Perjumpaan dengan Benny Soebardja

Semua manusia adalah sama, tapi capaian dan perannya dalam masyarakat membedakan derajat satu manusia dengan manusia lainnya. Itu yang membuat seorang anak manusia menjadi istimewa di mata manusia lainnya. Ini juga yang aku rasa ketika menjumpai Benny Sobardja di Den Haag pada Mei 2012 silam. Buatku, dan banyak orang, ia adalah figur istimewa. Ia adalah seniman musik, seorang guitar player pula singer yang karya karyanya memberi nuansa dan warna bagi kehidupan bagi banyak manusia, termasuk aku. Perjumpaan dengannya bukan perjumpaan pertama, karena beberapa tahun sebelumnya, pernah pula aku mendatanginya ketika ia mengisi acara radio di Tara Valeria FM, sebuah acara yang mengudarakan musik-musik indonesia lama, asuhan kawanku Haryono (almarhum). Kala itu aku memintakan tanda tangan pada CD Ghede Chokra’s milik Sharkmove, band progressive rock bentukannya yang dikeluarkan kembali oleh Shadok, sebuah label berbasis di Jerman. Aku yakin, ia tak mengingat perjumpaan itu, karena kala itu aku hanyalah another guy yang meminta tanda tangan pada seorang seniman. Manakala hendak berjumpa di Belanda dan berkomunikasi untuk mengatur waktu dan tempat pertemuan, ia telah sedikit banyak mengenalku melalui internet.
Nama Benny Soebardja sendiri pertama kali kukenal lewat sebuah reportase festival musik rock di majalah HAI yang kulanggani yang terbit di tahun 1980-an. Benny dan band-nya Giant Step turut dalam festival rock itu. Giant Step adalah band rock progresif tahun 1970-an yang amat dikenal dan disegani. Sebagai pengumpul rekaman, aku tahu bahwa Giant Step, dan juga karya solo Benny termasuk dalam kategori karya musik yang mahal di tangan kolektor dimana satu kasetnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Piringan hitamnya bahkan bisa menembus jutaan. Mengapa? tak lain karena musik yang ditawarkannya memang tak lazim sementara ketersediaannya di pasaran amat minim. Maklum, rekaman-rekaman Benny Soebardja baik karya solo maupun dalam group tak lagi direlease yang oleh karenanya tak lagi dijumpai di pasaran.

Melalui jejaring facebook, kami berjanji untuk bertemu di event Tong Tong Fair, alias Pasar Malam Besar Den Haag. Tong Tong sendiri adalah event kultural Indisch, sebuah mix budaya Indonesia-Belanda. Di event itu, Benny membuka stand sate Warung Sate Betawi. Bersama kawanku Theo, aku mengunjungi kedainya yang terlihat cukup rama pengunjung itu. Ia nampak sibuk berada di meja kasir, dan oleh karenanya aku tak hendak langsung menyapanya, melainkan memesan sate kambing terlebih dahulu. Dan ketika pada suatu kesempatan ia menyadari kedatanganku dan Theo, kamipun dihampirinya. Kami mengobrol singkat, berfoto bersama dan membicarakan secara ringkas mengenai album kompilasi karyanya yang dirilis oleh Strawberry Rain, sebuah label dari Canada. Theo, yang amat antusias pada kultur Indonesia amat senang bisa menjumpai Benny yang di Indonesia merupakan legenda hidup musik rock. Beruntung pula Theo karena ia mendapatkan sebuah CD Benny Soebardja “The Lizard Years”. Theo yang beberapa bulan sebelumnya sempat membeli kompilasi musisi rock lawas Indonesia tak lupa meminta tanda tangan pada CD Those Shaking Shocking Day, dimana Sharkmove ada pula termasuk artis di dalamnya.
Kami menyadari bahwa ia sedang sibuk dengan warung satenya itu, terlihat dari keseriusannya melayani pembeli yang hendak membayar. Apa yang terpandang oleh inderaku kala itu adalah sisi lain dari seniman besar yang aku yakin tak akan terbayangkan oleh mereka yang hanya mengapresiasi dan mengamati semata dari karya seni rekaman yang dihasilkannya. Di Den Haag, ia adalah manusia biasa, bukan rocker dengan gitar elektrik dan petikannya yang njlimet. Saat itu, Benny Soebardja adalah seorang pemilik resto temporer, yang berada di belakang meja kasir, suatu hal yang biasa dan cukup awam. Di usianya yang tentu tak lagi muda, ia terlihat sebagai figur seorang pria yang sudah tenang, bijak, dan ramah. Kegarangan dan kegagahan masa muda dengan rambut panjang dan aneka polemik dangdut versus rock terutama dengan Rhoma Irama hanyalah catatan sejarah yang semata menjadi catatan saja. Sederhana, walau jika mengetahui background karyanya di masa lalu bersama The Peels, Shark Move, maupun karya-karya solonya bersama band Lizard, figur lelaki yang rambutnya telah beruban itu sungguh bukan orang biasa di luar dagangan satenya.
Kami sempat berfoto bersama, dan salah seorang yang ada di warung itu, entah masih kerabat entah bukan mengoloknya sebagai kurang lebih seperti artis besar karena diminta foto dan tanda tangan. Dalam hatiku, Benny Soebardja memang artis besar, dan karyanya yang unik, yang menyendiri, yang berbeda membuatnya tak begitu populer, tak begitu ngartis. Tapi seniman adalah seniman. Ia telah memberi warna pada kehdupan banyak orang, sekali lagi termasuk diri ini. Mengunjunginya, menyambung hubungan sesama manusia, adalah caraku berterimakasih dan membayar jerih payahnya dalam berkesenian bagi sesama.
Pringsurat, 12 Agustus 2012
Advertisements