekedar makan siang bersama, dan juga memainkan Stratocaster-nya yang masih sangat enak untuk dimainkan itu.
Nijmegen, 8 Juni 2012
Advertisements

5 thoughts on “Kunjungan ke Titiek A.R Dara Puspita

  1. gambarpacul said: wah..dadi penasaran karomateri wawancarane…diuplot kang..

    Aku sudah menduga pertanyaan ini. Tenang, sudah diupload, tapi masih aku privat, soalnya materinya mau aku kirimkan sebagai kisah di media massa. nanti kalau sudah dimuat baru aku buka. Sabar ya.

  2. rayamir said: hebaat… ternyata Mbak Titik tinggal di Groningen ya…

    Iyo Bang Ray, beliau di Groningen, sedangkan Bu Lies A.R tinggal di Alphen a/d Rijn, dekat Leiden. Saya sendiri di Belanda timur, deket Jerman, di Nijmegen. Tarif penuh dari Nijmegen ke Groningen PP itu bisa 45 euro (kalikan kurs sekarang yang ‘mending’ 12,000 daripada kurs 2009 yang sampai 15,000). Tapi karena dapat tiket Dagkaart yang bisa dipakai seharian 16 euro ya lumayan.

Comments are closed.