Rhapsodies in Red: Gerutuan Celaka Disastrous Murmur

Sebagaimana nama band yang menghasilkannya, Rhapsodies in Red penuh berisi gerutu nan celaka. Betapa tidak keseluruhan track menawarkan darah dan kengerian, cannibalism, mutilation, dan tentu saja aneka macam organ tubuh lengkap dengan segenap istilahnya yang membikin orang kepingin muntah. Inilah debut Disastrous Murmur, band trio asal Austria yang bisa jadi bukan tergolong kelas satu di kancah metal, tidak sengetop Disgorge apalagi Suffocation, namun tak mungkin bisa dicerna oleh kaum trendies.
Dibuka dengan intro guitar pada nomor pertama Disgorged Bowel Movement, segera orang dihadapkan pada sound guitar yang teramat kasar, tajam, dan orisinil. Ini jualah salah satu letak kehebatan Murmur: tidak mengingatkan orang akan sound band manapun. Guttura vocal yang bengis, drumming yang cepat keras yang dimainkan oleh Manfred Perack serta bass yang mendentum cabikan Walter Schweiger adalah trade mark Murmur. Dari komposisi dan aransemen pada setiap lagu dapat ditarik kesimpulan bahwa masing-masing dari mereka adalah musisi ber-skill plus bertenaga ekstra yang tak perlu menampilkan wajah mrengut untuk mencitrakan kengerian yang ingin mereka tampilkan.
Tak ingin kalah dengan almamaternya Disharmonic Orchestra, Bezdek (guitar, vox) amat lugas menyuarakan hal-hal menakutkan yang melekat dalam setiap kematian, kanibalisme, dan mutilasi lewat lantunan vokal dan garukan rhythm yang laksana monster mengerikan. Berbeda dengan Orchestra yang murni mengandalkan rhythm, Bezdek tetap menampilkan solo gitarnya yang maut dalam beberapa lagu semisal Dinner is Served yang berkisah mengenai pemilik restoran penghidang daging manusia! Sayangnya keberadaan Bezdek, arsitek utama Rhapsodies in Red sekaligus peletak fondasi Murmur ini tak bertahan lama karena ia hengkang pada 1994.
Oh ya, Murmur ini juga memasukkan unsur keyboard pada beberapa nomor semisal Disgorged Bowel Movement dan Into The Dungeon. Tentu bukan untuk memberi kesan mendayu merdu mesra, namun betul-betul membimbing alam pikir ke dalam nuansa mencekam.
Bersama Symphonies of Sickness –nya Carcass, album yang dirilis pada 1992 ini bisa jadi standar bagi band deathmetal mana saja yang kepingin mengusung tema pembantaian dan seluk beluk organ manusia. Rakyat metal di Indonesia beruntung karena Indosemar sempat merilis album ini dalam format kaset pada paruh pertama dekade 90-an. Rhapsodies in Red sungguh-sungguh Death Metal dengan huruf kapital. (Manunggal K. Wardaya)

Advertisements